(POV Mega)
“Totalnya 100.000 rupiah, Mba.”
“Oh, iya, ini uangnya,” kataku sambil memberikan satu lembar seratus ribu rupiah.
Ketika hendak pulang, aku melihat Argi baru memasuki supermarket. Aku langsung menyapanya.
“Hai Argi, kamu habis ngapain? Kok baru pulang?”
“Eh, Mega, ya? Aku baru selesai latihan catur.”
Dia ingat aku!
“Catur? Malem-malem begini?”
Sekarang masih jam tujuh sih, tapi menurutku ini sudah terlalu malam untuk berkegiatan di luar.
“Iya, aku main sama anak kampus lain. Sudah dulu yaa, aku mau belanja,” kata Argi meninggalkanku.
Duh… buru-buru banget sih
Aku pun pergi meninggalkan supermarket.
Aku tidak akan langsung pulang, aku mau ngobrol dulu sama Argi.
*5 menit kemudian
“Loh, Mega, kamu kok masih di sini?” kata Argi setelah membuka pintu keluar.
“Aku masih menunggu temanku.”
Aku berbohong. Aku tidak sedang menunggu siapa-siapa.
“Oh, begitu. Yasudah, aku pulang duluan yaa…”
“Tunggu!!!” Aku menarik lengan baju Argi
“Ada apa?” Dia melihat ke arahku
“Ayo, duduk dulu sebentar, aku mau nanya sesuatu sama kamu. Kamu gak buru-buru, kan?”
“Enggak sih, mau nanya apa emang?”
“Duduk dulu aja pokoknya, pertanyaanku lumayan banyak!”
“Baiklah,” kata Argi menurut
Kami pun duduk berdua di meja dekat supermarket. Dengan ditemani bulan purnama dan dua kaleng minuman dingin, kami berdua berbincang tentang kegiatan kami selama libur kuliah.
Sebenarnya yang aku tanyakan pada Argi tidak begitu penting. Tapi, bagaimanapun juga aku ingin mengobrol dengan Argi. Tidak peduli dia sudah punya pacar, aku hanya ingin berbicara dengan Argi. Tidak apa-apa sebagai teman juga.
“Udah setengah jam nih, temanmu kok belum balik juga?” tanya Argi sembari melihat jam tangannya.
“I-iya, kok dia lama, ya?”
“Aku pulang duluan, ya? Udah ngantuk banget.”
“Tunggu sebentar lagi! Aku mohon! Bentar lagi temenku sampe.”
“Kalau gitu, aku tiduran bentar, ya. Kalau temenmu udah sampe, bangunin aku.”
“Oke.”
Lima menit berlalu, Argi sudah benar-benar tertidur. Astaga, aku jadi merasa jahat kalau begini. Rasanya aku hanya merepotkan Argi saja. Tapi mau gimana lagi. Kalau tidak begini, aku tak akan pernah punya kesempatan untuk mengobrol dengan dirinya.
Aku merasa tidak enak, aku bangunkan saja deh.
“Argi, bangun. Temenku gak jadi ke sini.” Aku menggebrak-gebrak tubuh Argi.
Argi tidak bangun.
“Argi, bangun! Argi!”
Argi masih tidak bangun.
Astaga, kenapa bisa begini? Apa Argi memang sulit dibangunkan?!
“Argi! Argi!”
Aku membangunkannya terus menerus, tapi dia tidak bangun juga. Aku khawatir dia meninggal, tapi saat kuperiksa denyut nadinya, ternyata masih berdetak.
Aku tidak tahu apa yang terjadi pada Argi, tapi aku tidak boleh tinggal diam. Tidak mungkin meninggalkan Argi di sini sendirian.
Aku pun menelpon ayahku.
“Halo, Ayah? Bisa jemput aku di supermarket deket kampus? Temenku ada yang pingsan.”
Setelah 10 menit, ayahku tiba di supermarket. Ayah tidak banyak bertanya, dia langsung menggotong Argi begitu saja.
Berbeda dengan Argi, aku ini asli orang Bandung. Rumahku tidak begitu jauh dari kampus. Sedangkan Argi, aku tau dia berasal dari Surabaya. Katanya dia tinggal di kontrakan berdua dengan Saga.
Setelah sampai di rumah, ayahku langsung membawa Argi ke kamarku di lantai 2.
“Biarkan dulu dia beristirahat,” kata ayah. Aku hanya mengangguk. Kemudian dia pergi meninggalkanku.
Sekarang Argi sedang tidur di kasurku. Aku duduk disampingnya, menunggunya bangun. Aku tidak bosan melihat wajahnya ketika tertidur. Aku terus menerus melihat ke arahnya, berbagai fantasi pun muncul dalam kepalaku.
Suatu saat nanti, mungkin hal ini akan terjadi lagi. Dengan anak kami berada di sampingnya. Hihihi
Wah, aku seperti pacarnya Argi saja.
Andai waktu bisa dihentikan.
Coba dia belum punya pacar.
Aku senyum-senyum sendiri ketika melihat dia tertidur. Sampai akhirnya dia bangun tiga jam kemudian.
“Ehmm.…” Argi terbangun dan menggesek-gesek matanya. Dia melihat ke arahku dan bertanya. “Ini di mana? Jam berapa sekarang?”
“Sekarang jam 22:47. Kamu sedang ada di rumahku.”
“Oh… ya sudah, aku pulang sekarang yaa.”
“Eh, jangan dulu. Papa udah beliin pizza buat kamu. Makan dulu, yuk.”
“Oke deh.”
Kami berdua turun menuju meja makan. Di sana orang tua dan kakak perempuanku sedang menunggu kami. Pizza pesanan Ayah sudah tiba, jadi semuanya terbangun karena ingin segera menyantap bersama-sama.
“Wah, Argi sudah bangun ya….” Ibuku menyapa Argi
“Iya Bu, maaf merepotkan. Saya sebenarnya menderita narkolepsi ringan, jadi kadang kalau terlalu lelah suka kambuh. Tiba-tiba ketiduran dan susah buat bangun. Jadi kayak pingsan. Biasanya sih kambuhnya siang, tapi kadang malam juga.”
“Oh, gitu, ya. Tapi, gak bahaya, kan?” Ibu tampak cemas.
“Enggak, kok. Asal saya bisa jaga kondisi tubuh, semua akan baik-baik aja. Tadi itu, saya terlalu kecapean. Untung deh ada Mega.”
Ibuku tersenyum. “Syukurlah kalau gitu.”
Sungguh, aku baru tahu kalau Argi mengidap penyakit itu. Nama penyakitnya pun bahkan baru dengar.
“Aduh, repot-repot sampai disuguhin Pizza segala. Saya jadi gak enak,” kata Argi setelah dia duduk di sebelahku.
“Eh, nggak papa. Jarang-jarang Mega bawa laki-laki ke rumah.” Ibu yang menjawab.
“Ibu! Argi itu cuma temen, bukan siapa-siapa!” Aku menimpali.
“Emang yang bilang Argi siapa-siapanya kamu itu siapa?” Ayah ikut berbicara.
“Ya… gak ada sih.”
Ibu, ayah, dan kakak perempuanku langsung tertawa. Argi hanya tersenyum saja, membuatku merasa malu.
Setelah itu, kami menyantap pizza di meja sampai habis. Pizza paling enak yang pernah aku makan. Itu karena aku bisa makan pizza bersama keluarga tercinta dan juga laki-laki yang aku cintai.
“Terima kasih ya atas tumpangan dan makan malamnya. Saya pamit pulang,” kata Argi pamitan.
“Eh, jangan pulang Argi. Malam ini kamu nginep di sini aja. Ibu masih khawatir sama kamu,” kata ibuku.
Ibu pengertian banget, deh!
“Gapapa Bu, nanti saya tambah merepotkan. Saya baik-baik saja, kok.”
“Eh, jangan! Kamu harus nginep pokoknya. Sekarang sudah terlalu malam.”
Argi melihat ke arahku.
Deg.
Aku menanti jawaban Argi. Kuharap dia mau menginap di sini.
“Baiklah, kalau gitu. Saya terima tawarannya, Bu.” Argi menaruh kembali tas gendongnya.
Yess!!! Aku sangat senang mendengarnya.
“Baguslah. Nanti kamu tidur di kamar Mega, ya. Mega biar tidur sama kakaknya.”
“Iya, Bu. Makasih.”
Kami berdua terdiam dan saling memandang sejenak.
“Ayo, aku antar ke kamarku.” Aku menarik bajunya Argi.
“Oh, iya, ayo.” Argi mengikutiku.
Kami pun sampai di kamar.
“Argi. Kamu mau mandi dulu, mau langsung tidur atau mau nonton tv dulu?” tanyaku.
“Kamu kayak istriku aja. Santai aja kali, hahaha.”
Mukaku memerah.
“Kamu kan tamu, Argi. Aku harus melayanimu dengan baik.”
“Iya iya, makasih loh. Aku mau mandi dulu boleh? Abis itu nonton TV, yuk!”
“Siap!!!” kataku dengan semangat.
Setelah menyiapkan air panas untuk Argi, aku menunggunya di ruang keluarga sambil menyalakan TV. Aku tidak sendirian, di sini juga ada kakakku.
Setelah mandi, Argi ikut bergabung bersama kami.
Kakakku mematikan lampu dan kami bertiga nonton film action yang tayang di televisi.
“Mega, Argi, kakak udah ngantuk banget. Kakak tidur dulu, ya. Jangan lupa matikan TV-nya kalau udah selesai.”
“Iya kaak.” Aku menyahut.
Setelah kakakku pergi, kami masih lanjut menonton. Kami tidak ngobrol sama sekali. Aku tidak berani mengganggu Argi, dia sangat serius menontonnya. Meski tidak mengobrol, rasanya senang juga, bisa menghabiskan waktu bersama Argi.
Aku ini jarang tidur larut. Selama menonton aku sering menguap, berbeda dengan Argi yang benar-benar segar. Apa hanya tidur tiga jam sudah cukup buat mengembalikan energi dia? Apa penyakit narkolepsinya itu gak berpengaruh? Aku sedikit khawatir.
“Mega, kamu tidur saja duluan. Nanti aku bangunin kalau film nya udah selesai,” ucap Argi, dia sepertinya menyadari kalau aku sudah mulai mengantuk.
“Aku belum ngantuk, kok. Aku masih ingin nonton filmnya.” Aku berpura-pura.
Argi langsung mematikan TV.
“Filmnya tidak seru, aku juga udah mengantuk. Tidur sana, aku juga mau tidur sekarang.”
Argi pasti berbohong, padahal dari tadi dia terlihat sangat menikmati filmnya.
Aku menuruti perkataan Argi dan pergi ke kamar kakakku.
Ini adalah malam terindah dalam hidupku. Bisa merasakan tinggal serumah dengan orang yang aku sukai, ternyata begini rasanya. Ah, pasti akan menyenangkan jika bisa seperti ini terus setiap hari.
Tapi sayangnya tidak bisa. Argi sudah menjadi pacar Ranti. Aku hanya sebatas temannya saja.
Boleh tidak sih meminta pada Tuhan biar Argi putus sama Ranti?
Tanpa sadar, aku mulai terlelap setelah menaruh kepalaku di atas bantal.
***
Pagi harinya, setelah kami sarapan pagi, Argi pamitan pulang.
“Terima kasih sudah membiarkan saya menginap malam ini, Tante, Om. Padahal saya baru pertama kali datang ke sini.”
Ibu membalas. “Nggak papa, ibu tau kok tentang kamu. Mega sering cerita soalnya.”
“Mama!” Aku mencubit lengannya.
“Mau dianter sama Om aja?”
“Nggak perlu Om, makasih. Saga katanya mau jemput ke sini pake mobil.”
“Oh, gitu, oke deh!”
Argi lalu menatap ke arahku. “Makasih banyak ya Mega!”
Aku tersipu. Sial, Argi benar-benar tampan. Ah, apa ini terakhir kalinya dia main ke rumahku?
“Iya, sama-sama. Kapan-kapan main ke sini lagi, ya!” Tanpa sadar perkataan itu meluncur dari mulutku.
“Hehe, iya.”
Argi pun pamit pulang setelah mobil yang dikendarai Saga sampai.
Ini sungguh menyakitkan. Ini seperti Argi tidak akan pernah kembali lagi ke sisiku. Momen seperti ini jarang sekali terjadi. Aku tidak mau merepotkan Argi lagi lebih dari ini.
Hatiku berdebar-debar, bergejolak, ingin sekali aku katakan pada Argi bahwa aku menyukainya.
Tapi, dia sudah punya pacar. Aku tidak mau perasaan egoisku ini menjadi beban pikiran untuknya.
Karena itu, aku akan memendamnya saja. Tidak apa-apa cinta satu arah pun. Argi memang terlalu bagus untukku. Seorang pangeran memang tidak cocok untuk seorang gadis biasa.
Tapi, sekali lagi. Jika bisa bermimpi, aku ingin sekali bersanding bersama Argi.
Aku hanya bisa berharap.