Di bawah bulan yang bersinar terang, Argi duduk dengan resah di kursi taman yang penuh dengan orang-orang berpacaran. Pemuda itu menghentakan kakinya berkali-kali, kedua tangannya berkeringat.
“Tempat apaan sih ini? Kok banyak banget orang pacaran?”
Malam ini Argi punya janji dengan Ranti, seorang gadis yang telah dibayar untuk menjadi pacar pura-puranya. Ranti mengajak Argi bertemu di taman ini pukul 7 malam, tapi Argi sudah ada di tempat ini satu jam lebih awal.
“Yang minta dia buat pura-pura jadi pacar gua kan gua sendiri. Kenapa malah dia yang jadi ngatur-ngatur, ya?” Argi tidak mengerti mengapa bisa begini jadinya. Yang pasti, Argi benar-benar tidak bisa menolak setiap ajakan yang diminta oleh Ranti. Argi taku terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Untuk menghabiskan waktu, Argi membaca novel internet kesukaannya yang bergenre isekai. Novel itu bercerita tentang seorang putri kerajaan yang diculik oleh raja iblis, kemudian protagonis yang bereinkarnasi ke dunia itu dipaksa raja untuk menyelamatkan sang putri. Ceritanya agak aneh, tapi Argi menyukainya.
“Jangan baca novel isekai terus, nanti beneran masuk isekai, loh.”
Suara bernada lembut itu membuat Argi tersentak. Dia mengalihkan pandangannya menuju gadis berkacamata dengan rambut sebahu yang berdiri di depannya. Rambut Ranti sudah lebih panjang dari terakhir kali mereka menunggu.
“Ranti?”
“Maaf ya nunggu lama.” Ranti lantas duduk di sebelahnya. Bau shampo dan parfum yang menempel pada tubuhnya tercium dengan jelas oleh Argi.
“Gapapa. Aku juga baru sampai.” Argi segera memasukan kembali handphonenya ke dalam saku. “Ada urusan apa ngajak aku ke sini?”
Ranti melihat-lihat sekitar, dia terkejut dengan banyaknya pasangan yang bermesraan di taman ini. Dia pikir tempat ini akan sepi pada malam biasa.
“Ternyata di sini banyak orang, ya.”
“Ya, begitulah. Kenapa memangnya?”
“Lihat, ada yang ciuman.”
“Emang.”
“Mau coba?”
Argi langsung mundur. “Eits, eits, bentar. Ini tidak sesuai perjanjian. Lu jatuh cinta sama gua, ya? Gak boleh Ranti. Gak boleh. Kita cuma pura-pura pacaran doang.”
Ranti langsung tertawa sembari menutup mulutnya. “Iya, gua cuma bercanda kali.”
“Oh, gitu ya.”
“Gua cuma mau tes lu doang, pengen tau gimana reaksi lu kalo gua ngomong gitu. Ternyata jawaban lu sempurna. Lu ini fix bukan cowok mesum.” Ranti tersenyum padanya.
“Emang bener.”
Ranti tetiba berdiri dari tempat duduknya, menarik tangan Argi. “Ayo mulai kencan kita!”
Argi terkaget. “Eh, kencan? Ke mana?”
Sesuai dengan yang Ranti rencanakan, dia mengajak Argi pergi ke taman hiburan malam yang terletak tidak jauh dari tempat ini. Ini adalah kencan pertama mereka semenjak berpura-pura pacaran beberapa bulan lalu. Mereka berpegangan tangan di sepanjang jalan.
“Ini bukan kencan pertama kali. Waktu gua nganter lu ke event anime, itu emang bukan kencan?”
“Ya, bukan lah. Ini juga aslinya bukan kencan. Kita kan gak pacaran.”
“Bener juga.”
Selama di taman hiburan, mereka menaiki roller coaster, banana boat, rumah hantu, dan banyak permainan lainnya. Sebelum pulang, Argi dan Ranti menaiki bianglala untuk mengakhiri kencan mereka malam ini.
“Pemandangannya terlihat indah ya dari atas sini.” Ranti menempelkan wajahnya pada kaca.
“Bener.” Argi ikut takjub.
Tak lama, keduanya kembali duduk seperti semula. Mereka duduk dengan posisi saling berhadapan, sehingga secara terpaksa harus bertatapan.
“Argi, boleh gua meminta sesuatu?” Ranti tiba-tiba berbicara, raut wajahnya memerah.
“Mau minta apa?”
“A-anu… ka-kalau gak keberatan… lu… lu mau gak ciuman sama gua?” Ranti meminta dengan ekspresi yang menahan malu. Raut wajahnya memerah seperti tomat.
Mulut Argi terbuka lebar.
Dia kaget setengah mati.
“Ah, lu pasti ngetes gua lagi, kan? Nggak, nggak, gak boleh. Dalam kontrak, gua udah bilang ke lu kalau lu gak boleh jatuh cinta sama gua.”
Ranti menarik napas dalam-dalam, seperti memasukkan kembali ingus ke dalam hidungnya.
“Gimana gua gak jatuh cinta beneran. Lu baik banget orangnya. Selalu nurutin apa yang gua mau, dan gak pernah protes. Padahal lu ganteng, kenapa mau pura-pura pacaran sama cewek jelek kayak gua? Lu gak malu apa dikatain sama temen-temen kampus.” Wajah Ranti sangat memerah, tidak seperti biasanya.
“Tunggu, tunggu, lu kenapa Ranti? Lu mabuk? Lu gak jelek, kok. Di mata gua, lu lumayan cantik, seriusan.”
Ranti kembali menghirup ingusnya yang sama sekali tidak ada di hidung. Argi tidak tahu gestur apa itu, tapi Ranti terus melakukannya.
“Gua mau ciuman sama lu malem ini juga. Kalo lu gak mau, kita berhenti jadi pacar pura-pura malem ini. Duitnya masih ada, bakal gua balikin juga. Gimana?” Ranti mendekatkan wajahnya pada Argi.
“E-eh… lu serius ingin ciuman sama gua? Bukannya lu suka sama cowok 2D?” Argi memastikan.
“Ya, emang, tapi kalau cowok 3D-nya seganteng dan sebaik lu, gua gak bakal nolak, lah. ” Ranti mengenggam kedua tangan Argi. “Gimana, mau gak? Gua gak mau maksa.”
Argi berkeringat dingin. Wajah Ranti sudah terlalu dekat dengannya.
“Ini cuma ciuman doang, gak masalah apa-apa. Gapapa kali, ya? Kalau ditolak, gua takut Ranti berbuat yang enggak-enggak,” batin Argi.
Dia menatap wajah Ranti yang sudah memerah, gadis itu masih menanti jawaban dari Argi.
“Yaudah, ayo ciu—”
“Sudah sampai! Silakan keluar dengan berhati-hati!”
Saat hendak berkata begitu, bianglala mereka telah kembali sampai di dasar.
Wajah Ranti kembali seperti biasa, tidak merah seperti tadi lagi.
Mereka berdua pun turun dari bianglala.
“Gi-gimana ciumannya, jadi gak?” Argi kembali bertanya saat mereka melangkah berdua ke jalan pulang.
“Bego, tadi itu cuma tes. Selamat, lu berhasil lagi. Salut deh.” Ranti bertepuk tangan.
Wajah Argi memerah. Sekarang, dia yang merasa malu, seolah dia yang mengajak Ranti berciuman.
“Anjir lah, parah lu, jangan bercanda kayak gitu lagi. Iman gua juga ada batasnya!”
“Lu udah berhasil nahan kok tadi, udah gak usah dibahas lagi.”
Argi berdecih melihat Ranti yang tampak biasa-biasa saja.
“Tenang aja, Argi. Gua gak akan melanggar kontrak yang lu tetapin. Gua gak bakal jatuh cinta sama lu, dan gak bakal ngelakuin hal-hal yang aneh sama lu. Malem ini gua cuma gabut aja, jadi pengen ngerjain lu.”
Argi menampar wajahnya. Jika tadi bianglalanya masih di atas, Argi pasti sudah akan mengiyakan, dan mungkin keduanya bisa berciuman saat itu juga karena jarak wajah mereka sudah sangat dekat.
Jiwa suci Argi berterima kasih, tapi jiwa kotornya merasa menyesal.
“Syukurlah gua berhasil menghindari ciuman tadi. Kalau misal tadi kita beneran ciuman gimana?” Argi menoleh ke arahnya.
Ranti terdiam sejenak.
“Kalau tadi kita beneran ciuman, kita harus pacaran beneran. Lu harus tanggung jawab.”
“Hah?! Kan elu yang ngajak!” Argi terkaget.
“Tapi kan lu terima.”
Argi kehabisan kata-kata. “Ya… ya… gak gitu konsepnya.”
“Udah, lupain aja kejadian tadi. Lu gak nyium gua, berarti kita gak harus pacaran beneran. Apa jangan-jangan lu nyesel?” Gadis berkacamata itu menatap Argi dari samping.
“Kagak lah. Gua udah bayar lu mahal-mahal. Pokoknya kita pacaran pura-pura. Titik.” Argi bernapas lega setelah mengatakan itu.
“Sampe kapan?”
“Setelah gua berhasil dapetin Gaida.” Argi menatap langit.
“Gaida? Oh, cewek itu….” Ranti mengingat kembali gadis yang dia temui saat ada acara anime di ITENA. Saat itu, Ranti pergi dengan Saga.
“Lu kenal dia?”
Ranti langsung membenarkan perkataannya. Dia baru ingat harus merahasiakan ini dari Argi.
“Enggak, aku—”
“Ranti!” Seorang gadis memanggil.
Ranti terkejut saat mengetahui bahwa Gaida lah yang memanggilnya dari belakang. Dia sedang berjalan sendirian sembari membawa barang belanjaan.
“Ga-Gaida?!” Argi lebih terkejut lagi.