49

1240 Kata
Saga terkaget saat Ayano mengatakan itu. “Berpegangan tangan?!” Ayano tersipu. “Eh, nggak jadi deh.” Baru pertama kali Saga melihat Ayano yang berekspresi seperti itu. Apakah usahanya selama ini telah membuahkan hasil? Tapi Saga merasa tidak pernah melakukan apa-apa pada Ayano. Dia hanya selalu ada saja ketika Ayano membutuhkan. “Ayano....” Saga memanggil. Ayano tidak menoleh. “Ayano!” Setelah dipanggil sekali lagi, barulah Ayano menoleh. “A-apa?” Ekspresi wajahnya masih sama seperti tadi. “Ayo kita pegangan tangan.” Saga memberikan tangannya. “Saga yakin ingin berpegangan tangan dengan saya?” “Iya.” “Ba-baiklah kalau begitu. Hanya sampai puncak.” Ayano pun menempelkan tangannya pada tangan Saga, dan begitu tangan mereka bersentuhan, Saga langsung menggengam erat tangan Ayano. Saga dapat merasakan kelembutan telapak tangan yang dimiliki Ayano. Ini bukan pertama kalinya Saga bergandengan tangan dengan perempuan. Sebelumnya juga pernah, dengan para mantan pacarnya. Tapi rasanya tidak mendebar-debarkan seperti ini. Rasanya terlalu biasa dibanding dengan berpegangan tangan dengan Ayano. Ayano dan Saga berjalan pelan sambil berpegangan tangan, tidak ada yang membuka mulut di antara keduanya. Baik Saga maupun Ayano keduanya terlalu gugup untuk bicara, apalagi saling berpandangan saat ini. Selama ini Saga merasa hanya dia saja yang memiliki perasaan pada Ayano. Padahal sesungguhnya, Ayano juga memiliki perasaan yang sama seperti Saga. Kepesimisan Saga membuat dia sama sekali tidak menyangka. Keheningan terjadi di antara mereka selama beberapa menit, sampai akhirnya Saga membuka suara. “Tanganku basah, gak?” Saga merasa tangannya berkeringat karena terlalu gugup. “E-enggak, kok. Gak basah.” Ayano semakin mengeratkan jabatan tangan mereka. Sungguh, ini benar-benar perubahan yang mendadak. Jarak yang selama ini Saga pikir jauh, bisa mendekat secepat ini. Padahal belum sampai satu tahun mereka saling mengenal, tapi Saga sudah mulai bisa berpikir positif untuk ke depannya. Setelah puncak terlihat, dan Tiara serta Asep melambai-lambaikan tangan, Saga dan Ayano mulai melepas genggaman tangan mereka. “Jangan bilang ke mereka kalau tadi kita berpegangan tangan, ya,” ucap Ayano. “Kenapa?” “Saya malu.” Saga terpesona saat melihat ekspresi Ayano mengatakan hal itu. Jantungnya berdebar-debar tidak keruan. “Iya, tentu saja, aku juga malu, aku tak mau mereka tau.” Tak lama setelah itu, mereka pun sampai di puncak. Asep dan Tiara terlihat sedikit khawatir. “Kalian kenapa lama sekali? Aku pikir kalian pingsan di jalan.” Asep bernapas lega. “Enggak, kok.” Saga yang menjawab. Mereka lama sampai di puncak soalnya mereka berdua secara tidak sadar memelankan jalan kakinya. Mungkin karena tidak ingin cepat sampai, karena ingin terus berada dalam posisi tersebut. Tiara terkaget saat melihat wajah Ayano. “Wajah kamu kenapa Ayano? Kenapa merah gitu? Kamu pasti kecapean, ya?” Dengan cepat Ayano mengalihkan pembicaraan. “Wajah kamu juga memerah, Tiara. Kamu juga kecapean, ya?” Perkataan Ayano tepat sasaran. Sebenarnya Tiara dipaksa lari oleh Asep agar Ayano dan Saga bisa berduaan. Tentu Tiara merasa lelah karena sedikit memaksakan diri. “Iya, aku juga capek, soalnya jarang jogging.” “Oh, begitu.” Asep mengambil alih pembicaraan. “Ayo sarapan dulu, kita beli lontong kari.” “Barang yang kalian mau udah kebeli?” tanya Saga. “Tukang dagangnya gak jualan. Kampret emang, padahal udah buru-buru ke sini sama Tiara.” Asep pura-pura kecewa. “Oalah.” Mereka berempat lalu mampir di tukang lontong kari untuk istirahat sembari sarapan pagi. Penjualnya menggunakan gerobak, dan menyediakan kursi panjang untuk para pelanggannya. Ayano melihat sekeliling. Tempat ini begitu ramai dengan orang-orang serta para penjual makanan. Bukan hanya penjual makanan, Ayano juga melihat penjual pakaian, poster, mainan, serta ikan hias yang berada di sisi-sisi jalan. Di bagian tengah puncak terdapat lapangan luas yang dipenuhi oleh orang-orang yang sedang bermain. Ada anak kecil yang mengendari motor-motoran kecil, ada juga anak kecil yang sedang dituntun joki saat mengendarai kuda sungguhan. “Jadi ini ya Candi itu. Ramai sekali. Seperti festival,” komentar Ayano. “Iya, memang ramai sekali, makanya aku sering ke sini tiap minggu,” jawab Asep. Setelah itu, pesanan mereka sampai. Empat piring lontong kari siap disantap. Harganya cukup murah, yakni cuma 7000 rupiah per porsi. Asep yang membayar semuanya. “Kalian harus rajin olahraga, mumpung masih muda. Pekerjaan dokter hewan itu membutuhkan kebugaran yang bagus. Apalagi kalau kerjanya di peternakan.” Asep berkata sembari makan. “Gua sering senam kok di kosan.” “Senam lima jari?” tanya Asep. “Kok tau?” “Kalau itu mah gua juga sering, hahaha.” Ayano dan Tiara sama-sama menatap Saga dan Asep. “Senam lima jari itu apa?” tanya keduanya. “Angkat barbel,” jawab Asep. “Nah, itu.” Saga mengiyakan. “Oh.” Ayano dan Tiara membulatkan mulut. Saga dan Asep menahan tawa. Mereka bersyukur kedua gadis itu ternyata tidak mengetahui arti yang sesungguhnya. Setelah beres sarapan, Asep berkata pada mereka bertiga. “Kita santai dulu aja di sini, keliling-keliling aja kalau mau. Tapi nanti kumpul di sini ya jam delapan.” “Oke!” Mereka berempat punya hal masing-masing yang ingin dilakukan, jadi memutuskan untuk memisahkan diri dan pergi ke tempat yang berbeda. Saga ingin naik bukit bersama Asep. Tiara ingin lihat-lihat ikan hias. Sementara Ayano ingin mencoba berbagai macam kuliner yang ada di sini. Masing-masing dari mereka membawa handphone, jadi tidak akan menjadi masalah jika ingin berkumpul lagi. “Hati-hati bro, jalannya agak curam.” Asep memperingatkan Saga yang hampir terjatuh saat menaiki bukit. “Eh, eh, pegangin gua anjir!!!” Setelah bersusah payah, mereka berdua pun akhirnya sampai di puncak. Saga takjub saat melihat pemandangan kota kecil Cicalengka yang terlihat sangat jelas dari atas bukit ini. Kota ini mungkin kecil, tapi Saga yakin, kota ini sama berartinya dengan kota yang lain. Banyak kehidupan serta cinta yang tumbuh di kota kecil ini. Kota kecil Asep dan Tiara. “Gimana tadi sama Ayano?” Asep memulai pembicaraan. Angin sepoi-sepoi menerpa rambut Saga, dia kemudian menjawab. “Jadi tadi itu bohongan pas lu bilang buru-buru karena mau ada yang dibeli?” “Ya iyalah, gua kan sengaja biar lu bisa berduaan sama Ayano.” Saga tertawa. “Sialan, makasih.” Saga bersyukur punya teman seperti Asep. Dibanding teman-teman SMA-nya yang lama, lelaki yang satu ini benar-benar membawa kebahagiaan. Dibanding teman-temannya yang sama-sama kaya juga, Asep ini lebih pengertian, tidak hanya membicarakan gengsi saja. “Jadi gimana?” “Gimana apanya?” “Ya, sama Ayano. Ada kemajuan gak? Kalian ngobrolin apa?” Saga tersenyum. Dia sebenarnya ingin bercerita kalau tadi dia berpegangan tangan dengan Ayano saat berjalan menuju puncak. Saga ingin menceritakan itu, tapi sudah janji pada Ayano untuk tidak menceritakannya pada Asep dan Tiara. “Gak ada yang spesial, sih, tapi gapapa. Obrolan tadi bikin gua sama Ayano makin deket.” “Ngobrolin apa emang?” “Rahasia.” “Lah, kasih tau lah.” “Malu anjir, rahasia pokoknya.” Asep tertawa-tawa mendengarnya. “Yaudah, kalo gitu, oke deh.” Saat sudah jam delapan, semuanya kembali berkumpul di tempat yang sudah dijanjikan. Namun, Ayano tidak ada di sana. Hanya ada Tiara yang sedang menunggu begitu Asep dan Saga sampai. Mereka memutuskan untuk menunggu Ayano sambil mengobrol-ngobrol. Tapi, setelah lima belas menit berlalu, Ayano belum muncul juga. Bahkan setelah setengah jam pun Ayano masih belum muncul. Mereka bertiga lantas mengambil handphone masing-masing untuk menghubungi Ayano, tapi tidak ada sinyal di handphone ketiganya. Asep berkeringat dingin. “Gua lupa, di sini rada susah sinyal.” Sekarang, mereka mulai bingung untuk mencari Ayano yang sudah hilang selama setengah jam di saat tempat ini sudah mulai sepi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN