Ayano sedang membutuhkan uang tambahan saat ini. Uang beasiswanya memang sudah cukup untuk membuat dia tinggal dengan nyaman di sini, tapi tetap saja Ayano merasa membutuhkan uang tambahan seperti yang dikatakan oleh Kazu.
Ayano tidak mau hanya mengandalkan uang pemberian dari beasiswa. Karena itu, Ayano mencoba melamar pekerjaan pada sebuah kafe manga yang berada agak jauh dari kampusnya. Hal itu sengaja Ayano lakukan karena tidak ingin sampai bertemu dengan teman-teman sekampusnya.
Tempat itu kebetulan sedang membutuhkan lowongan pekerjaan. Ayano yang mengetahui info tersebut langsung memutuskan untuk mendaftar.
Saat ini, Ayano sedang duduk di suatu ruangan di hadapan tiga orang yang akan mewawancarainya. Bukan wawancara yang resmi. Mereka hanya ingin tahu saja soal Ayano dan motivasinya ingin bekerja di kafe ini.
“Silakan perkenalkan dirimu,” ucap salah satu lelaki yang duduk paling tengah.
“Nama saya Shiraishi Ayano. Mahasiswi Semester 2 kampus UPD. Asal dari Jepang, tapi sudah fasih berbahasa Indonesia. Terima kasih.”
Para pewawancara tampak terkesan saat mendengar langsung suara Ayano.
“Tidak perlu tegang begitu. Kami hanya ingin berkenalan.”
Ayano pun mengangguk. Mencoba merilekskan diri.
“Sebelumnya, kenapa kamu ingin kerja di sini?” tanya laki-laki yang duduk di tengah.
“Saya lihat kafe ini mengusung tema manga café persis seperti yang ada di negara saya. Sejujurnya, saya tidak begitu tahu banyak soal café itu berhubung saya bukan pecinta manga atau sejenisnya. Tapi, berhubung saya orang Jepang, saya harap saya bisa berguna di café ini.”
Ketiga pewawancara mengangguk-angguk.
“Apa kamu punya pengalaman kerja?” tanya seorang gadis berkacamata. Dia tampak lebih muda dibanding lelaki yang duduk di tengah.
“Tidak. Tapi saya cukup ahli dalam urusan rumah tangga.”
“Misalnya?”
“Saya bisa masak, cuci piring, cuci baju, dan bersih-bersih rumah dengan cepat dan juga rapi.”
Lelaki yang duduk di tengah bicara lagi. “Kamu orang Jepang, kan? Apa yang kamu tahu soal manga café?”
“Manga café itu adalah café yang menyediakan pelayanan peminjaman ruangan kecil seperti warnet namun dengan tambahan peminjaman buku komik Jepang atau biasa disebut dengan manga. Kurang lebih seperti itu.”
Ketiga pewawancara tampak puas. Tentu saja Ayano akan tahu karena dia memang asli orang Jepang.
“Kalau kerja di sini ingin jadi bagian apa?”
“Bukankah yang tersedia hanya sebagai pelayan, ya?”
“Iya, memang. Tapi semisal kamu bisa memilih. Kamu pilih di bagian apa?”
Ayano menaruh telunjuknya di dagu.
“Saya tidak keberatan ditaruh di mana saja. Tapi, kalai diperkenankan memilih, saya ingin ditempatkan sebagai kasir atau posisi pelayan seperti yang sekarang sedang tersedia.”
Melihat Ayano yang begitu serius, para pewawancara tentu begitu terkesan. Dibanding Ayano yang butuh mereka, sebenarnya saat ini mereka lah yang lebih butuh pada Ayano. Dengan datangnya orang Jepang asli ke kafe mereka bisa membuat kafe itu semakin ramai.
Tapi mereka berusaha untuk tetap jaim.
“Kamu sedang butuh uang, kah?” tanya seorang gadis berambut pendek yang memakai behel.
Ayano tersenyum kecil. “Sejujurnya, iya. Itulah mengapa saya melamar pekerjaan di sini.”
“Tapi kamu kan mahasiswa. Kamu yakin bisa bagi waktu?”
“Jika diperkenankan, saya ingin bekerja mulai sore sampai malam saja, karena paginya saya ada kuliah.”
Ayano merasa tidak enak karena meski dia yang melamar, tetapi malah dia yang menentukan waktu kerjanya.
“Ah, jadi kamu mau shift sore, ya?”
“Iya.”
“Sampai jam sembilan tak masalah?”
“Iya.”
“Kalau begitu, kapan kamu bisa mengerjakan tugas-tugas kuliahmu?”
Ayano mengambil napas sejenak. “Bapak tidak perlu khawatir. Saya bisa menggunakan banyak waktu kosong saya untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah. Bisa saat jam istirahat, atau bisa juga malam hari sebelum tidur. Saya bisa mengatur waktunya dengan baik.”
Lelaki dewasa itu mengangguk. “Bagaimana dengan weekend? Kamu mau kerja juga?”
“Siap. Khusus weekend saya siap bekerja dari pagi sampai siang atau siang sampai sore. Tidak ada masalah.”
Ayano memang tidak memiliki kegiatan khusus selama weekend. Dia tidak mengikuti ekskul atau organisasi apapun.
“Kalau lembur bisa?”
“Seandainya tidak ada agenda, saya siap.”
Para pewawancara sebenarnya ingin segera menerima Ayano saat ini juga, tapi mereka sengaja mengulur-ulur waktu karena ingin menikmati prosesi wawancara saat ini.
“Ingin gaji berapa?”
Ayano tersenyum kecil. “Saya tidak tahu. Biar Bapak saja yang menentukan berapa gaji yang pantas saya dapatkan.”
Para pewawancara mengangguk-angguk. Ditilik dari jawabannya, Ayano ini bukan tipe orang yang suka memaksa dan ambisius terhadap sesuatu. Ayano adalah tipe orang yang lebih senang jika orang lain saja yang menilai dirinya.
“Kamu udah punya pacar belum?” tanya gadis berkacamata.
“Be-belum….”
Ayano tidak berbohong. Meski dia sedang dekat dengan Saga, tapi mereka berdua sama sekali tidak berpacaran.
“Eh, seriusan? Padahal kamu cantik banget, loh.”
“Hehehe, terima kasih.”
Siang itu, Ayano banyak sekali dilempari pertanyaan, dan Ayano pun menjawab dengan jujur serta antusias.
Sejak awal Ayano mendaftar, ketiga pewawancara sebenarnya sudah sepakat bahwa mereka pasti akan meluluskan Ayano. Pasalnya, orang Jepang seperti dia memang sangat dibutuhkan. Ayano akan menjadi pelayan asal Jepang pertama di kafe mereka.
Akan tetapi, mereka ingin tahu bagaimana kesungguhan Ayano terlebih dahulu. Dan setelah diwawancara, mereka yakin bahwa Ayano akan cocok berada di sini.
“Baiklah Ayano. Selamat, kamu diterima di Wibu Café sebagai pelayan part-time bagian sore. Bekerja yang semangat, ya!” Lelaki dewasa itu lantas tertawa.
Ayano tersenyum mendapat kabar seperti ini. Dia telah resmi diterima sebagai pelayan di café ini.
“Terima kasih, saya sangat senang mendengarnya. Kapan saya bisa mulai bekerja?”
“Mulai besok sudah boleh. Datang ke sini sebelum jam lima sore, ya. Nanti kamu dikasih seragam kerja di sini.” Gadis berkacamata yang menjelaskan.
“Baiklah, terima kasih!”
Setelah wawancara selesai, Ayano langsung pulang ke asrama dengan menggunakan angkot. Ini adalah salah satu kerugian karena harus bekerja jauh dari kampus. Ayano harus mengeluarkan biaya transportasi setiap hari sebanyak sepuluh ribu rupiah. Memang tidak begitu banyak, tapi jika dikali satu bulan, Ayano berarti harus menghabiskan uang sebanyak tiga ratus ribu setiap hari.
Setibanya di asrama, Ayano sebenarnya ingin segera mengabari Saga lewat chat. Namun, niat itu dia urungkan begitu saja. Ayano ingin mengabari Saga kalau sudah cukup lama bekerja di sana. Niatnya untuk memberi kejutan sekaligus antisipasi jika Saga tidak senang melihat Ayano bekerja di sana.
“Mungkin nanti saja kalau saya sudah gajian. Saya mau coba traktir Saga,” ucap Ayano dalam hatinya.
Waktu ketika Ayano mulai bekerja sebenarnya agak kurang pas karena sedang bertabrakan dengan waktu UTS. Tapi, mau bagaimana lagi. Ayano tidak mau melewatkan kesempatan begitu saja. Dia takut jika lowongan pekerjaan itu keburu diambil oleh orang lain.
“Saya tidak boleh malas-malasan. Saatnya belajar untuk UTS besok.”