Saga menatap Ayano yang duduk di sofa sebelah, masih dalam keadaan rusak. Mimpi barusan terasa terlalu nyata sampai membuat mental Saga hancur.
“Ayano?”
“Ya?” Kucing bengal milik Saga meloncat dari pangkuan Ayano.
“Ayano!!!”
Saga memeluk gadis itu tanpa persetujuan, lantas kembali mengucurkan air mata.
“Ayano, jangan tinggalkan aku! Jangan tinggalkan aku, Ayano!!!” Saga memeluk erat tubuh gadis itu.
Ayano tentu terkaget kenapa tiba-tiba dipeluk oleh Saga. Dia tidak marah, hanya bingung saja.
Ayano tidak tahu apa yang sedang terjadi pada Saga, dia pun mengelus-elus punggungnya.
“Iya, aku tidak pergi ke mana-mana. Aku ada di sini.”
Saga semakin erat memeluknya, seolah tidak ingin melepasnya ke manapun. Saga terlihat seperti seorang anak yang merangkul ibunya yang hendak pergi ke pasar.
Cukup lama Saga berada dalam keadaan memeluk Ayano, dan Ayano pun tidak merasa terganggu itu. Dia tahu Saga tidak akan berbuat macam-macam. Saat ini Saga mungkin hanya ingin mendapatkan ketenangan darinya.
Saga pun bangkit dan pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya yang berantakan. Dia agak sedikit malu setelah kesadarannya terkumpul.
“Maaf, tiba-tiba memelukmu, tadi aku mimpi buruk,” ucap Saga sekembalinya dari kamar mandi. Sebuah handuk berwarna putih menutupi rambutnya yang basah.
“Tidak apa-apa.” Ayano tersenyum, tidak bertanya lebih lanjut soal mimpinya Saga.
“Kenapa kamu ada di sini? Bukannya barusan dianterin Argi pulang ke asrama?”
Ayano segera menjawab. “Argi bilang hari ini giliran dia buat bikin makan malam, tapi dia bilang ada urusan mendadak. Terus Argi minta aku buat gantiin dia masakin makan malam buat kamu. Jadi aku balik lagi ke sini deh, hehe.”
Saga mencoba mencerna perkataan Ayano. Bikin makan malam? Urusan mendadak? Sudah jelas itu kebohongan. Mereka berdua tidak menetapkan giliran untuk membuat makan malam. Dapur mereka jarang dipakai. Saga bisa menebak bahwa Argi sengaja membiarkan dia dan Ayano bisa berduaan di sini.
“Bukannya Ayano bilang tadi ada urusan juga?” tanya Saga.
Ayano mencengkram sofa dengan jemarinya.
“Tidak apa-apa. Makan malam Saga lebih penting.”
Hati Saga seakan meleleh saat mendengar pernyataan tersebut dari Ayano. Rasanya semua kesedihan yang baru saja dia alami lenyap begitu saja. Saga mungkin bisa menceritakan mimpinya pada Ayano.
Saga lantas memegang kedua bahu Ayano, seolah ingin menciumnya.
“Ayano, apa kamu ingin dengar tentang mimpiku barusan?”
Ayano merasa gugup, soalnya Saga menatap serius.
“Y-ya, boleh.”
Saga pun bercerita. “Aku mimpi kamu pacaran sama orang lain, terus kamu menjauh dariku, tidak mau jadi temanku lagi, terus kamu mesra-mesraan di depanku sama pacar barumu itu, dan bilang kalian akan segera menikah juga berencana akan membuat sebelas anak. Lalu kalian berdua hendak berciuman… setelah itu aku bangun.”
Saga tidak mengatakan bahwa laki-laki di mimpinya adalah Argi. Saga tidak ingin Ayano jadi merasa canggung padanya nanti.
Ayano tertawa kecil. “Astaga… bikin sebelas anak? Tentu saja saya tidak mau. Capek ngurusnya, ahahaha.”
Saga hanya garuk-garuk kepala.
“Saat ini, kamu sedang tidak punya pacar, kan?”
Ayano menoleh. “Eh… kenapa memangnya?”
“Gapapa, nanya aja.”
Ayano tersenyum. “Iya, tidak punya, kok.”
“Gi-gitu, ya. Bagus deh.” Saga memalingkan pandangan, berhenti memegangi kedua pundak Ayano lagi.
Sekarang giliran Ayano yang memandangi Saga dari depan. Dia berpindah dari sofanya dan duduk di sebelah Saga.
“Omong-omong soal mimpi tadi… Saga sedih ya waktu saya punya pacar baru. Apa itu artinya Saga suka sama saya?”
Jantung Saga berdebar kencang, sepertinya sekarang lah saatnya.
“I-iya, aku suka sama Ayano.”
Ayano tersipu saat Saga mengatakan itu dengan gugupnya.
“O-oh… begitu… kalau begitu saya masak dulu buat Saga.” Ayano beranjak dari tempat duduk, tapi Saga menahan lengannya.
“Kamu sendiri bagaimana? Apa kamu menyukaiku?”
Ayano tidak menoleh. “I-iya….”
Setelah mengatakan itu, Saga melepas tangan Ayano yang sedang dia kekang. Ayano pun melesat pergi ke dapur dengan langkah kaki yang terburu-buru. Pikirannya mendadak kosong.
Baik Saga maupun Ayano, keduanya saat ini sedang gugup setengah mati. Gugup bercampur senang.
Di dapur Ayano sama sekali tidak memasak. Dia hanya berjongkok membayangkan apa yang baru saja terjadi barusan.
“Saga… menyukai saya juga?” Ayano menutup mulutnya dengan tangan.
Ayano juga membayangkan ketika tadi Saga tiba-tiba memeluk dirinya dengan erat. Sungguh, hal itu membuat Ayano senang. Saat berhasil menenangkan Saga, Ayano merasa senang. Saat bertanggung jawab atas makan malam Saga, Ayano merasa senang. Rasanya, apapun yang Ayano lakukan, jika itu untuk Saga, dia merasa senang.
Dan ketika Saga memeluknya sebagai hadiah atas segala usahanya, Ayano dibuat melayang.
“Apa benar Saga menyukai saya? Dia sudah memeluk saya dua kali sih. Kami juga sudah berpegangan tangan. Apa saya boleh meminta hal yang lebih pada dirinya?” Ayano bergumam sendirian di dapur.
“Saya harus memastikan sekali lagi.”
Ayano lalu pergi meninggalkan dapur dan kembali menuju ruang tengah tempat Saga berada.
Di sana, masih duduk-duduk tidak jelas, terlihat bahwa dia sedang memikirkan banyak hal di kepalanya.
“Saga!”
Setelah dipanggil begitu, Saga pun menoleh.
Ayano merentangkan tangannya.
“Saga, apa kamu menyukai saya? Menyukai saya sebagai lawan jenis, bukan sebagai teman. Menyukai saya dengan pertimbangan untuk menjadi sepasang kekasih, bukan sekedar sahabat. Menyukai saya sehingga ingin menghabiskan waktu yang lama dengan saya. Apa kamu merasakan hal itu kepada saya? Jika iya, tolong peluk saya sekarang juga.”
Wajah Ayano memerah saat ia merentangkan tangannya untuk diminta dipeluk. Tubuhnya bergetar, kakinya gemetar, jantungnya berdebar. Ayano menahan malu setelah mengutarakan semua yang ada di kepalanya.
Saga bangkit dari duduknya dan perlahan mendekati Ayano.
“Kamu tidak keberatan jika aku peluk?”
“Jika Saga menyukai saya, saya tidak keberatan.”
Tanpa berbasa-basi, Saga pun langsung memeluknya, membuat Ayano merasa kaget. Tubuh mereka saling berdekatan, sehingga mereka dapat mendengar detak jantungnya masing-masing.
Pelukan kali ini memilik makna berbeda ketimbang dua pelukan sebelumnya.
Pelukan pertama memiliki makna bahwa Saga tidak ingin kehilangan Ayano. Pelukan kedua memiliki makna bahwa Saga tidak ingin Ayano pergi bersama orang lain.
Pelukan kali ini memiliki makna bahwa Saga sangat mencintai Ayano.
“Ayano, aku menyukaimu, aku menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu.” Saga akhirnya bisa mengatakan dengan jelas apa yang selama ini dia pendam.
“Saya juga, saya menyukai Saga sejak pertama kita bertemu di lapangan.”
Mereka tidak tahu bahwa mereka sudah saling menyukai bahkan saat mereka pertama kali bertemu.