Sudah hampir satu minggu Riki berurusan dengan Geng Lebah yang diketuai oleh Jelita. Mereka mengajak Riki berkelahi, tetapi selalu Riki yang keluar sebagai pemenang. Bahkan saat mereka menggunakan cara licik dengan mengeroyok Riki secara langsung, Riki tetap menjadi orang yang berdiri paling akhir.
Hari ini, Riki telah menghabisi seluruh kelompok Geng Lebah lagi sendirian di markas mereka sendiri. Hanya Jelita yang dihabisi Riki tanpa memberi luka sedikitpun di wajah. Jelita hanya dibuat tidak bisa bergerak olehnya.
"Siapa, siapa lu itu sebenernya? Cepet bilang!" Jelita kembali memaksa Riki untuk membuka mulut.
Riki yang sudah bosan dikejar-kejar terus akhirnya memberitahu identitas dia yang sebenarnya.
"Kalian janji gak bakal ganggu gua lagi kalo gua kasih tau kalian identitas asli gua?"
Semuanya mengangguk, termasuk Jelita.
"Baiklah, akan gua beritahu kalian siapa gua sebenarnya."
Riki lalu membuka perban yang menutup tangan kanannya. Di tangannya itu terlihat tato naga berwarna hijau yang sedang menyemburkan api. Tato itu sangat terkenal di kalangan pelajar yang berkecimpung di dunia tawuran, khususnya di kota Medan.
"Ta-tanda itu...."
"Ternyata benar, kamu ini...."
Riki mengangguk. "Iya, gua Riki Sinaga alias Riki Si Naga. Pelajar SMA terkuat di Indonesia."
Dengan percaya dirinya, Riki berkata seperti itu.
"Sekarang gentian, kenapa kalian bersikeras nyerang gua?" Riki menatap semuanya.
Jelita yang menjawab. "Ka-kami penasaran kenapa lu bisa sekuat itu, padahal penampilan lu cupu banget. Kita takut lu bukan orang baik-baik, jadi kami ingin mengorek informasi dari lu. Itu aja."
Semenjak Riki menghajar Juan, Pedro, dan Martinez, dia memang diincar oleh seluruh anggota Geng Lebah. Dia ditanya-tanyai soal rahasia yang sedang dia sembunyikan. Riki tentu tidak ingin menjawab, karena itulah dia melawan mereka dengan cara menghajarnya.
"Oke, kalian sekarang udah tau siapa identitas gua yang sebenarnya. Mulai sekarang kalian jangan ganggu gua lagi. Mengerti?"
Semuanya mengangguk kecuali Jelita.
Dia berdiri dan menatap wajah Riki.
"Riki, bergabunglah dengan Geng Lebah. Lu boleh jadi ketuanya. Gua jadi wakil."
Ucapan tersebut mengundang banyak protes dari para anggotanya. Mereka tidak terima jika ketua mereka menyerahkan posisi tertinggi begitu saja pada Riki meski dia lebih kuat dibanding semuanya.
"Jangan ada yang protes. Ini semua agar Geng Lebah menjadi semakin kuat." Jelita meminta semuanya untuk diam. Setelah itu kembali menatap Riki. "Bagaimana Riki, mau gak?"
Riki menghela napas.
"Kalian ini... kayak anak kecil aja. Kalian udah kuliah semester 3, kenapa masih main geng-gengan? Apa tujuan yang ingin kalian capai?" Riki menggaruk belakang kepalanya.
"Menjadi ketua geng adalah impianku! Jangan kau tertawakan!" Jelita protes.
"Kenapa Kak Jelita ingin jadi ketua geng? Padahal Kak Jelita cantik gitu. Harusnya jadi pramugari saja."
Wajah Jelita memerah. "Su-sudah gua bilang, gua ini gak cantik! Jangan bilang gua cantik!"
"Eh, tapi...."
"Nurut aja!"
"Oke deh."
Jelita lalu kembali menjelaskan. "Gua tau, ini emang kekanak-kanakan, tapi ini memang cita-cita gua. Gua ingin jadi ketua geng seperti salah satu tokoh cewek di film yang gua tonton. Dia keren banget. Meski dia cewek, dia jago kelahi dan bisa kendaliin banyak cowok. Gua udah berlatih kelahi dari semenjak SMP sampai sekarang. Cita-cita gua terkabul setelah gua berhasil jadi orang terkuat di kampus ini hingga akhirnya terciptalah Geng Lebah."
Semuanya tampak terharu.
"Tujuan bikin geng apa?" tanya Riki yang sudah veteran di bidang itu.
"Seneng-seneng aja. Dan juga jaga keamanan kampus kalau-kalau ada mahasiswa yang kena palak."
Riki menghela napas.
"Kalau gitu kalian gagal. Dulu ada mahasiswa angkatan gua yang kena palak, tapi kalian gak ada buat nolongin. Yang nolongin malah si Argi anak Kelas 1-E. Udah pinter, jago gelut pula, ganteng lagi, kampret bener. Tapi dia orang baik. Kalian kenal gak?"
Semuanya menggeleng.
Riki berdecak. "Gua tau ini gak sopan, tapi kalian bubar aja deh. Ngapain sih geng-gengan. Soal keamanan serahin sama polisi aja."
Jelita berkaca-kaca. "Ta-tapi... i-ini... ini impian gua."
"Iya, ini impian lu, tapi bagaimana sama yang lain? Emang mereka gabung karena doyan kelahi?"
Riki lalu menanyai mereka satu per satu soal alasan mereka bergabung dengan Geng Lebah.
Jawabannya beragam.
"Karena Jelita cantik, jadi gabung aja."
"Karena dipaksa."
"Iseng-iseng aja."
"Kasihan dia gak punya temen."
"Gabut."
Tidak ada satu pun yang benar-benar menjawab bahwa mereka sungguh-sungguh bergabung dengan geng lebah.
Jelita merasa sakit hati mendengarnya, sekaligus kecewa pada diri sendiri. Rupanya dia asik sendiri, sedangkan yang lain hanya ikut-ikutan.
"Udah bubarin aja." Riki kembali mendesak.
Jelita pun dengan berat hati menatap seluruh anggota geng nya.
"Apa ini adalah akhirnya? Apa kita akan bubar hanya dalam waktu satu setengah tahun? Pencapaian apa yang telah kita dapatkan?"
Tidak ada satupun yang menjawab.
"Kalian ingin bubar? Geng ini tidak berarti ya bagi kalian?" Jelita hampir meneteskan air mata.
Rini yang jarang sekali berbicara, mengangkat tangan.
"Tidak, ini tidak sia-sia, Jelita. Gara-gara bergabung dengan Geng Lebah, aku jadi lebih percaya diri. Aku yang payah ini ternyata bisa berguna buat kalian. Tapi, dari semua hal yang telah aku alami, aku bersyukur karena dengan gabung geng ini aku jadi punya teman."
"EMAS!!!" Semua berteriak bersamaan.
Setiap Rini bicara, respon temannya memang selalu begitu.
Anggota gadis lain mengangkat tangan. "Jelita, alasan aku gabung Geng Lebah sebenarnya karena ingin berteman denganmu. Dan sekarang aku bersyukur karena kita telah menjadi teman."
Yoga ikut berbicara. "Aku tau, selama satu setengah tahun ini kita tidak membasmi kejahatan apapun, karena memang tidak ada kejahatan di sekitar kampus. Malah kami yang berbuat kejahatan karena bosan. Kami palakin para mahasiswa baru. Tapi tidak masalah, karena semua itu hanya acting. Kami selalu mengembalikan uang yang kami palak pada mahasiswa tersebut keesokan harinya. Semua itu menyenangkan kok Jelita, sungguh."
Juan menambahkan. "Kegiatan kita memang Cuma berlatih berkelahi saja. Tapi itu sangat berguna, Jelita. Jikalau nantinya ternyata kita benar-benar bertemu orang yang jahat, kita dapat membela diri. Semua ini tidak sia-sia."
Martinez tersenyum. "Kau sudah menjadi ketua geng yang baik, Jelita."
Mendengar semua ucapan terima kasih itu, Jelita merasa terharu. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Riki bilang geng ini harus bubar. Bagaimana menurut kalian?"
Pedro mengangkat tangan. "Seperti kata Riki, kita bubar saja. Kita sudah kalah telak olehnya. Kita buat perkumpulan baru saja, yang bukan geng-gengan."
Jelita tersentak. "Ta-tapi... aku maunya."
"Kau yang akan tetap jadi ketuanya, Jelita. Kegiatan apapun yang ingin kau lakukan, kau yang akan jadi ketuanya."
Jelita garuk-garuk kepala. "Aku tidak tahu apalagi yang aku sukai. Aku hanya suka berkelahi. Selain itu paling... bersepeda. Apa kalian mau jika bersepeda bersamaku?"
Semuanya menjawab mau dengan antusias.
"Kalian serius?" tanya Jelita.
"Iya!"
"Sepertinya seru!"
"Night Ride mantep!"
"Sehat gowes!"
Jelita tersenyum melihat antusiasme yang begitu besar dari para anggota gengnya.
Riki ikut senang melihatnya.
"Baiklah, kalau begitu aku bubarkan saja Geng Lebah ini, dan diganti jadi Lebah Bicycle Club!"
Semuanya langsung bersorak.
Hanya dalam waktu satu hari geng lama telah bubar dan terbentuk geng yang baru.
Riki geleng-geleng kepala. Bisa-bisanya orang-orang aneh semacam mereka ada di kampus ini.
Riki bersyukur masa lalu kelamnya dapat mencerahkan masa depan orang-orang di sini.
Jelita menarik lengan Riki.
"Riki, kamu gabung, ya?"
Riki tersenyum. "Baiklah, kalau sepedaan aku gabung. Tapi pinjem ya sepedanya!"
Dengan begitu, suatu geng yang jarang diketahui di kampus itu telah bubar dan berubah menjadi komunitas bersepeda.