60

1090 Kata
(Masa lalu Ayano dan Kucing) (POV Ayano) Aku sedang berjongkok sembari menutupi kepalaku dengan kedua tangan. Seekor kucing sedang mengeong di depanku saat aku baru saja pulang dari sekolah. Aku menyesal berkata ingin pulang sendiri, seharusnya aku menuruti kata ibu saja tadi pagi sehingga dia akan datang menjemputku. Aduh, bagaimana ini? Aku tidak bisa pulang kalau kucing itu tidak pergi juga! Tiba-tiba seseorang datang mendekat, dia menaruh barang belanjaannya di sebelahku lalu membuka sebuah kaleng bundar dan menaruhnya di bawah. Si kucing beralih. Dia tidak mengeong lagi padaku, melainkan mulai menyantap sesuatu yang ada di kaleng bundar itu. Kucing itu sedang teralihkan fokusnya dan hanya menyantap makanan di kaleng dengan rakus, tapi meski begitu aku masih belum berani bergerak. Aku takut jika tiba-tiba lari kucing itu akan mengejarku. Jadi aku masih diam dan tidak mengubah posisi. Setelah menghabiskan makanan di kaleng, kucing itu ternyata pergi. Aku langsung mendongakan kepala dan menoleh pada orang baik yang telah mengusir kucing itu untukku. Dia tersenyum padaku. Aku pun menundukkan kepala berkali-kali, dan mengucap kata terima kasih dengan terbata-bata. “Te-terima kasih!” Setelah itu aku langsung berlari meninggalkannya. *** Aku takut pada kucing. Mereka selalu bertindak seenaknya, mendekati orang-orang dan menempelkan kepalanya pada kaki. Apa para kucing tidak tahu kalau bulu mereka begitu menggelikan? Aku tidak suka jika kucing menyentuh kulitku! Yang terburuk dari semuanya, kuku mereka begitu tajam. Aku takut jika kucing yang kusentuh tiba-tiba marah dan mencakar wajahku. Giginya juga. Bagaimana jika mereka tiba-tiba menggigit jariku sampai putus? Mereka suka mencuri makanan, bertengkar dengan kucing yang lain, masih kecil sudah berkumis. Apa bagusnya sih kucing?! Siang ini, aku kembali pulang melewati jalan yang kemarin. Kupikir di daerah ini tidak ada kucing, tapi ternyata ada. Untung saja ada paman baik hati yang menyelamatkanku kemarin. Jika tidak, aku mungkin akan menjadi santapan si kucing. Aku sebenarnya tidak ingin melewati jalan ini lagi karena takut bertemu kucing kemarin, tapi aku harus berterima kasih pada si paman yang kemarin menolongku. Dia sudah melakukan kebaikan yang besar! Rasanya tidak cukup hanya diberi ucapan terima kasih. Aku sudah membelikan es krim untuk dibagikan dengannya. Aku sudah menunggu selama lima menit di pinggir jalan. Saat ini, yang lebih kukhawatirkan bukan kedatangan kucing kemarin, tapi es krim yang sepertinya akan segera meleleh. Aku tidak boleh diam di sini. Aku harus mencari orangnya. Saat hendak pergi, kucing kemarin keluar dari dalam gang dengan ekspresi yang seperti ingin membunuhku. Sudah kuduga, memang saatnya aku harus pergi meninggalkan tempat penungguan ini. Meski disuruh mencari, aku tidak tahu di mana paman itu tinggal. Aku hanya ingat wajahnya. Paman itu memiliki rambut yang gondrong seperti anak band. Kumis dan janggutnya juga cukup lebat. Dia sepertinya sudah lama tidak pergi ke tukang cukur. Beberapa saat aku berjalan, aku mengerti akan sulit mencari orang yang tidak aku kenal. Aku tidak tahu di mana rumahnya. Karena itu aku pergi ke kantor polisi terdekat untuk menanyakan tempat tinggal si paman itu. Kata ibuku polisi itu tahu banyak hal, jadi jika aku sedang kesulitan sebaiknya aku datang ke tempat itu. “Polisi, polisi, numpang tanya.” “Ada apa gadis kecil?” Polisi yang sedang duduk menatap ramah ke arahku. “Apa polisi tahu tempat tinggal paman berambut gondrong dengan kumis dan janggut yang lebat?” Ekspresinya berubah. “Emm… siapa namanya?” “Aku tidak tahu.” “Apa pekerjaannya?” “Aku tidak tahu.” “Apa dia tinggal di sekitar sini?” “Sepertinya begitu.” Pak polisi bertopang dagu. Dia sepertinya sedang mengingat-ingat orang yang sedang aku cari. Semoga saja dia ingat. “Aku tahu siapa saja yang tinggal di sekitar sini karena cukup sering berpatroli. Tapi orang yang kamu sebut tadi sama sekali tidak aku ingat. Orang itu masih muda, kan?” Aku mengangguk. “Kalau masih bingung, aku bisa menggambarkan wajahnya untuk polisi.” Dia tersenyum. “Wah, boleh, itu mungkin bisa sedikit membantu.” Aku pun mengeluarkan selembar kertas dan crayon berwarna warni. Aku hanya menggambar wajahnya saja karena kupikir itu sudah cukup untuk memberi petunjuk untuk polisi. Aku percaya diri dengan gambarku. Setelah melihat gambar ini, dia pasti akan ingat. “Sudah selesai!” Aku menunjukkan gambar itu pada polisi. “Bagaimana, apa polisi sudah ingat?” Dia mengerutkan kening. “Aku sama sekali tidak ingat. Memangnya dia tinggal di sekitar sini, ya?” “Tolong ingat-ingat lagi!” Tak seberapa lama, ada orang lain yang masuk ke kantor ini. Dia menyapa polisi dengan begitu akrab. Mengalihkan topik pembicaraan. Mengganggu saja. “Hei Taki, apa kau tahu pemuda gondrong dan berkumis yang tinggal di sekitar sini? Ini gambaran wajahnya.” Polisi bertanya sambil menunjukkan gambarku pada orang itu. “Ini… Sayanagi-san?” “Sayanagi-san? Siapa itu?” Polisi mengerutkan kening. Lelaki dewasa bernama Taki membalas dengan tawa. “Sayanagi-san tinggal di kos-kosanku. Dia jarang sekali keluar kamar. Rute perjalanannya pun selalu sama. Kau mungkin tidak pernah melihatnya, tapi dia benar-benar ada.” “Sanayagi-san tinggal di kos-kosanmu?” Aku menatap lelaki bernama Taki. “Iya, apa kamu mengenalnya?” Aku mengangguk dengan cepat. “Aku ingin bertemu Sanayagi-san! Aku ingin berterima kasih padanya!” Aku menjawab dengan keras. “Heee…” Dia tersenyum. “Tunggu Taki, apa lelaki itu bisa dipercaya? Sepertinya dia mencurigakan. Tidak keluar dari kamar berhari-hari. Apa yang sebenarnya dia lakukan?” Polisi tampak ketakutan. Lelaki bernama Taki kembali tertawa. “Tidak apa-apa, dia bukan orang yang jahat. Dia hanya seorang penyendiri.” Polisi tersenyum. “Ah, begitu, baguslah.” Taki jongkok dan menatap wajahku. “Kau ingin bertemu dengannya? Mau aku antar?” Aku mengangguk dengan cepat. Setelah berterima kasih pada polisi, aku diantar Taki menuju kos-kosan miliknya. Tempat itu tidak begitu jauh dari kantor polisi, tapi jalannya agak memutar. Mungkin gara-gara ini polisi jadi tidak pernah bertemu dengan Sanayagi. “Ini kamarnya. Ketuk saja pintunya.” Aku menunduk. “Terima kasih, Taki!” Begitu Taki pergi, aku langsung mengetuk pintunya dengan keras. Aku mengetuknya sampai tiga kali. Pintu pun terbuka. Dia menunjukkan wajahnya dari balik pintu. Rambutnya gondrong, berkumis, dan memiliki janggut. Dia orang yang menyelamatkanku dari kucing kemarin. “I-ini! Terimalah es krim ini! Terima kasih sudah menyelamatkanku kemarin!” Aku menyerahkan kantong plastik berisi dua bungkus es krim. Saat dia hendak menerima, aku menariknya kembali. Aku baru sadar. Sudah berapa lama waktu berlalu? Bagaimana nasib es krim ini? Saat aku periksa, ternyata es nya sudah mencair. Aduh, ceroboh sekali aku sampai tidak menyadarinya. Aku ingin membelinya lagi hari ini, tapi uang jajanku sudah habis! Aduh, bagaimana ini? “Ma-maaf! Besok aku akan datang lagi!” Aku pun berlari kencang menuruni kos-kosan berlantai dua ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN