62

1753 Kata
"Kyaaaa!!!" Dengan refleks aku langsung berlari ke belakang tubuh Sayanagi saat seekor kucing berjalan keluar dari kolong kasur. Kenapa Sanayagi memelihara hewan seberbahaya ini?! "Usir kucing itu, usir dari sini! Huaaaa!!!" Aku berlindung di balik pantatnya. "Hei, kau benar-benar takut dengan kucing?" Sayanagi masih heran. Sudah jelas aku sangat takut! Bukankah dia sudah melihat ketika aku menangis di hadapan kucing saat di jalan pulang? "Aku akan melaporkanmu ke polisi jika tidak mengusir kucing itu!" Sanayagi tiba-tiba berjalan maju, dan menangkap kucing itu ke pangkuan tubuhnya. "Fiuuuh...." Aku merasa lega. Sanayagi hebat sekali bisa menjinakkan macan berukuran kecil itu. "Kau benar-benar takut?" Sanayagi menyodorkan kucingnya ke hadapan wajahku. "Kyaaa!!!" Aku berteriak lagi, tidak tahu sekerasa apa, tapi penghuni sebelah pasti dapat mendengarnya meski di luar sedang hujan deras. "Sanayagi, apa-apaan kau ini! Kau ingin membunuhku!?" Aku naik ke atas kasur dan melindungi tubuhku dengan bantal. Aku harap bantal ini cukup kuat untuk menahan cakaran mautnya. "Tidak usah takut, etto... siapa namamu?" Sanayagi menatapku. "Ayano! Shiraishi Ayano! Cepat keluarkan kucing itu dari sini!" Aku tidak mampu menahan diriku lagi. Aku bisa mati jika berada di ruangan yang sama dengan kucing itu. Sanayagi menghela napas. Dia duduk di lantai sembari mengelus-elus kucing itu. Dibanding kucing, itu sepertinya anak kucing, soalnya ukurannya jauh lebih kecil. Tapi tetap saja bagiku dia menyeramkan! "Ayano-chan, kenapa kau takut pada makhluk seimut ini? Maksudku, lihatlah betapa tidak berdayanya mahkluk kecil ini." Sanayagi mendorong-dorong anak kucing itu sampai jatuh berkali-kali. Anak kucing itu mengeong. "Bagus! Teruslah seperti itu! Siksa anak kucing itu sampai pingsan!" "Aku tidak sedang menyiksanya. Aku sedang bermain dengannya. Lihat, anak kucing ini terlihat bahagia." Sanayagi terus menerus bermain dengan anak kucing itu. Serunya dari mana coba? Tanpa sadar aku terus menonton Sanayagi yang sedang bermain-main dengan anak kucing itu. Entah mengapa, rasanya terlihat menyenangkan. Dibanding bermain dengan boneka yang tidak bisa bergerak, bermain dengan anak kucing sepertinya lebih menyenangkan. Tunggu! Bicara apa aku ini? Tidak, tidak, kucing itu berbahaya! Aku tidak percaya pada kucing maupun anak kucing! Sanayagi menatapku. "Kenapa kau takut pada kucing gadis kecil? Bisa kau ceritakan sedikit?" "Aku bukan gadis kecil! Namaku Shiraishi Ayano!" "Baiklah, tolong ceritakan sedikit tentang masalahmu dengan kucing Ayano-chan." Uhuk. Aku berdehem sebelum mulai bercerita. Sanayagi seperti sudah siap mendengarkan. Anak kucing yang ada di pangkuannya pun sepertinya ingin mendengar ceritaku. "Dulu, sewaktu aku masih kecil--" "Bukannya sekarang juga masih kecil?" Sanayagi memotong. "Dengarkan dulu sampai selesai!" "Ahaha, oke-oke." Aku pun melanjutkan. "Dulu, saat aku masih kecil, kira-kira berumur lima tahun. Aku pernah dicakar oleh kucing yang berkeliaran di luar saat aku menarik-narik ekornya. Kakiku juga digigit! Aku menangis dengan kencang saat itu, dan sejak saat itulah aku takut pada kucing. Kucing ternyata tidak selembut yang ada di film-film. Semua yang ada di film adalah kebohongan!" Sanayagi langsung tertawa. Itu benar-benar jahat. Padahal aku sangat menderita. Kenapa dia bahagia seperti itu? "Kucing tidak suka jika ekornya ditarik. Tidak heran kucing itu mencakar dan menggigitmu." "Eh, benarkah?" "Iya. Aduh, aku kasihan sekali padamu karena mendapat pengalaman yang buruk dengan kucing. Padahal mereka mahluk paling ramah sejagat raya." "Ramah apanya. Kucing itu kukunya tajam dan giginya juga runcing. Dia bisa melukai manusia kapanpun dia mau. Kau hewan seperti itu makhluk ramah?!" Sanayagi tertawa kecil. "Kalau begitu, ibumu juga galak dong. Ibumu sering pakai pisau, kan? Bukankah itu benda yang tajam? Kenapa ibumu menggunakannya? Lalu, apa kau pernah menggigit dirimu sendiri? Gigimu memang tidak runcing, tapi kalau dipakai menggigit rasanya sakit, kan? Bukankah itu berarti kamu dan ibumu juga termasuk makhluk berbahaya?" Aku pernah menggigit tanganku sendiri karena iseng, dan rasanya memang sakit. "Tentu saja tidak! Aku dan ibuku adalah orang baik! Ibu tidak akan menggunakan pisaunya untuk berbuat kejahatan! Aku pun tidak akan menggigit orang lain kalau orang itu tidak yang membuatku marah. Jadi, aku dan ibuku adalah makhluk yang tidak berbahaya!" "Nah, begitupun dengan kucing." Sanayagi dengan cepat menyambar. "Eh?" "Kucing tidak akan menyerang orang lain kalau dia tidak dibuat marah. Kucing itu sama sepertimu, Ayano-chan." Sanayagi tersenyum padaku. "Hah?! Aku sama dengan kucing?!" "Iya, memang begitu. Kalian sama-sama baik dan lucu. Kalian tidak ada bedanya." Pipiku sepertinya memerah karena dibilang anak yang lucu. "Apa buktinya kucing tidak akan menyerang kalau mereka tidak marah?!" tanyaku. "Ini, lihatlah anak kucing ini." Sanayagi menunjuk anak kucing berwarna oranye yang tertidur di kakinya. "Apa kau melihat kucing ini menyerang diriku?" Aku terdiam. Memang benar, sedari tadi anak kucing itu tidak menyerang Sanayagi sedikit pun. "Itu karena kau memeliharanya. Jadi dia sudah menurut padamu. Kalau aku sudah pasti akan diserang!" Sanayagi menghela napas. "Mau melakukan sedikit tantangan?" "Tantangan?" "Iya, aku menantangmu untuk mengelus kepala anak kucing ini. Jika kau berani, aku akan mengembalikan dua es krim rasa anggur yang barusan kau beri. Bagaimana?" Mengembalikan es krim yang barusan aku beri?! Kenapa dia bisa tahu aku menginginkan es krim itu kembali?! "Bagaimana kalau kucingnya menggigit atau mencakar?!" tanyaku. "Kalau dia menggigit atau mencakar, aku akan memberikanmu es krim gratis selama satu bulan penuh. Aku berjanji." Aku menelan ludah. Diberikan es krim gratis selama satu bulan penuh? Bukankah itu nikmat surgawi? Aku tidak akan bilang pada ibu seandainya aku mendapat es krim sebanyak itu. "Bagaimana, apa kau berani?" Aku menatap anak kucing yang sedang tidur itu. Aku yakin dia akan langsung menyerangku setelah dia bangun. Tapi sebagai kompensasinya, aku akan mendapat es krim gratis selama satu minggu. Ughk... sulit menolak permintaan ini. "Baiklah, aku terima tantangannya!" Sanayagi tersenyum. Dia lalu membangunkan anak kucing itu sampai dia mengeong. "Hei, kenapa kau membangunkan kucingnya?!" "Begini lebih menarik. Ayo, cepat lakukan!" Tubuhku bergetar. Apa benar ini aman? Aku ingin sekali mundur, tapi dua es krim rasa anggur sudah menungguku di dalam kulkas sana. Mereka pasti bersedih jika tidak aku jemput. Jikalau aku digigit, aku pun tidak akan rugi karena Sanayagi akan memberikanku es krim gratis setiap bulan. Aku harus memberanikan diri! Dengan perlahan, aku pun mulai turun dari ranjang, melangkah dengan pelan menuju anak kucing itu. Sanayagi mengangguk-angguk sembari menatapku, seolah mengatakan 'iya, kau bisa melakukannya.' Memang sangat menakutkan, tapi demi es krim rasa anggur, aku rela membahayakan nyawaku ini. Tanpa sadar, tanganku sudah berada di atas kepala anak kucing itu. Anehnya dia tidak menyerangku. Kepalanya begitu halus sampai-sampai aku tidak mau melepasnya. Apa kucing memang seperti ini? "Lihat, tidak apa-apa, kan?" Sanayagi tersenyum. Entah mengapa, keberanianku memuncak saat ini, seperti diberi anugerah oleh Dewa Langit. Aku mengelus-elus kepala dan tubuh anak kucing ini tanpa rasa takut sedikitpun. Aku bahkan memangkunya dan membiarkan dia duduk di pangkuanku. Sama sekali tidak apa-apa. Anak kucing ini sepertinya baik hati. "Lihat? Dia tidak menyerangmu, kan? Semua kucing memang seperti ini. Mereka adalah makhluk yang baik. Pokoknya, jangan menarik ekornya saja, atau memaksa dia untuk mandi, maka kucing akan bersikap baik padamu." Aku mengangguk-angguk. Rasanya enak juga bermain dengan kucing. Rasanya aku ingin berlama-lama menghabiskan waktu bersamanya. Dia sangat lucu! "Boleh aku bawa pulang?!" "Tentu saja tidak boleh. Aku tidak percaya kau akan mengurus anak kucing itu dengan baik. Jadi biar aku saja yang mengurusnya." "Heee...." Aku menatap sedih. "Datang saja ke sini kalau kau mau bermain dengannya." Aku mengangguk. "Baiklah kalau begitu. Omong-omong siapa nama si lucu ini?" Sanayagi garuk-garuk kepala. "Aku belum memberinya nama. Kau saja yang beri." Sungguh kehormatab diberi hak khusus untuk memberi nama seekor anak kucing yang lucu ini. Aku pun memikirkan nama yang bagus untuknya. "Namanya Butterfly." "Butterfly? Itu kan kata bahasa Inggris untuk kupu-kupu. Dia ini kucing, loh." Sanayagi mengerutkan kening. "Tidak apa-apa, soalnya namanya lucu." "Ya sudah, terserah saja." Tak lama setelah itu, Sanayagi mengeluarkan sekotak s**u dari dalam lemarinya. "Maaf Sanayagi, aku hanya minum s**u saat malam. Kalau siang suka bikin ngantuk." "Ini bukan untukmu, tapi untuk Butterfly.... ugh aneh juga memanggil kucing Butterfly." Aku langsung berlari ke arahnya. "s**u ini buat Butterfly? Ini kan s**u buat bayi manusia. Memangnya anak kucing bisa minum?" "Tentu saja bisa. Kandungan nutrisi s**u ini aman untuk dikonsumsi anak kucing, jadi tidak masalah." "Oh, kalau begitu biar aku saja yang membuatnya!" Dengan semangat, aku menaburkan s**u bubuk ini ke dalam gelas lalu menyeduhnya dengan air hangat. Setelah itu aku menaruhnya di atas mangkok sesuai permintaan Sanayagi. Setelah selesai, aku langsung memberikannya pada Butterfly. "Butterfly, ini minumlah. Aku mengasongkan mangkok berisi s**u itu." Butterfly tiba-tiba bergerak, dan mulai menjilati s**u yang ada di mangkok itu. "Lucunya!!! Lihat Sanayagi, dia meminum susunya!" Aku mendongak ke arah Sanayagi. "Iya." Dia hanya mengangguk. (End of flash back) Itu adalah cerita yang membuatku tidak takut pada kucing lagi. Selama ini aku selalu salah mengira kucing itu menyeramkan hanya karena mereka memiliki kuku tajam dan gigi yang runcing. Padahal mereka tidak akan menyerang kalau mereka tidak marah atau merasa terancam. Kejadian itu benar-benar mengubah hidupku. Aku yang dulunya benci pada kucing jadi sangat menyukai kucing. Aku pun sengaja memasuki jurusan dokter hewan agar bisa menyelamatkan banyak nyawa kucing di dunia. Hampir setiap hari aku bermain ke kosan Sanayagi saat itu, tapi pada minggu kelima, dia menghilang. Sanayagi pergi entah ke mana, dan hanya meninggalkan Butterfly di atas kardus di depan pintu kosannya. Dia memberi pesan agar aku mulai merawatnya saat itu juga. Sampai sekarang aku belum berterima kasih pada Sanayagi. Dua es krim rasa anggur yang kuberikan pun malah aku ambil kembali. Aku ingin sekali bertemu dengan Sanayagi sekali lagi. Ah, tidak, nama dia Sayanagi, saat kecil aku selalu salah menyebutnya. "Saya ingin mengucap terima kasih jika saya bertemu lagi dengan dirinya." Aku bercerita pada Saga sembari mengelus-elus kucing kesayangannya. "Oh, begitu, lucu juga ya kamu waktu kecil. Jadi ingin lihat fotonya." "Hehehe tidak boleh ah, malu." Argi langsung terbatuk. "Uhuk, uhuk, ditunggu nikahannya." "Gua masih kuliah anjir!" Saga ngegas. "Santai aja dong, gak usah pake emosi!" Argi balas ngegas. "Lu duluan yang ngajak ribut!" "Elah aslinya seneng kan gua gituin?" "Iya sih...." "Tuh kan!" Aku hanya tertawa saja melihat perdebatan mereka. Sekarang waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Aku berniat pulang sekitar setengah jam lagi. Ting Tong Bel rumah tiba-tiba berbunyi. Saga langsung terlonjak dari kursinya. "Wah, Bang Kai udah dateng!" "Bangkai?" Aku menelengkan kepala. Saga tidak menjawab karena berlari membuka pintu. Sebagai gantinya, Argi lah yang menjawab. "Bang Kai, bukan bangkai. Lebih mudahnya, Kak Kai lah. Kak Kai itu kakak tertuanya Saga." "Oh, begitu." Aku mengangguk-angguk. Entah mengapa aku merasa gugup jika harus bertemu dengannya. Tak seberapa lama, Saga datang bersama seorang lelaki dewasa yang berpenampilan rapi. Dia memakai dasi seperti baru pulang dari kantor. "Ayano, kenalin ini kakakku. Namanya Kai. Panggil aja Kak Kai." Aku terdiam sejenak. Rasanya aku tidak asing dengan wajahnya. Aku yakin pernah bertemu dengan orang ini di suatu tempat entah kapan waktunya. Tunggu, ini tidak mungkin kan, dia.... "Sanayagi?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN