"Ka-kamu lihat kejadian tadi?!"
Cindy mengangguk. Rupanya gadis yang mengintip gua barusan adalah temen cewek sekelas gua.
"Dari sejak kapan?"
"Sejak kamu dibawa ke sini."
Gua menepuk jidat.
"Tolong, rahasiakan ini. Jangan sampai mahasiswa lain tahu kalau aku ini mantan berandalan!" Gua menangkupkan kedua tangan.
"Kamu mantan berandalan?"
Sial, kenapa gua malah bocorin rahasia sendiri, sih?!
"Ma-maaf, lupain aja! Pokoknya jangan bilang siapa-siapa, ya! Jangan bilang kalau aku menghajar tiga orang itu. Aku tidak mau orang-orang takut sama aku. Aku mohon!" Gua menangkupkan kedua tangan lagi.
"Iya, sebagai komting kelas, aku akan jaga rahasia."
Gua tersenyum lebar, syukurlah dia mau jaga rahasia.
"Makasih, makasih Cindy!"
Dia mengangguk-angguk.
"Karena sudah ketahuan ya sudah aku ceritain aja. Aku ini dulunya berandalan. Aku sering tawuran dan kelahi sama anak SMA lain. Aku pindah ke sini karena ingin berubah menjadi orang yang baru. Aku ingin menjadi mahasiswa rajin, dan lulus dengan nilai yang bagus. Jadi, tolong ya, rahasiakan identitasku ini!"
Dia mengedipkan mata berkali-kali, seperti bingung harus bereaksi bagaimana.
"Ke-kenapa diam saja? Kamu takut sama aku?! Tenang, aku sudah tobat. Tadi itu aku hanya memberi pelajaran saja pada mereka. Tolong, mengertilah."
Dia tersenyum.
"Iya, nggak papa, aku ngerti. Aku juga gak takut sama kamu, kok. Tenang aja, rahasia kamu aman."
"Ma-makasih Cindy!”
Gua langsung ngasih dia lembar lima puluh ribu yang gua pegang. Berharap dia akan tutup mulut kalau gua kasih uang ini.
"Eh, nggak usah. Kalau gini, aku gak ada bedanya sama Pedro, Juan, dan Martinez."
"Bener juga, ya." Gua memasukan kembali uangnya. "Pokoknya terima kasih, ya!"
"Iya, sama-sama."
***
Besoknya, seorang gadis berambut pendek nodong gua pake cutter.
"Lu yang namanya Riki, kan?"
"Iya, gua—aku Riki. Ada apa?"
Gadis itu mengangkat kaki dan mendaratkannya di atas meja gua. Teman-teman sekelas langsung menoleh ke arah kami.
"Ayo, lawan gua!" Dia deketin cutternya ke wajah gua.
"Ma-maaf, gua—aku—saya—beta—diri ini tidak bisa bertarung."
"Halah, jangan bohong. Terus itu kenapa anak buah gua bisa jadi bonyok kayak gitu?" Dia nunjuk Pedro, Juan, dan Martinez yang berdiri di ambang pintu.
Kampret lah, kirain mereka gak bakal lapor.
Gua kira mereka udah jadi temen gua.
Rupanya gak semudah itu.
"Anda ini siapa sebenarnya?" tanya gua.
"Gua Jelita Rosalina, mahasiswa semester 3! Komandan Geng Lebah FKH UPD. Siapa aja yang nyenggol anggota geng harus berurusan sama gua. Ayo, gelud sama gua!"
Jelita nodongin lagi cutter-nya.
Makin banyak pasang mata yang menatap ke arah gua. Mereka pasti gak nyangka bahwa gua lah yang membuat Juan, Pedro, dan Martinez sakit perut kemarin. Apa penyamaran gua akan terbongkar hari ini?
Kenapa di kampus masih ada geng-gengan, sih?
"Kita adu panco aja deh, biar gak ribet." Gua mempersiapkan tangan kanan di atas meja.
Ini sebenarnya bukan tangan terkuat, tapi gak mungkin gua kasih tangan kiri karena dia gak kidal seperti gua.
"Adu panco doang? Lu remehin gua, hah?!" Dia tampak sebal.
Gua sama sekali gak remehin. Gua udah banyak ketemu cewek-cewek yang jago kelahi sewaktu masih di Bogor. Faktanya, gua malah sangat menghormati perempuan.
"Panco dulu. Kalau kamu menang, aku bakal nerima tantangan kamu."
Dia tersenyum.
"Oke, baiklah."
Dia menaruh tangan kanannya di atas meja.
Murid-murid mulai berkerubung untuk melihat pertandingan panco antara gua melawan Kak Jelita.
Begitu tangan kami saling menggenggam, pertandingan langsung dimulai.
PLEK!
Gua menang.
Jelita terlihat shock.
"Be-bentar, bentar, tadi belum siap! Sekali lagi!"
Pertandingan diulang.
Dia menaruh tangan kanannya di atas meja.
Gua melakukan hal yang sama.
PLEK!
Gua menang lagi.
"Bentar, bentar! Gua harus duduk kayaknya. Kursi, kursi, ke siniin cepetan!"
Salah seorang mahasiswa menyerahkan kursi pada Kak Jelita.
Dia duduk, kemudian pertandingan diulang.
PLEK!
Gua menang lagi.
Jelita mulai terlihat stress.
"Sekali lagi! Sekali lagi!"
Gua agak menurunkan kekuatan sekarang. Kasihan dia udah berusaha keras sampe urat-uratnya terlihat di wajah.
Walau udah gua turunin kekuatan, Kak Jelita masih kesulitan mendorong tangan gua sampai bawah. Dia terlihat begitu serius, gigi-giginya sampai kelihatan.
Apa gua kasih menang aja, ya?
Gak deh.
PLEK
Gua menang lagi.
Kak Jelita terengah-engah.
"Sekali lagi, asli, sekali lagi!"
Kak Jelita mulai berbuat curang.
Dia menggunakan kedua tangannya sekaligus untuk mendorong tangan gua ke bawah.
Kali ini agak sedikit sulit, gua hampir kalah. Tapi, gua tambahin lagi kekuatan sehingga berhasil membalikkan keadaan.
PLEK.
Gua menang.
"Gantian, sekarang pake tangan kiri!"
Lah.
Kalo gini dia makin gak mungkin menang.
Tapi gapapa deh, turutin aja.
Kami saling menggenggam tangan kiri masing-masing.
Adu panco kembali dilakukan.
PLEK.
Gua menang lagi.
Kak Jelita terlihat bingung, dia menatap kedua telapak tangannya.
"Kenapa ini? Kenapa gua kalah terus? Padahal gua orang terkuat di Geng Lebah, kenapa gua bisa kalah semudah ini?"
Ya, wajar lah, lawan lu kan Riki Si Naga.
Kak Jelita langsung menatap sebal ke gua.
"Siapa sih lu sebenarnya? Gak mungkin lu cuma berandalan biasa. Apa lu komandan geng juga?"
Gua menggeleng dengan cepat.
"Aku hanya orang biasa."
Dia berdecih.
Cutter-nya dia lempar, lalu si Pedro menyerahkan sebuah pedang kayu padanya.
Pedang itu langsung dia ayunkan ke arah gua.
TAS!
Gua berhasil menghindar dengan cepat, tapi bangku yang gua tempati terbelah menjadi dua.
Kok bisa gitu njiir?!
"Hadapi gua sekarang juga, kita selesaikan urusan ini secara jantan!" Kak Jelita mengarahkan pedangnya ke gua.
"Tapi kan kamu betina."
"Bodo amat!"
Kak Jelita mengayunkan pedangnya lagi, dan berhasil membelah meja kosong yang lain.
"O-oi, jangan ancur-ancurin fasilitas, emangnya kampus ini punya bapakmu?!"
"Iya, bapak rektor kampus ini, kenapa?!"
Kak Jelita mengayunkan kembali pedangnya ke gua, namun gua berhasil menghindar.
Kampret lah, ternyata bapaknya rektor kampus ini.
Kalau sudah gini terpaksa harus gua ladenin.
Gua bangkit dari lantai, lalu ngambil sapu yang ada dipojok.
Karena gua kidal, tentu saja gua memegang sapu ini dengan tangan kiri.
"Jadi lu kidal, ya? Cih! Berarti waktu panco tadi lu ngeremehin gua karena nyodorin tangan lemah lu. Gak bakal gua ampunin lu!"
Kak Jelita tampak sangat marah, dia langsung menyerang gua di dalam kelas dengan pedangnya.
TAS!
Sapu gua patah saat menahan serangan pedang kayunya.
Itu pedang terbuat dari apa sih? Kok tajem banget.
Karena gak punya senjata, gua akhirnya ngehindar terus.
Kak Jelita terus nyerang, tapi gak ada yang kena.
"Serang gua dong, jangan ngehindar terus!"
Kak Jelita terus menyerang gua dengan teknik berpedangnya.
Permainan pedangnya gak buruk, tapi gua udah terbiasa duel satu lawan satu lawan orang yang pake pedang sungguhan. Kalau gua gak berpengalaman, gua udah pasti kalah sedari tadi.
Anak ini punya banyak celah yang bisa gua serang, terutama di bagian kakinya. Sedari tadi dia nyerang terus, hanya berfokus pada gua, gak sadar kakinya bisa diserang kapan aja. Pertahanannya terbuka lebar.
Saat dia mengayunkan pedang, gua menghindar ke samping. Gua jegal kakinya hingga keseimbangan dia goyah. Jelita tersungkur ke belakang, tapi gua tahan tubuhnya dengan kedua tangan.
Pedang kayu di tangannya gua rebut, lalu lempar jauh-jauh.
Dalam posisi ini, wajah kami saling berhadapan.
Gua arahin tangan gua ke wajah Jelita.
Dia memejamkan mata.
Keningnya gua sentil pelan.
Setelah itu, dia membuka mata.
"Ke-kenapa lu gak mukul wajah gua?!"
"Gak mau, wajahmu cantik sih."
Sayang banget kalau gua harus lukain aset berharganya.
"Eh?!"
Matanya membesar.
"Lu, lu bilang gua cantik?"
"Ya, emang bener, kan?"
Dia menggertakan giginya.
"Le-lepasin! Lepasin tubuh gua!"
Dia meronta-ronta sampai lepas dari pangkuan. Tubuhnya terjatuh ke lantai dengan kepala mendarat paling pertama.
"Kejahatan! Itu kejahatan! Manggil gua cantik setelah dikalahin dalam kelahi itu kejahatan! Gua itu gak cantik!" Dia meracau sambil memegangi belakang kepalanya yang kesakitan.
"Enggak, kamu itu cantik."
"Enggak, gua gak cantik!"
"Udah deh akui aja."
"Enggak!!!"
Anjir lah.
Gua beneran gak habis pikir.
Kok bisa ada cewek kayak gini.
Kulit putih mulus, rambut hitam berkilau, alis lentik, bibir tipis, mata bulat, tapi mikir dirinya gak cantik.
Hidungnya agak pesek sih, tapi gak ngurangin kecantikannya.
Kok bisa sih dia jadi komandan berandalan?
"Riki! Suatu saat bakal gua balas perbuatan lu ke gua! Tunggu aja!"
Kak Jelita melangkah pergi meninggalkan kelas sambil memegangi belakang kepalanya yang kesakitan. Beberapa pengikutnya ikut keluar sama dia.
Dosen datang pas Kak Jelita pergi bersama para pengikutnya.
Dosen itu natap gua dengan bingung.
“Riki, kamu apain mejanya?”