*Ting tong!
Seseorang menekan bel kontrakan Saga.
"Wah, tumben ada yang berkunjung."
Saga tidak langsung membukanya, dia mengintip dulu lewat jendela.
"Cewek?"
Ketika Saga membuka pintunya, cewek itu langsung bereaksi.
"Sag, kamu teh ke mana aja. Satu minggu bolos terus. Nanti gak bisa ikut ujian, loh," ketus gadis itu.
Selama satu minggu kemarin, fase kemalasan Saga sedang memuncak. Ini selalu terjadi satu bulan sekali dimana keinginan dia untuk bermalas-malasan tidak bisa dibendung. Argi saja sampai kewalahan mengatasinya.
"Kamu siapa?" Saga tidak mengenali gadis di depannya.
Gadis itu berambut pendek. Memakai kacamata. Kulitnya kuning langsat. Wajahnya manis-manis khas orang sunda. Dia sedang menggenggam tumpukan catatan.
"Aku Sisil, Sag. Kita teh temen sekelas."
"Hah? Sisir?"
"SISIL!!!" Gadis itu berteriak.
"Oh iya, Sisil. Kamu temen sekelas, ya. Maaf, kelas kita kan ceweknya banyak, aku belum hapal semua." Saga meminta maaf.
"Yaudah, gapapa. Nih, ada rangkuman perkuliahan buat kamu. Nanti, kamu baca, ya. Biar gak ketinggalan pelajaran." Sisil menyerahkan tumpukan catatan pada Saga.
"Wah, makasih loh, Sil. Kamu kok repot-repot, sih. Argi aja bodo amat." Saga berterima kasih.
"Gapapa. Selama empat tahun ke depan kan kita teh bakal sekelas terus. Gak ada salahnya atuh sekali-kali bantu temen."
"Hehehe, gitu ya. Pokoknya, makasih yah. Lain kali, aku yang bakal bantuin kamu." Saga tersenyum-senyum.
"Oke, kalo gitu aku langsung pulang, ya. Masih ada urusan. Daah Saga!" Sisil kembali pulang dengan menaiki sepeda.
"Zaman sekarang kok masih ada ya, cewek sebaik dia? Mau aja repot-repot bantuin temennya," batin Saga.
***
Setelah fase kemalasan Saga berakhir, dia masuk kuliah lagi hari ini. Saga pergi ke kampus menaiki angkot bersama Argi.
Entah mimpi apa Saga semalam. Di jalan menuju kelas, dia berpapasan dengan Ayano.
"Ehm, gua ada urusan bentar." Seolah mengerti, Argi langsung memisahkan diri dari Saga.
"Oi, jangan pergi!!!"
Satu langkah dua langkah, Saga pun berpapasan dengan Ayano. Dia rupanya tidak berjalan sendirian, ada seorang gadis lain di sebelahnya.
"Saga ke mana, aja selama seminggu?! Kamu kok gak, keliatan di kampus?" tanya Ayano dengan sedikit khawatir.
"Aku lagi sakit, Ayano," bual Saga.
"Sakit apa?"
"Bukan sakit parah, kok. Kamu gak usah khawatir." Saga menjawab dengan senyuman.
Ayano juga tersenyum.
"Oh bagus lah. Saga kenalin ini, Jenni namanya." Ayano menunjuk Jenni yang berdiri di sebelahnya.
"Sudah kenal. Jenni kan artis," balas Saga datar.
"Oh gitu, Jenni ini, terkenal banget ya, cantik lagi." Ayano memuji Jenni.
"Cantikan juga kamu, Ayano!"
Dalam hati, Saga ingin berkata begitu.
"Ah Saga sayang, kamu gak masuk kelas internasional. Padahal, kalau masuk, kita bisa bareng-bareng lagi." Ayano mengeluh.
Saga langsung salah tingkah.
Dengan cepat, Jenni langsung membenarkan.
"Ayano, kamu salah ngomong. Harusnya, Ah Saga, sayang kamu gak masuk kelas internasional. Gitu, harusnya." Jenni membenarkan.
"Oh salah intonasinya, ya. Maaf-maaf, saya memang belum lancar bicaranya hehehe." Ayano mengetuk kepalanya sendiri sambil menjulurkan lidah sedikit.
Saga masih senyum-senyum sendiri, dipanggil sayang oleh Ayano.
"Ya sudah, kami pergi dulu ya Saga, mau ke, rektorat," ucap Ayano.
Mereka berdua kemudian pergi meninggalkan Saga.
"Enaknya si Jenni, bisa jalan bareng Ayano. Bisa ke mana-mana bareng Ayano. Ah, seandainya gua masuk Kelas Internasional."
Saga mengutuk dirinya sendiri karena tidak bisa masuk kelas internasional. Seandainya Saga masuk kelas internasional, Saga pasti akan bertemu Ayano setiap hari. Yaa, mau bagaimana lagi, kemampuan bahasa inggris Saga memang masih selevel anak SD. Saga harus bersabar.
Dengan semangat yang masih tersisa, Saga segera pergi menuju kelasnya.
***
"Sag. Dicariin Jenni, tuh. Kamu kenal sama dia? Hebat banget sih, bisa temenan sama artis," kata Mega.
"Oh, si Jenni ya. Kamu biasa aja Meg. Si Jenni juga makan nasi, kok." Saga beranjak pergi.
Mega hanya cemberut mendengar perkataan dari Saga.
Jenni menunggu Saga di depan pintu kelas.
"Ada apa Jenn?" tanya Saga sok akrab.
"Eh, Saga. Ke kantin, yuk! Ada yang mau gua ceritain." Jenni mengajak Saga.
Di sepanjang perjalanan, Saga dan Jenni jadi pusat perhatian. Bukan Saga yang dilihat, tentu saja Jenni. Semua warga kampus masih belum percaya kalau seorang artis kuliah di tempat mereka.
Akhirnya, mereka sampai di kantin. Mereka berdua memesan semangkok bakso. Bakso favorit Saga. Bakso isi stroberi.
"Mau cerita apa sih, Jenn. Kayaknya lu gampang akrab banget ya sama orang. Padahal kita baru kenal tadi pagi," kata Saga setelah mengunyah baksonya.
"Ya.... gue kan multitalenta, Sag. Masalah sosialisasi sih, emang gue ahlinya," balas Jenni dengan pedenya.
Untuk informasi. Jenni ini, tipe artis yang fashionable. Meski begitu, penampilannya terbilang sangat sederhana. Jenni tidak suka mengenakan pakaian yang mencolok. Namun, orang tetap bisa menilai kalau Jenni memang modis.
Dalam urusan fisik, Jenni berpostur cukup tinggi, sepantaran dengan Saga. Tapi, lebih pendek dari Argi. Jenni berambut sebahu, lebih panjang dari rambut Sisil. Kulitnya putih halus terawat. Aura kecantikan dan kepopuleran Jenni tidak bisa dihindarkan.
"Jadi, mau cerita apa Jenn?" tanya Saga.
"Langsung ke intinya aja, ya...."
"Iya, silakan." Saga bersiap mendengarkan.
"Sag. Lo mau gak jadi pacar guee???" pinta Jenni dengan penuh perasaan.
Saga terperangah.
Mulutnya kesulitan mengeluarkan kata-kata.
"Gimana akting gua, Sag. Hebat gak?" tanya Jenni sambil tersenyum berseri-seri.
Saga tercengang. Akting Jenni sangat hebat, seolah-seolah dia benar-benar menyukai Saga. Tidak hanya perkataannya saja. Wajah dan pandangan mata Jenni sangat natural. Saga jadi berpikir tadi itu perasaan Jenni yang sebenarnya. Akting artis professional memang mengerikan.
Saga langsung salting.
"Hah. Akting apaan itu, jelek banget. Gua tau kok, kalo lu tadi cuma akting." Saga agak terbata-bata. Padahal dalam hatinya Saga merasa senang.
Jenni hanya tersenyum saja.
"Jadi, mau cerita apa Jenn?" Saga melanjutkan.
"Bukan tentang cinta, kok. Gue cuma mau nyapa temen baru aja. Kayaknya lo cocok Sag temenan sama gue." Jenni menatapnya.
"Cocok gimana maksudnya?"
"Kebanyakan orang pasti minder kalo ngobrol sama gue. Kebanyakan orang, terlalu mandang tinggi gue. Terlalu mengagung-agungkan gue, hanya karena gue artis terkenal. Tapi, lo beda Sag. Kelihatannya lo santai-santai aja ngobrol sama gue." Jenni curhat panjang lebar.
Saga masih diam mendengarkan.
"Sayang ya, kita gak sekelas." Jenni menambahkan.
"Loh, Jenn. Jangan manggil sayang sekarang, nanti aja kalo kita udah jadian." Saga menggoda.
"Yeeh, seratus tahun juga gua gak bakal mau sama lo, Sag. Gua maunya cowok ganteng dan lebih tinggi dari gue. Kalau enggak, cowoknya harus tajir banget. Idaman gue sih anak-anak keluarga Harvent, hahaha."
Saga tersedak mendengar marganya disebutkan.
"Mana mau anak keluarga Harvent sama cewek biasa kayak lu." Saga memalingkan pandangan.
"Anjiir, lu berani bilang gitu sama cewek secantik gue?!"
"Berani lah, emang lu mau ngapain kalo gua bilang lu jelek? Lapor polisi?"
Jenni langsung tertawa setelah mendengarnya.
"Gila sih, lo. Lo cowok pertama yang bilang gue jelek. Salut, salut. Hahaha."
"Yaudah, sebagai hadiah karena gua bilang lu jelek, lu harus bayarin bakso ini."
"Enak aja. Bayar aja sendiri!!!"
Saga dan Jenni menjadi teman hari itu. Mereka berdua menjadi akrab dengan mudahnya.