Ada sebuah pesan masuk ke ponsel Saga di grup WA keluarga. Isabella mengirim foto dirinya sedang duduk bersebelahan dengan seorang lelaki yang tidak dia kenal. Isabella memberi tahu anggota keluarganya kalau lelaki di foto itu adalah pacar barunya.
Anggota keluarganya memberikan berbagai macam reaksi.
Melky: Wah, Kak Bella akhirnya punya pasangan.
Gamel: Siapa namanya, Kak?
Ronal: Hmm, lumayan, tapi gak seganteng gue.
Ibu: Akhirnyaaaaa!!!!
Ibu: Gak usah mikir lama-lama, kalau cocok langsung nikah aja!!!
Ibu: Kalau bisa besok.
Kak Lisa: Gak gitulah, Ma!
Kak Lisa: Sabar Ma, Sabar, tahan, tarik napas.
Kak Alvaro: Selamat, Kak!
Kak Alvaro: Aku turut berbahagia.
Saga tersenyum-senyum sendiri melihat isi percakapan mereka. Mereka memang jarang bertemu, tapi komunikasi dalam grup ini senantiasa terjaga meski Kai dan Rudi jarang sekali muncul.
Saga pun ikut membalas.
Saga: Ciee punya pacar.
Ibu: Kai, Bella, Alvaro, Ronal, sama Lisa udah.
Ibu: Kalian kapan? @Saga @Melky @Gamel
Kak Lisa: Astaga, Mama! Melky sama Gamel masih kecil! Jangan disuruh pacaran dulu!
Ibu: Eh? Tapi Mama pacaran sama Papa kalian waktu kelas 2 SMP loh.
Kak Lisa: Beda zaman Ma, beda zaman!
Melky: Di sekolah gak ada yang secantik Kak Lisa, jadi Melky gak mau.
Gamel: Cowok di sekolahku gak ada yang pinter. Jadi gak mau.
Gamel: Tapi kalau orangnya baik kayak Kak Saga, gapapa.
Saga: Ehehehe
Ronal: @Gamel Saga itu anak gak bener. Jangan cari yang kayak dia.
Saga: @Ronal Woy!
Ibu: @Ronal juga anak gak bener.
Ibu: Apalagi @Alvaro
Kak Lisa: Mama jangan ngomongin anak sendiri!
Kak Alvaro: Apakah saya anak durhaka?
Ibu: Ahahaha, bercanda-bercanda. Kalian semua anak Mama yang paling baik.
Ibu: Yaudah, kalau gitu @Saga kapan punya pacar?
Saga terdiam sejenak, dia sebenarnya ingin mengirim foto dia yang sedang berduaan dengan Ayano saat acara Orientasi Mahasiswa. Tapi Saga tidak mau keluarganya heboh, jadi dia memilih untuk bungkam.
Saga: Gak ada, mau fokus kuliah dulu.
Ronal: Widih, gayanyaaaa, waktu SMA aja pacaran berapa kali.
Saga: Kan lu yang ngajarin, abang kampret.
Ronal: Ahahahaha
Ronal: Bagus deh, fokus dulu sama kuliah aja.
Ronal: Kalau udah sukses baru pikirin cinta.
Ronal: Kenalin sama gue kalo udah dapet cewek.
Saga: Ogah
Ronal: Hadeuh ngajak ribut nih adek
Melky: Kak Bella nya mana? Kok gak muncul-muncul
Gamel: Iya, muncul pertama terus ilang lagi, dasar Kak Bella.
Kak Lisa: Kak @Bella hadir?
Bapak: Maaf baru dateng, lagi pada bahas apa nih?
Ibu: Bubar bubar!!!
Ibu: Bapak dateng, bubar bubar!!
Gamel: Siap
Melky: Melky permisi dulu
Kak Lisa: Izin ngerjain PR
Ronal: Mau latihan dulu
Kak Alvaro: Istri saya manggil
Saga: Ke WC dulu bentar
Ibu: Dah Papa!!!
Bapak: Keluarga durhaka.
Saga tertawa-tawa saat melihat chat anggota keluarganya. Hal ini memang selalu menjadi hiburan tatkala dia sedang merasa bosan. Saga senang setiap anggota keluarga saling dekat satu sama lain walau jarak mereka begitu jauh.
Lebih dari itu, Saga senang dengan sikap kedua orang tuanya yang tidak terlalu mengekang anak-anaknya. Tidak merendahkan orang lain, juga tidak membanding-bandingkan pasangan setiap orang.
Saat Bella memperlihatkan foto pacarnya di grup WA pun Ibunda Saga merasa begitu senang, tidak bertanya-tanya dulu tentang latar belakang pasangannya. Tidak bertanya apakah dia anak orang kaya atau orang miskin. Tidak bertanya apa pekerjaannya. Juga tidak bertanya apakah dia bisa memberikan keuntungan untuk keluarga Harvent atau tidak?
Saat ini, sudah ada dua anggota keluarga yang menikah, yaitu anak pertama Kai Harvent dan anak ketiga Alvaro Harvent. Kai Harvent menikah dengan orang Surabaya lagi, dan masih tinggal di Surabaya. Namun, dia jarang pulang ke rumah utama, karena sudah tinggal mandiri bersama istrinya.
Alvaro Harvent pun demikian. Setelah mendapat istri orang Australia, dia memutuskan untuk menetap di sana. Anak lelaki itu biasanya hanya pulang setahun sekali.
Selanjutnya ada anak keempat, Ronal Harvent yang berusia 24 tahun, seorang pemain sepak bola professional di liga Jepang, tapi pacarnya orang Indonesia. Ronal adalah saudara Saga yang paling dekat setelah Lisa. Saga sering diberi petuah hidup oleh Ronal, walau beberapa ada yang sesat.
Pacarnya Lisa sudah dibahas, yaitu seorang lelaki bernama Jonathan. Saga sudah bertemu secara langsung, dan secara pribadi Saga cukup menyukainya.
Dan yang terakhir, yang baru-baru ini punya pasangan adalah saudara tertuanya yang kedua, yaitu Isabella Harvent. Gadis itu cukup sulit untuk mendapatkan pasangan. Bukan karena kurang memadai, tapi karena dia malas menjalin suatu hubungan, terlalu berfokus untuk mengabdi pada negara.
Sejak SMA memang begitu, diajak pacaran oleh siapapun Bella tidak mau. Bella hanya mau belajar, belajar, belajar, dan mengabdi pada masyarakat. Baru pertama ini Bella menunjukkan pacarnya pada keluarga, dan lelaki itu adalah teman SMA-nya sendiri.
Wajahnya tidak terlalu tampan, tapi itu bukan suatu ukuran. Bella sendiri yang memilihnya. Sudah menjadi aturan keluarga Harvent untuk membiarkan anak-anaknya memilih pasangan sendiri. Orang tua hanya mendukung dan meyakinkan kembali anaknya apabila keputusannya dirasa salah.
Pada intinya, keluarga Harvent punya prinsip untuk saling mempercayai.
“Apa suatu saat gua bakal jadian sama Ayano?” Saga berpikir.
Di antara semua anggota keluarga, tinggal Saga, Melky, dan Gamel saja yang belum memiliki pasangan. Masih wajar untuk Melky dan Gamel karena mereka masih duduk di bangku kelas satu dan dua SMP. Begitupun dengan Saga yang masih duduk di bangku kuliah.
Saga ingin memegang prinsip yang dikatakan oleh Bella, yakni akan mendapat pasangan saat waktunya tepat. Bukan dengan gadis yang mau sama dia, tapi dengan gadis yang dia mau. Tidak cepat-cepat, tapi di saat yang tepat.
Itu sebenarnya adalah kalimat elakkan yang sering dilontarkan Bella, tapi menurut Saga hal itu memang ada benarnya.
Ketika sedang bersantai di ruang keluarga bersama kucing kesayangannya, ponsel Saga kembali berdering. Berpikir itu dari grup chat keluarga, namun ternyata dari Ayano.
“Saga, ada di kontrakkan? Mau main lagi sama Doggy!!!”
Saga pun membalas. “Iya, ke sini aja Ayano.”
Ayano pun datang dengan menaiki kendaraan umum. Entah sudah berapa kali dia datang ke sini. Selalu pagi-pagi. Katanya biar sekalian membuatkan sarapan untuk Saga.
“Ayano kok baik banget sama aku?” Saga iseng bertanya.
“Soalnya Saga temen baik aku. Kita temenan selamanya, ya?”
Saga langsung batuk saat mendengarnya.
“Gak mau.”
“Loh, kok gak mau? Saga benci sama aku?”
“Iya, aku benci sama kamu.” Saga langsung pergi ke kamar mandi.
“Loh, Saga jangan gitu! Maaf kalau aku ada salah!” Ayano mengejar.
Saga menghela napas dan tersenyum. “Bercanda, Ayano. Mana mungkin aku benci kamu.”
Ayano mengelus dadanya. “Syukurlah.”