Satu minggu berlalu setelah acara Orientasi Mahasiswa. Pembagian kelas sudah ditentukan. Saga dan Argi masuk kelas reguler sementara Ayano masuk kelas Internasional. Pembagian kelas ini dilakukan berdasarkan nilai TOEFL (Nilai tes Bahasa Inggris). Mahasiswa yang mendapat nilai TOEFL minimal 450 akan masuk kelas Internasional, yang kurang dari itu akan masuk kelas reguler.
Sebenarnya, tidak banyak beda antara kelas reguler dan kelas internasional. Kelas reguler belajar memakai Bahasa Indonesia, sedangkan kelas Internasional belajar menggunakan bahasa Inggris. Perbedaan lainnya, kelas internasional memiliki mahasiswa yang lebih sedikit serta ruang kuliah yang lebih bagus. Sisanya, tidak ada yang berbeda.
Argi sebenarnya mampu masuk kelas internasional. Namun, dia sengaja merendahkan nilai TOEFL-nya supaya bisa sekelas dengan Saga. Definisi teman sejati.
"Eh, gua ketemu lu lagi." Asep menyapa.
"Heh, lu ngapain di sini? Lu kan pinter Bahasa Inggris. Kenapa gak masuk kelas internasional?" Saga balik bertanya.
"Nilai gua kurang dikit, Sag. Nilai TOEFL gua 448. Jadi, gak bisa masuk."
"Yah... cuman kurang dua. Sama, nilai gua juga kurang dikit, Sep. Nilai TOEFL gua 44,8."
"Serah lu dah." Asep tersenyum kecil.
"Oh, iya. Kenalin nih temen gua, namanya Argi." Saga memperkenalkan.
Argi mengangkat alisnya.
Asep juga.
***
Saga melongo mendengarkan ajaran dari dosen. Berbagai kalimat asing terdengar di telinga Saga.
"Tulang ini namanya fibula, yang ini humerus, yang ini femur." Dosen menunjuk tulang-tulang sapi di slide power point.
Meski kebingungan, dengan cepat Saga menulis kata-kata dosen agar tidak lupa. Saga benar-benar serius belajar. Dia tidak ingin menyia-nyiakan waktu sedikit pun. Dia harus jadi dokter hewan supaya si Catty senang.
"Susah bener ya matkulnya. Gua sampe harus nginget-nginget lima puluh nama tulang." Saga mengeluh.
"Ya... emang gini kuliah kedokteran. Ini tuh masih semester satu lagi. Masih dasarnya." Argi menjelaskan.
Wajah Saga langsung lemas seperti nenek-nenek baru selesai angkat besi.
"Oh, iya. Omong-omong gimana sama Ayano?" tanya Argi.
"Ah, gitu-gitu aja." Saga menatap ke bawah.
"Gitu-gitu aja gimana? Biasanya lu suka senyum-senyum sendiri kalo denger kata Ayano."
"Gue jarang ketemu dia lagi. Jadwal kuliah kelas internasional kan beda sama kelas kita. Sekalinya ketemu, Ayano lagi jalan sama temen sekelasnya. Gua cuma bisa nyapa doang."
Argi tidak tahu harus berkata apa. Namun, dia tidak tega melihat sahabatnya mengeluh seperti itu.
"Yaudah sih, kita kan baru semester satu. Lu masih punya banyak waktu kok biar bisa deket sama Ayano. Santai aja." Argi menepuk punggung Saga.
"Iya juga. Kenapa gua depresi, ya? Ok, mulai sekarang gua akan rajin belajar biar bisa selevel sama Ayano!" Saga bersemangat.
Argi sumringah melihat tekad serius Saga.
*malamnya di kontrakan
"Oi, Sag... belajar. Besok ada kuis Embriologi." Argi mengingatkan.
"Diem lu. Gua lagi asik maih game, nih. Gua nanti aja belajarnya." Saga memainkan joystick sambil menatap layar televisi.
"Katanya lu mau belajar serius biar selevel sama Ayano...."
"Ah, itu santai aja. Kita kan masih semester satu. Nanti gua bakalan ngebut belajarnya."
"Halah.... dari kelas satu alasannya gitu terus. Ujung-ujungnya gak belajar sama sekali." Argi geleng-geleng kepala.
"Yang sekarang serius, gua punya tujuan soalnya. Hari ini lagi males aja." Saga tidak melepas joystick-nya.
"Terserah, deh. Yaudah, gua ikutan main." Argi mendekati Saga.
"Eh, lu jangan ikutan main. Lu harus belajar. Kalo lu ikutan main, besok gua nyontek ke siapa?"
Argi kesal mendengar perkataan Saga. Dia langsung mencabut kabel PS4 yang sedang dimainkan Saga.
"Ayo belajar g****k!" Argi marah-marah.
Saga ketakutan dan akhirnya ikut belajar bersama Argi.
Semenjak SMA, Argi dan Saga memang sering bersama-sama. Hampir setiap hari, Argi selalu menginap di rumah Saga.
Masih berteman akrab setelah lulus sekolah. Masih ada?
***
Kuis Embriologi telah selesai dilaksanakan. Hasilnya pun telah keluar. Argi mendapat nilai 80, paling tinggi di kelas. Sedangkan Saga mendapat nilai 8, paling rendah di kelas.
Sebagai informasi, di semester satu mata kuliah Embriologi (Mata kuliah tentang janin) adalah mata kuliah yang paling sulit. Tidak seperti SMA dimana nilai 100 merupakan hal yang biasa saja, pelajaran-pelajaran di perkuliahan sangatlah sulit. Mendapat nilai 60 saja sudah bisa dianggap sebagai mahasiswa pintar. Mendapat nilai 40, mahasiswa akan sujud syukur karena masih dianggap lulus.
Argi yang mendapat nilai 80 langsung dilabeli jenius oleh dosen. Dari 60 mahasiswa di kelas, 10 siswa tidak lulus. Salah satunya adalah Saga. Oleh karena itu, label mahasiswa bodoh langsung melekat pada Saga. Kesan pertama memang hal yang paling diingat oleh orang-orang.
Setelah hasi dibagikan, Saga menjadi anak pendiam seharian.
"Argi, lu pelit amat, sih. Masa temen lu gak dikasih contekan." Asep menatap kasihan pada Saga.
"Dianya emang gak minta. Dia bilang mau berusaha sendiri." Argi menjelaskan.
Wajah Saga masih terlihat lemas seperti kakek-kakek selesai balapan motor.
"Emang si Saga belajar gak, sih?"
"Belajar, kok."
"Terus kenapa nilainya kecil?"
"Saga cuma belajar lima menit. Habis itu langsung tepar." Argi geleng-geleng kepala.
"Iya juga, sih. Buku embriologi emang obat tidur yang paling ampuh. Gua aja sambil minum kopi bacanya karena gak kuat." Asep juga geleng-geleng.
***
Saat sore, untuk pertamakalinya Saga pulang bareng dengan Argi. Biasanya Saga langsung pulang atau ketemuan dengan Ayano, sementara Argi mampir di klub catur.
"Kalo dipikir-pikir, gua belum pernah lihat Ayano, deh. Pas kita jalan bareng, Ayano selalu gak ada. Giliran lu jalan sendirian, lu malah ketemu." Argi menatap Saga.
Saat kelompok Saga bermain musik di acara Orientasi Mahasiswa, Argi pergi ke kamar mandi karena ada urusan. Jadi, tidak sempat melihat wajah Ayano yang tampil di depan.
Saga tidak menjawab, masih meratapi nilai kecilnya.
"Udah lah, nanti gua ajarin lu embriologi, deh." Argi menyemangati.
Ekspresi Saga masih tidak berubah.
"Halo Saga." Seorang gadis menyapa Saga dengan lembut.
Saga yang sedari tadi menunduk langsung menatap ke depan. Ekspresinya mendadak berubah.
"A-A-Ayano??? Ha-halo juga." Saga benar-benar gugup.
Argi juga menyapa Ayano.
"Saga mau pulang?" tanya Ayano.
"I-iya... Ayano mau ke mana?" Saga bertanya balik.
"Saya mau ke, lab anatomi."
"Mau ngapain?"
"Belajar tambahan sama, Dr. Daffa."
"Oh, gitu. Titip salam dari aku ya, buat Dr. Daffa." Saga tersenyum.
"Oh oke Saga, kalau begitu saya duluan ya, daah Saga, daah temannya juga." Ayano mendadahi mereka berdua.
Saga tersenyum-senyum sendiri, Argi juga ikutan senyum.
"Gila, Ayano cakep banget Sag." Argi menatap punggung Ayano yang semakin menjauh.
"Bener, kan? Hahaha. Calon pacar gua itu." Saga tertawa.