(POV Jelita)
Namaku Jelita Rosalina Wahyudi, seorang gadis biasa yang berada di keluarga luar biasa.
Ayahku adalah pemilik Grand Wahyudi Hotel yang terkenal di Bandung. Dia juga merupakan pemilik Wahyudi Resto, Wahyudi Cafe, Wahyudi Mineral, Wahyudi Motor, Wahyudi Mie, Wahyudi Cell, Wahyudi Net, Wahyudi Jeans, Wahyudi Ban, serta usaha minimarket Wahyudi Mart yang cabangnya ada di seluruh Indonesia.
Dia juga adalah rektor dari kampus yang aku tempati sekarang ini, yaitu kampus UPD.
Bisa dikatakan, ayahku adalah salah satu orang paling kaya di Bandung.
Anggota keluargaku yang lain juga tidak kalah hebat.
Ibuku merupakan seorang penyiar berita.
Kakak perempuanku model majalah.
Kakak laki-lakiku menjadi dokter di rumah sakit Harvent Bandung.
Mungkin hanya aku saja yang merupakan orang biasa. Gadis bungsu yang tidak punya bakat apa-apa.
Meski begitu, kedua orang tuaku sangat menyayangiku. Mereka tidak menuntutku untuk menjadi seperti mereka. Mereka membebaskanku untuk melakukan apa saja yang aku mau. Aku tentu saja senang. Karena dengan begitu, aku bisa meraih mimpiku menjadi dokter hewan sekaligus seorang Ketua Gengster.
"Jelita, gimana tadi kuliahnya?" tanya mama saat sedang makan malam.
Ayah dan kak Andin juga ada di sini.
"Seperti biasa, baik."
Aku tentu saja tidak mengatakan pada mereka bahwa aku adalah ketua Geng Lebah FKH UPD. Jika mereka sampai tahu, aku mungkin akan disuruh berhenti.
Aku saat di rumah dan saat di kampus memang dua orang yang berbeda.
Di kampus, aku menjadi Jelita yang gagah dan ditakuti semua orang. Tapi, kalau di rumah, aku menjadi seorang putri yang lemah lembut.
Benar-benar berbeda.
"Papa denger di kampus kamu ada geng yang suka berbuat keributan. Namanya apa itu... Geng Lebah, ya?"
Aku menelan ludah.
"Gak seburuk itu kok, Pa," balasku, mencoba sedikit membela.
"Mereka gak melakukan apa-apa kan sama kamu?" tanyanya lagi.
"Enggak kok, aman. Ketua Geng Lebah itu temen deketku soalnya."
Papa tersenyum. "Iya, kah? Bagus deh kalau gitu."
"Di sana ada cowok gantengnya, gak?" Kak Andin menatap ke arahku.
"Kakak udah gede, masa sukanya sama anak kuliahan." Ibu yang membalas.
"Eh, enggak, bukan gitu. Kalau ada yang ganteng, Kakak mau ajak dia buat kerja bareng. Agensi Kakak butuh cowok anak kuliah gitu loh." Kak Andin menatap ke arahku lagi. "Ada yang ganteng gak di sana?"
Aku mulai membayangkan anak-anak lelaki yang ada di kampusku.
Juan, Martinez, Pedro, Michel, Diego, Yoga... anak buahku gak ada yang ganteng. Anak cowok lain juga gak ada yang ganteng.
Kalau Riki...
Ah, apalagi anak itu. Aku harus balas perbuatan dia ke aku besok. Enak banget bilang aku cantik. Aku ini kan biasa saja.
Aku pun menggeleng sebagai tanggapan dari pertanyaan kak Andin.
"Gak ada Kak, gak ada yang ganteng."
"Oh gitu, ya udah."
Selepas makan malam, aku izin keluar sampai pukul sembilan malam. Bilangnya mau ke rumah Santi temenku untuk ngerjain tugas bareng, padahal aku pergi ke markas yang berada di gudang kosong dekat kampus. Malam ini ada rapat darurat bersama para anggota Geng Lebah.
Anggota Geng Lebah berjumlah sepuluh orang. Ceweknya ada empat termasuk aku, cowoknya ada enam. Semua anggotanya mahasiswa semester tiga. Geng ini aku dirikan satu tahun yang lalu.
Di Geng Lebah ada satu peraturan penting.
Anggotanya gak boleh pacaran.
Kalau ada yang ketahuan, akan langsung dikeluarkan.
Saat tiba di markas, semuanya sudah berkumpul.
Aku yang datang terakhir.
Di atas meja sudah tersedia makanan serta minuman-minuman dingin.
Aku langsung duduk di kursi khusus untuk ketua.
"Kalian tau kan kenapa gua manggil kalian semua ke sini?"
Semuanya mengangguk.
"Ada ancaman baru di kampus kita, namanya Riki Sinaga. Mahasiswa cupu yang secara tak terduga bisa ngalahin gua dalam duel satu lawan satu. Gimana menurut kalian?" Aku menatap ke seluruh temanku.
"Namanya kayak yang gak asing."
"Iya, pernah denger, tapi di mana, ya?"
Mereka tampak bingung, seperti pernah mendengar namanya. Aku sendiri juga begitu. Rasanya pernah mendengar, tapi tidak tahu kapan dan di mana.
Marina berbicara. "Dia Riki Si Naga bukan, sih? Anak barbar dari Medan itu? Yang masuk berita gara-gara ngehajar lima polisi sekaligus?"
"Bentar, gua cari." Rachel langsung mencarinya lewat internet.
Tak seberapa lama, wajahnya merengut.
"Ini bukan sih?"
Rachel menunjukkan sebuah foto dari handphonenya. Terlihat seorang lelaki berambut pirang acak-acakan yang memakai tindik di telinga dan hidungnya. Di tangan kirinya ada sebuah tato bergambar naga.
"Beda. Riki di kelas 1-E nggak gitu. Rambutnya gak pirang. Telinga sama hidungnya gak ditindik. Tangan kirinya juga diperban. Yang lebih penting, Riki yang di kampus kita itu adik kelas kita. Sedangkan Riki yang ada di foto ini, seangkatan sama kita. Jelas beda, lah."
“Bisa aja kan dia ngulang setaun? Sempet gak lulus maksudnya, makanya kita duluan kuliahnya.”
Aku menghela napas. “Kalian percaya orang badung kayak gitu bisa masuk ke kampus elit kayak gini? Gak mungkin lah.”
Mereka semua mengangguk-angguk.
"Bener juga ya, namanya doang yang kebetulan sama."
"Kebetulan sama-sama dari Medan juga."
"Kebetulan jago gelut juga."
"Orangnya pasti beda, ya."
Semuanya sepakat kalau Riki di kampusku dan Riki yang ada di berita itu dua orang yang berbeda. Aku bersyukur, karena jika dia adalah Riki yang sama, sepertinya tidak akan ada kesempatan bagi kami untuk bisa mengalahkan dia.
Ngelawan polisi aja menang, gimana lawan kita-kita.
Tapi tetep aja, Riki yang ini juga harus aku waspadain.
"Rini kenapa? Dari tadi diem terus?" tanyaku pada Rini yang sedari tadi menunjukkan raut wajah tidak setuju.
Dia hanya menggeleng.
Rini ini jeniusnya Geng Lebah. Dia gak jago kelahi, tapi strateginya untuk mengalahkan lawan selalu mantap. Kalau tidak ada Rini, Geng Lebah ini tidak akan bisa bertahan karena kurangnya ahli strategi. Karena itu, dialah yang menjabat sebagai wakil ketua.
Rini jarang sekali bicara, tapi sekalinya bicara perkataannya selalu penuh dengan makna. Karena itu setiap perkataan dalam mulut Rini, kami anggap emas.
"Aku laper, makan duluan, ya." Rini mengambil sepotong pizza di meja.
"Waah, emas...." gumamku bersama teman-teman.
Sama seperti Pedro, Juan, dan Martinez, Rini juga mahasiswa semester 3. Dia aku tugaskan untuk mengawasi pergerakan Riki.
Untuk sementara ini, kami sepakat untuk membiarkan dia terlebih dahulu. Jika tiba-tiba ada pergerakan mencurigakan, kami akan segera menyerangnya, kali ini dengan tingkat keseriusan yang lebih tinggi.
Geng Lebah diadakan bukan semata-mata untuk berbuat kekacauan. Geng ini justru aku buat untuk menjaga FKH UPD dari segala macam gangguan dari luar.