67

1126 Kata
Hujan deras terdengar nyaring di luar. Firman duduk di sofa menghadap kedua orang tuanya yang menatap dengan serius. Ayahnya masih memakai seragam kantor. Dia memanggilnya begitu mendudukkan diri di sofa. Ibu yang sedang memasak juga mematikan kompornya agar bisa mendengar pembicaraan ini. Adik laki-lakinya Ranti ini tidak ingat pernah berbuat kesalahan, jadi dia tidak begitu khawatir tentang apa yang akan mereka bicarakan. "Firman, kamu kenal Gina Ansharieta?" Tangan ayahnya sedikit bergetar. "Gina Ansharieta? Ya, aku tau. Ketua OSIS itu, kan?" Walau Firman tidak terlalu tertarik pada manusia, tapi dia tahu murid terkenal seperti Gina Ansharieta. Dia adalah senior galak yang menjabat sebagai Ketua OSIS di SMAN 23 Bandung. Firman tidak pernah ingin berurusan dengannya. "Kamu harus tunangan sama dia." Suasana mendadak hening. Ibunya menutup mulut dengan tangan. "Tunggu sebentar. Maksud Ayah apa?" Firman coba menanyakannya kembali. "Seperti yang Ayah katakan. Mulai sekarang kamu akan bertunangan dengan anak bos perusahaan Ayah, Gina Ansharieta." Ayah Firman mengulanginya kembali, membuat ekspresi di wajah Firman berantakan. Firman tidak senang. Dia tidak pernah mau punya istri manusia, apalagi gadis yang galak seperti Gina Ansharieta. Firman tidak terima. Dia punya banyak istri yang menunggunya di kamar. "Tidak bisa, Ayah. Aku sudah punya banyak istri. Aku bahkan sedang mendownload yang baru." Firman mencoba mengelak dengan alasan yang logis. "Istri yang mana lagi?! Maksudmu istri kartunmu itu?! Firman, kamu sudah besar. Tolong bedakan antara fantasy dan realita. Jangan panggil benda digital itu istrimu!" Ayah Firman menggebrak meja membuat ibunya sedikit takut. “Kakakmu sudah normal sekarang. Dia sudah mendapatkan pacar. Kamu juga harus seperti itu.” Entah kebetulan atau tidak, Ranti dan Firman memang memiliki sifat yang sama. Keduanya tidak menyukai manusia, dan lebih menyukainya karakter dua dimensi. Namun, jika ditilik lebih lanjut, ini sebenarnya kesalahan Ranti yang telah mengenalkan dunia tersebut pada adik laki-lakinya. Ibu Firman segera menenangkan suaminya. Dari dulu ayah Firman memang tidak pernah senang dengan hobi Firman tersebut. Kalau saja Firman tidak mendapat rangking satu di kelasnya, koleksi mainan animenya pasti sudah dia kilo ke rongsokan. Untuk Ranti, ayah Firman agak melunak karena dia seorang perempuan. "Firman, Nona Gina sangat menyukaimu. Bos sendiri yang berkata untuk menjodohkanmu dengan putrinya. Jika kamu sampai menolak, bos akan memecatku dari pekerjaan. Terimalah perjodohan ini anak bodoh!" Ayah Firman berbicara sampai mengeluarkan urat. "Firman, terima saja. Gina itu gadis yang cantik, cerdas, juga kaya. Apa kamu mau melewatkan gadis sesempurna dia?" Ibunya ikut-ikutan menjodohkan Firman dengan Gina Ansharieta. Firman menghela napas. Bagi para lajang di luar sana mungkin ini adalah takdir yang diidam-idamkan. Bayangkan saja, orang yang setiap hari diam di kamar bermalas-malasan dengan hobinya tiba-tiba dilamar oleh seorang gadis cantik, pintar, kaya raya tanpa melakukan apa-apa. Keberuntungan seperti apa lagi yang bisa orang itu dapatkan? Orang itu akan hidup bahagia bersama gadis cantik itu. Dia tidak perlu repot-repot mencari pekerjaan karena ayah dari gadis itu akan mengangkatnya menjadi direktur perusahaan dengan koneksi orang dalam. Dia bahkan tidak perlu berusaha keras untuk membuat gadis itu bahagia, karena pada dasarnya gadis itulah yang ingin membuatnya bahagia. Kebahagiaan dia adalah kebahagiaan bagi gadis itu. Asalkan dia bersikap baik, gadis itu akan bahagia seutuhnya tanpa menuntut apapun dari dirinya. Ya, kehidupan indah yang pasti diidam-idamkan semua orang. Kecuali Firman. Firman tidak mau berhubungan dengan perempuan lagi. "Maaf Ayah Ibu, aku tidak bisa menerima pertunangan tersebut. Aku tidak mau mengkhianati istri-istriku. Kalian boleh bilang bahwa mereka tidak nyata. Tapi, di kehidupan berikutnya, kelak aku akan bertemu dengan mereka semua. Aku akan menjadi suami mereka dan memiliki banyak anak. Itu adalah takdir yang tidak bisa dielakkan." Firman mencurahkan isi hati terdalamnya. Mereka berdua tidak menjawab apa-apa. "Bu, tolong ambilkan pembersih WC." Ibu segera bangkit dari sofa untuk mengambil botol pembersih WC yang berwarna hijau tua. "Firman, kalau kamu tidak mau bertunangan dengan Nona Gina, ayah kuteguk cairan ini!" Ayah Firman berkata sambil mengangkat botol pembersih WC yang tutupnya sudah ia lempar. Bukannya menghentikan suaminya, ibu Firman malah mengambil gelas dan menyicikan cairan itu ke dalam. Ibunya juga mengancam akan meneguk cairan itu jika Firman menolak pertunangan ini. Kalau sudah begini, Firman tidak bisa menolak. Firman tidak mau jadi anak durhaka yang membuat kedua orang tuanya bunuh diri hanya karena penolakan pertunangan. Tapi, bukankah seharusnya Firman yang mengancam bunuh diri karena tidak ingin dijodohkan? Sebelum menjawab iya, Firman memikirkan opsi lain yang lebih menguntungkan. Tunangan bukanlah perkara main-main. Firman tidak bisa lepas kalau sudah terikat dalam perjanjian. Akan menjadi aib keluarga jika sampai Firman membatalkan pertunangan hanya karena keberadaan istri dua dimensinya Firman harus mencari ide lain. "Ayah menyuruhku bertunangan dengan Kak Gina karena diminta oleh bos, kan?" "Iya, kamu harus menerimanya, Firman!" Ayah Firman menjawab sambil masih memegang botol itu. "Itu berarti jika bos tidak menyuruh, Ayah membebaskanku dari pertunangan ini, kan?" "Iya, terserah kamu saja. Aku hanya tidak ingin dipecat dari pekerjaan. Jika sampai aku dipecat, aku tidak bisa bekerja lagi di tempat manapun!" Firman menghela napas dalam-dalam sebelum mengutarakan pendapatnya. "Maaf, aku tidak bisa menerimanya. Tapi, kalau Kak Gina tidak keberatan, Firman bersedia untuk melakukan pendekatan dengan berpacaran terlebih dahulu. Bagaimana?" Tentu saja itu hanya akal-akalannya. Selama berpacaran nanti, Firman akan mengacuhkan Gina terus menerus sampai dia bosan dan memutuskan untuk membatalkan pertunangan ini. Setelah itu, Firman akan terbebas dari pertunangan tersebut, dan hidup bahagia selamanya bersama istri-istri dua dimensinya. Saat ayahnya hendak menjawab, ponsel Firman tiba-tiba berdering. Terpampang nomor asing yang sedang melakukan panggilan. Firman segera mengangkatnya. Terdengar sebuah suara. "Halo, Firman. Iya, tidak apa-apa. Aku bersedia jadi pacarmu." Terdengar suara Gina di telpon. “Dia tahu dari mana nomor handphone ini?” batin Firman. Dia juga bingung kenapa Gina tahu Firman sedang membicarakan hal ini. "Ehm, ya, baiklah. Mulai sekarang kita berpacaran, Kak Gina." Firman menjawabnya lewat ponsel. "Kyaa! Akhirnya aku pacaran sama Firman. Kyaa! Dunia harus tahu! Kyaa!" Terdengar suara kegirangan yang meledak-ledak. Firman tidak pernah memperhatikan tingkah laku Kak Gina. Tapi, apa dia memang seriang ini? Setahu Firman, di sekolah Gina sering marah-marah. Firman jadi bertanya-tanya. Apa seorang gadis akan berteriak kegirangan seperti itu ketika cintanya diterima? "Sampai jumpa di sekolah, Kak Gina." Setelah menutup panggilan tersebut, Firman langsung memblok nomornya. Firman memandang kedua orang tuanya begitu panggilan itu berakhir. "Kalian dengar sendiri? Aku sudah resmi berpacaran dengan Kak Gina. Jadi, tolong lepaskan botol racun itu pelan-pelan." Firman berbicara dengan hati-hati. Mereka berdua menjatuhkan botol itu lalu memeluknya bersamaan. "Akhirnya kamu punya pacar, nak. Ibu khawatir kamu akan selamanya mengurusi istri dua dimensimu. Hiks." "Terima kasih, nak. Dengan begini jabatan Ayah akan naik. Hiks." Firman mengelus-elus punggung mereka. Mereka ternyata sangat mengkhawatirkan kondisi Firman yang sudah menganggap karakter dua dimensi sebagai istri. Ini salahnya karena meminta restu pada mereka sebelum meresmikan karakter dua dimensinya sebagai istri. Seharusnya Firman bertindak diam-diam. Firman tidak tahu akan seperti apa ke depannya, tapi Firman tidak ingin hubungan ini terus berlanjut. Firman harus membuat Kak Gina benci kepadanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN