Pagi hari, pukul lima subuh, saat udara sedang dingin-dinginnya, Asep, Saga, Tiara, dan Ayano tengah berada di luar rumah bersiap-siap melakukan jogging pagi. Langit masih gelap, hanya terlihat bintang serta bulan yang bersinar. Semuanya masih mengantuk kecuali Asep.
“Duh, ngapain sih jogging segala, masih ngantuk gua.” Saga menguap.
“Iya.” Tiara juga menguap.
Ayano juga masih mengantuk, tapi dia berusaha untuk menahannya. Ayano menampar-nampar pipinya untuk membuat dia terjaga.
“Ayolah, selama di Bandung lu gak pernah jogging, kan? Mumpung lagi di sini sesekali jogging lah. Tiap minggu rame soalnya,” ucap Asep setelah menalikan tali sepatu.
“Lu kok seger gitu sih? Gak ngantuk apa?”
“Enggak lah, gua kan tidur cepet, bangunnya juga cepet.”
Asep adalah tipe orang morning person. Tipe orang yang tidur awal dan bangun awal. Saga sedikit tidak menyangka karena saat orientasi mahasiswa di Lembang, Asep cukup sulit dibangunkan.
Asep berbisik di telinga Saga. “Ini kesempetan lu buat pedekate sama Ayano. Nanti gua kasih waktu berdua buat kalian.”
Saga langsung segar. “Oke.”
Setelah semuanya siap, mereka berempat mulai pergi meninggalkan gerbang, berjalan kaki di sepanjang jalan.
“Jangan lari dulu, jalan dulu aja, tempat joggingnya bukan di sini,” intruksi Asep.
“Loh, bukan di sini? Terus di mana?”
“Di Cicalengka, nama tempatnya Candi.”
“Candi? Kita mau lari ke Candi? Di sana banyak Candi?” Saga kebingungan.
“Gimana ya jelasinnya. Coba Tiara, tolong jelasin.”
Sambil masih berjalan kaki, Tiara mulai menjelaskan. “Uhum. Jadi di Cicalengka itu ada sebuah tempat di dataran tinggi yang namanya Candi. Namanya doang yang Candi, tapi gak ada Candi beneran di sana. Yang ada cuma lapangan luas sama bukit kecil. Kalau turun ke bawah dikit kita bisa sampe di sungai yang besar tapi dangkal. Pedesaan banget pokoknya.”
Saga dan Ayano mengangguk-angguk.
“Dataran tinggi, ya. Berarti kita joggingnya nanjak?” tanya Saga.
“Yoi, bakal capek kalo belum terbiasa, jadi santai aja gak usah maksain.”
“Oke!”
Sebagai orang kota, Ayano merasa takjub dengan pemandangan persawahan di kedua sisi jalanan. Udaranya terasa lebih segar, dan pemandangannya terasa lebih menyejukkan. Lampu-lampu rumah yang menyala tepat di pertengahan sawah terlihat indah bagi Ayano. Itu adalah pemandangan yang baru.
“Sepertinya enak ya rumahnya di tengah sawah.”
“Ayano emang gak pernah ke sawah?” tanya Asep.
“Enggak, waktu di Jepang saya tinggal di kota. Hampir tidak pernah datang ke desa. Jadi pemandangan hari ini benar-benar baru.”
“Oh, begitu, ya. Kapan-kapan kita ke sawah, yuk. Nyari keong buat dimakan.”
Saga menoleh pada Asep. “Keong?”
“Iya, tutut namanya. Belum pernah makan emang?”
“Belum.”
“Kalau gitu nanti harus coba.”
“Oke.”
Tiara ikut berkomentar. “Kalau kalian jadi ke sawah, aku gak ikut. Gak mau kotor-kotoran.”
“Iya.”
Setelah cukup jauh berjalan, mereka pun sampai di pertigaan jalan. Asep melambaikan tangan untuk menghentikan angkot berwarna kuning untuk dinaiki.
“Loh, katanya mau jogging? Kok naik angkot?”
“Gua udah bilang, daerah joggingnya ada di Cicalengka. Masih jauh dari sini.”
“Bukannya ini Cicalengka?”
“Bukan, daerah ini namanya Pendeuy, pusat Cicalengka bukan di sini.”
“Elah, serah lah, bingung gua.”
Angkot pun melaju setelah mereka berempat naik. Butuh waktu sepuluh menit untuk sampai di pusat kota kecil Cicalengka. Angkot mereka berhenti tepat di depan sebuah bangunan sekolah.
“Nah, ini SMAN 1 Cicalengka, tapi biasa disebut Chexo. Gua sama Tiara sekolah di sini.”
Ayano tampak kagum. “Waah, jadi kalian satu SMA.”
“Iya.”
“Satu SMA, satu kampung, satu jurusan, pacaran lagi, nanti satu rumah, deh.”
Asep dan Tiara tertawa mendengarnya.
“Doain ya semoga aku langgeng sama Tiara.”
“Eh, jangan ngomong gitu, malu tau.” Tiara tersipu.
“Lah, ngapain malu, mereka udah tau ini.”
“Tetep aja!”
Saga hanya berdehem saja melihat kemesraan mereka, sementara Ayano sedikit bergumam.
“Enaknya… punya pasangan.”
“Apa Ayano?” Saga menoleh padanya.
“Enggak, bukan apa-apa.”
Saat tiba di garis start tempat jogging, jalanan mulai ramai oleh orang-orang yang juga mengenakan sepatu olahraga serta training. Semua kalangan ada di sini, mulai dari anak-anak, keluarga, sampai sepasang kekasih.
“Wah, ramai sekali,” komentar Ayano.
“Memang begitu. Setiap minggu pagi, tempat ini selalu ramai. Banyak warga Cicalengka yang melakukan jogging bersama-sama. Ini sudah seperti agenda rutin yang menyenangkan.” Asep menjelaskan.
“Dari kecil tradisi ini udah ada, gak tau mulainya kapan. Pas aku SD aja udah ada.” Tiara juga bercerita.
“Oh, begitu.”
Setelah sampai di garis start, mereka mulai melakukan jogging dengan berlari-larian kecil, tidak berjalan lagi. Seperti yang dikatakan Asep, track jogging di sini memang menanjak, dan jalannya juga berkelok-kelok. Saga tidak yakin akan mampu bertahan sampai akhir tanpa beristirahat.
“Jaraknya berapa jauh sampai di puncak?”
“Sekilo paling,” jawab Asep, sedang berlarian kecil.
“Sekilo?!”
“Iya, cuma sekilo.”
“Itu gak cuma, bro. Sekilo, tapi jalurnya nanjak, ya tepar lah!”
“Ahahaha, makanya gua bilang gak usah maksain. Kalo capek jalan aja, gak usah lari-lari.”
Saga berdecih karena merasa diremehkan. “Oke deh.”
Asep lalu berjalan mendekati Tiara dan berbisik padanya.
“Tiara, larinya cepetin dikit, kita biarin Saga dan Ayano berduaan.”
Tiara pun mengangguk.
Dia langsung berlari kencang setelah itu.
Asep mengikuti.
“Saga, Ayano, kita duluan, ya. Ada sesuatu yang ingin dibeli sebelum kehabisan. Kalian ikuti jalurnya aja, nanti sampe di puncak, kok. Dah!” Asep berlari dengan kencang.
“Eh, tunggu!”
Asep sudah tidak terlihat saat Saga memanggilnya.
“Asep sama Tiara kuat banget, ya. Aku segini saja udah capek.”
“Mereka sering jogging soalnya, jadi udah biasa.”
Saga sudah mulai kelelahan, tapi dia merasa gengsi bila lebih dulu tumbang sebelum Ayano.
“Aduh capek sekali, saya cukup sampai sini aja.” Ayano berhenti berlari dan memegangi lututnya.
Saga merasa lega, dia pun ikut berhenti. “Yah, Ayano payah,” ejek Saga.
Ayano menggembungkan pipinya. “Saga juga aslinya sudah capek, kan?”
Saga tersentak. “Kok tau?”
“Tau lah, Saga kan juga jarang olahraga.”
Melihat Ayano yang cemberut, Saga pun tertawa. “Yaudah, kita jalan aja.”
“Iya.”
Saga dan Ayano akhirnya memutuskan untuk berjalan menyusuri jalanan yang terus menanjak. Memang tidak semua menanjak, ada juga bagian jalan yang bermedan lurus, tapi kebanyakan memang menanjak.
“Di sini banyak pasangan, ya.” Ayano melihat banyak laki-laki yang berjalan sambil bergandengan tangan dengan perempuan.
“Asep bilang tiap hari minggu memang banyak pasangan yang jogging bareng. Katanya dipakai buat berpacaran.”
“Iya, mereka pada berpegangan tangan.”
Saga tertawa. “Iya, rasanya jadi aneh kalau niat jogging berubah jadi pacaran. Tapi mereka emang pasangan sih, jadi gak masalah melakukannya.”
Ayano menatap Saga dari samping.
“Mau berpegangan tangan juga?” tanya Ayano.