“A-apa? Cewek yang aku suka?” Saga terkaget mendengar pertanyaan dari Ayano.
“Iya!” Ayano menjawab dengan antusias.
Asep dan Tiara menatap Saga bersamaan, penasaran jawaban seperti apa yang akan diberikan olehnya.
“Bisa ulangi pertanyaannya?” Saga mencoba menghindar.
“Saga, apa ada cewek yang kamu suka?” Ayano tidak malas bertanya lagi.
Saga menelan ludah, tenggorokannya terasa kering.
“Ada,” jawabnya.
“Siapa?” tanya Ayano.
“Gak bisa bilang lah, kan pertanyaannya cuma satu.”
“Eh???” Ayano melenguh kecewa.
Saga lalu bertanya pada Asep dan Tiara.
“Pertanyaannya cuma satu, kan? Ayano tadi tanya apa ada cewek yang aku suka? Yaudah, aku jawab aja ada. Itu artinya aku udah jawab pertanyaan dia, kan?” Saga mencoba menghindar.
Asep tersenyum, terkesan dengan cara Saga menjawab pertanyaan tersebut.
“Iya, bener. Lu udah jawab pertanyaan dari Ayano, jadi gak usah jawab pertanyaan yang kedua.”
“Eh???” Ayano mengeluarkan suara yang melengking. “Ah, saya ceroboh, seharusnya saya tanyanya siapa cewek yang Saga sukai. Huuu.”
Saga bernapas lega karena berhasil menghindari dari pertanyaan tersebut. Namun, di satu sisi dia merutuki dirinya sendiri karena melewatkan kesempatan untuk memberi tahu perasaan yang sebenarnya pada Ayano.
Saga yang sekarang memang belum sanggup memberitahu perasaannya. Saga ingin menunggu waktu yang tepat, bukan dengan cara seperti ini.
“Ya sudah, kalau saya menang lagi dan Saga yang kalah saya akan tanya pertanyaan tadi. Kamu gak boleh menghindar!” Ayano menunjuk Saga dengan jarinya.
“Si-siap.” Saga tidak tahu mengapa Ayano begitu bersemangat.
Pertandingan kembali berlanjut sampai pukul dua pagi, tapi Ayano masih belum mendapat posisi yang dia inginkan. Saga tidak pernah kalah lagi sejak diberi pertanyaan tersebut oleh Ayano. Malah jadi Ayano yang sering kalah.
Di pertandingan terakhir, Ayano kembali kalah dengan Saga yang menjadi pemenang. Ayano lantas mencoba tantangan baru. Dia memilih dare ketimbang truth.
“Ayo, Saga mau aku ngapain?”
Saga terbatuk. Tidak menyangka Ayano akan memilih dare ketimbang truth.
“Yaudah, Ayano tolong push-up lima kali.”
Ayano terkaget. “Hah? Kok biasa banget! Yang lain dong!”
Saga mengucurkan keringat. “Kamu mau ngelakuin yang aneh-aneh emang?”
Ayano tersipu. “Ya, apa aja deh, pokoknya jangan yang biasa.”
Saga berpikir sejenak. Dia menatap Tiara dan Asep bergantian, kemudian kembali menatap wajah Ayano yang masih terlihat segar.
Saga menatap Ayano dengan perasaan sedikit tidak enak.
“Yang sedikit aneh-aneh gapapa?”
“Iya, gapapa.”
“Kamu gak bakal marah?”
“Iya, apa cepat sebutkan!”
“Yakin?”
“Iya!”
“Ka-kalau begitu. Cium punggung tanganku.” Saga menunjukkan punggung tangannya.
Tiara menutup mulutnya, Asep nyengir, sementara Ayano hanya menyunggingkan senyum.
“Baik.”
Ayano meraih punggung tangan Saga, lalu mengecupnya dengan lembut.
‘Cup’
Saga hampir pingsan.
“Astaga, ini jadi seperti pangeran yang mencium punggung tangan tuan putri, tapi ini kebalik, hahaha.” Ayano tertawa kecil.
Wajah Saga memanas, dia menutupi wajahnya dengan tangan. Tidak menyangka Ayano benar-benar berani melakukannya. Kalau tadi Saga meminta Ayano untuk mencium pipinya apa Ayano akan melakukanya juga?
“Maaf sudah memintamu melakukannya, aku ini memang kurang ajar.” Saga membungkuk di hadapan Ayano.
“Eh, gapapa, itu kan hukuman untuk saya, jadi gapapa.”
Saga tetap merasa bersalah karena sudah memanfaatkan kepolosan Ayano.
