56

1123 Kata
“Saya mau meminta maaf pada Saga,” ucap Ayano sembari menyerahkan keresek berisi brownies hasil buatannya sendiri. “Ah iya, terima kasih. Tapi minta maaf buat apa?” Ayano memainkan kedua jarinya, masih merasa tidak enak untuk mengatakannya. “Sa-saya minta maaf sudah bersikap dingin sama Saga sewaktu di kereta. Saat itu saya baru dapat kabar kalau neneknya temen saya meninggal. Saya agak shock, soalnya dia cukup deket sama saya. Maafin saya ya sekali lagi.” Ayano menundukkan kepalanya sekali lagi. Saga terkejut saat mendengarnya, tebakan Argi ternyata benar. Ayano bersikap dingin karena shock setelah mendengar kabar bahwa nenek temannya itu meninggal. Tapi, yang lebih shock adalah Argi. Dia padahal asal-asalan menebak, tapi ternyata malah benar. “Aduh, gapapa Ayano, aku gak marah, kok. Kalau soal itu gak perlu minta maaf.” Ayano menggeleng. “Enggak, saya tau diberi sikap dingin itu tidak enak. Saya tidak ingin Saga marah dan jadi benci sama saya, jadi saya harus minta maaf. Ini tolong terimalah hadiah brownies dari saya, saya yang buat sendiri. Spesial buat Saga.” Mendengar kata ‘Spesial buat Saga’ membuat Saga terbang ke langit. Dia begitu senang karena Ayano sampai repot-repot membuatkan brownies hanya karena untuk meminta maaf padanya. Padahal tidak perlu sampai seperti itu juga. “Baiklah, terima kasih kalau begitu.” Saga menerima hadiah dari Ayano tersebut. Ayano mengangguk. “Spesial buat Saga? Berarti aku gak boleh minta?” goda Argi. Dengan cepat Ayano menggeleng. “Enggak, enggak, Argi juga boleh minta, kok. Kalian berdua kan temenan.” “Hehe, asik.” Argi merasa senang. “Kalau begitu saya izin pulang, ya. Masih ada urusan lain.” “Oh, yaudah, makasih ya Ayano.” “Tunggu!” Argi menahan Ayano. “Aku anterin ya pake motor? Kebetulan baru beli pake uangnya Saga. Kamu tinggal di asrama, kan?” Ayano mengangguk. Argi menoleh pada Saga. “Gapapa kan gua yang anterin? Lu kan gak bisa naik motor kopling.” Saga berdecak. Dia memang pandai menaiki motor biasa, tapi kalau motor kopling tidak bisa. “Iya, tolong anterin, ya.” “Oke!” Saga tentu mengizinkan karena yang akan mengantarnya adalah sahabatnya sendiri, jadi tidak perlu khawatir apa-apa. Jika Asep yang mengantar pun tidak masalah, karena dia teman dekat, dan juga Asep sudah punya Tiara. Jika suatu saat Saga ada dalam posisi ini dan ada laki-laki lain yang ingin mengantar Ayano menggunakan motor, bagaimana Saga harus menjawab? “Kampret, gua kayaknya harus belajar motor kopling.” Selama di perjalanan, Argi bertanya-tanya sama Ayano. “Ayano, kamu beneran jadi dingin ke Saga gara-gara nenek teman kamu meninggal?” Ayano mengangguk. “Iya, saya sangat sedih.” “Oalah, aku pikir kamu jadi sedih gara-gara Saga bilang gak punya perasaan apa-apa sama kamu.” Mata Ayano terangkat. “Saga cerita sama kamu?” “Iya.” Ayano terdiam cukup lama sampai akhirnya berbicara. “Alasan saya menjadi dingin saat itu memang karena dapat kabar kalau nenek teman saya meninggal. Tapi sebelum itu, saya juga sedikit kecewa pada Saga karena bilang tidak punya perasaan apa-apa pada saya. Padahal saya pikir kami berdua cukup dekat, ternyata hanya saya yang berpikir begitu. Jujur, saya ingin marah saat Saga mengatakan hal itu, tapi saya bukan siapa-siapanya dia.” Argi kembali terkaget. Ternyata memang benar nenek temannya Ayano meninggal. Sungguh, dia ingin tertawa saat itu karena tebakkannya bisa benar, tapi tidak bisa tertawa karena Ayano sedang berkabung. “Kamu suka sama Saga?” tanya Argi, tidak berbasa-basi. Ayano terkaget. “Eh? Kenapa tiba-tiba bertanya itu?!” “Gapapa, nanya aja.” Ayano terdiam lagi cukup lama, Argi sengaja memelankan laju motor agar bisa lebih lama sampai di asrama. Soalnya kalau sudah di asrama, Argi tidak akan berbicara lagi dengan Ayano, dia akan langsung pulang. “Saya tidak tau apakah saya suka atau tidak sama Saga. Saya tidak pernah berpacaran sebelumnya, tapi saya merasa nyaman saat bersama Saga.” Argi sedikit terkaget. “Tidak pernah pacaran? Memangnya waktu SMA tidak pernah ada yang mengajak pacaran?” “Tidak pernah.” “Oh, begitu. Kalau Ayano sendiri gimana? Apa pernah menyatakan perasaan pada orang lain?” “Tidak pernah juga. Saya hanya fokus pada pelajaran, saya juga jarang main, jadi tidak pernah merasakan hal itu waktu SMA.” Argi tersenyum. “Berarti, ini pertama kalinya kamu jatuh cinta, ya?” Ayano tersipu. “Sa-saya tidak tau. Saya merasa Saga selalu memperhatikan saya setiap kali kami berdekatan, saya merasa malu dilihat terus seperti itu, jadi saya mencoba berteman dengan dia. Lalu ternyata Saga orangnya juga sangat baik, dan tidak merasa canggung dengan saya. Kami sering bercanda, bertengkar, dan berbeda pendapat. Saya belum pernah bertemu laki-laki yang bisa melakukan itu semua dengan saya.” Ayano bercerita panjang lebar, mendengar berbagai hal yang baru dia ketahui setelah mendengarnya secara langsung dari Ayano. “Kalian tidak canggung? Tapi Saga kelihatannya masih malu-malu sama kamu.” Ayano mengangguk. “Awalnya memang begitu, Saga sangat sopan pada saya. Tapi itu wajar kan, namanya juga baru kenal. Tapi sekarang sudah tidak lagi. Saga mulai sering mengejek saya, mengatakan saya bodoh, dan lain-lain, saya senang diperlakukan seperti itu.” Sungguh, Argi tidak dapat membayangkan bagaimana Saga mengejek dan bersikap akrab dengan Ayano. Dia merasa menyesal tidak pulang cepat-cepat untuk bisa ikut ke rumah Asep. Pasti banyak sesuatu yang terjadi pada mereka berdua selama waktu itu. “Jadi Ayano suka sama Saga?” Ayano belum menjawab. “Saya tidak tau, tapi saat kami jogging di daerah rumah Asep, saat saya melihat banyak orang lain yang berpegangan tangan, saya jadi ingin melakukannya juga bersama Saga. Saya ingin mencobanya, seperti mereka, seperti para pasangan yang ada di film. Jadi saya mencoba untuk mengajaknya, dan bersyukur ternyata Saga juga mau berpegangan tangan dengan saya.” Motor Argi sedang berhenti di lampu merah, setelah perempatan ini dia tinggal belok kanan untuk sampai di asrama perempuan. Dia harus cepat memastikan semuanya di sini. “Kalian berpegangan tangan?” “Iya.” Argi tersenyum-senyum, ternyata hubungan mereka sudah sedekat itu. Argi bangga pada Saga. Ternyata temannya itu mampu menaklukkan hati Ayano tanpa perlu menggunakan uangnya segala. Motor pun kembali melaju, Argi bertanya untuk yang terakhir kalinya. “Jadi kesimpulannya, Ayano suka sama Saga?” Ayano masih menggeleng. “Saya tidak tahu, tapi saat saya menghilang cukup lama dan bertemu lagi dengan Saga, dia langsung memeluk saya tanpa pikir panjang. Saya merasa senang saat Saga memeluk saya, baru pertama kali saya dipeluk seperti itu. Keluarga saya bahkan tidak pernah melakukannya. Jika ditanya, saya… sa-saya… ingin berpelukan lagi dengan Saga.” Motor pun sampai di asrama, Argi berhenti di depan gerbang dan membiarkan Ayano turun. “Terima kasih Argi, sudah mengantar.” “Iya, sama-sama.” Ayano pun pergi berlalu meninggalkannya. Argi tersenyum pada langit. Tidak perlu ditanya lagi. Semesta pun tahu bahwa Ayano sangat menyukai Saga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN