52

1143 Kata
Saga dan Ayano tengah duduk berdua di ayunan di bawah langit yang penuh bintang. Sudah satu minggu berlalu semenjak mereka pertama kali datang ke rumah Asep. Ini adalah malam terakhir mereka berada di sini sebelum pulang besok. “Gak kerasa ya udah seminggu aja kita di sini, padahal niatnya cuma mau tiga hari, hahaha.” Saga memajukan ayunannya. “Iya, soalnya di sini seru banget, banyak hal yang bisa dilakukan. Jogging, mancing, bakar-bakar ikan, nyari siput, main ke sungai, ke air terjun, ke sawah, begadang main kartu, uji nyali, banyak banget hal yang menyenangkan di sini. Jadi betah banget sampe gak mau pulang.” Ayano bercerita dengan antusias seperti anak kecil. “Iya, bener, seru banget di sini. Beruntung banget Asep ngundang kita ke sini. Kalau enggak, mungkin aku bakal bosen di kosan gak ngapa-ngapain. Main sama Doggy doang. Oh iya, aku jadi kangen sama Doggy, dia sehat-sehat aja gak, ya?” Ayano tertawa kecil. “Liburan semester depan kita main ke sini lagi, yuk!” ajak Ayano. Saga menoleh padanya. “Emang kamu gak pulang ke Jepang?” Ayano terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab. “Enggak, aku nggak mau pulang.” “Kenapa?” “Enggak mau pokoknya, aku lebih senang di sini.” Saga merasa sedikit curiga dengan kondisi keluarga Ayano jika sampai dia berkata begitu. Tapi Saga tidak mau memaksa Ayano untuk bercerita. “Yaudah, kalau emang gak pulang ke Jepang, kamu ke sini lagi aja. Asep bakal senang, kok.” Saga kembali menoleh ke depan, menatap bintang-bintang yang bersinar nun jauh di sana. “Tapi Saga ikut, ya. Kalau gak ada Saga sama aja bohong. Di sini jadi seru soalnya ada Saga.” Hati Saga bergetar mendengar perkataan yang terdengar tulus itu. Ayano mungkin berpikir itu hanya sekedar kalimat biasa. Tapi bagi Saga itu benar-benar membuatnya melayang. “Iya, kamu juga harus ikut. Kalau gak ada kamu gak seru.” “Liburan nanti kita jogging ke Candi lagi.” “Awas pingsan lagi,” ejek Saga. “Enggak, nanti gak bakal pingsan lagi. Janji!” “Iya iya percaya.” Ayano melenguh, tidak suka mendengar nada bicara Saga. “Ah, Saga pasti tidak percaya, ya? Jahat!” “Enggak, aku percaya, kok.” “Ah, bohong.” “Memang.” “Tuh, kan! Saga jahat, selalu mengejek saya!” “Ahahaha.” Saga tertawa-tawa. Saga merasa senang bisa seakrab ini dengan Ayano. Tidak terpikir hubungan mereka yang awalnya kaku bisa menjadi akrab seperti sekarang. Semenjak mereka beda kelas, Saga memang pesimis masih bisa berteman dengan Ayano. Dia bahkan sudah memikirkan kenangan terburuk di mana Ayano akan mempunyai pasangan di kelasnya yang baru. Namun, semua itu ternyata tidak terjadi. Ayano masih menjadi teman Saga, dan bahkan mungkin saat ini Saga lah teman laki-laki terdekat Ayano. Apakah Saga boleh berpikir begitu? Dia tidak berani menanyakannya pada Ayano. “Saga, Ayano, ayo masuk ke dalam. Kita mulai main kartunya.” Asep memanggil Saga dan Ayano yang sudah mulai kehabisan topik pembicaraan. Sedari tadi Asep dan Tiara mengintip mereka berdua di sana. “Iya!” Saga dan Ayano menyahut. Keduanya lantas masuk ke dalam rumah. Di dalam rumah hanya ada mereka berempat serta paman Asep yang sudah tertidur lebih dulu di kamarnya. Mereka berempat tengah berkumpul di ruang tengah bersiap begadang lagi untuk bermain kartu remi. Snack dan minuman sudah tersedia. Mereka akan menghabiskan malam yang panjang. “Kalian pulangnya sore aja, ya. Biar bisa begadang lagi malam ini.” Tiara yang mengusulkan. Padahal sebelumnya Saga dan Ayano ada niatan untuk pulang pagi-pagi. “Iya, gak papa, lagian masuk kuliah masih seminggu lagi, kok,” jawab Saga. “Iya, saya juga ingin begadang main kartu lagi!” Ayano tampak antusias, lantas menoleh ke kanan-kiri mencari penjepit pakaian dan obat biru yang biasa mereka gunakan sebagai hukuman bagi yang kalah. “Malam ini mau pake penjepit pakaian atau obat biru?” Asep menggeleng. “Untuk malam terakhir, kita akan menggunakan hukuman yang berbeda untuk yang kalah.” “Wah, hukuman jenis apa lagi?” “Truth or Dare!” Ayano shock sesaat, lalu menyunggingkan senyum. “Wah, bagus lah, sudah lama saya ingin mencoba hukuman seperti itu.” “Emang waktu di SMA, Ayano belum pernah main Truth or Dare?” tanya Saga. Ayano menggeleng. “Gak pernah. Dulu nggak tertarik, tapi sekarang mau coba!” Saga tersenyum. “Bagus lah, kalau begitu ayo main!” Hujan turun dengan deras saat Asep mulai membagikan kartu. Ada lima jenis permainan yang akan mereka mainkan setiap rondenya, yaitu Poker, 41, Cangkulan, Seven, dan Doubt. Siapa saja yang kalah akan mendapatkan hukuman Truth or Dare. Pada permainan pertama, Asep yang kalah. Dia harus mendapatkan hukuman dari pemenang, yaitu Tiara. “Yang ngasih hukuman cuma pemenang permainan, ya. Kamu mau pilih hukuman apa?” Tiara menatap Asep. “Aku pilih truth.” Karena Asep memilih truth, itu artinya Asep harus menjawan pertanyaan dari Tiara dengan jujur. “Oke kalau gitu aku tanya.” Tiara bertopang dagu. “Cantikan aku atau Ayano?” Pertanyaan pertama sudah berat saja. Asep sampai menelan ludah. “Seleraku orang Indonesia, jadi cantikan kamu Tiara,” jawab Asep. “Yey, makasih!” Tiara tampak senang. Dia lalu menatap Ayano. “Ayano jangan sedih, kamu juga cantik, kok!” “Aku gak sedih!” Ayano menggembungkan pipinya. Permainan berlanjut, kali ini Saga yang kalah dan Asep yang menang. Saga juga memilih truth karena takut disuruh yang aneh-aneh jika memilih dare. Asep pun menanyakan hal yang mirip. “Cewek paling cantik di kampus menurutmu siapa?” Saga langsung menoleh pada Ayano, membuat gadis itu tersipu. “Biar Ayano seneng, yaudah Ayano aja,” jawab Saga. Ayano protes. “Loh, jangan gitu! Saga harus jujur, siapa cewek paling cantik di kampus!” “Udah jujur itu, emang Ayano, kok!” “Ah, bohong! Aku gak percaya! Saga pasti bohong!” “Kok ngeyel, sih?! Emang beneran kamu cewek paling cantik di kampus, bahkan di dunia.” “Jawabannya gak boleh aku!” Saga pun terpaksa memberi jawaban lain. “Yaudah, Bi Eem aja.” Ayano, Asep, dan Tiara langsung tertawa saat mendengar jawaban Saga. “Astaga, jadi Saga sukanya ibu-ibu?” “Gak nyangka banget.” “Nanti bilangin ah ke orangnya.” Saga hanya menghela napas. Permainan kembali berlanjut. Sekarang Saga yang menang, dan Ayano yang kalah. Ayano memilih truth. Saga mulai memikirkan pertanyaan. “Ayano, punya kucing gak?” tanya Saga. Ayano terkejut. “Itu doang?” “Iya.” “Astaga, Saga membosankan sekali. Iya, aku punya,” jawab Ayano. Permainan terus berlanjut. Hampir semuanya pernah mendapat hukuman, termasuk Ayano. Tapi Ayano sedikit kecewa karena saat Saga yang kena hukuman, yang menang tidak pernah dirinya. Jadi Ayano tidka punya kesempatan untuk bertanya. Namun, di pertandingan yang entah ke berapa, akhirnya Ayano yang menang, dan Saga yang kalah. Ayano pun langsung bertanya saat Saga memilih truth. “Saga, ada cewek yang kamu suka, gak?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN