46

1131 Kata
Libur masih dua minggu lagi, Saga mulai bosan dengan segala aktivitas yang dia lakukan sendiri. Saga yang biasanya bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk bermain game, kini mulai merasa bosan. Dia lebih sering menghabiskan waktu bermain bersama Doggy sembari mengharapkan Ayano mampir ke kontrakannya lagi. Hubungan Saga dan Ayano memang semakin mendekat, lebih dari sebelumnya. Namun, Saga merasa kedekatan mereka tidak akan naik level lagi. Hanya sebatas itu saja. Memang tidak semudah itu menggaet hati perempuan, apalagi pihak perempuannya yang lebih sering bertindak. “Pengennya sih sekarang nembak Ayano, terus pacaran, terus chatan tiap hari, terus main ke suatu tempat bersama-sama buat difoto dan dipamerin di medsos. Tapi gak semudah itu anjir.” Saga mengelus-elus kucingnya sambil berpikir. “Gak boleh jadian sebelum gua jadi orang hebat pokoknya. Tenang aja, kalau jodoh gak bakal ke mana.” Ponsel Saga bergetar di atas meja, membuat dia dan kucingnya menoleh bersamaan. Ada pesan dari Asep. “Sag, lu pasti lagi bosen, ya? Di kontrakkan gak ada kerjaan, dan cuma main-main sama kucing doang.” “Kenapa lu tau gua punya kucing?” “Eh, beneran? Gua nebak aja padahal, wkwkwk.” “Elah… ada apa tiba-tiba chat?” “Mau main ke rumah gua, gak? Ke Cicalengka.” “Mau ngapain?” “Ya main aja. Siapa tau lu bosen di sana sendirian.” “Ah, enggak, males gerak gua.” “Ajakin Ayano.” Saga terlonjak. “Ajak Ayano?!” “Iya, dia juga pasti bosen di asrama terus, ajakin dia main kek ke sini. Pasti mau kok dia.” Tangan Saga bergetar, dia sama sekali tidak terpikir cara ini. Hanya mengajaknya berjalan-jalan Saga memang gugup, tapi kalau ke rumah Asep mungkin dia bisa lebih berani. “Nanti Ayano tidur di mana?” “Di sini juga. Tenang aja, ada Tiara, kok.” “Oh gitu, hm… gua pikir-pikir dulu.” “Jangan lama-lama, liburan mau beres. Gua tunggu jawabannya besok.” “Oke deh, oke-oke.” Percakapan pun berakhir. Saga mulai menimang-nimang tawaran dari Asep. Memang benar saat ini dirinya sedang bosan dan tidak ada kegiatan. Akan menyenangkan bila dirinya main ke sana, dan juga bisa sekalian mengajak Ayano. “Gua chat Ayano, deh.” Saga pun kembali mengambil ponselnya dan mulai membuka kontak WA. Saga mengirim pesan pada Ayano. “Ayano… minggu ini kamu sibuk, gak?” Baru dikirim sebentar Saga sudah mendapat balasan. “Enggak, ada apa Saga?” Tanpa berbasa-basi, Saga langsung mengirim balasan. “Asep ngajak aku sama kamu main ke rumahnya. Mau ikut gak?” “Waah, mau-mau. Kapan mainnya?” “Besok bisa?” “Bisa.” “Nanti kita nginep di sana, mungkin tiga hari. Gapapa?” “Nginep?” “Iya, jangan khawatir, di sana ada Tiara, kok.” “Boleh, boleh, aku ikut! Tapi Tiara itu yang mana, ya?” Saga sedikit terkaget, dia pikir Ayano kenal dengan Tiara. Ingatan Saga sedikit kabur tentang hubungan mereka berdua. “Tiara itu temen sekelasku, yang waktu itu foto minta foto bareng sama Jenni di depan lab embriologi.” “Oh… yang sama Sisil?” “Iya.” “Sisil sama Jenni ikut gak?” Saga terdiam sejenak. Dia sebenarnya ingin mengajak mereka juga, tapi Asep tadi hanya mengundang dirinya dan Ayano. Lagipula, tidak enak juga main ke rumah orang beramai-ramai. Di sana mungkin kekurangan tempat. “Enggak, hanya aku sama kamu aja yang diajak. Gimana, mau?” “Yaudah, boleh-boleh, aku ikut! Bosen di asrama terus, hehe.” “Oke kalau gitu. Siap-siap, ya. Bawa baju ganti untuk tiga hari. Kita berangkat besok pagi.” “Haik!” “Haik?” “Itu artinya oke!” “Oh, oke!” Saga menjadi bersemangat, esok hari mungkin akan menjadi pengalaman pertamanya jalan-jalan berdua dengan Ayano di kereta api. Saga sudah tidak sabar untuk berangkat. *** Saga bilang akan menjemput Ayano di asrama perempuan pukul sembilan pagi. Sebelum waktu itu tiba, Saga menitipkan kucing bengalnya pada tempat penampungan kucing kemarin. Saga tidak bisa meninggalkan dia sendirian tanpa ada yang mengurusnya, karena itu dia menitipkannya di sana. “Jangan nakal ya, Doggy.” Setelah menitipkannya di sana, Saga segera pergi menaiki taksi sembari membawa tas gendong berisi pakaian untuk tiga hari ke depan. Tentu saja, dia tidak lupa mengunci kontrakan sebelumnya. “Bade ka mana jang?” tanya sopir taksi menggunakan bahasa Sunda. Saga sedikit mengerti karena sering mendengar bahasa ini di kampus. “Ke asrama perempuan UPD Mas.” “Oke!” Sopir taksi pun mengantarkan Saga ke tempat itu, butuh waktu beberapa belas menit untuk sampai di sana. “Tunggu sebentar, ya. Nanti saya balik lagi ke sini.” “Oke!” Saga turun dan mengabari Ayano lewat pesan kalau dirinya sudah sampai di depan asrama putri. Ayano langsung turun dari kamarnya sambil membawa tas yang besar. Ukuran tasnya lebih besar dari yang Saga pakai. “Maaf, udah lama nunggu, ya?” tanya Ayano. Saga tak pernah bosan melihat wajahnya, apalagi sekarang Ayano mengenakan outfit yang tidak seperti biasanya dia pakai di kampus. “Ayano, kenapa bawa tas yang besar segala?” “Eh? Ini sudah pas, kok. Untuk tiga hari.” “Tapi tasku gak sebesar itu.” Ayano langsung memainkan jarinya. “Hehe, kamu gak akan ngerti kebutuhan perempuan, Saga. Sudah, kita berangkat saja.” “Yaudah, ayo.” Mereka berdua lantas menaiki mobil. Saga duduk di depan, sementara Ayano duduk di belakang sendirian. “Ke stasiun Bandung ya, Mas.” “Oke!” Begitu sampai di stasiun, Saga dan Ayano segera pergi menuju loket untuk membeli tiket kereta menuju Cicalengka. Baik Saga maupun Ayano baru pertamakali mendengar nama tempat itu. Asep bilang tempat itu bukan tempat yang luas dan besar seperti kota Bandung. Cicalengka adalah sebuah kecamatan di kabupaten Bandung, Jawa Barat. “Berangkatnya jam 11.15. Sekarang jam berapa?” tanya Saga pada Ayano. “Sekarang masih 10.20.” “Mau jalan-jalan dulu bentar?” “Ayo!” Saga dan Ayano lantas pergi meninggalkan stasiun, berjalan-jalan di sekitaran stasiun. Mampir di sebuah warung kecil untuk membeli jajan dan minuman dingin. Meski Saga orang kaya, tapi dia cukup sering nongkrong di warung-warung kecil seperti ini. Argi yang sering mengajak. Menurut Saga, warung-warung kecil seperti ini tidak terlalu buruk. Tidak semewah kafe, tapi punya suasana spesialnya sendiri. “Di Jepang ada warung-warung kecil seperti ini gak?” tanya Saga. “Tidak ada, saya baru lihat yang seperti ini.” Saga merasa aneh duduk di tempat murah seperti ini mengingat dia orang yang sangat kaya. Biasanya orang-orang yang satu kalangan dengannya lebih memilih kafe untuk menghabiskan waktu. Tapi, Saga memang berbeda. Melihat orang Jepang seperti Ayano ada di tempat ini lebih aneh lagi. Apalagi dia seorang perempuan. “Bentar lagi keretanya berangkat, ayo!” Saga beranjak dari tempat duduknya. “Ayo!” Mereka berdua pun pergi meninggalkan warung untuk kembali ke stasiun.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN