7

1161 Kata
Ayano sedang berjalan menuju departemen peternakan bersama Jenni. Mereka hendak mengumpulkan tugas. "Saga itu orangnya, lucu ya," kata Jenni sambil membawa tumpukan kertas. "Iya tapi sepertinya, dia tidak suka, sama saya." Ayano masih berjalan, tapi dengan ekspresi yang sedikit turun. "Gak suka gimana, Ayano?" tanya Jenni. "Kalau ngobrol sama saya, Saga suka melihat ke bawah. Pas ngajarin bahasa Indonesia juga gitu. Jarang melihat mata saya secara langsung." "Ayano punya kontaknya Saga, tidak? Coba aja sering mengobrol lewat chat." Jenni memberi saran. "Tidak punya, saya lupa terus saat mau minta. Jenni punya?" Ayano balik bertanya. "Punya kok. Nanti aku kirim kontaknya." Ayano menggembungkan pipi. Padahal dia lebih dulu mengenal Saga ketimbang Jenni, tapi malah dia yang lebih dulu punya kontaknya. "Oke makasih banyak, Jenni." Ayano memaksakan senyum. Akhirnya, mereka berdua sampai di ruang departemen peternakan. Di sana ternyata ada Saga dan Sisil. Ayano langsung menyapa. "Kalian ngumpulin tugas juga, ya?" tanya Ayano sembari menaruh tumpukan kertas. "Eh, Ayano? Apa kabar?" Sisil melirik ke arah Ayano. "Baik-baik saja, anu... nama kamu, siapa? maaf saya, belum tahu." Ayano membungkuk minta maaf. "Aku Sisil dari kelas reguler." Sisil tersenyum. "Oh oke Sisil, mohon kerja samanya, ya." Ayano mengajak Sisil bersalaman. Meski Ayano sudah bisa berbicara bahasa Indonesia, tapi logatnya masih menggunakan bahasa Jepang yang kental. Jadi, masih terdengar aneh di telinga orang-orang yang belum terbiasa mendengarnya. "Ketemu artis lagi. Bosen deh." Saga bersungut-sungut sambil melirik Jenni. "Apaan, gue juga bosen liat wajah lo. Pindah kampus sana!" balas Jenni. "Lah, kok ngusir." Saga terlihat akrab saat berbicara dengan Jenni, Ayano senang melihatnya. Dia bersyukur telah memperkenalkan mereka berdua. *** Pagi ini, Saga ketiban rezeki lagi. Saat perjalanan ke kelas, Saga melihat Ayano dari jauh sedang berjalan ke arahnya. Kali ini, Ayano sendirian saja. Tidak bersama Jenni. Wajah Saga tidak keruan, cara berjalannya jadi aneh. Sedangkan Ayano masih bersikap dengan biasa, cara berjalannya pun tetap biasa. Sejauh ini, ketika keduanya berpapasan, selalu Ayano yang menyapa terlebih dahulu. Saga tidak pernah menyapa duluan. Kali ini, Ayano mencoba untuk diam saja. Dia ingin tahu, apakah Saga akan menyapanya duluan atau tidak. Saat keduanya sudah dekat dan mata mereka bertemu, Saga hanya tersenyum tanpa mengatakan apa-apa. Dia terus berjalan. "Kok Saga tidak pernah menyapa aku duluan, ya? Oh, mungkin Saga orangnya pemalu. Atau mungkin dia sedang ada masalah, ya?" batin Ayano dalam hatinya. Setelah itu, Ayano berbalik dan memanggil Saga. Saga langsung menoleh. "Saga kamu sedang, ada masalah?" tanya Ayano setelah menyapa Saga. Hati Saga berdegup kencang. "Gak ada, kok. Memangnya aku terlihat seperti itu?" "Tidak juga sih, yasudah silakan lanjutkan, perjalanannya." Ayano mempersilakan. Saat Ayano berbalik, giliran Saga yang memanggilnya. "Ayano!" Saga memanggil. Ayano menoleh. "Ohayou Gozaimasu! (Selamat Pagi!)" Saga menyapa dengan grogi. Ayano tersenyum dan langsung membalasnya. "Ohayou!" Setelah itu, Saga langsung terdiam. Saga baru belajar satu kalimat saja. Selain Ohayou Gozaimasu, Saga hanya tahu ikeh-ikeh kimochi. Karena itu, Saga mengulang kalimatnya lagi. "Ohayou Gozaimasu!" "Ohayou!" Ayano membalas lagi dengan senang. "Ohayou Gozaimasu!" "Ohayou!" "Ohayou Gozaimasu!" "Ohayou!" Keduanya saling menyapa sebanyak lima kali sampai dilihat mahasiswa lain yang lewat. Akhir-akhir ini, ada kalimat Jepang yang populer di internet, yaitu Omae wa mou shindeiru. Namun, Saga tidak tahu artinya. Daripada diam saja, Saga akhirnya mengucapkan kalimat itu. "Ayano.... Omae wa mou shindeiru! (Ayano... kamu sudah mati!)" Saga mengatakan dengan keras. "Nani?! (Apa?!)" Ayano menutup mulutnya dengan tangan. Untungnya Ayano mengerti lawakan itu, jadi dia tidak berpikir yang aneh-aneh. Ayano justru membalas lawakan itu dengan semestinya. Melihat reaksi Ayano yang imut, Saga langsung tersenyum walau tidak tahu artinya. Ayano pun tertawa kecil. "Hahaha Saga lucu." Kalimat Omae wa mou shindeiru ini cukup terkenal di kalangan pecinta anime. Ayano memang bukan penggemar anime, tapi dia sudah tahu dengan kalimatnya. Karena itu, Ayano hanya tertawa saja. Saga masih senyum-senyum sendiri melihat Ayano yang tertawa kecil. Mereka seperti masih ingin bersama walau mereka harus pergi menuju kelas masing-masing. Ayano tetiba bicara pada Saga. "Saga. Mau saya ajari, bahasa Jepang?" Wajah Saga sumringah mendengar tawaran dari Ayano. Dia tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Diajari Bahasa Jepang oleh Ayano, otomatis akan membuat Saga sering berduaan dengan dirinya. Membayangkannya saja, Saga merasa terbang ke langit. Tapi... "Wah, makasih banyak, Ayano. Tapi, gapapa, tidak usah. Aku masih sibuk dengan les Bahasa Arab. Aku mau fokus dulu." Saga menolak dengan halus. "Saga belajar Bahasa, Arab? Hebat! Yasudah, kalau Saga mau belajar Bahasa Jepang, bilang saja ya nanti. Saya ajarin sebisanya," balas Ayano. Saga mengangguk. Ayano kemudian meninggalkan Saga karena ada urusan. Sebenarnya, Saga berbohong. Saga tidak sedang les bahasa Arab, Jerman, Mandarin ataupun les bahasa hewan. Saga menolak tawaran Ayano karena suatu alasan, yaitu Saga tidak ingin merepotkan Ayano. Jika Ayano mengajari Saga bahasa Jepang, Saga khawatir waktu belajarnya akan terganggu. Apalagi Saga itu sulit diajari. Saga khawatir Ayano menjadi tidak enak karena gagal mengajari seorang Saga yang bodoh. "Ah, sayang sekali. Padahal rezeki di depan mata. Tapi, ya sudahlah..." *** Siang hari, Saga berkunjung ke perpustakaan. Dia hendak mengerjakan tugas Biokimia. Bawa laptop, WiFi-an dan mengerjakan tugas. Yaa, seperti itulah kehidupan Saga selama kuliah di sini. Ini sebenarnya sebuah prestasi yang sangat gemilang, kareka ketika SMA Saga tidak pernah belajar sama sekali. Setiap hari kerjanya hanya main-main. Entah itu bermain PS, jalan-jalan dengan Argi atau jalan-jalan dengan pacarnya. Lulus SMA saja karena kepala sekolahnya kenal dengan orang tua Saga. Mantan Saga sangat banyak mulai dari anak SMP sampai tante-tante pernah Saga pacarin. Tapi, Saga tidak ada perasaan, semuanya hanya main-main. Ketika sibuk mengerjakan tugas, tiba-tiba Jenni datang dari arah pintu. Jenni kaget melihat Saga ada di sini, dia langsung berjalan menghampirinya. "Wiih, anak rajin lagi ngerjain tugas," sapanya. Saga diam saja, tidak memperdulikan sapaannya. "Waduh, gue diabaikan nih. Fokus bener Mas ngerjainnya." Saga masih diam mengerjakan tugas. "Oh, lagi ngerjain tugas Biokimia ya, mau gue bantu?" Jenni menatap tugasnya sambil berdiri. Saga langsung menatap Jenni dengan wajah terharu. Ia lantas mengangguk. Jenni pun langsung duduk di sebelah Saga. Ternyata, Saga sedang kesulitan mengerjakan tugas Biokimia. Biokimia memang tidak sesulit Embriologi, tapi bagi Saga semua mata kuliah itu sulit. Apalagi mata kuliah untuk memahami perasaan perempuan. Karena dibantu Jenni, tugas Saga jadi cepat beres. "Lu ternyata pinter Biokim juga, ya. Kirain cuma pinter akting aja." Saga berterima kasih. "Ya iyalah, kalo gue gak pinter, mana mungkin gua bisa masuk sini." Setelah mengerjakan tugas, mereka mengobrol biasa layaknya seorang teman. Gara-gara sering bertemu dan mengobrol, keduanya jadi semakin akrab. "Sag, lu suka sama Ayano, ya?" tanya Jenni, iseng. "Enggak, kata siapa?" Saga sedikit gugup. Kaget tiba-tiba Jenni bertanya begitu. "Kalo sama gue?" "Enggak lah, mana mungkin." Saga menjawab dengan yakin. Jenni langsung tersenyum mendengarnya. Dia seperti baru saja membongkar rahasia Saga. "Tuh kan, keliatan banget. Lo tuh suka sama Ayano, Sag..." "Lah, gua kan bilang enggak, tadi." Saga membantah. "Ekspresi lo beda banget, Sag. Waktu gue bilang Ayano, lo keliatan gugup gitu. Pas bilang Jenni mah, lo malah biasa aja. Udahlah ngaku aja, gue ini pandai membaca ekspresi." Jenni tersenyum-senyum. "Iya deh gue ngaku, gue suka sama Ayano. Puas?" Saga akhirnya mengaku. Jenni hanya tersenyum saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN