9

1299 Kata
Di kelas internasional, Ayano sedang memperhatikan mata kuliah Pancasila yang sedang diterangkan oleh dosen. Sebagai orang Jepang, Ayano tentu agak kebingungan dengan mata kuliah ini. Bagi Ayano, mata kuliah IPA yang rumit justru lebih mudah. Begitu selesai, Ayano langsung menanyakan soal kuliah tadi pada Jenni. “Jenni, maksudnya bagian ini tuh apa?” tanya Ayano sambil menunjuk salah satu halaman buku. Namun, Jenni juga kebingungan. “Entah, aku juga nggak tau. Tadi aku tidur pas dosen nerangin, hahaha.” “Huuu.” Ayano menggembungkan pipi. “Tanya sama yang lain aja.” Ayano belum akrab dengan banyak mahasiswa, di antara semuanya hanya Kevin yang paling akrab dengannya karena sering belajar bersama. Dengan segera, Ayano pun menghampiri meja Kevin. “Kevin, bagian ini maksudnya apa?” Kevin segera melihat bagian buku yang ditunjuk Ayano. “Oh, sila ke-4. Itu maksudnya demokrasi, terutama dalam hal pemerintahan. Sederhananya, pemerintahan Indonesia itu dibangun dari rakyat, oleh rakyat, serta untuk rakyat.” Ayano mengangguk-angguk. “Oh, maksudnya demokrasi. Saya sedikit bingung, soalnya di sila ke-4 tidak ada kata demokrasinya, hehe.” Kevin tersenyum. “Iya, wajar, pemerintahan Indonesia sama Jepang kan beda. Pokoknya kalau ada yang gak ngerti tanya aku aja, gak usah sungkan-sungkan.” “Iya, terima kasih, Kevin.” Ayano mengangguk. Di pelipis Ayano, Kevin melihat ada sebutir keringat yang jatuh menuju pipinya. Dengan cepat, Kevin langsung menyusut keringat itu dengan sapu tangan yang ada di tangan kanannya. “Ada keringat jatuh,” ucap Kevin. “I-iya, terima kasih, Kevin.” Hari ini AC di kelas internasional mendadak mati, karena itulah para mahasiswa berkeringat di kelas. Kevin tidak melewatkan kesempatan ini untuk mendapatkan perhatian Ayano. Tak lama, terdengar suara cuitan di seluruh penjuru kelas. “Cieeeee!!!” “Kevin so sweet banget!!! Mau dong digituin juga!!!” “Kalian mesra banget, deh.” Para murid mengerubungi mereka. “Apaan sih kalian? Aku cuma nyusut keringat doang elah.” Kevin berpura-pura tidak senang, padahal aslinya senang setengah mati karena dijodohkan dengan Ayano. Sementara Ayano merasa sangat risih. Dia hanya senyum-senyum saja. Jenni bisa menebak apa yang dirasakan oleh Ayano. “Ah, ternyata ada juga cewek kayak dia. Kalau cewek biasa udah kelepek-kelepek digituin sama Kevin,” batin Jenni. Jenni lalu membayangkan bagaimana seandainya Saga yang melakukan itu pada Ayano. Dalam seketika, Jenni tertawa terbahak-bahak sehingga dirinya dilihat oleh teman-teman sekelas. Ayano yang awalnya risih jadi ikutan tertawa. “Gak mungkin, gak mungkin banget Saga ngelakuin hal itu ke Ayano. Astaga, ngakak banget gue,” batin Jenni. Teman-teman sekelas Jenni menghampirinya bersama-sama. “Je-Jenni, kamu gapapa?” “Kamu habis lihat meme lucu, ya?” Jenni yang sedang tertawa langsung berhenti. “Enggak, enggak. Lupain aja, bukan apa-apa, hahaha.” Kevin berdecih, sedikit kesal karena momennya dengan Ayano teralihkan oleh tertawa Jenni yang tiba-tiba itu. Berbeda dengan orang-orang yang menyukai Jenni, Kevin justru membenci dirinya. Kevin benci dengan artis. Terlebih, Jenni selalu merusak momen dirinya dengan Ayano. “Ayano, makan siang bareng lagi, yuk.” Kevin mengajak terang-terangan. “Oh, boleh, ayo Jenni juga ikut.” Ayano menoleh pada Jenni. Sebelum Jenni menjawab, Kevin langsung memotong. “Jangan. Hari ini kita makan berdua aja. Ada yang ingin aku omongin sama kamu.” Kelas kembali ribut setelah Kevin melancarkan kode yang begitu keras. Teman-teman sekelasnya kembali bersiul-siul dan mencie-ciekan mereka berdua. Untuk yang kesekian kalinya, Ayano kembali merasa risih. “Apa yang mau kamu bicarakan sama saya?” tanya Ayano. “Rahasia, nanti aku bilangnya pas makan.” Ayano lantas menatap Jenni. “Ikut aja, Kevin kayaknya mau membicarakan hal yang penting.” Jenni mendorongnya. “Baiklah kalau begitu.” Kevin dan Ayano akhirnya pergi meninggalkan kelas berdua menuju kantin. Siang ini setelah pelajaran pancasila tidak ada matkul lainnya. Jadi, mereka berdua tidak perlu khawatir untuk berlama-lama di kantin. Saat perjalanan menuju kantin, Ayano melihat Saga sedang makan bersama Sisil dan juga Asep. Dia hendak menyapa tapi tidak jadi karena melihat ketiga orang itu sedang tertawa bersama-sama. “Ah, saya iri sekali. Seandainya saya ada di kelas reguler, saya pasti bisa ngobrol banyak bareng Saga, Sisil, dan Asep,” batin Ayano. Setelah mendapatkan tempat duduk, Kevin bertanya pada Ayano. “Ayano mau pesan apa? Biar aku beliin.” “Eh, aku bisa beli sendiri.” “Gapapa, aku yang beliin. Mau beli apa?” Ayano berpikir sejenak. Saat melewati bangku Saga, dia melihat Saga sedang menyantap pempek bersama yang lainnya. “Pempek deh, tapi bumbunya jangan terlalu pedas.” “Ok, tunggu, ya!” Kevin lantas pergi meninggalkan Ayano menuju tempat jualan pempek. Sekali lagi, Ayano menatap tempat duduk Saga dan teman-temannya. “Urayamashii,” batinnya. Selama menunggu, Ayano membuka ponsel pintarnya. Dia membuka grup medsos kelas yang sedang ramai memperbincangkannya. Sebagian chat dari grup itu membahas tentang Kevin yang secara berani mengajak Ayano makan berdua. Ayano sama sekali tidak senang melihat chat itu. Meski di-tag, Ayano tidak membalas chat dari grup itu. Setelah itu, dia menggulir kontaknya. Ada satu nama yang sudah lama ada di handphone-nya, tapi sama sekali belum pernah dia hubungi. Ya, itu adalah kontaknya Saga. Ayano mendapatkannya dari Jenni. “Mau chat, tapi kirim pesan apa, ya. Bingung. Saga sukanya obrolin apa, ya?” Ketika memikirkan hal itu, Kevin akhirnya tiba sambil membawa dua mangkuk pempek. “Pesanan datang~” “Waah, akhirnya.” Ayano senang saat melihat makanannya sudah tiba. “Berapa harganya?” “Gapapa, gak usah.” Ayano yang sudah mengeluarkan dompetnya merasa tidak enak. “Eh, tapi….” “Sudah, makan aja.” “Ba-baiklah, terima kasih, Kevin.” Tidak ada pembicaraan apapun selama mereka makan, berbeda saat makan bersama Saga atau saat bersama Jenni kemarin. Sebenarnya ini tidak masalah karena saat di Jepang biasanya juga begitu. Tapi semenjak kenal Saga dan Jenni, makan dengan suasana dingin begini terasa sedikit aneh. Apalagi makanan yang mereka santap hanya pempek. “Jadi Kevin mau bicarain hal penting apa?” tanya Ayano setelah menghabiskan pempeknya. “Gak ada, hanya ingin mengobrol biasa aja sama Ayano.” Kevin tersenyum. “Eh, tapi katanya ada hal penting.” “Itu bohong. Gak ada hal penting.” Ekspresi kecewa terlihat jelas dari wajah Ayano. “Gak boleh ya aku makan bareng sama Ayano kalau gak ada hal penting yang harus dibicarakan?” Kevin menatap wajahnya. “Bukan begitu, kok. Hanya saja, kurang nyaman kalau cuma makan berdua. Nanti orang-orang bisa salah paham.” Ayano tertawa kecil. “Salah paham gimana?” tanya Kevin, memancing pembicaraan ke arah itu. “Ya… nanti, mereka mikirnya kita ini pacaran.” Kevin tersenyum. “Kalau aku sih tidak masalah.” “Eh?” “Aku suka sama Ayano soalnya.” Kevin tersenyum sambil menggenggam tangannya. Ayano berusaha melepaskan cengkraman tangannya, tapi Kevin tidak mau melepas juga. “Ayano, kita pacaran, yuk.” Kata-kata itu akhirnya keluar. Kevin menatap Ayano dengan sangat serius. Ayano ingin segera menolak, tapi agak bingung bagaimana menjawabnya. “Ma-maaf… saya gak bisa. Saya mau belajar di sini, bukan mau pacaran. Sekali lagi mohon maaf, ya. Saya hargai perasaanmu.” Ayano menundukkan kepalanya. “Aku tau, kok. Tapi kan, aku ini pinter, loh. Kalau kamu pacaran sama aku, kamu bebas mau nanya apapun juga. Dijamin deh, kalau pacaran sama aku, nilai-nilaimu bakal tinggi.” Kevin kembali melancar serangan. “E-eh… bukan itu masalahnya… saya….” “Kamu mau dapet nilai tinggi, kan? Udah, pacaran aja sama aku. Biar kita bisa belajar bareng terus.” Kevin semakin erat menggenggam tangan Ayano. “A-anu….” Ayano merasa tidak nyaman. Saat air matanya hendak keluar karena ketidaknyamanan itu, Saga datang ke tempat Ayano berada. “Maaf mengganggu. Boleh ikut makan di sini?” Saga menatap Kevin dan Ayano secara bergantian, lantas menaruh mangkok baksonya di meja. Ayano tersenyum lega, sementara Kevin berdecih sebal. “Iya, boleh Saga. Silakan duduk.” Saga pun duduk di antara mereka berdua.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN