8

1147 Kata
"Saga, makan bareng yuk!" ajak Sisil setelah memasukan jas labnya ke dalam tas. "Berduaan aja?" "Ya gak, lah. Bareng Asep sama Tiara. Mau?" "Hmm, ayo." Di siang bolong yang lumayan panas, mereka berempat pergi bersama ke kantin kampus. Setelah mendapatkan tempat duduk, mereka berempat memesan menu yang sama yaitu Nasi Rames. Tiara mengeluarkan handphone dari tas dan memainkannya, Asep pun demikian. Sedangkan Sisil diam saja, karena baterai handphonenya sedang lowbat. "Saga, aku lihat kemarin kamu ngobrol sama Jenni di perpus. Kamu kok bisa akrab sama Jenni, sih? Kamu tau kan, dia itu artis loh." Sisil penasaran. "Ya, meskipun dia artis, dia juga teman seangkatan kita loh, Sil. Wajar kan kalo aku temenan sama dia?" Saga menjawab datar. "Hmm.... iya juga, sih. Cuman ya hebat aja kamu, Sag. Kalau orang biasa mah pasti minder ngobrol sama artis teh. Bawaannya selalu pengen foto bareng aja buat dipamerin di sosmed, hahaha." Saga hanya tersenyum saja sebagai respon. Baru saja dibicarakan, orangnya langsung muncul. "Saga!!!" Jenni menyapa Saga dari jauh. Ayano mendadahinya sambil tersenyum. Satu lelaki yang tidak Saga kenal hanya menatapnya dingin. Mereka bertiga sama-sama akan makan di kantin. "Tuh, kan. Baru aja diomongin, orangnya langsung nyapa gitu. Kamu beneran deket ya, sama Jenni?" Sisil tambah penasaran. "Iya, aku sama Jenni emang akrab. Sama Ayano akrab juga, kok." Sisil mengangguk-angguk tertanda kagum pada Saga. Selama makan, Saga sering curi-curi pandang ke bangku Ayano. Menyadari sikap Saga yang begitu, membuat Tiara sedikit kesal. "Sag, mending kamu pindah ke sana aja deh. Teman-temanmu di sana semua, kan?" Tiara berkata dengan kesal. "Eh, sorry-sorry. Aku di sini aja." Saga kembali menatap nasi ramesnya. Asep dan Sisil tidak ikut berkomentar. Selesai makan, mereka bergegas pulang. Kecuali Saga, dia tidak bergerak dari tempat duduknya. "Sag, gak ikut pulang?" tanya Sisil. "Kalian duluan aja," balas Saga singkat. "Saga masih pengen liatin mereka, Sil. Biarin aja." Tiara masih terlihat sebal. Saga tidak menjawab apa-apa. "Ya sudah, kita duluan ya Saga." Sisil berpamitan. Saga masih diam saja di tempat. Pura-pura bermain handphone sambil curi-curi pandang ke bangku Ayano. Sebenarnya, Saga tidak memandang Ayano. Saga memandang lelaki yang baru saja dia lihat hari ini. Saga merasa terganggu dengan kehadiran lelaki itu. “Siapa sih cowok itu, kok mepet-mepet Ayano terus,” batin Saga. Tak lama, Ayano dan teman-temannya mulai pergi meninggalkan meja kantin. Mereka bertiga telah menyelesaikan makan siangnya. Saga berusaha menyembunyikan wajahnya dengan handphone karena tidak ingin ketahuan oleh mereka bertiga saat berjalan melewati mejanya. Namun, Jenni menyadarinya dan segera menyapa Saga. “Lah, belum pulang, Sag? Bukannya lu sekarang ada kelas?” Saga berdecih karena ketahuan. “Gak enak badan gua. Lagian kenapa lu tau kalau gua ada kelas?” Jenni membusungkan dadanya. “Hahaha, taulah. Gua ini kan artis.” “Apa hubungannya?” Ayano tiba-tiba menaruh lengannya di kening Saga, membuat lelaki itu salah tingkah. “A-Ayano, kamu ngapain?!” “Saga beneran sakit? Kok gak panas keningnya? Hayoo, mau bolos, ya?” Ayano menatap curiga pada Saga. “Enggak, enggak, keningku dingin bukan berarti aku gak sakit. Emangnya semua penyakit bisa diketahui hanya dari kening yang panas?” Saga mencoba mengelak. “Bener juga, sih. Yaudah, gapapa kalau beneran sakit. Cepet pulang dan istirahat, ya.” Ayano tersenyum padanya. “I-iya, terima kasih, Ayano.” Saga benar-benar senang melihat Ayano yang begitu perhatian padanya. “Kalau begitu kami pergi dulu, ya. Sebentar lagi kami juga ada kelas.” Ayano berjalan mendadahi Saga. Jenni dan seorang lelaki lagi berjalan mengikuti Ayano. “Jenni!” Saga memanggil. “Apa Sag?” Jenni menoleh. “Ke sini sebentar, ada yang mau gua bicarain sama lu.” “Hah? Mau nembak, ya?” “Kagak lah!” Jenni langsung terkikik. Ayano agak sedikit tidak mengerti dengan bahasa gaul, jadi dia hanya memperhatikan saja. “Kalian berdua duluan aja, Saga katanya mau bicara sama aku.” Jenni meminta izin pada Ayano dan lelaki di sebelahnya. “Oh, yasudah kalau begitu, kami duluan, ya.” Ayano dan lelaki di sebelahnya pergi meninggalkan kantin, sementara Jenni mengambil kursi dan duduk di depan Saga. Sebelum Saga berbicara, Jenni sudah berkata terlebih dahulu. “Gue tau apa yang mau lu omongin. Pasti tentang cowok yang makan bareng kita, kan?” Saga terperangah. “Lu kok tau, sih?” “Iya lah, gue gitu, hahaha.” Saga tidak bisa mengelak lagi, Jenni memang gadis yang serba tahu. Sepertinya akan sulit menyembunyikan sesuatu dari dirinya. “Iya, gua mau nanya. Siapa sih cowok itu. Kok nempel banget sama Ayano?” “Itu Kevin. Temen sekelompok gue sama Ayano. Kenapa, lu cemburu sama dia?” tanya Jenni serius. “Gi-gimana, ya. Gak enak aja liatnya. Dia nempel-nempel terus ke dia.” Jenni terkikik. “Mau gimana lagi, absen dia sama Ayano sebelahan, sih. Jadi kalau ada kelompokkan, dia pasti sekelompok sama Ayano. Gara-gara itu, Kevin jadi nempel terus deh sama Ayano.” “Oh, gitu.” “Iya, bahkan sekarang Kevin mulai terang-terangan nunjukkin suka ke Ayano. Lu juga nyadar kan pas tadi kita makan siang? Kevin tuh perhatian banget ke Ayano. Sampe nyusutin kuah bakso yang nempel di pipinya segala. Kayak orang pacaran aja, ya? Hahaha.” Jenni menceritakan lagi soal Kevin. Tangan Saga bergetar karena kesal. “Bahkan nih, ya. Kevin sama Ayano tuh dah dijodoh-jodohin sama temen sekelas. Tiap ada momen yang melibatkan mereka, anak-anak suka ngecie-ciein. Pokoknya, sekarang tuh, si Kevin udah jelas banget lagi ngincar si Ayano. Gak lama lagi mungkin bakal ditembak.” Saga menggertakan gigi. “Masih mau denger soal Kevin?” “Iya, lanjutkan.” “Kevin tuh anaknya pinter, Sag. Bahkan lebih pinter dari Ayano. Dia manfaatin kepintarannya itu biar bisa deket-deket sama Ayano. Ayano nya sih murni pengen belajar sama si Kevin, tapi si Kevin nya keliatan jelas ada maksud lain.” Saga mengangguk-angguk. Jenni melihat wajah Saga begitu memerah karena kesal. Dia pasti tidak senang mendengar semua itu. Tapi ingin marah pun percuma, karena Ayano bukan siapa-siapanya Saga. Apalagi cowok yang mendekati Ayano itu lebih tampan dan pintar ketimbang Saga. “Tapi lu tenang aja, Sag. Lu gak bakalan kalah sama dia.” Emosi saga yang menggunduk kini mulai menguap ke udara. “Eh, kenapa bisa?” “Soalnya Ayano sama sekali gak kelihatan tertarik sama si Kevin. Ayano murni hanya menganggap Kevin temen. Gak lebih. Dibanding sama Kevin, Ayano masih lebih tertarik sama lu kok Sag.” Perkataan Jenni membuat senyuman tersungging dari bibir Saga. “Ah, masa sih….” “Iya, dibanding Kevin, gue juga lebih suka lu, kok. Gue gak suka cowok kutu buku soalnya, hahaha.” Saga bernapas lega mendengarnya. “Pantesan dia natap sinis ke gua terus daritadi, dia pasti iri sama kepopuleran gua, hahaha.” “Huuu, dibilang gitu aja langsung sombong, huuuu.” Jenni mengejek Saga, tapi semua yang dia katakan memang benar adanya. “Makasih ya Jenn, sekarang gua jadi lebih tenang. Lu emang teman gua yang paling baik, hahaha.” Jenni hanya tersenyum saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN