55

1141 Kata
Argi menyambut Saga begitu dia sampai dari stasiun. Sudah cukup lama mereka berdua tidak bertemu setelah terakhir kali berpisah di Surabaya. “Widih, baru pulang liburan nih.” Argi menyambut, tapi Saga tidak membalas, raut wajahnya sedikit kusut. “Tadaima~” Argi terkaget. “Lah, tiba-tiba ngomong bahasa Jepang. Udah ketularan Ayano banget pasti.” Saga menaruh kopernya, kemudian duduk di sofa sembari menghela napas. Kucing kesayangannya langsung berlari ke arahnya dan meminta untuk dielus. Meski sedikit, Doggy telah meredakan rasa berat di pikiran Saga. “Ada apa, ada apa? Kok cemberut gitu, cerita dong.” Argi mengambil tempat duduk di sebelahnya. “Ayano benci sama gua.” Mata Argi terbelalak. “Kok bisa? Tau dari mana?” “Selama di kereta dia gak mau bicara sama gua. Tiap gua tanya dia jawabnya singkat-singkat, kayak yang males jawab. Padahal biasanya nggak gitu.” Saga menghela napas lagi, seolah berusaha melepas beban dalam dirinya. “Lu emang habis ngapain dia sampai dia jadi marah?” “Gak ada. Malah kemaren malem gua masih akrab-akrab banget sama dia sampe-sampe nonton film bareng berdua. Gua merasa kemaren gua sama Ayano deket banget, tapi tiba-tiba dia jadi menjauh gitu. Gak tau dah.” Untuk yang ketiga kalinya, Saga menghela napas lagi, membuat Argi merasa khawatir. “Setelah itu ada kejadian lagi gak?” Saga memutar bola matanya. “Apa ya, paling tadi ibunya Tiara nanya ke gua, apa gua sama Ayano pacaran?” “Terus lu jawabnya gimana?” “Ya gua jawab aja enggak, karena emang kita gak pacaran. Ayano juga jawab gitu.” Argi meng-oh. “Itu aja?” “Ah iya, terus Tiara bilang ke ibunya kalo gua sama Ayano bentar lagi bakal pacaran, tapi gua buru-buru sangkal, takut Ayano ngerasa gak nyaman. Gua bilang gua sama Ayano gak ada hubungan apa-apa, dan gua bilang gua gak ada perasaan apapun ke dia. Habis itu, dia langsung gak bicara lagi sama gua. Apa gua salah, ya?” Saga membaringkan kepalanya di tepi sofa. Mendengar hal itu, Argi langsung tertawa. “Kenapa lu malah ketawa anjir! Lu seneng liat temen sendiri menderita?!” “Bukan gitu.” Argi menghentikan tawanya. “Lu gak usah khawatir, semua bakal baik-baik aja. Lu bersikap biasa aja, dan yang paling penting lu jangan minta maaf ke Ayano, soalnya lu gak salah apa-apa.” Saga melirik ke arahnya. “Beneran?” “Iya, percaya sama gua.” “Terus kenapa Ayano tiba-tiba jadi pendiem gitu?” Argi senang melihat perkembangan hubungan Saga dan Ayano. Dia tidak menyangka hubungan mereka akan berjalan selancar itu. Kalau begini, Argi tidak perlu melakukan apa-apa. Saga bisa mendapatkan Ayano dengan usahanya sendiri. “Mungkin dia baru dapat kabar kalau nenek temannya baru aja meninggal. Jadi dia merasa sedih, dan akhirnya diem terus.” Wajah Saga kembali cerah. “Ah, bener juga! Gua kok gak kepikiran sih. Bagus deh, gua bisa lebih tenang sekarang. Nanti gua coba hibur Ayano deh.” Argi tersenyum. “Siip, nah gitu dong. Tenang aja, Ayano gak mungkin membenci lu kok.” “Haha, siip, thanks ya!” Mereka berdua lalu beradu tinju. *** Beberapa hari kemudian, masih dalam masa libur, Ayano berkunjung ke kontrakan Saga. Kali ini dia tidak mengabari Saga lebih dulu, melainkan langsung datang karena sudah tahu alamatnya. Memang ada kemungkinan Saga sedang tidak ada di kontrakan, tapi dia sedang tidak berani untuk memberinya kabar lewat WA, jadi dia langsung saja datang. “Permisi.” Ayano mengetuk pintu. Argi yang membukakan pintu. Ayano terkaget. “Loh, Argi sudah pulang? Selamat datang!” Ayano sedikit gelagapan, tidak menyangka Argi sudah pulang. Dia bahkan lupa kalau Saga tidak tinggal sendirian di sini. “Ah iya, makasih. Ada apa Ayano? Kok tiba-tiba datang ke sini?” Argi bingung kenapa Ayano bisa tahu tempat ini. “Waktu liburan saya sering main ke sini buat ketemu sama Saga… eh maksudnya Doggy… jadi ini nggak tiba-tiba.” Argi mengangat, tidak menyangka bisa mendengar statement tersebut dari Ayano. “Ayano sering main ke sini? Berduaan sama Saga di kontrakan?” Ayano mengangguk. Argi langsung menepuk wajahnya sendiri. Dia tidak mengira hubungan Saga dan Ayano ternyata jauh lebih dekat lagi. Benar-benar tidak diduga. Saga tidak bercerita kalau Ayano sering main ke sini. “Jadi sekarang mau ketemu Saga lagi?” tanya Argi, melirik keresek putih yang dibawa Ayano. “Iya, saya mau minta maaf sama dia.” “Minta maaf? Kamu salah apa emang?” Argi masih menahannya di ambang pintu. “Kemarin, waktu di kereta, saya udah bersikap dingin sama dia. Jadi sebagai permintaan maaf saya mau ngasih brownies kukus ini buat Saga.” Argi mengangguk-angguk, rupanya Ayano menyesali perbuatannya. Kalau sudah begini, Argi jadi yakin kalau Ayano pun sebenarnya menyimpan perasaan pada Saga. Alasan Ayano marah pada Saga pasti gara-gara Saga bilang tidak punya perasaan apa-apa pada Ayano. “Yaudah, ayo masuk, Saganya ada di dalem kok lagi mandi.” Ayano mengangguk. “Kalau begitu, permisi.” Mereka berdua pun masuk ke dalam rumah dan segera duduk di sofa. Keresek putih berisi brownies kukus itu Ayano simpan di atas meja. “Ayano kok tau Saga suka brownies?” “Saya tahu dari Asep.” Argi terharu mendengarnya. Ayano pasti benar-benar memikirkan Saga, tidak asal memberi begitu saja. Mendatangi tempat ini hanya untuk meminta maaf pun terbilang sangat berani. “Oh, beli di mana browniesnya?” “Saya bikin sendiri,” jawab Ayano. “Bikin sendiri?!” “Iya, saya lumayan pandai membuat kue.” Sikap Ayano pada Saga benar-benar membuat Argi iri. Ini sudah terlalu jelas bahwa Ayano punya perasaan pada Saga. Kalau diajak pacaran pasti mau. Tinggal Saga saja yang menyadarinya. “Oh, pantas saja bungkus kuenya gak ada mereknya.” “Hehe.” Tak lama setelah itu, Saga keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan celana pendek serta handuk yang mengalung di lehernya. Mata Saga bertatapan dengan Ayano. Keduanya tersipu. Saga langsung menutupi tubuhnya, sementara Ayano segera menutupi wajahnya. “Maaf!!!” Keduanya berkata berbarengan. Argi tertawa-tawa. “Ayano, gak usah merem segala, Saga kan pake celana. Cuma telanjang d**a aja.” Ayano pun tersadar, dia segera menatap Saga lagi. “Oh iya, saya lupa, saya terlalu kaget.” Sementara itu, Saga masih gemetaran. “A-Ayano… kenapa kamu ada di sini? Bentar-bentar, aku ganti baju dulu.” Saga pun berlari ke kamarnya, kemudian mengenakan pakaian yang pantas. Dia menyemprot tubuhnya dengan parfum berkali-kali sampai tercium sangat harum. “Maaf nunggu lama.” Ayano yang sedang bermain dengan kucing Saga langsung menoleh. “Oh iya, nggak papa.” “Aduh… parah lu Sag, kasian loh Ayano nunggu dari tadi.” Argi geleng-geleng kepala, mencoba menggoda dirinya. “Iya, sorry.” Setelah itu, Argi berpindah posisi duduk, membiarkan Saga duduk di sebelah Ayano. “Ada apa Ayano tiba-tiba datang ke sini? Kenapa gak ngabarin dulu?” tanya Saga. Wajah Ayano masih memerah, dia masih membayangkan tubuh mulus Saga saat dia bertelanjang d**a tadi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN