93

1051 Kata
(POV Riki Sinaga) Gua Riki Sinaga, orang Medan yang kuliah di Bandung. Waktu SMA, gua ini anak nakal, terbiasa kelahi sama anak orang. Kadang satu lawan satu, kadang lawan banyak sekaligus. Tentu saja gua yang selalu keluar sebagai pemenang. Saking jagonya dalam kelahi, nama gua sampai dikenal sama murid-murid seantero Medan. Gua mendapat julukan 'Riki Si Naga'. Masa SMA gua bener-bener ancur. Baku hantam, bolos, malakin guru, debat sama ibu kantin, itu sudah menjadi rutinitas gua sehari-hari selama ada di sekolah. Gua merasa hidup gua ini sia-sia. Gak ada gunanya. Beban keluarga sendiri dan keluarga orang lain. Apa gua akan hidup begini terus, dan mati dalam keadaan begini juga? Gua gak mau. Gua gak mau hidup tanpa arah dan tujuan sehingga menyesal di hari tua. Gua malu sama emak yang bilang bahwa gua masih punya harapan meski udah serusak ini. Karena itu, gua memutuskan untuk berubah. Dimulai dari rambut yang gondrong gua potong serapi mungkin. Tindik-tindik di telinga gua lepas. Tato di lengan kiri gua balut pake perban. Finishingnya, gua beli kacamata dan gua pake selama berada di kampus. Oke, sempurna. Gua mengawali pagi di rumah bibi yang sudah menjadi tempat tinggal gua selama kuliah di sini. Gua sarapan pagi sama dia dan juga anaknya yang bernama Sisil. Berbeda sama gua, Sisil ini anak yang baik dan juga rajin. Dia rangking satu waktu sekolahnya. Prestasinya banyak, dia sering menangin lomba cerdas cermat. Pokoknya, kebalikan gua banget, lah. Tapi, gua juga gak bodoh-bodoh amat. Bisa masuk kampus UPD adalah bukti bahwa gua sebenarnya berotak pintar. Dulu gua Cuma malas aja, makanya prestasi gua agak sedikit bobrok. "Kamu yakin tetep kuliah di sini? Gak kangen sama emak di Medan?" tanya Bi Susi. "Yakin, lah. Masa udah satu semester di sini, balik lagi? Kan gak lucu." Gua mutusin kuliah di Bandung karena ingin menjauh dari teman-teman barbar gua yang ada di Medan. Gua ingin memulai hidup baru di lingkungan yang baru. Gua lumayan suka hewan, jadi jurusan ini sangat cocok untuk gua. "Hehehe, yaudah bagus, deh." Gua bersyukur punya bibi kayak dia. Meski dia tahu gua mantan berandalan, tapi dia gak benci atau memandang rendah ke gua. Gua malah diperlakukan seperti anaknya sendiri. Anaknya juga gak takut sama gua. Dia memperlakukan gua layaknya teman biasa. Gua seneng mereka bisa menerima gua apa adanya. Selepas sarapan, kami pamit berangkat bersama-sama. "Kami berangkat, Bi!" "Eh, eh, Riki! Itu kamu bawa apa?!" ucapan Bi Susi membuat gua berhenti. Gua melirik ke samping bawah. Tangan gua lagi menggeret tongkat bisbol. "Oh iya, lupa. Hari ini gak ada tawuran." Gua menaruh kembali tongkat itu ke kamar. "Hadeuh." Sisil dan Bi Susi menepuk jidat. Kami berdua lantas menaiki motor berboncengan. Gua bonceng Sisil ke kampus. Tapi pulangnya gua balik sendiri naik angkot. Soalnya jarang banget pulang bareng sama dia. Omong-omong soal Sisil, dia berada di kelas 1-E, sedangkan gua ada di 1-D. "Aku denger mahasiswa Kelas 1-D baik-baik, ya?" tanya Sisil. "Iya, kenapa emangnya?" "Nggak papa, kalo gitu kelasnya cocok sama kamu." Gua tersenyum. Seperti yang dikatain Sisil, kelasnya emang cocok sama gua. Di persimpangan lorong, Sisil jalan lurus dan gua berbelok ke kiri. Gua pergi ke ruang dosen dan nunggu di sana. Gua kebagian buat ingetin dia kalo hari ini dia ngajar di kelas gua. Sebenarnya gak usah dijemput, tapi gua sengaja jemput biar bisa lebih akrab sama dia. "Riki Sinaga, ya?" Seorang dosen perempuan bertanya. "Iya." "Tunggu sebentar, ya. Nanti kita berangkat bareng." "Oh, iya Dok." Gua tersenyum percaya diri. Dengan penampilan begini, orang-orang jadi gak tau kalo dulunya gua berandalan. Rambut belah dua, tangan diperban, kacamata baca, gua udah mirip anak kampus biasa. *** Saat jam istirahat, tiga mahasiswa senior mengajak gua ke belakang kampus. Mereka merangkul pundak gua sok-sok an akrab. Gua tau mereka mau ngapain, karena dulu gua juga sering melakukan ini. Sesampainya di sana, mereka langsung menyodorkan tangannya. "Bagi duit, Bro." "Uang pangkal." "Kalo gak mau sakit, gak usah ngelawan." Gua berdecak. Mana mungkin gua serahin lembar lima puluh ribu yang udah dikasih Bi Susi minggu ini. Uang lima puluh ribu ini adalah jatah jajan gua buat satu minggu ke depan. Kagak mungkin duit ini gua sia-siakan. Sialan, deh. Gua pikir gua bakal bebas dari dunia ginian setelah pindah jauh dari Medan ke Bandung. Tapi nyatanya enggak. Di mana-mana kayaknya ada saja anak-anak begundal kayak gini. Bahkan di kampus favorit. Terus gimana, dong? Apa gua harus serahin uang ini demi keamanan penyamaran gua? "Lama!" BUGHK! Pipi gua dipukul. Gak sakit. "Cepetan serahin!" Salah satu dari mereka menarik kerah baju gua. Saku celana gua hendak dirogoh, tapi gua nangkis tangan mereka. BUGHK! Gua dipukul lagi. Sekarang pipi kiri. Masih gak sakit. Gua menatap mata mereka. Jadi, gini ya gua yang dulu? Mukulin mereka, terus ngambil duitnya. Gimana ya perasaan mereka waktu gua melakukan hal ini? Gua gak tau. Gua udah lupa sama orang-orang yang duitnya gua ambil. Gua gak bisa menghapus dosa gua, tapi gua bisa menghapuskan kekejian ini agar tidak ada yang mengalaminya lagi. Setelah membulatkan tekad, gua menaruh kacamata gua ke tempat yang lebih aman, lalu berkata pada mereka. "Silakan hajar gua sepuasnya, tapi nanti gantian." Gak peduli seberapa kuat mereka, gua bakal bisa bertahan dalam pertarungan ini. Dibanding musuh-musuh gua yang ada di Medan, mereka terlihat gak ada apa-apanya. Mereka pun mulai memukuli gua secara bergantian. Mereka memukul, menendang, menginjak, membuat gua seperti samsak. Uang lima puluh ribu rupiahnya gua genggam erat-erat. Gak bakal gua kasihin. Beberapa menit berlalu, mereka mulai kelelahan. Tubuh gua udah mulai kerasa sakit, tapi masih bisa bertahan. "Udah beres belum?" Mereka gak menjawab apa-apa, hanya ngos-ngosan seperti baru aja lari maraton. "Yaudah, sekarang giliran gua, ya. Gua balas sekali aja, kok." BUGHK! BUGHK! BUGHK! Gua mukul mereka satu persatu di perut. Tentu saja gua nahan diri, yang penting mereka merasakan sakitnya. Gua memasang kacamata lagi, lalu berkata pada mereka. "Kalian boleh malak orang lagi, tapi jangan di depan mata gua." Setelah mengatakan itu, gua mengulurkan tangan ke mereka satu persatu. Membantu mereka berdiri sekaligus mengajak mereka untuk berteman. Gak peduli mereka lebih tua dari gua, kalau salah ya salah, kalau bisa diajak berteman ya dijadikan teman. Mereka menerima uluran tangan gua, dan berdecih sebal. Mereka pikir gua ini lemah karena penampilan gua yang cupu, tapi ternyata malah sebaliknya. Gua pikir rahasia ini tak akan terbongkar begitu cepat. Namun, seorang cewek rupanya sedang mengintip di dekat lokasi kejadian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN