“Sanayagi?”
Dengan refleks Ayano menyebut kata itu di saat menatap kakak tertua Saga. Penampilannya beda jauh dengan orang yang dia kenal. Rambutnya pendek, tidak berjanggut, dan posturnya pun sedikit lebih tinggi. Tapi entah mengapa, Ayano merasa orang di depannya mirip dengan Sanayagi. Terutama auranya.
“Kenapa kau tahu nama yang kugunakan saat tinggal di Jepang? Tunggu, yang benar itu Sayanagi, bukan Sanayagi!”
Mata Ayano terbelalak. Dia menutup mulutnya dengan tangan. Sudah dia duga, orang yang ada di depannya memang Sayanagi yang dia kenal. Ada sedikit kemiripan wajah. Ayano ingat betul bagaimana wajah Sayanagi karena dulu sering berkunjung.
Ayano pun langsung memeluknya.
“Sanayagi, ini aku Shiraishi Ayano. Gadis kecil yang takut dengan kucing.”
Saga terkejut. Kak Kai adalah orang yang ada di cerita Ayano? Saga tahu kakak tertuanya sempat tinggal di Jepang selama satu tahun, tapi dia tidak menyangka kalau dirinya adalah laki-laki yang dulu bertemu dengan Ayano.
“Tunggu, gadis yang takut dengan kucing? Apa kau gadis yang sangat menyukai es krim itu? Yang setiap hari mampir ke tempatku saat musim gugur dua belas tahun yang lalu?”
Ayano mengangguk-angguk sembari masih memeluknya.
“Kamu… Shiraishi Ayano?”
“Iya, akhirnya kita bertemu lagi, Sanayagi!” Sampai besar pun Ayano masih salah menyebutkan namanya.
Terlihat perubahan ekspresi yang cukup mencolok dari kakak tertua Saga, Kai Harvent. Dia yang sedari awal berwajah serius karena sedang kelelahan tiba-tiba menunjukkan wajah secerah mentari saat Ayano memeluknya.
Saga sedikit cemburu melihat Ayano yang memeluk kakaknya, tapi dia keberatan karena dia adalah kakaknya sendiri. Lagipula Kai sudah punya istri, jadi Saga tidak berpikir ke mana-mana.
Setelah cukup lama memeluk, Ayano yang terlihat seperti anak kecil lagi mulai berhenti melakukannya.
“Maaf tiba-tiba memeluk, saya sedang emosional karena baru saja menceritakan soal Anda kepada Saga. Sekali lagi maaf Sayanagi… ah tidak… Kak Kai!”
Kai membalas senyumnya. “Iya, tidak apa-apa.”
Mereka pun duduk bersama di atas sofa. Argi membuatkan minuman dingin untuk mereka bertiga. Peran Argi di sini seperti seorang pelayan yang melayani majikannya. Dia menikmati peran itu.
“Astaga, dunia ini benar-benar sempit, ya. Tidak aku sangka bisa bertemu denganmu lagi di sini, Ayano-chan.” Kai menatap Ayano, masih tidak percaya.
“Iya, aku juga, saat itu aku mencari-cari Sayanagi… eh… Kak Kai saat Kak Kai pergi tiba-tiba. Saya sangat sedih.”
Kai tertawa kecil. “Panggil Sanayagi aja gapapa.”
“Oke deh, hehehe.”
Saga ikut dalam pembicaraan. “Omong-omong, Abang ngapain dua belas taun lalu di Jepang? Sendirian aja, kan?”
Kai berdehem. “Kamu lupa, ya? Dulu kan aku suka anime. Jadi aku datang ke Jepang biar lebih meresapi saat nonton animenya. Waktu itu aku baru lulus S1, terus minta cuti satu taun sebelum lanjut koas. Di sana aku menghabiskan waktu buat malas-malasan tiap hari. Habis itu, udah, aku balik lagi ke Indonesia buat lanjut kuliah.”
Saga mengangguk-angguk. “Oh, gitu ya. Aku lupa kakak suka kartun.”
“Bukan kartun, tapi anime!”
“Iya, iya, hahaha.”
Ayano yang sekarang bertanya. “Dulu kenapa rambut kakak berantakan sekali? Kenapa banyak janggutnya juga?”
Kai berdehem lagi. “Aku coba-coba produk penumbuh rambut dan janggut yang ada di Jepang. Ternyata ampuh juga. Coba-coba aja penampilan kayak gitu. Kalau di Indonesia tidak berani.”
Ayano tersenyum. Cara bicara dan senyuman Kai memang sama persis dengan Sayanagi yang dia temui dulu. Ayano bersyukur Sayanagi ternyata baik-baik saja.
“Kak Kai ini seorang dokter, jadi direktur rumah sakit malah. Hebat banget, ya.” Saga membicarakan kakaknya, sekaligus membanggakannya. Tapi Saga tidak menyinggung soal marga keluarga Harvent.
“Waah, jadi ternyata Sanayagi itu seorang dokter? Hebat!!!”
Kai tersenyum. “Kamu sendiri gimana? Masih suka sama kucing atau jadi takut lagi? Hahaha.”
Ayano memangku Doggy yang sedang tiduran di bawah kakinya. “Aku sekarang kuliah di dokter hewan, Kak! Jadi ya, aku masih suka sama kucing! Hehehe.”
Kai mengangguk-angguk. Gadis kecil lucu dan galak yang dulu dia temui sekarang berubah menjadi gadis anggun yang cantik dan dewasa. Kai tidak lupa dengan wajahnya. Tapi cara bicaranya sudah benar-benar berubah. Ingatan masa lalu yang mulai pudar kini mencuat kembali.
“Dokter hewan, ya, bareng Saga. Hahaha, emang udah takdir kita ketemu lagi.”
“Iya!”
Jika dulu Ayano tidak bertemu Kai, Ayano mungkin masih akan trauma pada kucing, dan mungkin tidak akan datang ke Indonesia untuk berkuliah di jurusan dokter hewan. Itu artinya, pertemuan Ayano dan Saga sudah ditakdirkan sejak dua belas tahun lalu ketika mereka berdua bertemu di Jepang.
Secara tidak langsung, Kai lah yang telah mempertemukan Saga dan Ayano.
“Ayano, kenapa kuliah di Indonesia?” tanya Kai.
Ayano terdiam sejenak. “Saya tidak betah di rumah, ada sedikit masalah dengan keluarga. Saya ingin pergi jauh dari Jepang. Karena itulah saya datang ke sini, karena katanya negara ini orangnya ramah-ramah.”
Itu adalah pertanyaan yang dulu pernah Saga tanyakan, tapi hari ini Ayano memberi jawaban yang berbeda. Sepertinya, jawaban malam ini yang merupakan alasan sebenarnya. Saga perlahan mulai mengerti.
“Pake beasiswa?”
“Iya.”
Kai tersenyum. “Syukurlah. Lalu bagaimana dengan orang-orangnya? Apakah ramah-ramah?”
Ayano mengangguk. “Iya, semuanya ramah-ramah. Teman kuliah, ibu penjaga kantin, bapak yang jualan makanan. Semuanya ramah-ramah. Tapi ibu asrama saya sedikit galak, hehehe.”
“Ahaha, begitu, ya. Lalu bagaimana dengan Saga? Dia ramah apa galak?”
“Eh? Kalau Saga… dia jahat! Dia suka berbuat jahil, suka meledek saya, suka memaksa saya buat ikut bersama dia, tapi dia ramah, kok.” Ayano menjulurkan lidah pada Saga, melebih-lebihkan sedikit perkataannya.
Dari luar Saga terlihat sebal, tapi aslinya dia berbunga-bunga.
“Ahaha, begitu. Syukurlah, ternyata Saga jadi anak yang baik.” Kai mengelus-elus kepalanya.
“Aku bukan anak kecil, Bang.” Saga melepaskan tangan Kai dari kepalanya.
Kai beralih menatap Ayano. Dia bertanya-tanya, mengapa Ayano bisa kenal Saga, dan yang lebih penting mengapa gadis itu bisa berada di tempat ini. Tidak mungkin Saga dan Ayano tidak dekat kalau sampai Ayano bisa datang ke tempat ini. Terlebih, Ayano terlihat seperti sudah terbiasa tinggal di kosan ini.
“Saga, Ayano sering ke sini?” Kai berbisik pada telinga Saga, tapi masih menatap Ayano.
“Kenapa emang?” Saga menjawab dengan bahasa jawa.
“Jawab aja.” Kai juga menggunakan bahasa jawa.
“I-iya… kadang-kadang datang.”
“Kadang-kadang atau sering?”
“Kadang-kadang sering.”
“Lah….”
“Udahlah, kepo banget sih.”
Kai sekarang menatap Ayano. “Ayano, kamu suka sama Saga?” Kai berbicara menggunakan bahasa Jepang.
Wajah Ayano memerah.
“Kenapa tiba-tiba nanya itu?”
“Jawab aja.”
Ayano memainkan jari-jarinya. “Sedikit.”
Kai tersenyum. “Syukurlah, aku seneng kalau Saga pilih cewek yang baik kayak kamu. Mantan-mantan Saga nakal semua.”
“Oh, begitu….”
“Tolong jaga Saga, ya.”
Ayano hanya mengangguk pelan.
Saga tentu bingung dengan pembicaraan mereka berdua. Dia tidak mengerti sepatah katapun.
“Kalian berdua bicarain apa?”
Ayano dan Kai menjawab berbarengan.
“Ra-ha-sia!”
Keduanya lalu tertawa, membuat Saga merasa sebal.
Malam itu, Ayano membuatkan makan malam untuk Saga, Kai, juga Argi. Ayano juga ikut makan setelah dipaksa-paksa oleh Kai. Katanya dia masih ingin mengobrol dengan dirinya.
Selesai makan malam, Ayano mengucapkan sesuatu yang selama ini ingin dia katakan pada Sayanagi alias Kai.
“Sayanagi! Terima kasih telah menolong saya saat itu!”
Kai tentu mengerti apa yang dimaksud Ayano.
“Iya, sama-sama, lain kali belikan aku es krim, ya.”
“Iya!” Ayano mengacungkan jempol.
Setelah itu, Saga pergi mengantar pulang Ayano menggunakan mobil kakaknya.