51

1140 Kata
Saga agak malu untuk melihat wajah Ayano lagi setelah dia memeluknya saat berada di Candi tadi pagi. Bukan hanya itu, efek pegangan tangan dengan Ayano juga masih terasa olehnya. Untuk saat ini, Saga tidak bisa bersikap normal pada Ayano. “Oi, Sag! Jangan ngelamun, pancinganmu dimakan ikan, tuh!” Asep menggebrak-gebrak tubuh Saga. “Oh, iya, sorry-sorry.” Saga pun menarik kail pancingnya, dan berhasil mendapat ikan nila yang cukup besar. “Wah, Saga hebat. Sudah banyak dapat ikan.” Ayano memujinya, dia sedang duduk di sebelah Saga. “Bi-biasa aja.” Saga memalingkan pandangan. Sore ini, Asep, Saga, dan Ayano sedang duduk di sebuah saung tepat di depan kolam pancing. Kolam ini masih berada di lahan rumah Asep, tepat di sebelah sisi rumah. Mereka berencana menyantap ikan bakar malam ini, jadi sudah mulai mempersiapkan bahan-bahannya sekarang. “Ayano, mau coba juga?” Saga menyodorkan pancingannya pada Ayano. “Wah, boleh-boleh.” Sedari tadi Ayano hanya menonton Asep dan Saga memancing ikan, tidak diperbolehkan membantu Tiara menyiapkan arang dan pembakaran karena dianggap masih sakit. Padahal Ayano merasa dirinya sudah sembuh. “Ayano yakin sudah sehat?” Asep khawatir. “Udah, kok. Lagian mancing doang gak bakal bikin aku pingsan.” Ayano menggembungkan pipi. “Oh, baguslah kalau gitu. Bantu dia pasang umpannya ya, Sag.” Setelah memasukan ikan tangkapannya ke dalam ember, Saga memasang umpan pada kail yang hendak digunakan oleh Ayano. Umpannya sendiri bertipe pelet, bukan cacing atau yang lainnya. Umpan pelet cukup ampuh untuk menangkap ikan, dan harganya juga murah. Tapi kekurangannya umpan ini mudah terjatuh saat berada di dalam air. “Sekalian ajarin cara Ayano mancing.” Asep menggoda Saga. “Elah, mancing doang, Ayano juga pasti bisa. Iya, kan?” Saga menatap malu pada Ayano. Ayano menggeleng. “Enggak bisa, aku baru kali ini nyobain mancing.” “Tadi kan udah lihat pas aku mancing, pasti bisa lah.” “Enggak bisa.” “Ah, bohong.” “Kenapa Saga gak percaya sama aku?” Saga benar-benar salah tingkah. Saat ini dia sedang tidak bisa bersikap normal pada Ayano. Bayangan dia saat memeluk Ayano serta berpegangan tangan masih saja tidak bisa lepas dari pikirannya. Baru kali ini Saga benar-benar dimabuk cinta sampai tidak bisa bersikap seperti biasa. “Yaudah, kalau nggak mau ngajarin, Saga jahat.” Ayano memalingkan pandangan. Melihat Ayano yang bersikap begitu, Saga pun bertindak. “Iya, iya, aku ajarin sini. Begini caranya….” Saga menjelaskan tata caranya. Memancing memang simple, siapapun bisa melakukannya. Tapi dengan teknik tertentu, seseorang bisa mendapatkan ikan lebih mudah dari cara biasanya. Umpan yang digunakan mereka sekarang bertipe pelet. Jika tidak hati-hati, umpannya akan menjadi santapan gratis bagi para ikan. “Oh, begitu, oke!” Ayano pun mempraktekkan apa yang dijelaskan oleh Saga. Dia melempar kailnya ke tempat yang agak jauh, kemudian mulai menarik-narik pancingannya. “Pelan-pelan, jangan kenceng-kenceng nariknya. Nanti gak kekejar sama ikannya.” Saga menjelaskan. “Oh, segitu sudah kenceng, ya?” “Iya.” Gara-gara terlalu kencang menarik pancingan, pelet pada kailnya pun terlepas. “Yah, umpannya lepas.” Saga menghela napas. “Hah, yaudah aku pasang lagi.” Berkali-kali Ayano mencoba menangkap ikan, tapi umpannya selalu terlepas dari kail. Kailnya pernah disantap ikan sekali, tapi terlepas lagi karena Ayano kurang cepat menariknya. “Aduh, susah juga ya mancing itu.” Ayano mengeluh. Dia mulai merasa Asep dan Saga bukan orang biasa karena dapat mendapat ikan dengan begitu mudahnya. “Udah gapapa, coba lagi. Nih, aku pasang lagi umpannya. Kali ini jangan sampai gagal.” Saga menyerahkan kailnya pada Ayano. Ayano tersenyum. “Saga baik banget ya sama aku.” Saga tersentak. “Kenapa emang?” “Enggak apa-apa, aku seneng. Kita temenan terus, ya?” “Gak mau!” Saga menjawab dengan cepat. “Eh, kenapa gak mau? Kok tiap ditanya gitu Saga selalu jawab gak mau?” “Ya, gak mau pokoknya.” Ayano menggembungkan pipi. “Aku jadi bingung, Saga ini sebenarnya baik atau jahat, sih?” Mendengar pembicaraan mereka, Asep hanya bisa menahan tawa. Dia bisa mengerti perasaan Saga yang harus menjawab pertanyaan ambigu Ayano. Temenan terus? Apa itu berarti mereka tidak akan pernah jadian? Asep tidak tahu apa yang dipikirkan Ayano saat mengatakan hal itu, tapi dia tahu apa yang dipikirkan oleh Saga. “Semangat ya Saga!” teriak Asep. Ayano pun mulai memancing lagi, dan beruntung, kali ini dia berhasil mendapat ikan. “Wah, akhirnya aku dapat! Senang sekali rasanya!” Asep tersenyum saat melihatnya. Dia langsung melepas kail itu dari pancingannya dan melempar kembali ikan itu ke kolam. “Loh, kok dilempar ke kolam lagi ikannya?” tanya Ayano. “Ikannya masih kecil, biarin gede dulu biar nanti bisa dipancing lagi.” “Oh, harus yang gede, ya?” “Iya.” Setelah itu, Ayano mencoba kembali menangkap ikan, tapi masih tidak dapat juga. Ayano terlihat sangat berusaha, tapi masih belum beruntung. “Ayo, ini yang terakhir Ayano. Kalau masih belum dapat kita udahan.” Asep memberi peringatan karena waktu sudah mulai malam, dan Tiara sudah selesai menyiapkan pembakaran. “Oke, baiklah.” Ayano mencoba untuk yang terakhir kalinya. Namun, setelah dicoba pun tetap saja gagal. Ayano akhirnya menghela napas atas kegagalannya. “Yah, sayang sekali, ayo udahan ah.” Ayano berjongkok menatap ikan-ikan di kolam dengan penuh dendam. “Lain kali saya akan menangkap kalian!” Saga berjalan mendekati Ayano, menyerahkan satu ikan berukuran besar padanya. “Ayano, ini buatmu, aku hargai usahamu itu. Lain kali kamu pasti dapat.” Ayano berdiri dan menatap Saga. “Saga ngejek aku, ya? Saga pikir aku tidak bisa mendapatkan ikan sebesar itu?” Saga tersentak. “Ngejek apanya? Aku cuma mau ngasih hadiah!” “Saga pikir aku akan senang? Aku maunya dapetin ikan karena usaha sendiri, bukan karena dikasih!” Karena sudah berniat memberi, Saga tidak mau mengembalikannya. “Yaudah ambil aja, udah baik aku ngasih!” “Gak mau! Itu bukan ikan hasil tangkapanku!” Ayano tidak mau mengalah. Gara-gara sedikit berdebat, Ayano pun terpeleset dan hampir terjatuh ke kolam. Untungnya Saga dengan sigap menahannya, hingga Ayano berhasil selamat. Tapi ikan yang dia pegang kembali ke habitatnya. “Ma-makasih….” Ayano terkaget. “I-iya….” Saga menarik tubuh Ayano dan membuatnya berdiri dengan seimbang lagi. Saga tidak tahu bagaimana ekspresi Ayano karena gelapnya langit saat ini. Wajahnya tidak terlihat terlalu jelas. Tapi dia yakin, Ayano pasti menunjukkan ekspresi yang cantik. “Ma-maaf sudah bersikap egois. Makasih sudah mau menghibur saya tadi.” Ayano baru sadar bahwa sikap Saga tadi adalah untuk menghiburnya. “Nggak papa, aku juga maaf karena gak ngerti perasaan keselmu saat gak dapat ikan.” “Iya nggak papa.” Keduanya pun kembali berdamai. “Cepetan bawa ikannya! Ini udah siap pembakarannya!” Tiara berteriak sambil mengipas-ngipasi arang. “Siapp!!!” “Ah, Ayano, kamu bantu aku bersihin sisiknya.” “Iya!!!” Malam itu pun mereka berempat menyantap ikan bakar sebagai menu makan malam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN