68

1199 Kata
Pagi ini adalah hari pertama semester dua dimulai. Seorang gadis pendek sudah berdiri menunggu di depan gerbang rumah Firman. Gadis itu adalah Tuti, satu-satunya teman Firman yang berasal dari dunia nyata. Begitu Firman membuka pintu, senyum Tuti langsung mengembang. Ia tampak tidak sabar untuk segera berangkat sekolah bersama Firman. Dari sekolah dasar sampai sekarang rutinitas ini terus berjalan. Firman tidak mengerti kenapa Tuti tidak pernah bosan. "Pagi, Firman!" Tangan kanannya melambai bersamaan dengan sapaannya. "Pagi." Firman membalas sembari menutup pagar. "Firman, semalam aku udah nonton Pretty Majo Akane-chan!" Pretty Majo Akane-chan adalah salah satu anime favorit Firman. Di sana ada istri dua dimensinya yang bernama Akane. Jalan ceritanya mudah dimengerti, jadi Firman tidak ragu untuk merekomendasikannya pada Tuti. "Bagaimana menurutmu ceritanya?" tanya Firman. "Membosankan," balasnya dengan singkat. "Apa?!" "Jalan ceritanya tidak jelas. Alurnya berantakan. Motif penjahatnya kurang kuat. Konfliknya begitu-begitu saja. Aku mencoba memahami karakter Akane yang terus berusaha mengalahkan penjahat dengan kekuatannya sendiri, namun setelah kupikir-pikir dia seperti orang bodoh yang sangat egois. Kenapa dia melakukan semuanya sendirian? Bukankah dia punya teman Majo yang lain?" Firman tercengang mendengar kritik pedas Tuti tentang anime kesukaannya. Tuti memang bodoh dalam pelajaran. Tapi, ternyata kritikannya dalam jalan cerita lebih mengerikan dari yang Firman duga. Firman tidak bisa membantah karena menurutnya juga begitu. Tidak dia sangka Tuti bisa sependapat dengannya "Gak, Tuti. Kamu gak ngerti. Ceritanya bagus banget. Kamu masih pemula di dunia peranimean, makanya belum pandai menilai. Lalu, tentang Akane yang berjuang sendirian, itu karena dia gak mau bikin teman-teman Majonya kerepotan. Kalau dia bergerak sendiri, dia bisa bebas ngalahin musuh tanpa rasa khawatir teman-temannya bakal terbunuh di medan pertempuran. Menurutku Akane adalah Majo terbaik. Dia melakukan semuanya sendirian demi keselamatan teman-temannya." Firman terpaksa mengarang argumen agar Tuti tidak menilai jelek anime ini. Terlebih Akane adalah istri dua dimensinya Firman. Dia tidak mau Tuti menjelek-jelekkan Akane. "Oh, begitu, ya aku mengerti!" Tuti meninju telapak tangannya sendiri. "Baiklah, aku akan coba menontonnya sekali lagi!" "Jangan, kamu lanjut aja ke season 2. Nanti aku kasih filmnya lagi." "Oh, begitu. Baiklah!" Firman menghela napas bersyukur. Jika Tuti menonton ulang anime itu lagi, dia akan sadar dengan plot hole yang bertebaran. Bukannya memuji, Tuti mungkin akan semakin mengejek anime itu. Dia juga pasti akan menyadari bahwa karakter Akane dilindungi plot armor beberapa kali. Firman tidak mau dia sampai sadar. Begitu sampai di gerbang masuk, Firman melihat pemandangan yang membuatnya merinding. Seorang gadis berambut panjang hitam melambaikan tangannya sambil tersenyum pada Firman. Dia memakai sebuah lencana berwarna merah di seragamnya, menunjukkan bahwa dia adalah Ketua OSIS. "Selamat pagi, Firman." Gina melemparkan senyuman manisnya. "Selamat pagi, Kak Gina," balasnya. Setelah Firman melewati pintu gerbang yang dijaga oleh orang-orang OSIS, Tuti segera berbicara pada Firman. "Firman, kamu kenal sama Kak Gina?! Kenapa dia tahu namamu?!" Di sekolah ini, hanya Tuti yang biasa nemanggil Firman. Semua murid selain Tuti jarang sekali ada yang memanggilnya karena masih belum akrab. Firman memang menarik diri dari pergaulan karena tidak ingin hobi animenya terganggu, maka wajar Firman tidak memiliki satu pun teman selain Tuti di sekolah ini. "A-aku sendiri gak tau kenapa Kak Gina memanggilku." Firman mencoba menghindar. Firman tidak ingin Tuti tahu bahwa Firman dan Gina sekarang sudah berpacaran. "Ah, mungkin karena kamu dapet rangking satu kemarin. Itu pasti sapaan hormat darinya!" Tuti terlihat yakin dengan argumennya. "I-iya, kayaknya gitu." Saat jam istirahat, seorang gadis mendekati Firman yang sedang duduk sendirian di bangku kelas. "Firman, Ketua OSIS nyari kamu." Reaksi teman sekelas begitu heboh. "Kak Gina dateng ke sini?!" "Wah, kayaknya Firman punya masalah." "Dia pasti udah melakukan pelanggaran berat!" Gina memang terkenal karena kekejamannya dalam menghukum murid yang melanggar peraturan. Setiap murid yang didatanginya pasti akan mendapatkan luka mental setelah disiksa secara batin olehnya. Murid yang dulunya nakal, selalu jadi anak baik setelah dimarahi oleh Gina. Firman segera berjalan menuju pintu kelas untuk mendekati dirinya. Gina sedang berdiri sembari memegang dua kotak makanan di dadanya. Saat Firman menatap wajahnya, Gina tersipu malu. Wajahnya begitu kemerahan. Gadis itu tampak tidak seperti biasanya. "Firman, ayo kita makan siang bareng!" Firman tidak kaget karena mereka memang sudah berpacaran hari ini, namun reaksi teman sekelasnya begitu heboh melihat ada pria yang bisa menjinakkan wanita buas itu. "Ayo." Firman menerima ajakannya, dan mulai melangkah pergi meninggalkan kelas. Teman-teman sekelas mengintip dari belakang saat Firman mulai berjalan meninggalkan tempat ini. Mereka sepertinya terheran-heran melihat seorang gadis galak seperti Kak Gina tiba-tiba mengajak seorang lelaki anti-sosial seperti dirinya. Tuti juga terheran-heran dengan tingkah Kak Gina. Firman berjalan di sebelah Kak Gina. Dia bilang ingin mengajaknya makan siang di atap sekolah. Tempat itu sebenarnya dilarang untuk digunakan, namun khusus untuk Ketua OSIS diperbolehkan. Mereka pun sampai di atap. Mereka duduk lesehan di dekat pagar di bagian lantai yang terlindungi dari sinar matahari. Kak Gina masih tidak seperti biasanya. Ekspresi judes yang biasa dia tunjukkan berubah 180 derajat menjadi ekspresi orang yang sedang jatuh cinta. Firman bisa membayangkan bola mata gadis itu saat ini sedang berbentuk hati. "Firman. Ini makan siangnya. Aku sendiri yang buat." Kak Gina menyerahkan kotak bekal berwarna biru pada Firman. Saat dia buka isinya, terdapat nasi goreng yang diberi toping sosis sapi. "Makasih, Kak Gina." Kak Gina mengangguk. Mereka berdua menyantap makanan tanpa berbicara sepatah kata pun. Firman masih bingung dengan Kak Gina yang tiba-tiba menjadi pemalu seperti ini. Padahal saat di telpon dan di gerbang tadi, Kak Gina masih terlihat seperti biasa. Saat Firman menutup kotak makannya, dia lihat nasi goreng di kotak makan Kak Gina masih utuh. Dia tidak menyantap makan siangnya. "Kak Gina, kenapa Kakak gak menyantap makan siang Kakak?" "A-ah, iya, maaf. Aku terlalu seneng bisa duduk di sebelah Firman, sampai nafsu makan jadi hilang. Melihat wajah Firman aja sudah bikin perutku jadi kenyang, kok." Kak Gina menutup kembali kotak makannya. "Eh, apa-apaan itu? Apa Ketua OSIS super galak ini sebenarnya cewek bucin?" batin Firman. "Kenapa tingkah lakunya mendadak berubah?" Firman pun bertanya pada Kak Gina tentang hubungan yang sedang mereka jalani ini. "Kak Gina, kenapa Kakak mau tunangan sama aku?" Wajahnya tetiba memerah. "Y-ya, karena aku menyukaimu, Firman." "Kenapa Kakak menyukaiku? Apa karena aku dapet rangking satu di angkatan?" Sebenarnya Firman ingin bertanya 'apa karena dia tampan?' Tapi, Firman tidak percaya diri dengan wajahnya sendiri. Terlebih jika dibandingkan dengan teman sekelasnya yang bernama Andrew. Firman kalah jauh. Kak Gina menggeleng. "Gak, bukan karena itu." "Lalu karena apa?" "Ya, karena kamu Firman!" jawabnya sembari menghubungkan kedua jari telunjuk. "Eh? Alasan macam apa itu? Tidak mungkin dia menyukaiku tanpa alasan. Aku menyukai Akane saja karena wajahnya yang sangat imut," batin Firman. "Ada apa memangnya denganku?" "Su-sudahlah, Firman! Jangan dibahas lagi! Aku malu menceritakannya!" Kak Gina meninju-ninju pinggang Firman. "Eh? Ada apa ini? Macan sudah berubah jadi anak kucing? Ada apa dengan sikap aneh Kak Gina ini? Kemana sikap galak dan penuh wibawanya itu?" Firman tidak tahu kenapa Kak Gina bersikap seperti itu pada Firman. "Apa dia berpura-pura? Sepertinya tidak. Tidak ada keuntungan baginya untuk berpura-pura seperti itu." Firman masih bingung. Firman tidak tahu mengapa dia bersikap seperti itu padanya, namun dia sepertinya melupakan momen yang membuat Kak Gina jatuh cinta padanya. Firman benar-benar tidak ingat. Firman tidak peduli, tapi Firman harus segera mengakhiri hubungan ini sebelum perasaan Kak Gina semakin mendalam. Setelah bel masuk berbunyi, Firman dan Kak Gina kembali ke kelas masing-masing.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN