Saga sedang duduk di sofa sementara Ayano pergi memasak di dapur. Tidak ada bahan apa-apa di sana kecuali telur ayam, kornet, sosis, dan makanan siap masak lainnya. Jadi, Ayano memasak itu saja dengan sedikit variasi yang dibuat olehnya.
Setelah momen berpelukan tadi, baik Saga maupun Ayano, keduanya telah saling mengetahui perasaan masing-masing. Ayano sekarang tahu bahwa Saga menyukai dirinya, Saga pun tahu bahwa ternyata Ayano juga menyukai dirinya.
Tidak terbantahkan lagi bahwa muda-mudi itu sangat bahagia saat ini. Akan tetapi, belum ada kelanjutan yang jelas. Baik Ayano maupun Saga belum melakukan pergerakan lebih jauh lagi seperti mengajak berpacaran. Keduanya masih bungkam, hanya menerima fakta bahwa mereka saling menyukai.
“Ini makan malamnya.” Ayano datang dari arah dapur membawa nampan berisi sepiring penuh tumis kornet yang diberi toping potongan sosis serta orekan telur. Terlihat biasa saja, tapi aromanya cukup harum.
Tumis kornet dan nasi putih yang hangat sudah tersedia di meja. Saga tinggal menyantapnya saja.
“Ayano makan malam di sini aja.” Saga berkata setelah melihat gelagat Ayano yang hendak berpamitan.
“Tapi sekarang sudah malam.”
“Nanti aku anterin pulang.”
“Baiklah.”
Mereka sebenarnya ingin menunggu Argi pulang, tapi karena takut terlalu lama, mereka berdua akhirnya mengambil nasi duluan.
Tidak banyak pembicaraan di antara mereka berdua ketika sedang makan bersama. Tidak seperti biasanya. Tapi, ketika mereka berdua tidak sengaja saling berpandangan, keduanya segera menunduk lagi dengan perasaan berdebar-debar di hati.
“Ayano menyukai gua, Ayano menyukai gua. Ini beneran bukan mimpi?” Saga mencubit pahanya sendiri dan terasa sakit.
Ayano pun memikirkan hal yang sama.
“Saga menyukai saya, Saga menyukai saya. Apa saya boleh berbahagia?” Ayano mencubit pahanya sendiri dan juga terasa sakit.
Makan malam itu berlangsung singkat karena entah bagaimana mereka menghabiskan makanan itu dengan cepat. Rasa kornetnya sungguh lezat sampai Saga tidak sadar sering mengambilnya di piring sampai kornet itu hampir habis.
Waktu menunjukkan pukul delapan malam. Saga berpikir sudah waktunya untuk mengantar Ayano pulang malam ini meski sebenarnya belum ingin berpisah. Saga justru memiliki pikiran liar untuk mengajak Ayano menginap di sini meski Saga tidak berniat macam-macam padanya.
Tapi pikiran itu tentu saja tidak baik. Ayano mungkin mau saja jika Saga meminta, tapi tetap saja hal itu tidak boleh dilakukan.
“Saga, saya boleh menginap di sini?”
Saga yang sedang minum langsung memuntahkannya.
“A-Ayano mau nginep di sini?!”
“Iya, sebenarnya saya kangen nonton TV malam-malam. Di asrama soalnya tidak ada.”
Saga senang setengah mati, ingin rasanya dia menahan Ayano di sini malam ini. Menghabiskan waktu bersama di malam hari berduaan. Saga mungkin akan mengunci pintu agar Argi tidak mengganggu mereka berdua.
Jika perlu, Saga akan meminta Argi untuk tidur di hotel saja.
“Tidak boleh, Ayano. Kamu harus pulang, tidak baik menginap di rumah laki-laki hanya berduaan saja.”
“Tapi kan nanti ada Argi. Jadi kita bertiga.” Ayano berkata dengan polosnya.
“Itu lebih buruk lagi!”
Ayano manyun. “Oh, begitu, baiklah.”
Sebenarnya bisa saja Saga membiarkan Ayano menginap, tapi dia takut khilaf dan menyerang Ayano secara tiba-tiba saat dia tertidur. Itu akan gawat jika Ayano berteriak minta tolong. Tapi, akan lebih gawat jika Ayano menerima begitu saja, dan suka rela diserang oleh Saga. Kemungkinan hal itu bisa terjadi, dan tidak ada hal yang bagus dari kedua hal itu.
Saga harus menahan nafsunya demi keberlangsungan hubungan yang sehat.
Apalagi mereka belum berpacaran.
“Ayo pulang, aku anter pake taksi.”
Selepas makan malam yang lezat itu, Saga mengunci pintu kontrakan. Tidak perlu khawatir karena Argi bawa kunci cadangan seandainya dia pulang lebih dulu. Omong-omong, Saga pun bingung Argi sedang berada di mana saat ini.
“Asrama Perempuan UPD.” Saga memberitahukan lokasi tujuan pada sopir taksi yang mengantar. Dia duduk di belakang bersama Ayano.
“Siap, pake argo ya.”
“Iya.”
“Pelan-pelan saja ya, Pak.” Ayano yang berkata.
“Woke.”
Di tengah perjalanan, tangan Saga disambar Ayano. Ayano menaruh lengannya di atas lengan Saga, lantas memasukan jari-jarinya ke celah jari-jari Saga sehingga telapak tangan mereka saling bertubrukan.
“Dingin,” ucap Ayano.
Saga menelan ludah. Ayano bersikap begitu agresif. Kesan gadis polos dan pemalunya itu seolah hilang begitu saja. Apakah ini sifat Ayano yang sebenarnya? Saga saja malu untuk berbicara dengan Ayano saat ini, apalagi mengajak bercengkaraman tangan.
Tidak ingin kalah, Saga pun meraih kepala Ayano dengan tangan kirinya, kemudian menarik kepalanya itu hingga bersandar di bahunya.
Saga tidak mengatakan apa-apa, sehingga membuat Ayano merasa kaget. Dia belum pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya, hanya pernah melihat kejadian seperti ini di adegan film-film romantis. Tidak menduga dirinya kini yang mengalami hal itu.
Ayano merasa tenang, gugup, sekaligus senang dalam satu waktu yang sama.
Sopir taksi hanya tersenyum melihat muda-mudi yang tengah bermesraan itu.
Setelah sampai, Saga meminta sopir taksi itu menunggunya sebentar untuk mengantarnya pulang lagi. Saga ingin berbincang dengan Ayano sebentar lagi.
“Terima kasih sudah membuatkan makan malam.” Saga mebuka percakapan sembari berjalan menuju asrama perempuan.
“Iya, sama-sama, kalau mau dibuatkan lagi bilang saja.”
“Kalau aku mintanya setiap hari bagaimana?” goda Saga.
Ayano tertawa kecil. “Untuk saat ini tidak bisa karena waktu saya tidak selalu longgar. Kalau sesekali akan saya usahakan.”
Mereka melanjutkan berjalan sambil mengobrol-ngobrol. Status mereka saat ini memang belum berpacaran, tapi itu tidak penting, yang penting keduanya sama-sama tahu bahwa mereka saling menyukai. Tidak perlu terburu-buru.
Begitu sampai di gerbang asrama, keduanya pun berpisah.
“Terima kasih sudah mengantar saya sampai di sini.”
“Iya, sama-sama.”
“Hati-hati di jalan.”
“Iya, aku pulang dulu, ya. Sampai ketemu di kampus.”
“Besok saya main ke kontrakan Saga lagi, mau main sama Doggy.” Ayano menyerobot.
“Main sama Doggy atau sama aku?”
“Sama Doggy… dan kamu.”
Saga tersenyum. Dia sebenarnya merasa tidak enak jika Ayano terus yang main ke kontrakannya. Tapi mau bagaimana lagi, Saga tidak bisa menjadi pihak yang datang karena asrama perempuan tidak boleh dimasuki oleh mahasiswa laki-laki.
“Kalau begitu aku pulang dulu, sudah malam. Dah Ayano….”
Saga melambaikan tangan. “Dadah….”
Saga pun berbalik badan menuju arah jalan pulang.
“Saga!” Ayano memanggilnya.
Saga menoleh.
“Aishiteru!”
Saga tahu arti kata itu karena sebuah judul lagu Indonesia yang pernah dia dengar.
“Apa? Gak ngerti.” Saga pura-pura bodoh.
Ayano menggembungkan pipinya.
“Yasudah gak jadi!”
Ayano pun berbalik ke asrama.
“Ayano!” Sekarang giliran Saga yang memanggil.
Ayano menoleh.
“Hati-hati di jalan.”
Ayano manyun lagi.
“Ih, kirain apa! Saga yang hati-hati di jalan!”
Ayano mengira Saga akan berkata I Love You atau semacamnya, tapi ternyata bukan.
“Hahaha, iya, selamat malam Ayano!”