Di perjalanan ke stand kelima, Saga masih asyik memperhatikan Ayano dari belakang. Rasanya tidak membosankan meski Saga sering menatapnya. Di jalan setapak yang berbatu dan dipenuhi rumput liar, Saga menerjang jalan dengan semangatnya.
Melihat Ayano malam hari dalam jarak sedekat ini, rasanya seperti mimpi bagi Saga. Ah, dasar. Orang yang sedang jatuh cinta memang seperti ini. Sedikit alay, namun jadi lebih bersemangat dalam menjalani hidup.
Akhirnya, mereka sampai di stand kelima.
"Kalian cepetan push up 100 kali," ucap Mas Shindu.
"Yang cewek juga, Mas?" Perempuan di kelompok Saga bertanya.
"Iya," jawab Mas Shindu dengan malas.
Akhirnya, mereka semua push up.
Ada yang betul-betul push up sampai seratus kali, ada juga yang hanya push up dua puluh kali seperti Saga. Anak perempuan hanya kuat push up sepuluh kali.
"Capek?" tanya Mas Shindu.
"Enggak, Mas." Semua menjawab sambil ngos-ngosan.
"Sudah-sudah, berhenti." Mas Shindu menghentikan.
Mereka semua akhirnya berhenti push up.
"Yaah, padahal saya masih kuat, Mas." Saga membual.
Mas Shindu menatap Saga dan yang lain bergantian.
"Kalian tahu apa esensinya push up kalian tadi?" tanya Mas Shindu.
Asep langsung menjawab.
"Push up itu seperti kuliah di sini, Mas. Sama-sama susah. Kalau tidak berusaha keras, tidak akan berhasil sampai seratus," ucap Asep setelah menyelesaikan push up sebanyak lima belas kali.
"Bukan, saya cuma ingin kalian olah raga aja, kok." Mas Shindu tertawa setelahnya.
Mereka semua melongo.
"Hahaha, kalian ini terlalu tegang, ah. Gak asik. Sudah-sudah, saya kasihan sama kalian. Dibentak-bentak terus dari tadi." Mas Shindu geleng-geleng kepala.
"Berarti, kami boleh lewat, Mas?" tanya Asep.
"Boleh. Tapi, sebelum kalian lewat, saya boleh minta korek apinya, gak? Saya lagi butuh, nih." Mas Shindu membuka telapak tangannya.
"Oh, iya boleh." Asep mengeluarkan korek itu dari saku dan hendak memberikannya pada Mas Shindu.
Sebelum Asep memberikan koreknya, Saga dengan cepat mencegah.
"Jangan dikasihin, bro. Mbak Rere bilang kan jangan sampe ilang korek apinya."
"Ini gak ilang, brew. Kita cuman ngasihin ke senior aja."
"Jangan dikasihin pokoknya. Nanti balikin lagi ke Mbak Rere." Saga memaksa.
Karena Saga terus bersikeras, korek api itu pun urung dikasihkan.
"Maaf, Mas Shindu. Saya gak bisa ngasihin koreknya." Asep meminta maaf.
"Yaudah gapapa, silakan kalian lewat." Mas Shindu mempersilakan.
Akhirnya, mereka berhasil melewati semua stand, dan kembali ke penginapan.
Ketika tiba di sana, ternyata api unggun sudah dinyalakan. Alat-alat musik sudah tersedia. Kelompok lain juga sudah berkumpul.
Sebentar lagi, puncak acara malam ini akan segera dimulai.
***
"Korek apinya masih ada?" Mbak Rere menghadang mereka.
Dengan cepat Asep merogoh saku dan menyerahkan korek itu pada Mbak Rere.
Mbak Rere menghitung jumlah korek apinya. "Siip, lengkap ada sepuluh. Silakan kalian masuk ke lapangan." Mbak Rere mempersilakan.
Sebelum mereka pergi, Asep bertanya sesuatu pada Mbak Rere. "Mbak, kalau misalkan korek apinya hilang atau gak lengkap gimana?"
"Kalian gak bakal lulus orientasi mahasiswa, dan harus ngulang lagi tahun depan," jawab Mbak Rere.
"Serius??!"
"Iyaa." Mbak Rara yang menjawab.
Setelah mendengar itu, Asep langsung memeluk Saga dan mengucapkan kata terima kasih.
"Makasih Sagaaaa!!!"
"Najis, jangan meluk-meluk gua anjir!!!"
Acara puncak malam ini akan segera dimulai. Suasana kawasan Lembang yang dingin bisa sedikit diredakan dengan hangatnya api unggun yang berkobar di tengah lapangan.
Kelompok Saga duduk bergerombol di sudut lapangan. Di sana mereka berdiskusi akan membawakan lagu apa. Kelompok Saga memang kurang persiapan gara-gara Asep terlalu banyak main. Saga juga kebawa-bawa.
Setelah berdiskusi cukup lama, akhirnya mereka memutuskan untuk membawakan lagu Project Pop yang berjudul 'Ingatlah Hari Ini'. Ayano tentunya tidak tahu lagu Project Pop, jadi dia harus menghapal lagunya dari awal.
Ayano sepertinya terlahir dengan daya ingat yang fantastis. Dia tidak membutuhkan waktu lama untuk menghapal lagunya. Cuma mendengar lagunya sebentar dan membaca liriknya, Ayano sudah langsung hapal. Mungkin karena efek kepepet.
Saat Saga diam duduk memeluk lutut menunggu acara dimulai, tiba-tiba Argi datang ke kerumunan kelompoknya. Karena Saga duduk paling pojok, Argi bisa menemui Saga tanpa ketahuan oleh teman sekelompoknya.
"Halo bos Saga. Masih idup aja, nih." Argi merangkul pundak Saga.
"Apaan sih, lu. Udah, balik sana!" Saga melepas rangkulan Argi.
Argi hanya tersenyum. Sebelum Argi bicara, Saga berbicara lebih dulu.
"Gimana sama Jenni? Lancar?"
"Apanya yang lancar?" Argi mengerutkan kening.
"Lu ngincer si Jenni, kan? Artis Tukang Sate Naik Haji itu?"
"Lah, siapa bilang?"
"Dulu kan lu bilang dia cantik banget."
"Ya, bukan berarti gua suka sama dia kali."
"Oh, gitu." Saga membalas datar.
Suara jangkrik dan tonggeret terdengar di sela obrolan Saga dengan Argi.
"Yang lebih penting. Gimana hubungan lu sama Ayano?" tanya Argi.
Dengan refleks, Saga langsung senyum-senyum sendiri. Tidak mengatakan apa-apa.
"Jiaahhh. Senyum-senyum, lagi." Argi juga ikut tersenyum. "Yaudah, gua tinggal dulu ya. Bentar lagi kelompok gua tampil." Argi meninggalkan Saga.
***
Waktu terasa semakin berlalu
Tinggalkan cerita, tentang kita
Akan tiada, lagi kini tawamu
Tuk hapuskan semua sepi di hati
Ada cerita, tentang aku dan dia
Dan kita bersama, saat dulu kala
Ada cerita, tentang masa yang indah
Saat kita berduka, saat kita tertawa
Sambil bermain gitar, Argi bernyanyi dengan merdunya.
Saga dibuat terpukau. Suaranya sangat merdu. Tidak kalah jauh dengan penyanyi aslinya. Jika Saga perempuan, mungkin dia akan jatuh hati pada Argi.
Setelah kelompok Argi selesai, semua orang bertepuk tangan dengan meriahnya. Terutama para anak perempuan, termasuk perempuan-perempuan di kelompok Saga. Saga menilai Argi tidak akan membutuhkan waktu lama untuk menjadi populer di kampus ini.
Beberapa kelompok meyanyikan lagu-lagu kenangan seperti kelompoknya Argi. Kelompok yang lain ada yang menyanyikan Keong Racun, Belah Duren dan juga lagu Kucing Garong. Ada juga yang menyanyikan Himne Guru, Indonesia Raya, dan Halo-halo Bandung. Entap apa alasan mereka membawakan lagu itu, mungkin mereka semua sedang rindu masa SMA.
Sekarang tiba saatnya kelompok Saga untuk tampil. Meski sudah latihan, rasa gugup selalu saja ada. Dengan membawa gitar, Asep memimpin kelompok menuju lapangan. Saga dan teman kelompoknya mengikuti dari belakang seperti bebek.
Kelompok Saga terdiri dari enam perempuan dan empat laki-laki. Di penampilan musik kali ini, Saga mungkin akan terlihat cupu karena Asep akan memainkan gitar dan dua laki-laki lain memainkan drum dan keyboard. Sedangkan Saga cuma keprok-keprok doang seperti anak perempuan.
"Ah, bodo amat, yang penting gue berdiri deket Ayano," batin Saga.
Asep mulai memetik gitarnya. Anak perempuan mulai keprok-keprok tangan sebagai pengiring musik. Dengan bergantian, Saga dan teman sekelompok akan menyanyikan lirik lagu ini.
Lagu Project Pop – Ingatlah Hari Ini. Mulai!
Kawan dengarlah apa yang akan aku katakan
Tentang dirimu, setelah selama ini
Ternyata kepalamu akan selalu botak – Asep
Eh kamu, kayak Gorila – Saga
*Instrumen
Cobalah kamu ngaca, itu bibir balapan – Asep
Daripada gigi lo, kayak kelinci – Saga
Yang ini, udah gendut suka marah-marah – Andini
Kau cacing kepanasan – Sani
Tapi ku tak peduli, kau selalu di hati – Ayano
Kamu sangat berarti, istimewa di hati
Selamanya rasa ini
Jika tua nanti, kita tlah hidup masing-masing
Ingatlah hari ini
*Instrumen
Ketika mendengar reff lagu ini, seketika Saga ingin menangis. Padahal Saga sering mendengarkan lagu ini, tapi entah mengapa malam ini makna lagunya terasa sangat dalam.
Apalagi ketika mendengar bagian 'Jika tua nanti, kita tlah hidup masing-masing. Ingatlah hari ini.' Wajah Ayano langsung terbayang dalam kepalanya.
Saga langsung berpikir. Suatu saat nanti, apa dia akan berpisah dengan Ayano?
Lagu pun berlanjut.
Ketika kesepian menyerang diriku – Asep
Gak enak badan resah tak menentu – Saga
Kutahu satu cara sembuhkan diriku – Retno
Ingat teman-temanku – Marwah
Don't you worry, just be happy – Ayano
Temanmu di sini – Andini
Kamu sangat berarti, istimewa di hati
Selamanya rasa ini
Jika tua nanti, kita tlah hidup masing-masing
Ingatlah hari ini
***
Setelah semua kelompok tampil, acara langsung ditutup. Api unggun segera dipadamkan, dan mereka semua kembali ke penginapan untuk beristirahat.
Sebelum pulang, Ayano mendatangi Saga sendirian.
"Saga!" Ayano memanggil.
Saga seketika menoleh.
"Saga, ada yang ingin, saya katakan." Ayano menatap wajahnya.
"Apa itu?" Saga sedikit gugup.
.
.
.
.
"Terima kasih." Ayano membungkukkan badan.
"Terima kasih buat apa?"
"Terima kasih, sudah mengajarkan saya, bahasa Indonesia, selama seminggu ini. Gara-gara Saga, Bahasa Indonesia saya, jadi semakin lancar." Ayano tersenyum.
"Oh iya, sama-sama." Saga membalas senyumannya.
"Kalau tidak ada Saga, mungkin saya, belum lancar, bicara bahasa Indonesianya, mulai sekarang, saya tidak akan malu lagi, berbicara bahasa Indonesia."
Saga terdiam sejenak.
"Lancar dari mana? Ngomongnya masih patah-patah gitu. Gua masih harus ajarin dia," batin Saga.
"Ya, bagus. Ayano harus percaya diri." Namun perkataan itu yang keluar dari mulutnya.
"Sekali lagi, terima kasih ya!"
"Iya, sama-sama."
Ayano kemudian tersenyum dan meninggalkan Saga. Kata-kata Ayano seolah kalimat perpisahan bagi mereka berdua.
Di saat itu, entah mengapa Saga tidak merasa senang sama sekali. Padahal Ayano tersenyum dan mengucapkan kata terima kasih, namun yang ada di benak Saga malah pikiran-pikiran negatif dan bumbu-bumpu pesimisme.
Seketika, Saga merasa galau dan putus asa. Saga bingung. Setelah ini, bagaimana cara dia agar masih bisa dekat dengan Ayano.
Saga baru sadar, ternyata seminggu ini adalah seminggu paling membahagiakan dalam hidupnya. Lebih bahagia daripada mendapatkan uang satu milyar.
Seminggu ini, Saga bisa menghabiskan waktu bersama Ayano dan mengajarinya Bahasa Indonesia. Seminggu ini, Saga bisa melihat senyum Ayano dari dekat dan mendengar suaranya yang indah. Setelah ini, Saga mungkin tidak akan bisa lagi.
"Apa gua masih bisa deket sama Ayano?"
Setelah ini, Ayano pasti akan beda kelas dengan Saga. Pasti jarang bertemu. Ayano juga akan mendapat banyak teman baru. Apakah Saga masih dibutuhkan oleh Ayano?
Saga bingung.
"Sekarang, alasan apa lagi biar gua bisa tetep deket sama Ayano?"
"Apakah sekedar ingin dekat sudah cukup?"