Saga dan Ayano sudah mengepak barang-barangnya ke dalam koper masing-masing. Mereka bersiap pamitan pada ayah dan ibu Asep yang sengaja datang.
“Terima kasih sudah menampung saya di sini selama satu minggu, di sini terasa sangat menyenangkan.” Ayano membungkuk pada mereka.
“Terima kasih.” Saga malah ikut-ikutan membungkuk, mengikuti tradisi Jepang.
“Iya, sama-sama, liburan nanti dateng lagi, ya.”
“Seriusan ini gak mau dianter sampe Bandung?”
Ayano mengangguk. “Saya tidak mau terlalu merepotkan. Diantar sampai stasiun saja sudah cukup.”
“Iya, terima kasih tawarannya Tante, Om, tapi saya mau coba naik kereta. Jarang-jarang soalnya, hehe.” Saga menambahkan.
Kedua orang tua Saga tersenyum.
“Ya sudah kalau begitu.”
“Asep anterin mereka, ya.”
Asep berpose hormat. “Siap!”
Setelah itu, Ayano dan Saga pun sun tangan kepada kedua orang tua Asep. Bagi Saga ini hal yang biasa, tapi masih terasa aneh bagi Ayano. Tapi itu berdampak positif karena Ayano jadi tahu salah satu budaya Indonesia ini.
Saga dan Ayano pun mulai bergegas. Mereka berdua memasukkan kopernya ke dalam bagasi, kemudian mulai menaiki mobil. Saga duduk di depan, sementara Tiara dan Ayano duduk di belakang.
“Kalian sudah siap?” Asep menoleh ke belakang.
“Siap!!!”
Mobil pun melaju dengan pelan, meninggalkan halaman rumah Asep yang sudah satu minggu mereka tinggali. Ayah, ibu, dan paman Asep melambai dari belakang melepas kepergian mereka.
“Waah, sedih juga harus pulang.” Ayano mengungkapkan pikirannya.
“Taun depan ke sini lagi.” Asep membalas.
“Iya, kamu juga ikut ya, Saga.” Tiara memohon.
“Iya, siap.”
Ayano menatap sawah yang berada di sisi jendela. Dia teringat ketika siang-siang berpanas-panasan hanya untuk mencari keong bersama mereka bertiga. Dia sempat terjatuh hingga pakaiannya penuh dengan lumpur. Tetapi, keong hasil tangkapan mereka cukup banyak, dan rasanya cukup lezat bagi Ayano yang baru mencobanya.
“Pengen makan tutut lagi,” ucap Ayano.
“Aaah, gak mau kalau aku, gak enak.” Saga menjulurkan lidahnya.
“Loh? Masa gak enak? Enak banget padahal. Tiara pinter bikin bumbunya.”
Tiara merasa tersanjung dipuji seperti itu oleh Ayano.
“Tetep aja gak enak.”
Asep tertawa kecil. “Saga punya lidah kota, sih. Jadi makanan kampung kurang doyan.”
“Gak gitu juga, gua suka kok sama cireng, bala-bala, gehu, sama ulen.” Saga menyebutkan makanan-makanan kampung yang disajikan oleh Asep.
“Oh, gitu ya, hahaha.”
Sebelum ke stasiun, Asep mengarahkan mobil ke rumah Tiara terlebih dahulu karena Saga dan Ayano ingin mengetahui rumahnya tersebut.
“Sudah sampai!”
Tiara langsung turun sembari membawa barang bawaannya yang berupa tas gendong yang kecil. Berbeda dengan Saga dan Ayano, Tiara sering pulang ke rumahnya selama menginap di rumah Asep.
“Wah, jadi ini rumah Tiara, ya.” Ayano mengangguk-angguk.
“Elah, Tiara ternyata orang kaya. Rumahnya gede juga.” Saga takjub.
“Gak segede rumah kamu, Saga,” ucap Tiara.
Saga tersentak. “Emang kamu tau rumah aku segede apa?”
“Enggak tau, nebak aja.” Tiara lalu menjulurkan lidahnya.
Saga bernapas lega. Dia pikir Tiara ingin membongkar identitasnya pada Ayano.
Saat Tiara turun, Ibu Tiara kebetulan baru datang setelah pulang dari warung. Dia langsung menyapa mereka.
“Eh, kalian temen kuliahnya Tiara itu?” Ibu Tiara menatap Saga dan Ayano.
“Iya, Tante.”
“Iya.”
Ibu Tiara tampak takjub, terutama saat melihat Ayano yang berasal dari luar negeri.
“Ayo, masuk dulu.”
Dengan cepat Asep menolak. “Punten Ma, kapan-kapan aja, kita mau langsung ke stasiun.”
Terlihat raut kekecewaan yang nampak di wajah Ibu Tiara. “Ah, gitu, ya sudah. Kalau liburan lagi main ke sini ya kali-kali.”
“Iya, terima kasih Ibunda Tiara.” Ayano mengangguk.
“Terima kasih.”
Ibu Tiara tersenyum. “Kalian berdua tau kan Asep sama Tiara pacaran?”
“Iya, tau Tante.” Saga yang menjawab, Ayano hanya mengangguk.
“Kalau kalian gimana? Pacaran juga?”
Ayano dan Saga tersentak.
“Enggak, enggak, Tante. Aku sama Ayano cuma temenan aja.” Saga menjelaskan dengan cepat dan terbata-bata.
“I-iya, kami berdua belum berpacaran. Eh, maksudnya tidak berpacaran. Hanya berteman saja.” Ayano lebih gelagapan dari Saga.
Sungguh, Saga tidak menyangka Ayano bisa segugup itu. Apa sebenarnya dia merasakan hal yang sama seperti yang Saga rasakan? Apa sebenarnya Ayano senang disangka berpacaran dengan Saga.
“Oh, begitu ya, ahaha, kirain pacaran juga.”
Tiara langsung terbatuk. “Bentar lagi juga pacaran.”
“Eh, beneran? ” Ibu Tiara menatap putrinya.
Tiara mengangguk.
“Semoga jadi deh.” Ibu Tiara menatap Saga dan Ayano.
Saga dengan cepat membenarkan. “Enggak, Tante. Aku sama Ayano cuma temenan aja, tidak lebih, saya tidak punya perasaan apa-apa sama dia, ahahaha.”
Ayano sedikit cemberut, entah mengapa dia tidak suka saat Saga mengatakan hal itu.
“Yaudah, kalian boleh pulang kalau gitu, titi dj, ya!”
“Titi dj?” tanya Saga.
“Hati-hati di jalan.”
Saga langsung tertawa. “Ahahaha, iya, terima kasih, Tante.”
“Kami berangkat dulu, Ma.” Asep sun tangan, diikuti Ayano dan juga Saga.
“Iya, hati-hati, Sep.”
Mereka pun mulai pergi meninggalkan rumah Tiara setelah semuanya berpamitan. Asep dan ibu Tiara terlihat begitu dekat, tidak terlihat canggung sama sekali. Asep bahkan memanggil ibu Tiara dengan panggilan Ma.
“Sep, kamu deket banget ya sama Mama Tiara?” tanya Saga.
“Udah kayak Ibu sendiri.”
“Walah… udah pasti jadi ini. Kalau nikahan jangan lupa undang, ya.”
“Masih lama anjir.”
“Ya, pokoknya undang.”
“Iya, tapi nanti lu nyumbang duitnya seratus juta, ya.”
“Gampang, gua kasih pesawat terbang juga kalau perlu.”
“Gak usah, gak ada tempat parkirnya, hahaha.”
Ayano menganggap Asep dan Saga sedang bercanda, padahal itu adalah percakapan yang sebenarnya.
Jarak stasiun dengan rumah Tiara tidak terlalu jauh sehingga mereka bisa sampai dengan cepat di stasiun, tidak sampai lima menit.
“Hati-hati, ya. Gua bakal kangen sama kalian.” Asep memeluk Saga.
“Elah, minggu depan juga ketemu lagi anjir.”
“Hahaha.”
Asep lalu bersalaman dengan Ayano.
“Ayano, jangan begadang lagi.”
“Iya, terima kasih Asep.”
Asep pun tertawa. “Ya sudah, langsung beli tiket aja, kalian paling cuma nunggu setengah jam sebelum kereta sampai.”
“Ok!”
Asep pun pergi meninggalkan Saga dan Ayano di stasiun.
Sekarang waktu menunjukkan pukul 3 sore, kereta tiba lima belas menit lagi, dan akan berangkat sepuluh menit setelahnya.
Saga dan Ayano duduk di kursi stasiun setelah memesan tiket pulang seharga lima ribu rupiah. Banyak orang yang menatap ke arah Ayano. Pasti karena Ayano orang asing yang sangat jarang terlihat oleh orang-orang di sekitar.
“Ayano kenapa diem aja dari tadi?” Saga merasa Ayano sedikit cemberut, berbeda dengan biasanya yang selalu tersenyum dan memulai pembicaraan.
“Gak kenapa-kenapa.”
“Oh.”
Suasananya sangat dingin, padahal tidak AC di sini.
Saga mulai memikirkan hal yang baru saja terjadi pada mereka.
“Ayano kenapa, ya? Apa gua mengatakan sesuatu yang buruk?” batin Saga.