Tok Tok Tok
Aku mengetuk pintu kamar Sayanagi. Kembali datang dengan membawa dua bungkus es krim. Hari ini es krimnya tidak meleleh, aku pasti akan memberikannya.
Tok Tok Tok
Aku mengetuk pintunya lagi.
Kenpa lama sekali, ya? Apa dia sedang tidak ada di rumah?
Tak seberapa lama, pintu pun terbuka. Sayanagi yang memiliki rambut gondrong dengan janggut lebat menunjukkan wajahnya dari balik pintu.
“I-ini es krimnya, maaf terlambat!” Aku menyerahkan tas plastik di genggamanku dengan semangat.
Dia langsung menerimanya. “Terima kasih.”
“Sama-sama!”
Dia hendak menutup pintu, tapi aku tidak langsung pergi. Aku menatap kantong es krim yang dia pegang dengan air liur yang menetes. Entah mengapa, rasanya aku tidak rela es krim itu diambil olehnya. Aku sedang ingin makan es krim di hari yang panas ini.
“Ada perlu lain?” tanyanya.
Aku berdehem.
“Uhum… apa kau tahu? Aku ini suka es krim, loh!”
“Lalu?”
“Ibuku bilang tidak baik makan es krim banyak-banyak.”
“Lalu?”
“Katanya bisa menyebabkan batuk. Uhuk… uhuk… uhuk…”
Aku pura-pura batuk.
“Kalau begitu, ini ambil satu.” Dia memberikan satu bungkus padaku.
Aku terbatuk lagi.
“Uhuk… aku ingin yang rasa stroberi.”
“Baiklah.”
Dia langsung menukar es krimnya. Es krim yang rasa melon dia masukan kembali ke kantong plastik, sementara es krim rasa stroberinya dia berikan padaku.
“Terima kasih!”
Aku langsung pergi dengan tidak bisa menahan senyum.
Dia pun menutup pintu.
Ah, panas-panas begini, memang enak makan es krim. Kalau diingat lagi, sudah lama aku tidak makan es krim rasa stroberi karena selalu kehabisan. Terakhir kali aku makan es krim rasa ini mungkin bulan kemarin saat dibelikan oleh ibu.
Saat kucoba, rasanya ternyata memang sangat enak. Pantas saja selalu cepat habis. Apalagi harganya juga murah, sangat terjangkau di kantong anak-anak SD yang selalu jajan setiap hari.
Tanpa sadar, es krimku sudah habis. Apakah es krim rasa stroberi memang seenak ini?
Aku merasa belum puas. Tenggorokanku masih kering. Aku butuh asupan es krim lagi untuk melepas dahaga yang menyiksa ini.
Tapi aku tidak punya uang lagi untuk membeli es krim.
Bagaimana ini?
Tok Tok Tok
Aku mengetuk pintu kosan Sayanagi lagi.
“Ada apa lagi?”
“Darurat!” Aku menunjukkan ekspresi panik.
“Darurat apa?”
“Es krim melon itu ternyata beracun!”
Dia menatapku dengan bingung. “Ha?”
“Apa es krimnya masih ada?” Aku menyelidik ke dalam kosannya.
“Iya, masih.”
Dia ternyata sedang memegangnya, masih dalam keadaan terbungkus.
Mulutku mengeluarkan air liur.
“Berikan padaku, aku akan membuangnya!”
Dia garuk-garuk kepala. Sepertinya dia mempercayai tipu muslihat yang sedang aku lancarkan.
Dia pun memberikan es krim rasa melon itu padaku.
“Terima kasih! Aku akan segera membuangnya!”
Aku langsung berlari dengan kegirangan.
Aku tertawa-tawa dalam hati. Orang dewasa ternyata mudah dibohongi. Sudah jelas aku berbohong, mana mungkin es krim ini beracun. Lagipula dari mana aku bisa tahu kalau es krim ini beracun?
Aku tidak bohong saat bilang es krim ini akan kubuang.
Iya, aku tidak bohong, karena aku memang sudah membuang es krim ini.
Membuangnya ke dalam perutku.
***
Keesokan harinya aku tersadar.
“Bodoh, bodoh, bodoh.” Aku memukuli kepalaku sendiri.
Kenapa aku mengambil kembali es krim yang sudah aku berikan pada Sanayagi? Kalau begini, aku berarti belum berterima kasih. Es krim yang kemarin kuberi jadinya tidak dihitung sebagai pemberian.
Aduh, bodohnya aku.
Bodoh, bodoh, bodoh!
Ya sudah, aku belikan saja lagi deh hari ini. Sekarang aku janji tidak akan mengambilnya kembali.
Setelah bergemuruh di depan toko es krim, aku akhirnya memutuskan untuk membelinya lagi. Hari ini juga membeli dua bungkus, dan seperti dugaanku es krim rasa stroberi sudah habis. Bahkan yang melon juga habis.
Dengan begitu, aku memutuskan membeli dua es krim rasa anggur. Rasa ini yang paling tidak aku sukai dibanding es krim-es krim lainnya. Aku terakhir kali memakan es krim ini minggu kemarin. Rasanya lumayan lezat.
Setelah itu, aku beranjak pergi menuju rumah Sanayagi. Aku mengambil rute yang sama, dan merasa beruntung karena dua hari ini tidak ada kucing yang sedang nongkrong di jalanan tersebut. Aku bisa berjalan dengan tenang, tidak perlu berlari-lari dengan panik.
Bagusnya hari ini tidak ada kucing, tapi langit tiba-tiba mendung. Air mulai berjatuhan dengan cepat dari atas langit. Aku tidak bawa payung, karena malas membawanya. Padahal ibuku sudah mengingatkan bahwa hari ini akan hujan.
Ah, bodo amat, aku lari saja!
Aku berlari bersama hujan yang semakin membesar. Jutaan air terjatuh bagai jarum yang menusuk-nusuk. Kulitku terasa sakit, dan rasanya begitu tidak mengenakan. Tetapi, aku harus tahan agar bisa sampai di rumah Sanayagi.
Tok Tok Tok
Aku mengetuk dengan keras pintu kosannya.
Dia sangat lama sekali membukanya, padahal aku sudah kedinginan.
Tok Tok Tok
Aku mengetuknya sekali lagi, barulah pintu di hadapanku terbuka. Wajah Sanayagi muncul dari balik pintu.
“Ini es krim yang kemarin! Maaf karena telah mengambilnya kembali!” Aku memberikan es krim itu sambil menundukkan kepala. Sekalian minta maaf.
“Eh?” Sanayagi menggaruk-garuk belakang kepalanya.
“Cepat terima makanan berharga ini sebelum aku kembali bawa pergi!”
“Ba-baik!” Sayanagi mengambil kantong keresek yang aku genggam.
Entah mengapa, rasanya sungguh berat. Padahal es krim yang kugenggam itu bukanlah rasa kesukaanku.
“Terima kasih,” ucapnya setelah mengambil es krim itu.
Kakiku gemetar. Tanganku gemetar. Hatiku lebih gemetar. Rasanya sangat sayang memberikan makanan lezat itu pada orang ini. Padahal jika tidak aku berikan, aku akan merasakan nikmat surga siang ini.
Ah, sungguh berat!!!
Aku harus menunggu besok kalau ingin makan es krim lagi!!!
“Anu, di luar hujan deras. Bagaimana cara kau pulang?”
Suara itu membuyarkanku dari raungan putus asa dalam hati. Aku menoleh ke belakang. Hujan ternyata sudah sangat deras. Lebih deras dari saat aku berlarian menuju kemari tadi.
Aku sudah hidup selama sepuluh tahun, banyak sekali pengalaman hidup yang aku miliki. Hujan seperti ini biasanya berlangsung selama berjam-jam. Aku tidak akan bisa pulang.
“Apa aku boleh berteduh di sini? Aku janji, tidak akan mengambil es krim milikmu!”
“Baiklah, tidak masalah. Kalau begitu, ayo masuk.” Dia membukakan pintunya untukku.
Aku langsung masuk ke dalam, membuka alas sepatu, kemudian menaruh tas di dekat meja bundar yang diletakkan di tengah.
Sanayagi menutup pintunya, terdengar suara decitan pintu dari besi.
Ruangan ini benar-benar rapi, tidak seperti kamarku yang berantakan. Di ruangan beralaskan tatami ini ada meja belajar, lemari, juga satu ranjang yang berada di pojok. Semuanya benar-benar tertata dengan rapi. Aku bahkan tidak melihat satu barang pun yang berserakan di lantai.
Kenapa ruangannya sangat rapi, ya? Padahal penampilan paman ini begitu berantakan.
“Keringkan dirimu dengan handuk ini.” Sanayagi melempar handuk berwarna putih ke atas kepalaku.
Rasanya cukup lega karena sekarang tubuhku jadi jauh lebih hangat.
Namun, ternyata ada masalah besar yang terjadi.
“Meong.”
Seekor macan berjalan keluar dari kolong kasur.