Hubunganku dengan Hitomi tak berlangsung lama. Hanya dua minggu berpacaran, kami berdua langsung putus. Aku yang memutuskan hubungan karena tidak ingin menyakiti Hitomi dengan perasaan palsu yang kuberikan untuknya. Aku tidak bisa menyukai dirinya, karena yang ada di kepalaku hanya Ayano.
“Kazu, kenapa kau putus dengan Hitomi? Apa kalian ada masalah?” tanya Ayano penasaran.
“Tidak.”
“Tidak bertengkar?”
“Tidak.”
“Lalu kenapa putus?”
Aku menghela napas. “Aku tidak menyukai Hitomi. Bukan berarti membencinya. Hanya saja kami berdua tidak cocok.”
Ayano mengangguk-angguk. “Memangnya parameter cocok itu seperti apa?”
“Bagaimana, ya. Pokoknya saat kedua belah pihak saling menyukai, peduli, dan juga bisa saling mengerti. Hal itu tidak berlaku padaku dan Hitomi. Dia memang menyukaiku, tapi aku tidak. Karena itu, tidak mungkin kami bisa saling peduli dan juga mengerti satu sama lain.”
Senyum Ayano memudar. “Itu berarti cinta satu pihak, ya?”
“Ya, sejak awal aku memang tidak menyukai Hitomi. Aku tidak bisa menyukainya meski sudah dicoba. Dua minggu memang waktu yang singkat, tapi aku tidak mau menyakitinya lebih lama lagi.”
Aku tidak enak pada Hitomi. Dia mungkin sudah membenciku saat ini.
“Lalu kenapa kau menerima ajakan pacaran darinya?”
Aku berdecak.
“Bukankah kau yang menyarankanku untuk menerima ajakan pacaran dari seorang gadis?”
Mata Ayano membesar. Dia langsung menundukkan kepalanya.
“Maaf, saranku ternyata malah merepotkanmu. Aku tidak mengira semuanya akan berakhir seperti ini.”
Ah, aku tidak suka melihat Ayano merasa bersalah seperti ini. Aku terlalu emosi untuk menahan perkataan tersebut.
“Tidak apa-apa. Tidak ada yang salah dengan saranmu. Hanya saja gadis yang menyatakan cinta padaku memang bukan gadis yang tepat.”
Ayano mulai tersenyum kembali.
“Kalau begitu, mulai sekarang, giliranmu yang harus menyatakan. Jika ada gadis yang kau suka, langsung saja bilang dan nyatakan pada gadis itu. Dengan begitu, tidak akan ada acara cinta bertepuk sebelah tangan lagi. Bagaimana?”
Aku tersenyum. “Mudah bagimu untuk mengatakannya. Tapi nyatanya, mengungkapkan cinta itu tidak semudah yang dbayangkan. Memangnya, jika kau bertemu orang yang kau sukai, kau akan langsung menyatakan cinta padanya?”
Wajah Ayano tetiba memerah. “Be-benar juga. Pasti sulit untuk mengatakannya karena terlalu malu. Aku salut pada para gadis yang berani menyatakan perasaannya walau akhirnya ditolak.”
“Aku pun juga salut.”
Sejak saat itu, saat Ayano mengatakan dia menganggapku hanya sebatas saudara, aku sudah tidak memiliki keberanian lagi untuk menyatakan cinta pada Ayano. Memang ada kemungkinan kalau Ayano saat itu hanya asal bicara, tapi tetap saja berat bagiku.
Aku masih menyukai Ayano, tapi tekadku untuk menyatakan perasaan padanya sudah hilang. Aku terlalu takut ditolak dan membuat hubungan kami berdua menjadi canggung.
Yang bisa kulakukan saat ini hanyalah terus berada di sisi Ayano dan membuatnya jatuh cinta padaku sehingga dia sendiri yang akan menyatakan. Saat itu terjadi, aku pasti akan menerimanya, dan kami berdua bisa menjadi sepasang kekasih.
Itulah yang ada di pikiranku, sampai akhirnya Ayano memutuskan untuk kuliah di luar negeri. Kemungkinan ini sama sekali tidak terpikirkan olehku. Padahal aku sudah siap memilih jurusan yang sama dengan dirinya.
“Ayano, bukankah kau bilang ingin masuk Subarashii University? Kenapa tiba-tiba berubah?”
Ayano tersenyum. “Maaf, ya.”
“Kenapa mendadak sekali?”
“Ini tidak mendadak. Aku sudah lama mencari-cari kampus luar yang mungkin akan cocok denganku. Dan aku menemukannya di Indonesia.”
Aku sama sekali tidak mengerti dengan apa yang di pikirkan olehnya.
“Kenapa kau memilih kampus yang ada di Indonesia? Bukankah negara ini lebih maju dalam hal pendidikan? Kalau ingin mendapat beasiswa, di negara ini juga sangat banyak. Kenapa kau memilih kuliah di luar negeri?”
Ayano menunduk ke bawah. “Maaf, aku tidak bisa memberitahu alasannya.”
“Bukankah kita saudara? Kenapa kau masih merahasiakannya dariku?”
Aku tidak peduli lagi dianggap saudara atau apa. Aku hanya ingin Ayano tetap berada di sisiku.
Ayano menatapku dan tersenyum. “Saudara juga punya rahasia yang tidak boleh diketahui, kan?”
Aku terdiam. Kenapa Ayano jadi seperti ini? Apa dia sudah tidak memperdulikanku?
Aku ingin sekali ikut dengannya. Tapi, apa itu pantas dilakukan? Apa Ayano tidak akan risih dengan keberadaanku? Apa Ayano tidak akan menganggapku sebagai orang yang suka ikut-ikutan?
Sangat tidak masuk akal jika aku ikut dengannya ke Indonesia, kecuali jika kami memiliki hubungan yang spesial.
“Apa kau ingin ditemani?”
Ayano mengibaskan tangannya. “Jangan, Kazu. Tempatmu di sini. Kau tidak perlu ikut denganku. Lagipula, perpisahan ini bukan berarti kita tidak berteman lagi bukan?”
Tidak, tidak Ayano. Kau tidak mengerti. Perasaan yang aku alami ini bukan sebatas perasaan sebagai teman, tetapi lebih dari itu. Aku ingin kita selalu bersama sampai tua nanti. Aku tak mau berpisah denganmu.
“Begitu, ya. Memang benar seperti katamu.”
Pada akhinya perkataan itulah yang keluar dari mulutku.
Ayano menepuk pundakku.
“Pilihlah jurusan yang kau inginkan Kazu, jangan terus mengikutiku. Aku bukan anak kecil yang harus kau lindungi terus. Aku sudah bisa sendirian sekarang.”
Aku mengangguk. “Ah, jadi begitu, ya. Kau sadar aku memperlakukanmu seperti itu?”
Jangan pergi Ayano.
Jangan pergi.
Aku ingin melindungimu.
Aku ingin terus bersamamu.
“Tentu saja. Kita sudah saling mengenal selama bertahun-tahun. Mana mungkin aku tidak sadar. Kau itu… diam-diam overprotective, ya.” Dia tersenyum.
Aku merasa malu. “Maaf.”
“Tidak apa-apa, aku mengucapkan terima kasih. Terima kasih telah menjagaku selama ini, Kazu.”
Percakapan di kelas itu menjadi yang terakhir kalinya kami membahas hal yang serius. Setelah itu, kami tidak pernah membahas hal itu lagi, hanya mengobrol seperti biasa sampai akhirnya waktu berlalu tanpa terasa dan Ayano telah pergi ke Indonesia meninggalkan diriku yang masih menyimpan rasa padanya.
Pada akhirnya, aku tak pernah sanggup mengatakan bahwa aku menyukai Ayano, dan terus menjalani masa kuliah dengan harapan bahwa suatu saat Ayano akan kembali pulang ke Jepang dan kami akan bertemu lagi dengan perasaan cinta yang bergejolak. Bukankah jarak yang jauh dan pertemuan yang jarang akan membuat seseorang menjadi lebih rindu?
Aku berpikir begitu, dan sepertinya satu-satunya yang berpikir begitu. Ayano mungkin sudah lupa padaku dan menikmati masa kuliahnya di Indonesia. Ayano sangat jarang menghubungiku, seperti tidak ada rasa rindu yang aku harapkan.
Aku menjalani hari dengan menstalk akun medsos Ayano yang penuh dengan postingannya saat berada di Indonesia. Ayano cukup aktif dan sering membagikan berbagai hal menyenangkan yang terjadi di sana.
Dia pasti melupakanku. Atau, meskipun ingat, dia hanya mengingatku sebagai rekan sekelasnya saat SMA. Tidak lebih.
Aku mulai berpikir, Ayano sepertinya memang sudah semakin jauh denganku.
Tidak ada harapan lagi.
Aku tidak mau terus tersakiti seperti ini.
Oleh karena itu, saat Hiragi mendekat, aku mencoba menerimanya.