96

1014 Kata
(Masa lalu salah satu anggota Geng Lebah) Yoga The Second Putra Seperti namanya, Yoga adalah anak kedua dari anggota keluarganya. Seorang lelaki berusia lima belas tahun yang baru saja lulus dari Sekolah Menengah Pertama. Dia sering dipanggil 'Yoga' di sekolah. Namun, tak jarang pula ada yang memanggilnya 'Putra', 'Second' atau bahkan 'The'. Yang lebih parah, nama lengkap Yoga sering salah ditulis oleh teman-temannya. Bukannya 'Yoga The Second Putra', teman-temannya malah menulis 'Putra The Second Yoga'. Pernah juga ada kejadian, namanya berubah menjadi 'Second The Putra Yoga'. Yah, namanya memang sedikit aneh, tapi itu adalah nama asli pemberian dari kedua orang tuanya. Mereka memberikan nama itu dengan setulus hati. Yoga sendiri tidak keberatan dengan nama tersebut. Karena dengan begitu, orang-orang tidak akan bertanya lagi Yoga anak keberapa. *** Saat ini, Yoga sedang berdiri di depan gerbang sekolah barunya. Banyak burung gagak yang bertengger di atas pagar. Akar-akar pohon melilit di sekitarnya. Tembok-temboknya juga memiliki banyak coretan bertuliskan kata 'kasar' dan 'kotor'. Langit di atas sekolah ini, lebih gelap dibandingkan sekolah yang lain. "Aduh, gimana ini? Apa saya harus balik lagi?" Yoga berpikir dua kali untuk melangkah melewati gerbang. Ini bukanlah sekolah pilihan Yoga. Dia salah masuk. Yoga inginnya masuk SMA Memasak, tapi malah lolos ke SMA Memalak. Hal ini bisa terjadi karena Yoga salah menulis nama sekolah saat pendaftaran ujian masuk. Sekarang, dia harus menanggung nasib akibat kesalahannya tersebut. "Sekolah ini terlalu menyeramkan. Lebih baik saya pindah." Yoga yang sudah merinding disko, berbalik arah menuju rumah. Namun, seseorang dari belakang menepuk pundaknya. TAP! Terasa telapak tangan yang keras dan tebal di pundak Yoga. Dia menoleh secara perlahan. Di belakangnya, terpampang sesosok satpam yang bertubuh gemuk serta memiliki luka di hati. Yoga bisa merasakannya. "Kalau keluar dari sini, kamu gak bakal bisa sekolah lagi." Satpam itu berkata dengan serius. Bola matanya menunjukkan kejujuran. "Ke-kenapa, Pak?" tanya Yoga dengan gemetaran. "SMA ini sudah diblacklist oleh sekolah lain. Kalau keluar dari sini, ijazahmu cuma sampai SMP." Mendengar kata itu membuat Yoga semakin takut. Bagaimana nasib masa depannya nanti? Jika sudah berhubungan dengan masa depan, rasanya semua ketakutan di dunia tidak ada artinya lagi. Dengan terpaksa, Yoga pun menghadapi nasib buruknya. "Ba-baiklah, saya akan masuk." Satpam itu tersenyum lebar. "Selamat bersenang-senang." Setelah itu, Yoga melangkah masuk melewati gerbang. Di SMA Memalak, jumlah muridnya hanya sedikit. Setiap angkatannya hanya ada 100. Itu pun dibagi menjadi lima kelas, sehingga tiap kelas hanya berisikan 20 murid. Setiap murid akan mendapatkan tempat duduk masing-masing. Jadi, di sekolah ini tidak ada istilah 'teman sebangku'. Setelah lama mencari, Yoga akhirnya menemukan kelasnya, yaitu X-5. Kelas ini berada di lantai paling atas serta paling pojok. Walau kelas ini berada di lantai tiga, kabarnya murid-murid lama pernah meloncat langsung dari atas karena tidak sabar ingin pulang. Hasilnya satu selamat, lima masuk rumah sakit. Satu-satunya murid yang selamat itu adalah anggota 'Big Ten' di SMA Memalak ini. Yoga sudah mendapat tempat duduk. Dia duduk di bangku paling belakang, tapat di sebelah jendela. Menurut legenda, tempat ini adalah yang paling nyaman di antara semua tempat duduk. Karena selain bisa melihat pemandangan, tempat duduk ini juga memberikan kesempatan bagi pemiliknya untuk tidur dengan nyaman saat pelajaran. Yoga sendiri keheranan kenapa tempat duduk ini tidak ada yang menempati, padahal dia murid terakhir yang datang. Selama berada di kelas, Yoga celingak-celinguk sendiri. Rasanya cuma dia saja yang berbeda. Hampir semua teman sekelasnya, baik laki-laki maupun perempuan, memiliki aura yang barbar. Namun, di kelas ini ada satu gadis yang mencuri perhatian Yoga, yaitu Yupi, yang merupakan anggota idol grup terkenal. Yoga bingung mengapa gadis seperti dia bisa terdampar di tempat ini. Melihat wujud teman-temannya yang seperti itu, Yoga merasa tidak akan memiliki teman. Akan sulit rasanya berteman dengan mereka yang tinggal di dunia berbeda. Mau tidak mau, Yoga harus beradaptasi jika ingin bertahan hidup di sekolah ini. "Halo murid baru, kenalan dulu, dong." Tiga orang lelaki mengelilingi bangku Yoga. Lelaki pertama berambut acak-acakan dengan codet di wajah. Lelaki kedua berambut cepak dengan kacamata. Lelaki satu lagi tidak memiliki rambut sama sekali, lebih botak dari Upin. "Gu-gua Yoga." Yoga berkata 'gua' karena tidak ingin dianggap lemah. Ketiga lelaki itu tersenyum. "Aing Juan, lelaki paling kuat di kelas ini." Si rambut acak-acakan menunjuk dirinya sendiri dengan jempol. "Aku Pedro, lelaki paling pinter di kelas ini." Lelaki berkacamata ikut memperkenakan diri. "Ane Martinez, lelaki paling ganteng di kelas ini." Si rambut botak berkata dengan pede. "Saya Yoga, anak kedua Pak Solihin." Yoga memperkenalkan diri lagi. Juan tiba-tiba merangkul pundak Yoga. "Bro, pulang sekolah kita mau nongkrong. Maneh ikutan, ya!" "Nongkrong?" Juan, Pedro, dan Martinez mengangguk. Yoga bisa menebak mereka bertiga akan mengajaknya nongkrong untuk merokok, mabuk-mabukan, ngelem, atau menggoda para gadis. Namun, ternyata, dugaannya salah. Yoga ternyata diajak ke warung Bu Ningsih untuk menikmati gorengan. "Bu, ice tea empat. Gulanya jangan kebanyakan." Juan memesankan mereka minuman. "Siap." Yoga benar-benar keheranan. Dia pikir mereka akan mengajak Yoga ke daerah rel kereta rapi. Namun, rupanya malah ke tempat aman seperti ini. Bukannya mengeluarkan rokok, mereka bertiga justru malah mengeluarkan buku pelajaran. Ketiganya sama-sama mereview pelajaran fisika hari ini. Yoga jadi bingung, apakah mereka anak nakal atau bukan. Karena kalau dilihat dari tampang, mereka bertiga sangat memenuhi kualifikasi. Terlebih Juan yang memiliki codet di wajah. "Kalian kenapa belajar?" tanya Yoga. Tak seberapa lama, ice tea pesanan mereka sampai. Setelah menyedot ice tea pesanannya, Juan menjawab. "Soalnya kalau gak dipelajari lagi, aing bakalan lupa." Juan menjawab. "Oh, gitu." Nggak, gak gitu! Bukan itu maksudnya! Yoga masih merasa aneh melihat tingkah mereka yang seperti anak rajin. Yoga sendiri bahkan tidak pernah melakukan hal itu ketika di SMP. Dia biasa belajar ketika akan ujian saja. "Eh, bro. Buka juga buku, lo! Mau jadi anak bodoh, lo?!" Pedro memelototi Yoga. "Ayo, ayo, ikut belajar. Jangan liatin doang." Martinez menambahkan. Sekarang, malah Yoga yang terlihat seperti anak nakal. Ketiga temannya yang berpenampilan seram malah rajin semua. Dia masih tidak bisa mencerna apa yang terjadi padanya hari ini. Apakah murid-murid SMA Memalak memang serajin ini? Nama-nama mereka juga aneh. Wajah mereka sangat Indonesia, tapi nama-nama mereka luar negeri. Yoga tidak tahu. Yang pasti, pada akhirnya Yoga bergabung dengan geng itu sampai berlanjut ke perguruan tinggi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN