89

1205 Kata
Hari-hariku di kampus menjadi lebih sepi dibanding yang kubayangkan. Aku yang selalu bersama Ayano dari SD sampai SMA rasanya merasa kehilangan saat dia tak bersama diriku lagi. Seperti sudah candu, aku benar-benar menderita tanpa ada Ayano di sini. Aku menghabiskan banyak waktu mencari-cari alasan untuk mengiriminya pesan. Terlihat menyedihkan, tapi aku sangat merindukan dirinya. Aku mengirimi banyak pesan, tetapi ada perasaan kecewa saat melihat balasan Ayano yang kurang antusias. Tidak ada yang salah dengan hal itu, hanya saja aku sepertinya terlalu berharap. Lama kelamaan aku merasa lelah. Rasanya seperti mengejar hal yang tak pasti. Aku sudah tahu Ayano tidak memiliki perasaan apapun padaku, tetapi rasanya sebagian dari diriku menolak untuk melepasnya begitu saja, meskipun jarak yang jauh ini perlahan membunuh hubungan kami. “Kazu, jangan melamun terus. Itu tidak baik.” Seorang gadis menyadarkanku. Aku langsung menoleh padanya. “Ah, maaf Hiragi, aku sedang kepikiran sesuatu.” “Ayano, kan?” Dia langsung bisa menebaknya. Aku merasa malu. “Ahahaha.” Dia tersenyum. “Kau itu hebat sekali, ya. Bisa menyukai satu gadis yang sama selama bertahun-tahun, padahal banyak gadis yang lebih cantik di sekitarmu. Bahkan ketika sudah jauh pun kau masih saja memikirkannya. Aku jadi iri melihatnya.” Dari mana Hiragi tahu kalau aku suka Ayano? Apa memang terlihat dengan jelas, ya? “Kau menyukai Ayano, kan?” tanya Hiragi, seperti memastikan. “Aku tidak bisa melupakannya.” “Kenapa kau ingin melupakannya?” “Ayano tidak menyukaiku. Menyimpan perasaan ini hanya akan menyakiti diriku saja.” “Kalau begitu, tinggal nyatakan saja, dengan begitu perasaanmu akan lebih lega.” Hiragi memberi saran. Aku menggeleng pelan. “Aku sudah tahu jawabannya, jadi percuma.” “Tujuannya bukan untuk diterima, kan? Hanya untuk membuat hatimu lebih lega.” “Iya, hatiku mungkin akan lega setelah mengatakan hal itu. Tapi, bagaimana dengan Ayano? Aku tidak mau dia mendapatkan banyak pikiran hanya karena keegoisanku ini. Aku takut mengganggu kuliahnya.” Hiragi tertawa kecil. “Kenapa kau tertawa?” Dia menggeleng pelan. “Tidak, hanya saja kau benar-benar terlalu baik, sampai-sampai memikirkan perasaan Ayano, dan mengorbankan perasaanmu sendiri. Aku iri pada Ayano karena bisa disukai oleh lelaki setia seperti dirimu.” Dia tersenyum padaku. Begitu manis. Apakah Hiragi selalu secantik ini? “Terima kasih sudah menenangkanku. Aku berhutang padamu, Hiragi.” Dia menarik lenganku. “Sudahlah, aku sudah membuatkanmu makan malam. Ayo ikut!” Aku digeret masuk ke dalam kamar apartemennya yang berada tepat di sebelah kamarku. Entah kebetulan atau bagaimana, tetapi aku dan Hiragi masuk universitas yang sama dengan jurusan yang sama pula. Tempat tinggal kami bahkan bersebelahan, hanya dipisahkan oleh satu dinding yang tidak terlalu tebal. Aku dapat mendengar jeritannya saat dia melihat tikus. “Hiragi, kau tidak takut membiarkan seorang lelaki sepertiku memasuki apartemenmu?” Meski aku temannya, tapi rasanya salah jika dia terlalu sembrono dengan membawaku masuk. “Tidak apa-apa. Aku tahu kau orang baik. Kau tidak akan berbuat macam-macam padaku.” Aku berdecih. “Kau itu lumayan manis loh, Hiragi. Bagaimana kalau aku menyerangmu?!” Dia tersenyum. “Terima kasih, kau orang pertama yang menyebut diriku manis. Kalau kau menyerangku, aku tidak keberatan. Tapi kau harus bertanggung jawab.” Aku menohok. Apa-apaan gadis ini. Apa dia benar-benar mempercayaiku? Aku dan Hiragi memang sudah lebih dekat ketimbang sebelum Ayano mengenalkan kami berdua. Tapi, hubungan kami tidak sedekat itu sampai-sampai dia sudah tidak takut lagi padaku. Aku pun duduk di lantai apartemennya, bersiap menyantap berbagai makanan yang terhidang di atas meja makan. “Ini semua kau yang membuat?” tanyaku. “Tentu saja, siapa lagi?” “Kau bisa memasak rupanya.” “Ayano yang mengajarkanku. Atau lebih tepatnya yang memotivasiku sehingga tertarik untuk mulai memasak.” “Oh, begitu.” Aku mulai menyeruput sup miso yang ada di mangkok. Juga mulai menyantap nasi hangat dengan lauk sederhana namun begitu lezat. “Ah, enak sekali, aku mungkin akan sering datang ke sini untuk makan malam,” ucapku sembari memegangi perut. Dia tertawa kecil. “Iya, datang saja, aku akan memasakkan apapun yang kau mau.” Ucapannya membuatku tersipu malu. Rasanya dia seperti istriku saja. “Apapun yang aku mau? Bagaimana jika kau tidak tahu cara membuatnya?” “Aku akan belajar dulu.” “Ah, begitu.” “Iya.” Kami berdua terdiam sejenak. Aku mengambil sebatang rokok di saku celana dan mulai menyalakan korek api. “Tidak apa-apa aku merokok di sini?” “Silakan.” Reaksinya berbeda dengan Ayano. Setiap kali Ayano melihatku merokok, dia pasti marah dan memintaku untuk mematikannya. Dia bilang rokok tidak baik untuk tubuhku. Ya, tentu saja aku juga tahu, tapi mau bagaimana lagi. Hiragi tampak lebih lunak, dia bahkan tidak beranjak pergi meski aku merokok di sekitarnya. “Hiragi, terima kasih atas makan malam yang enaknya. Aku lupa berterima kasih.” “Iya, sama-sama.” Dia terus menatapku selama aku menyesap rokok. Aku jadi malu karena dilihat terus. “Ada apa?” tanyaku. “Tidak, aku baru tahu kalau kau seorang perokok.” “Kau tidak suka, ya?” “Tidak, ayahku juga seorang perokok, jadi aku sudah terbiasa.” “Oh.” Meski belum habis, aku langsung mematikan puntung rokoknya. Entah kenapa rasanya tidak enak. Aku merasa bersalah pada Hiragi karena telah membuatnya menghirup asap rokok yang tidak baik. Aku menanyakan sesuatu yang selama ini ingin aku tanyakan. “Hiragi, apa ini cuma kebetulan bahwa kita kuliah di kampus dan jurusan yang sama? Bahkan tempat tinggal kita juga bersebelahan. Apa itu semua hanya kebetulan?” Dia menatap intens. “Bagaimana menurutmu?” “Jangan-jangan kau sengaja, ya. Kau mengikutiku?” “Tidak juga.” “Yang benar?” Hiragi tertawa. “Menurutmu, saat kita berada di sekolah yang sama dan kelas yang sama, apa itu sebuah kebetulan atau memang kesengajaan?” “Kalau itu sepertinya memang kebetulan. Soalnya kita berdua belum saling mengenal.” “Benar.” “Lalu yang sekarang bagaimana?” tanyaku lagi. Hiragi tertawa. “Maaf, aku memang mengikutimu. Aku bertanya pada Ayano jurusan apa yang ingin kau pilih, dan akhirnya aku mendaftar di tempat yang sama. Aku pun mengikutimu saat kau memutuskan untuk memilih apartemen ini. Maaf, ya.” “Oh, begitu, tidak apa-apa. Aku senang karena ada kenalan.” Hiragi tersenyum. “Aku menyukaimu, Kazu.” Aku agak bingung menjawabnya, tapi hatiku merasa senang. “Aku….” “Tidak apa-apa, kau tidak perlu menjawab sekarang. Aku tahu, kau masih menyukai Ayano.” “Ah, begitu.” Aku senang. Hiragi rupanya bukan tipe yang pemaksa. “Kazu, aku akan membuatmu jatuh cinta padaku. Aku akan membuktikan bahwa aku lebih baik dari Ayano. Kau harus bersiap.” Jantungku tiba-tiba dipompa lebih cepat. Apa Hiragi orangnya memang seperti ini? Setahuku dia agak pendiam, dan tidak tampak seperti gadis yang menunjukkan perasaannya. “Ya, aku tunggu.” Pada awalnya, aku yakin, rasa cintaku pada Ayano tidak akan pernah goyah meski bagaimanapun seorang gadis membuat sebuah pendekatan. Banyak gadis yang sudah mencobanya, akan tetapi selalu gagal. Kali ini pun aku yakin bahwa aku tidak akan jatuh cinta pada Hiragi. Namun, dia telah membuka mataku. Aku terbutakan oleh Ayano, dan tidak melihat hal indah lainnya di muka bumi ini. Hiragi selalu ada untukku, dia menyembuhkanku dari kecanduan pada Ayano. Dia selalu tersenyum, bersabar, dan menerimaku apa adanya. Tanpa sadar, aku sudah melupakan Ayano. Dan memohon untuk menjadi kekasihnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN