66

1692 Kata
Argi terkaget saat menoleh ke belakang. Orang yang memanggil Ranti ternyata gadis yang selama ini dia sukai. "Kenapa Gaida bisa kenal Ranti?" batin Argi. Sama seperti Argi, Gaida pun tidak menyangka bisa bertemu dengan di sini. "Eh... kamu... Argi, kan?" Gaida memastikan. "Iya, aku Argi." Detak jantung Argi berdebar kencang. Selalu begini setiap bertemu Gaida sehingga tidak bisa bersikap dengan biasa. Gaida menatap Argi dan Ranti secara bergantian. "Kalian berdua pacaran?" "Iya." Ranti yang menjawab. "Enggak! Ranti bohong! Aku gak pacaran sama dia!" Dengan cepat Argi membenarkan. "Ga-Gaida, kenapa bisa kenal dengan Ranti?" Gaida sempat ingin menyembunyikan fakta bahwa mereka pernah bertemu saat Saga mampir ke kampusnya bersama Ranti. Namun, rasanya tidak nyaman jika terus dirahasiakan seperti ini. Ranti pun sepertinya menyimpan rahasia yang tidak diketahui oleh Gaida, termasuk hubungannya dengan Argi. Gaida ingin mengetahui semuanya. "Deket sini ada Cafe. Mampir sebentar, yuk." Gaida yang menawari. "Ayok!" Ranti yang menjawab. Mereka bertiga lantas mampir di sebuah kafe kopi di daerah dekat sini. Mereka mengambil tempat duduk di rooftop di mana tidak banyak orang di tempat itu. Ranti dan Gaida berbasa-basi dulu setelah mereka mulai duduk. Argi semakin bingung kenapa mereka bisa saling mengenal. Kopi pesanan mereka pun sampai. Argi menyeruput kopi panasnya, lalu memberanikan diri untuk bicara. "Gaida, kenapa bisa kenal dengan Ranti?" Itu adalah pertanyaan yang sudah dinantikan oleh Gaida. "Aku ketemu Ranti sama Saga waktu ada event anime di kampusku." Mata Argi terbelalak. "Ranti sama Saga pergi bareng ke event anime?!" Argi lantas menatap Ranti. "Iya." Ranti menjawab. "Kenapa?" "Kamunya kan masih di Surabaya, yaudah aku sama Saga aja datengnya." Tidak ada alasan bagi Argi untuk marah saat Ranti pergi bersama laki-laki lain, soalnya Ranti hanya sebatas pacar pura-puranya. Tapi entah mengapa, hatinya sedikit sakit, meskipun itu teman baiknya sendiri yang pergi bersama Ranti. "Oh gitu, terus kalian ketemu Gaida?" Ranti mengangguk. "Iya, makanya sekarang kenal." Argi menghela napas. "Argi, jawab dengan jujur. Ranti ini siapanya kamu?" Perkataan Gaida membuat Argi menoleh padanya. "Dia pacar kamu, bukan? Penampilannya mirip banget sama aku. Sama-sama rambut pendek dan pake kacamata. Kamu suka tipe cewek yang begini, ya?" Rasanya malu saat Gaida tahu betul bahwa Argi masih menyukai dirinya sampai saat ini. "Enggak, bukan. Ranti bukan pacarku." "Terus siapa? Tadi Ranti bilang dia pacar kamu. Mana yang bener?" Gaida mendesak, ingin segera tahu kebenarannya. "Maaf, aku bohong. Aku suka sama Argi, tapi belum jadi pacar, ini masih pedekate, hehe." Ranti membenarkan perkataannya. "Oh, gitu." Gaida mengangguk mengerti. "Enggak, gak gitu! Aku dan Ranti cuma temenan. Dia gak punya perasaan apa-apa sama aku." Argi berkeringat dingin. "Kamu tau dari mana Ranti gak punya perasaan sama kamu? Terus kenapa kalian jalan malam-malam berdua?" Gaida berusaha mengorek semuanya. "Itu... Ranti... dia pacar pura-pura aku." Gaida terkaget. Ranti menampar wajahnya sendiri. Gadis itu padahal sudah berusaha untuk menyembunyikan identitasnya. "Pacar pura-pura?" Argi mengangguk. "Di kampus banyak cewek yang ngajak aku pacaran. Aku gak tega nolak mereka terus, jadi biar mereka gak nembak aku lagi, aku minta Ranti buat jadi pacar pura-pura aku." Gaida menatap Ranti. Ranti mengangguk. "Kenapa kamu menolak cewek-cewek yang nembak kamu? Emangnya gak ada yang kamu suka?" Argi menggeleng. Tubuhnya memanas saat memikirkan bahwa mungkin sekarang lah saatnya untuk menyatakan perasaan lagi pada Gaida. "Gak ada. Gak ada yang aku suka, makanya aku tolak semua. Cewek yang aku suka, dari dulu sampe sekarang gak berubah... cuma kamu... Gaida." Jantung Argi serasa ingin meledak saat mengatakan hal itu. Perasaannya pada Gaida masih sangat menggebu-gebu Gaida memejamkan matanya sejenak. "Ah, aku ngerti. Jadi kamu minta Ranti buat jadi pacar pura-pura kamu biar gak ada yang nembak kamu lagi, karena cewek yang kamu suka itu cuma aku. Begitu?" Argi mengangguk. "Terima kasih, tapi maaf. Aku udah suka sama laki-laki lain." "Iya, aku tau? Heru, kan? Kalian langgeng banget sih, kapan putusnya, sih?" Gaida menggeleng. "Enggak, aku udah lama putus sama Heru. Sekarang lagi sendiri." "Lagi sendiri? Terus siapa cowok yang kamu suka itu?" "Saga," jawab Gaida. Mulut Argi membulat, tidak bisa berkata apa-apa. "Saga? Kamu incer hartanya?" Plakk! Gaida menampar Argi. "Enggak, lah! Aku beneran suka sama Saga! Dia baik, berani, tulus, gak kayak kamu yang cuma punya ganteng doang! Kenapa sih yang suka ke aku harus kamu? Kenapa gak Saga?!" Gaida meneteskan air matanya. Argi shock. Gaida menyukai Saga? Sejak kapan? Apa selama ini Saga tahu bahwa Gaida menyukai dirinya? "Kamu suka sama Saga? Sejak kapan?" "Sejak dia datang ke kampus buat nyariin aku. Dia pemberani, gak kayak kamu yang pengecut! Dia rela bantuin kamu cuma buat nanyain apa aku masih pacaran apa udah putus sama Heru. Dia itu pemberani! Dia setia kawan sama temennya! Aku suka sama Saga!" Argi pun teringat dengan kejadian saat itu. Saat itu, Argi memang memaksa Saga untuk menanyakan status hubungan Gaida dengan Heru. Tidak disangka akhirnya akan seperti ini. Argi tidak menyangka Gaida akan menyukai Saga hanya karena hal seperti itu. "Percuma. Saga udah...." "Suka sama cewek Jepang, kan? Aku tau! Aku gak peduli! Aku gak berniat buat dapetin Saga. Aku cuma mau bilang, kalau aku sukanya sama Saga, bukan sama kamu! Udah berhenti, jangan kejar aku lagi. Aku gak bakal pernah mau sama cowok pengecut kayak kamu!" Gaida meledak-ledak. Dia tidak suka pada tindakan Argi yang meminta Ranti untuk menjadi pacar pura-puranya, lalu setelah itu mencampakkannya begitu saja ketika dekat dengan dirinya. Ranti mungkin tidak merasakan apa-apa, tapi sebagai teman Gaida tidak bisa menerima. Argi menghela napas. "Jadi kamu udah tau Saga suka sama Ayano?" "Iya, dia yang cerita sendiri. Aku pernah nembak dia, terus ditolak." Argi sakit hati mendengar fakta yang tidak dia ketahui selama ini. Jadi, Gaida menyukai Saga, ya? Argi sama sekali tidak kepikiran. Namun, di satu sisi, dia juga merasa lega. Setelah Gaida menolak Argi dengan sejelas itu, Argi sekarang bisa berhenti memikirkannya. Tidak akan berharap lagi selamanya. "Baiklah, aku tidak akan mengejarmu lagi, Gaida. Terima kasih sudah menjawabnya." Argi bersikap dengan tenang, sama sekali tidak terlihat terganggu. Ranti bingung. Bagaimana bisa Argi bersikap seperti itu? Bukankah sebelumnya dia terlihat sangat tegang? Gaida menyusut wajahnya dengan tisu. Masih emosional karena tidak bisa mendapatkan Saga, dan melampiaskannya pada Argi. "Kamu bener Gaida, aku gak boleh bersikap seperti pecundang selamanya. Aku gak boleh menghindari hal-hal yang gak aku suka. Aku harus menghadapinya. Makasih udah buka mata aku." Argi tersenyum ke arahnya. Sekarang Argi terlihat sedikit lebih baik di mata Gaida. "Iya, sama-sama. Maaf udah bentak-bentak tadi." Argi tertawa kecil. "Gapapa." Ranti menyeruput kopinya dengan nikmat. Dia merasa lega semua ini berakhir dengan baik. Dia bersyukur mengakal Argi pergi malam ini. "Kalau gitu, aku hentikan aja deh pura-pura pacarannya." Argi menatap Ranti. "Makasih ya Ranti udah bantu aku selama ini. Sekarang kamu gak perlu pura-pura jadi pacar aku lagi. Uangnya kamu simpen aja, gak usah dikembaliin." "Eh?" Ranti tidak percaya dengan apa yang dia dengar? Pura-pura pacarannya berhenti? Ada perasaan tidak nyaman saat Ranti membayangkan tidak bisa berhubungan lagi dengan Argi. "Gak mau." "Hah?" Argi terkaget, begitupun Gaida. "Gak mau. Aku masih ingin pura-pura pacaran sama kamu. Aku udah nyaman. Kalau nggak gini, aku gak bakal punya temen lagi buat jalan ke event anime." Argi terdiam. "Ibu udah seneng karena aku dapat cowok. Apalagi cowoknya seganteng kamu. Aku gak mau lepasin semuanya begitu saja. Aku masih ingin kayak gini." Argi menatap Ranti dalam-dalam. "Ranti... jangan-jangan... kamu... lu beneran suka sama gua?" Argi kembali berbicara dengan nada seperti biasa. "Gak bakal pernah ada cowok yang mau sama cewek aneh kayak gua. Cuma lu doang. Karena itu gua gak mau lepas lu. Setidaknya untuk sementara. Gapapa cuma pura-pura juga. Itu udah buat gua bahagia." Ranti tidak menjawab pertanyaan Argi. "Lu suka sama gua?" Ranti tidak menjawab. "Ranti?" Ranti menghela napas. "Awalnya gua pede gak bakal suka sama lu meski wajah lu ganteng kayak gitu, soalnya gua emang sukanya cowok 2D doang. Tapi, ternyata, gua ini cewek normal. Gua masih suka sama cowok beneran. Dan lu deket terus sama gua. Lu gak pernah marah meski gua sering bersikap egois, padahal lu bisa aja menolak permintaan gua. Kenapa lu sebodoh itu? Lu kan yang bayar gua, seharusnya lu yang ngatur gua, bukan gua yang atur lu. Kenapa? Kenapa lu mau menuruti semua keinginan gua? Lu gak sadar sikap lu itu bikin gua suka sama lu? Malem ini juga. Lu pikir gua gak deg-degan waktu kita pegangan tangan? Waktu kita hampir ciuman di atas bianglala, lu pikir tubuh gua gak kerasa panas? Gua suka sama lu, Argi. Gua kalah. Gua telah melanggar perjanjian. Gua tau itu, tapi tolong, tetaplah jadi pacar pura-pura gua. Karena kalo kita udah gak punya hubungan itu lagi... kita bakal kepisah selamanya. Kita bakal jadi orang asing lagi." Ranti mengungkapan semua isi hatinya. Argi terdiam sesaat. "Maaf Ranti, gak bisa. Gua gak mau buat lu menderita lagi dengan jadi pacar pura-pura gua. Bener kata Gaida, hubungan palsu ini harus segera di akhiri." Ranti langsung memegang kedua tangan Argi. "Argi, pliss, jangan tinggalin gua. Lanjutin aja pura-pura pacarannya." Ranti membuang harga dirinya. Dia yang selalu bersikap cuek kali ini memohon-mohon di hadapan Argi. "Gak mau." "Argi!!!" *cup. Argi mengecup lembut bibir Ranti di hadapan Gaida secara tiba-tiba. "Gua gak mau kita pura-pura pacaran lagi. Soalnya gua mau lu jadi pacar beneran gua." Argi tersenyum. Ranti shock. Dia memegangi bibirnya sendiri. "Tadi lu bilang kalau kita beneran ciuman, kita harus jadian beneran, kan? Kita udah ciuman tadi, jadi sekarang kita pacaran beneran. Lu gak boleh nolak, soalnya lu sendiri yang bilang." Ranti kehabisan kata-kata. Jantungnya berdegup dengan kencang. Seorang gadis biasa seperti Ranti bisa mendapatkan Argi? Bukankah itu hal yang luar biasa? "Kita pacaran beneran sekarang? Bukan pura-pura lagi?" Ranti memastikan. "Iya." Argi mengangguk. Wajah Ranti memerah. "Gua pulang dulu." Ranti beranjak dari tempat duduknya. "Eh, Ranti, mau ke mana?!" "Gua mau pulang! Gak usah kejar gua!" Ranti berlari meninggalkan tempat itu. Gaida tersenyum. "Udah, gak usah dikejar. Dia cuma lagi malu." "Oh, gitu ya." Argi tertawa kecil. "Btw, makasih, ya. Karena kamu, aku bisa jadian sama Ranti. Makasih banyak." Gaida mengangguk. "Iya, sama-sama." "Kalo gitu, pulang yuk ah. Udah malem." "Iya." Malam ini, penilaian Gaida pada Argi menjadi lebih meningkat. "Jaga Ranti baik-baik, ya," pesan Gaida. "Kamu temen Ranti juga, kan? Tolong jagain dia baik-baik juga." Argi balik meminta. "Iya." Malam itu pun mereka berpisah saat menaiki taksi yang berbeda.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN