Saga dan Ayano telah memasuki kereta kelas ekonomi yang menuju Cicalengka. Kereta ini sangat penuh dengan penumpang, berdesak-desakkan sampai tidak kebagian tempat duduk. Wajar saja, itu karena jumlah penumpang yang masuk memang melebihi kapasitas kursi kereta.
Ayano menatap tiket keretanya, baru menyadari bahwa tidak ada nomor kursi yang tercantum di sana, yang berarti dia bisa duduk di mana saja atau justru sama sekali tidak mendapat tempat duduk.
Saga merasa tidak enak melihatnya. Meski ini baru pertama kali dia menaiki kereta ekonomi, tapi dia sudah menduga akan seperti ini jadinya.
“Maaf Ayano, kata Asep kereta lokal menuju daerahnya memang selalu sesak, jadi terkadang kita tidak kebagian tempat duduk.”
Ayano menggeleng. “Tidak apa-apa. Di Jepang juga terkadang begini, kok.”
Mendengar itu Saga merasa lega. “Syukurlah.”
Selama di perjalanan, banyak orang yang menatap aneh pada Ayano. Tentu saja, di antara sekian banyak orang hanya dia saja yang memiliki wajah berbeda. Bagi Saga, Ayano terlihat seperti warna putih di antara tumpukkan warna merah, yang artinya dia sangat berbeda dengan yang lain.
Penumpang terus berkurang setiap kali kereta berhenti di stasiun sementara, hingga akhirnya Saga dan Ayano bisa mendapatkan tempat duduk.
“Akhirnya bisa duduk juga.” Saga menghela napas.
“Tapi sepertinya sebentar lagi sampai. Setelah stasiun Haurpugur, kita akan sampai di stasiun Cicalengka.”
“Kamu inget sama rutenya?”
“Iya, tadi saya dengar waktu di stasiun.”
“Oh, begitu.”
Setelah menghabiskan waktu selama satu jam di kereta, mereka pun sampai di stasiun akhir Cicalengka. Di sana Asep dan Tiara sudah menunggu dan melambaikan tangan begitu Saga dan Ayano turun.
“Weh, kirain gak bakal jemput.” Itulah yang dikatakan Saga pada Asep.
“Enggak lah, gua kan yang undang kalian, masa gak dijemput.”
“Ahaha, bagus lah.”
Sementara itu, Ayano mengulurkan tangan pada Tiara begitu mereka bertemu.
“Aku Ayano.”
Tiara tersenyum. “Iya tau, aku Tiara.”
Mereka pun mulai saling mengakrabkan diri.
“Ayano, Saga, sini barang-barang kalian, biar gua taruh di bagasi.” Asep membukakan bagasi belakang.
“Oh iya, terima kasih.” Ayano menyerahkan tasnya, diikuti oleh Saga.
Setelah semua barang dimasukkan ke bagasi, mereka berempat mulai memasuki mobil. Asep dan Saga duduk di depan, sementara Ayano dan Tiara duduk di belakang.
“Lu bisa nyetir mobil, Sep?”
“Bisa dong, gua kan calon dokter hewan. Harus bisa naik mobil.” Asep menjawab dengan bangga. “Lu emang gak bisa, Sag?”
“Gua bisa disopirin, jadi belum bisa. Kapan-kapan ajarin, ya.”
“Gampang.”
Setelah semuanya siap, Asep mulai menyalakan mesin dan menjalankan mobil.
“Sebenarnya rumah gua bukan di Cicalengka, tapi di Bojong Salam.” Asep bercerita selama berkendara.
“Jauh emang?”
“Gak sih, deket kok.”
“Kalo Tiara di mana rumahnya?” tanya Saga lagi.
“Nah, kalo Tiara rumahnya di Cicalengka, daerah sini. Nanti kapan-kapan main ke rumah Tiara deh, tapi sekarang ke rumah gua dulu.”
“Okay.”
Ayano sedikit asing saat melihat kanan dan kiri daerah jalanan Cicalengka. Daerah ini tidak seperti di Bandung yang penuh dengan mobil berlalu-lalang serta bangunan-bangunan mewah di sekitarnya.
Di daerah Cicalengka menuju Bojong Salam, jalanannya kecil, dan Ayano melihat banyak sawah baik di sebelah kanan maupun kiri jalan. Bagi Ayano yang orang kota, baik di Jepang maupun Indonesia, pemandangan serbau hijau ini cukup menyegarkan matanya.
“Ini daerah pedesaan, ya?”
“Semi pedesaan lah, soalnya masih banyak mobil yang lewat di sini. Rumah-rumahnya juga banyak yang di sisi jalan.”
“Oh, begitu.”
Hanya membutuhkan waktu kurang dari setengah jam untuk sampai di rumah Asep dari stasiun Cicalengka. Seorang lelaki membukakkan pintu gerbang begitu melihat mobil yang sampai di depan gerbang.
Asep pun mulai memarkirkan mobilnya.
“Akhirnya kita sampai!” Asep merentangkan tangannya.
Rumah Asep berukuran normal, tapi halamannya cukup luas sampai bisa dibuat untuk memarkirkan lima mobil sekaligus. Tapi di halamannya ini hanya ada satu mobil saja, yaitu yang mereka tumpangi tadi.
Di pekarangan rumah Asep ini juga terdapat kolam pancing, saung, lahan perkebunan pribadi, serta satu toko kecil tempat keluarga Asep berjualan usahanya.
Mereka berempat pun masuk ke dalam rumah.
Terlihat sepi, tidak ada siapapun di rumah.
“Bro, orang tua lu ke mana?”
“Ah, sorry, ini sebenarnya bukan rumah utama. Ini rumah kedua keluarga gua, emang gak ada siapa-siapa di sini selain gua dan paman, ahahaha.”
Asep lalu menceritakan bahwa orang yang membukakkan pintu gerbang tadi adalah pamannya, alias adik dari ibunya. Dia tinggal dan bekerja di sini untuk menjaga toko pupuk milik keluarganya.
“Paman gua tinggal di sini sendirian, jadi banyak kamar kosong buat kita tempati. Enak lah tinggal di sini, kita bisa leluasa.”
Asep lalu menunjukkan kamar untuk Saga dan Ayano.
Saga akan berbagi kamar dengan Asep, sedangkan Ayano dengan Tiara.
“Wah, jadi begini ya isi rumah orang Indonesia.” Ayano terkagum.
“Emang kamu belum pernah main ke rumah temen kampusmu yang lain?”
Ayano menggeleng. “Pernah sih, tapi mereka semua orang kaya, jadi rumahnya gak terlalu jauh sama yang di Jepang. Di sini terlihat lebih sederhana, aku suka.”
“Begitu, ya.”
Seperti yang dikatakan Ayano, rumah kedua milik Asep ini memang sangat sederhana. Tidak ada hal yang mewah atau spesial. Televisinya pun berukuran kecil. Tapi entah mengapa Saga merasa bisa bersantai di rumah ini.
Saat mereka sedang beristirahat di rumah setelah perjalanan, kedua orang tua Asep masuk ke dalam rumah. Saga dan Ayano segera beranjak untuk salim kepada mereka.
Saga melakukan sun tangan pada keduanya.
Ayano merasa bingung, tapi dia melakukan hal yang sama seperti Saga.
“Saya Saga Tante, Om, temen sekampusnya Asep.”
“Saya Ayano, temen sekampus Asep juga.”
Saga dan Ayano memperkenalkan diri.
Kedua orang tuanya tampak senang dan menyambut keduanya.
“Saga dari mana asalnya?” tanya Ibu Asep.
“Dari Surabaya.”
“Aduh jauhnya!”
Ayah Asep melirik pada Ayano. “Kalau kamu pasti dari Cina, ya?”
Ayano tersenyum canggung. “Bukan, Om. Saya dari Jepang.”
“Oh, Jepang. Lancar banget ya bahasa Indonesianya.”
“Hehehe, terima kasih.”
Ibu Asep lantas melirik Tiara. “Tiara, ayo bantu Mama bikin nasi liwet. Kita makan-makan.”
“Siap, Ma!”
Tiara pun pergi ke dapur bersama Ibunya, sementara Ayah Asep masuk ke toko untuk menemui pamannya.
Ayano berbisik. “Asep, Tiara itu saudara kamu, kah? Kok manggil Mama sama ibu kamu?”
Asep terbatuk. “Begini….”
Saga yang bercerita. “Tiara itu pacarnya Asep, bakal jadi istrinya mungkin. Makanya Tiara bilang gitu ke mamanya Asep.”
Ayano menutup mulutnya dengan tangan. “Eh, begitu, ya? Waah, selamat, ya.”
Asep merasa malu melihat reaksi dari Ayano.
“Jangan kasih tahu teman-teman sekampus, ya. Ini rahasia.”
Ayano mengangguk-angguk dan memberikan jempolnya. “Siap!”
Siang itu, keluarga Asep menyambut kedatangan Saga dan Ayano dengan mengadakan acara liwetan khas Bandung.
Saga pernah menyantap hidangan ini saat berkunjung ke restoran di Bandung. Tapi bagi Ayano, ini benar-benar rasa yang baru.
Ayam goreng, tahu, tempe, jengkol, sambel disertai nasi liwet yang panas membuat air liur mereka menetes. Sebagai orang Sunda, Asep dan Tiara tentu sangat menggemari hidangan semacam ini.
Saga yang orang Surabaya pun rupanya menyukainya.
Bagi Ayano, nasi liwet itu adalah rasa yang baru di lidahnya.
Ayam, tahu, dan tempe sudah tidak asing bagi Ayano, tapi jengkol dia belum pernah makan. Ayano agak ragu untuk mencobanya karena baunya yang kurang sedap. Secara, dia pun tidak menyukai Natto—makanan khas Jepang yang sama-sama tidak memiliki bau sedap.
“Ayano, jangan paksain, kalau gak suka gak usah makan.” Saga berbisik pada telinganya.
Tapi Ayano penasaran. Dia mengambil satu jengkol, kemudian mencoelkannya pada sambel.
Di luar dugaan, Ayano ternyata menyukainya.
“Enak!”