“Yaudah, permainan hari ini selesai. Kita tidur hari ini.” Asep hendak mematikan lampu. Begadang sampai jam 2 sudah menjadi prestasi terbesar dalam hidupnya. Dia tidak bisa tidur lebih larut lagi.
“Asep, saya belum ngantuk. Boleh saya diam di sini? Saya ingin menonton film dulu.”
“Oh, boleh, tapi aku udah ngantuk. Yang lain gimana?” Asep menatap Saga dan Tiara secara bergantian.
“Aku juga belum ngantuk,” jawab Saga.
“Aku udah sampai sini saja.” Tiara menguap, pura-pura.
“Kalau begitu kalian berdua aja yang menonton. Jangan lupa matikan TV sama lampunya ya kalau udah,” instruksi Asep.
“Iya.”
Asep dan Tiara lantas memasuki kamarnya masing-masing, sementara Ayano mulai memasangkan laptopnya pada TV flat untuk memutar video dari sana.
“Saga mau nonton film apa?” Ayano menunjukkan beberapa film yang belum sempat mereka tonton bersama.
Ada banyak film yang asing di mata Saga. Kebanyakan film-film lama yang tidak terlalu terkenal. Saga kurang mengetahui film-film tersebut karena lebih sering menonton film yang ada di bioskop bersama Argi.
“Apa saja deh, tapi… yang latarnya Jepang.”
Selama mereka berada di sini, tak pernah sekalipun mereka menonton film berlatar Jepang. Seringnya nonton film barat atau Indonesia yang terkenal entah itu action atau horror. Malam ini, di malam terakhir, Saga ingin menonton film berlatar tempat kelahiran Ayano.
“Eh… kenapa tiba-tiba film Jepang? Saga memangnya suka?”
“Belum pernah nonton, makanya mau coba. Film Indonesia sudah, sekarang giliran film Jepang.”
Ayano senang mendengarnya. “Mau film yang seperti apa? Action, drama, romantis, anime movie, atau apa?”
“Apa aja bebas.”
“Film romantis mau?” Ayano menggodanya.
“Boleh.”
Ayano tersentak, tidak menduga Saga menjawab mau. “Baiklah kalau begitu, akan saya pilihkan yang paling populer.”
“Jangan.”
“Jangan?”
“Jangan yang paling populer, yang paling Ayano suka aja.”
“E-eh… tapi yang saya suka tidak terlalu seru. Nanti Saga tidur.”
Saga menggeleng. “Enggak, tenang aja, aku gak bakal tidur. Aku ingin tau film apa yang Ayano suka.”
Wajah Ayano tersipu. “Baiklah kalau begitu, akan saya putarkan.”
Ayano memilih film romansa berjudul “April Story” yang diproduksi pada tahun 1998. Film itu berdurasi hanya sekitar satu jam, dan sudah memakai subtitle Indonesia untuk memudahkan Saga. Terbilang singkat untuk sebuah film berjenis movie.
“Saya matikan ya lampunya.” Ayano meminta izin untuk mematikan lampu setelah ia memutar filmnya di laptop.
“Iya, matiin aja.”
Setelah itu, mereka berdua duduk bersebelahan di sofa yang empuk.
Meski sofa lain masih kosong, tapi Ayano memilih duduk tepat di sebelah Saga. Mereka duduk sangat berdekatan sampai bahu mereka saling bertabrakan. Ayano tampak santai duduk di sana, tetapi Saga tidak bisa tenang.
“Ke-kenapa Ayano duduk di sebelah gua? Mepet banget lagi, padahal kan sofa lain masih kosong.” Saga bertanya-tanya dalam pikirannya.
Saga tidak yakin akan bisa fokus pada filmnya jika terus berdekatan seperti ini. Jantungnya berdetak terlalu kencang. Ingin rasanya dia memeluk Ayano sekarang juga.
“Saya suka film-film jadul. Meskipun ceritanya klise dan visualnya tidak sebagus film zaman sekarang, tapi saya suka cerita-ceritanya. Saya suka melihat tempat-tempat di zaman dahulu. Suasananya sangat hangat.” Ayano bercerita saat filmnya sedang berlangsung.
Sedikit banyak Saga mengerti apa yang dimaksud oleh Ayano. Dia setuju dengannya.
Mereka berdua fokus menonton film. Saga menikmati setiap kali kamera menunjukkan sisi kota yang ada di film tersebut.
Film itu menceritakan tentang seorang gadis yang mulai hidup sendirian di apartemen setelah memulai perkuliahan di kota. Gadis itu terlihat begitu cantik, gaya rambutnya berbeda dengan gadis kebanyakan. Terbilang modern untuk model rambut yang populer di tahun 90an.
“Ceweknya cantik, ya.” Ayano memberi komentar.
“Iya.” Saga mengiyakan.
Mereka berdua menikmati setiap momen selama menonton film tersebut. Mereka tersenyum di adegan yang sama, tertawa di adegan yang sama, juga tersentuh di bagian yang sama.
Setelah filmnya berakhir, Ayano menatap Saga dari samping. Wajahnya terlalu dekat, sehingga Ayano mundur sedikit.
“Gimana filmnya, seru gak?”
Saga tidak bisa menyangkalnya. “Tidak ada yang spesial di film ini, semua tampak biasa saja, tidak ada yang wah. Tapi, menurutku ini film yang bagus.”
Ayano tersenyum. “Benar, kan?! Saya setuju dengan itu. Filmnya memang biasa saja, tapi entah mengapa sangat menyentuh dan membuat saya seperti terbawa ke zaman mereka. Saya tidak pernah bosan meski sudah menonton berkali-kali.”
“Oh, begitu ya.”
“Bagian mana yang paling Saga suka?”
Saga bertopang dagu. “Yang mana ya… suka semua, sih. Kalau Ayano suka bagian yang mana?”
“Saya paling suka pas bagian si cowok yang ngasih payung ke si cewek pas hujan deras tapi payungnya rusak semua. Menurut saya itu romantis dan juga lucu. Terus, waktu si cowok nanya kenapa si cewek bisa kenal dia, jawaban si cewek menurutku bagus banget. ‘Kamu kenal aku?’ ‘Kamu populer’ ‘Benarkah?’ ‘Di mataku’ Ah, saya sangat suka sama dialognya!” Ayano bercerita dengan sangat antusias, tidak pernah Saga lihat dirinya yang seperti ini.
“Ah, bagian yang itu, aku juga suka. Sayang sekali tidak diceritakan bagaimana hubungan mereka selanjutnya.”
“Iya, sayang sekali.”
Ayano sudah mulai mengantuk, tapi dia masih ingin mengobrol dengan Saga malam ini.
“Saga tau cita-cita terbesar saya?”
“Jadi dokter hewan?”
“Iya, itu salah satunya, tapi bukan itu yang saya maksud.”
“Lalu apa?” tanya Saga.
Ayano menatap layar televisi yang memperlihatkan credits film tersebut. “Cita-cita saya adalah menikah, kemudian menghabiskan malam seperti ini setiap hari. Begadang bersama, menonton film bersama, mendengarkan cerita horror bersama di atas ranjang sambil berselimut. Saya tidak terlalu ingin hidup mewah, saya hanya ingin menjalani kehidupan seperti itu bersama orang yang saya sukai.”
Saga dapat membayangkan apa yang dikatakan oleh Ayano. Kehidupan seperti itu memang yang menjadi idamannya juga. Selama ini Saga selalu mencari yang namanya cinta sejati, tapi tidak pernah bertemu. Ayano adalah gadis pertama yang berhasil menyentuh hatinya.
“Sepertinya menyenangkan cita-citamu itu, aku jadi ingin melakukannya juga.”
“Kalau begitu!” Ayano menoleh pada Saga dengan cepat.
“Kalau begitu?” Saga mencoba menangkap maksudnya.
Ayano memalingkan pandangan. “Bukan apa-apa. Semoga Saga bisa mendapatkan pasangan yang seperti itu, ya.”
“I-iya, Ayano juga. Semoga Ayano bisa mendapatkan pasangan yang seperti itu.”
“Terima kasih, Saga.”
Saga merutuki dirinya sendiri. Sudah jelas tadi itu kode. Saga pun mengetahuinya, tapi dia terlalu malu untuk mengutarakannya, bahkan pada momen seperti ini.
“Ah, lain kali gak akan gua sia-siakan lagi kesempatannya.” Saga bergumam dalam hati.
Ayano menoleh lagi pada Saga. “Lain kali, kita nonton film bareng lagi, ya.”
“Iya, aku ingin menonton film Jepang yang lain. Bosen nonton JAV mulu.” Saga kelepasan bicara.
Ayano menggeram pada Saga sambil menatapnya. “Saga… Ecchi!!!”
“Ecchi?!”
“Hum!” Ayano memalingkan pandangan. “Aku mau tidur dulu, sudah ngantuk.”
“Eh, Ayano, maaf sudah salah bicara!!!”
Saga merasa menyesal telah mengatakan itu, sekarang dia takut Ayano jadi membencinya.
Sementara itu, Ayano senyum-senyum sendiri di kamarnya. Dia senang telah menghabiskan waktu untuk menonton film bersama Saga. Dia harap bisa melakukannya lagi dengan Saga suatu saat nanti.