44

1137 Kata
"Hah? Maksud kamu apa Reza?" Gue memandangnya dengan heran. "Itu sudah maksud saya. Ibu mau gak jadi pacar aku?" Gue tercengang. Ya ampun, ternyata kondisi gue dianggap semengenaskan ini sampai-sampai murid sendiri ngajak pacaran. Tapi, serius, gue baik-baik aja, nggak perlu dikasihinin begini. CEO keripik aja gue tolak, gimana bocah SMA kayak Reza. Perbedaan umur kita dua belas taun!! *Pletak! Fenny mengetok kepala Reza dengan kepalan tangannya. Baru kali ini gue liat Fenny nabok orang. Padahal biasanya Fenny sangat pasif. Tingkah Reza berarti udah bener-bener keterlaluan sampe-sampe Fenny pun harus turun tangan. "Kamu gak sopan banget sih sama Bu Bella! Kamu tuh masih kecil!" Fenny membentak Reza. Reza ngusap-ngusap kepalanya yang kesakitan. "Ya, terserah gue dong! Cinta kan gak mandang umur!" "Gak boleh, lah! Cinta itu mandang umur! Emangnya boleh bapak-bapak umur lima puluhan pacaran sama anak SD?!" "Selama anak SD-nya mau sih gak masalah." Reza menjawab enteng. *Pletak! Fenny menggetok kepala Reza lagi. "Kepalamu emang gak beres. Kamu makannya apa sih?!" "Ya nasi lah, masa paku." "Ah, gak percaya. Coba hitung berapa nasi yang tadi pagi kamu makan?" "Mana bisa kampret!!!" Fenny dan Reza berdebat hebat. Baru kali ini gue ngeliat mereka kayak gitu, terlebih Fenny. Baru kali ini dia bicara sebanyak itu, dan bahkan pake emosi ngomongnya. Fenny tetiba ngegandeng tangan gue. "Bu Bella, pacaran sama aku aja. Jangan sama bocah gak beres itu!" HAH??? "Anjiir, diam-diam lu lesbi ternyata. Astaga. Gue laporin juga ke Bapak lu!" Reza tidak terima, ia menunjuk wajah Fenny dengan penuh emosi. "Aku gak lesbi, aku cewek normal! Tapi aku suka sama Bu Bella! Aku gak mau Bu Bella sayangku pacaran sama kamu!" HAH??? Reza berlari dan ngegandeng tangan gue yang satunya. "Bella, jadi pacarku aja. Aku jamin, kamu bakal bahagia selama-lamanya. Aku kan ganteng, pinter, dan masih muda." "Eh, kamu panggil apa? Dia itu guru! Panggil pake Bu, woy! Dasar anak durhaka, otak bobrok, m***m, p*****l, terendah dari yang paling rendah!" "Tapi gue masih normal! Gue gak lesbi kayak lu!" "Kamu nggak normal, masa suka sama guru?! Dan juga, aku bukan lesbi!" "Lu juga suka sama guru anjiir!!!" Fenny memeluk tangan gue semakin erat. "Y-ya, nggak papa! Bu Bella udah aku anggap seperti Ibu sendiri! Bu Bella itu Mama aku!" "Haaah???!!" Gue tercengang berbarengan sama si Reza. Gue yang daritadi diam akhirnya mulai buka suara. "Kalian berdua, lepasin tangan Ibu." Mereka berdua langsung melepas tangannya dan duduk menghadap gue. "Ma, aku gak mau kamu pacaran sama Reza. Aku gak mau Reza jadi Bapak aku!" Sejak kapan gue jadi emak lu?! "Wahaha, lu harus manggil gue Ayah mulai sekarang. Wahaha." "Apaan, sih! Mana mau Mama Bella sama kamu!" "Udahlah terima aj—" "DIEM!!!!!" Gue teriak dan bikin mereka berdua terdiam. Gue mandang mereka berdua secara bergantian. "Otak kalian geser berapa centi? Sudah periksa ke dokter?" Mereka berdua tersentak. "Ih, Mama jahat! Masa anak sendiri dikatain!" Fenny cemberut. "Aku ini calon suamimu, loh! Istri durhak—" "REZA, IBU INI GURUMU, LOH. YANG SOPAN, DONG!" "I-iya, Bubel, maaf." "Jangan manggil Bubel! Panggil Ibu Bu Bella!" "I-iya, Bu Bella." "Heuhhh....!!!" Gue menggeram di depan wajahnya. Fenny keliatan seneng pas gue marahin dia. "Kamu juga! Ibu bukan Mama kamu!" "I-iya, Bu Bella." Fenny menurut. Gue ngambil napas sejenak lalu bicara lagi. "Kalian cuma bercanda, kan? Reza gak bener-bener suka sama Ibu, kan? Fenny juga gak nganggep Ibu Mama kamu, kan?" Mereka berdua terdiam. Reza yang lebih dulu bicara. "Aku serius, Bu. Aku suka sama Ibu. Aku nggak peduli sama jarak umur kita yang jauh. Aku tetep suka sama Ibu. Lagian, Ibu kan juga jomblo. Apa salahnya saya mencoba?" Kayaknya gue emang harus cepet-cepet nikah, deh. Maafkan aku emak!!! Gue gak menjawab. Gue berganti memandang Fenny. "Mama aku meninggal dua taun yang lalu. Mamaku sifatnya mirip banget sama Ibu. Wajahnya juga mirip. Tiap liat Ibu aku selalu inget sama Mama pas dia masih muda. Jadi aku suka sama Bu Bella. Suka sebagai hubungan Ibu sama Anak." Gue tersenyum pada Fenny, lalu ganti memandang Reza. "Maaf ya, Reza. Ibu gak bisa balas perasaan kamu. Kamu itu udah Ibu anggap seperti anak sendiri." Wajah Reza pun berubah lesu. "Eh eh, curang! Kalo aku gimana, Bu?!" Fenny narik-narik tangan gue. "Iya deh, Fenny juga Ibu anggap anak Ibu. Tapi jangan manggil Mama! Nanti salah paham." "Asiik, iya Ma! Eh, Bu!" Gue ngelus-ngelus kepala Fenny. Dia tampak begitu kegirangan. Gue natap Reza lagi. "Za, maafin, ya. Sekali lagi, Ibu gak bisa balas perasaan kamu. Kamu masih terlalu kecil untuk Ibu." Reza mendengus. "Iya deh, Bu. Iyaaa." Gue tersenyum. "Kamu cari yang seumuran sama kamu aja." "Siapa?" "Nih, ada Fenny." Gue nunjuk Fenny pake wajah. "HAH???" Mereka berdua terkaget. "Gak mau, Bu! Dia itu lesbi!" Reza menjauh dari Fenny. "Eh, emangnya aku mau sama kamu?! Kamu itu m***m, jorok, gesrek, p*****l, suka ibu-ibu, panuan, aku gak mau!!!" "Anjiir, gue gak panuan! Fitnah dari mana itu?!" "Berarti pedofilnya bener, dong?" "Ehm... itu..." "Tuh, kan!!!" "Nggak, gue gak p*****l!!! Gue sukanya Mbak-mbak!!" Mereka berdua berdebat layaknya seorang kekasih. Gue hanya senyum-senyum aja melihat tingkah mereka berdua. Hujan pun reda, dan kami berjalan pulang meninggalkan sekolah. Fenny dan Reza masih bertengkar di sepanjang perjalanan. Entah kenapa, gue malah iri ngeliat mereka berdua. *** Gue sama sekali gak mikirin pernikahan, umur gue masih muda. Meski banyak yang mau sama gue, kalo guenya gak mau itu sama aja boong. Gue takut berakhir nggak baik. Gue takut nggak bisa ngebalas perasaan orang yang gue sukai dan berakhir dengan perselingkuhan dari dua belah pihak. Gue bakal nikah di waktu yang tepat, bukan karena terdesak oleh waktu. Gue mau nikah sama cowok yang gue mau, bukan cowok yang mau gue. Karena cowok yang mau gue, itu banyak. Pernikahan itu ikatan seumur hidup. Gue bakal terus bareng-bareng sama dia sampe tua. Gue bakal ngelakuin apapun bareng-bareng sama dia. Kalo gak cocok, gue gak bakal bahagia. Gue gak mau nyesel gara-gara terburu-buru. Gue mau nikah pas gue yakin sama pasangan gue, meskipun itu di usia tiga puluh, empat puluh, ataupun lima puluh. *** Pas mikirin hal itu sambil jalan-jalan di sekitaran komplek sekolah, gue gak sengaja liat temen gue pas SMA. Namanya Iyas. Dia lagi makan Bakso Pak Eko. Bakso tempat langganan gue beli. Iyas kan orang Malang, kenapa ada di sini? Gue pun nyempetin diri buat mampir dan nyapa si Iyas. "Yas!" Dia menoleh. "Eh, siapa, ya?" "Ini aku, Bella! Temen SMA kamu!" "Bella? Oh!!! Bella yang ketua kelas itu?" "Iyaa." "Waah, apa kabar, Bell. Udah lama gak ketemu. Ngapain di Jakarta?" "Gua ngajar di deket sini." "Oalah. Guru SMA?" “Iya.” Gue sama Iyas mengobrol cukup lama di tukang bakso itu. Gue gak nyangka, bisa ketemu lagi sama Iyas. Cowok yang gue sukai waktu SMA. "Yas, anak istrimu mana? Gak dibawa?" "Alah... ayas hisam ombloj. Belum ada nganpasa." "Gak ngerti." "Aku belum nikah, Bella..." "Oh, gitu..." Gue tersenyum. "Yaudah, nikah sama aku aja, yuk?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN