Saga dan Kazu sedang duduk berduaan di saat Ayano dan Hiragi sedang membuat makan malam. Argi tidak ada bersama mereka, masih belum pulang saat memutuskan untuk pergi keluar bersama Haru.
Di dapur kontrakan Saga, Hiragi dan Ayano berbincang-bincang menggunakan bahasa Jepang.
“Ayano, apa kau sering main ke sini?”
“Ba-bagaimana kau bisa tahu?”
Hiragi tersenyum. “Jadi benar, ya? Soalnya kau terlihat sangat santai di sini. Seolah sudah terbiasa.”
“Ah, begitu, iya aku memang cukup sering main ke sini. Selain untuk memasakan Saga makan malam, biasanya aku datang untuk menemui kucing peliharaannya.”
Hiragi menatap dari samping. “Hanya itu saja alasannya?”
“Te-tentu saja ada lagi. Alasan lainnya karena aku ingin bertemu dengan Saga.”
Melihat reaksi yang ditunjukkan oleh Ayano, Hiragi yakin bahwa gadis ini memang menyukai lelaki yang bernama Saga. Hiragi tidak merasa penasaran lagi setelah melihatnya.
Hiragi berdehem. “Ayano, boleh aku tanya sesuatu padamu?”
Ayano sedang menyiapkan bahan-bahan untuk dimasak saat Hiragi menanyakan hal tersebut.
“Ya, mau tanya apa?”
“Kenapa kau tidak mau dengan Kazu?”
Ayano terdiam sesaat, lalu kembali bicara.
“Tentu saja karena dia sudah menjadi pacarmu. Mana mungkin kan aku merebutnya.”
Hiragi tertawa kecil. “Maksudku, sebelum dia berpacaran denganku. Dia pasti pernah menyatakan perasaannya padamu, kan?”
“Belum pernah.”
Hiragi tampak kaget. “Yang benar? Bertahun-tahun kalian saling mengenal, Kazu tidak pernah menyatakan perasaannya padamu?”
“Iya, sama sekali tidak pernah.”
Hiragi sudah diberitahu Kazu mengenai hal ini, tetapi dia tidak mempercayainya. Hiragi sempat berpikir Kazu merasa malu untuk menceritakan hal yang sesungguhnya pada dirinya. Namun, ternyata itu semua kenyataan bahwa Kazu memang belum pernah menyatakan perasaan pada Ayano.
“Tapi, apa kau tahu bahwa Kazu menyukaimu?”
Ayano mengangguk.
“Aku tahu.”
“Kalau begitu, kenapa kau….”
“Aku tidak mau berpacaran dengan Kazu. Aku sudah puas dengan hubungan kami saat itu. Karena jika aku berpacaran dengan Kazu, tidak akan ada perubahan dalam hidupku. Aku ingin berpacaran dengan seseorang yang bisa merubah nasibku.”
Kurang lebih Hiragi paham setelah Ayano berkata seperti itu. Alasan dia menolak Kazu pada intinya karena Kazu tidak akan mampu mengubah keadaan yang dialami oleh Ayano.
“Jadi, semisal Kazu menyatakan cinta padamu saat itu, kau akan menolaknya?”
Ayano menelan ludah. “Akan sedikit berat karena aku akan menyakiti Kazu yang telah memupuk perasaannya padaku semenjak dari kecil. Tapi, aku akan tetap menolaknya.”
“Tidak mau dicoba dulu atau memberinya kesempatan?”
Ayano menggeleng. “Tidak, aku tidak mau coba-coba dalam hubungan.”
“Begitu, ya.”
Ayano langsung mengelus-elus kepala Hiragi. “Sudah, lupakan saja tentang hubunganku dengan Kazu. Hubungan kalian berdua bagaimana? Aku sangat senang kalian berdua berpacaran. Dengan begitu, aku dapat menemui dua sahabat sekaligus jika suatu saat berkunjung ke rumah kalian.”
Hiragi merasa lebih lega setelah menanyakan semua hal ini. Pada intinya, Ayano memang tidak memiliki perasaan cinta pada Kazu. Ayano tidak akan mengkhianatinya, dan Kazu pun tidak akan bisa mendapatkan Ayano apapun yang dia lakukan. Apalagi Ayano sekarang telah memiliki Saga.
Hiragi sudah siap hubungannya dengan Kazu putus semisal dia akan menjadi pacar Ayano di masa depan. Hiragi tidak akan protes dan menghalang-halangi. Dia justru akan mendukung seandainya Kazu ingin berpacaran dengan Ayano, dan Ayano pun memiliki perasaan yang sama.
Dia bersyukur, karena ternyata keresahannya selama ini tidak akan menjadi kenyataan. Dia yakin, orang sebaik Ayano dan Kazu tidak akan tega menyakiti dirinya hanya demi keegoisan pribadi. Ayano sudah punya Saga, dan Kazu sudah punya dirinya. Itu adalah kenyataan yang nampak di depan matanya sekarang.
“Aku harus lebih percaya diri lagi!” Hiragi mengepalkan tangan.
“Percaya diri dalam hal apa? Ayo bantu aku masak, jangan melamun terus!”
“Ahaha, oke, oke.”
Di lain tempat, Kazu sedang mencoba untuk berkomunikasi dengan Saga. Dia sedang memainkan google translate untuk berkomunikasi lewat tulisan dengan dirinya.
Meski Kazu bisa berbicara bahasa Indonesia lewat bantuan google translate, tapi dia tidak akan bisa paham saat Saga membalasnya menggunakan bahasa Indonesia.
Karena itu, Kazu menawarkan bicara lewat tulisa di google translate.
Kazu: Saya ingin bicara denganmu, tapi tidak bisa bahasa Indonesia. Mau kah kau berkomunikasi lewat google translate ini?
Setelah menulis hal itu, Kazu langsung memberikan gadgetnya pada Saga.
Saga membalas.
Saga: Tidak masalah, aku juga ingin bicara denganmu.
Saga menyerahkan kembali gadget milik Kazu.
Kazu: Bagus, aku ingin bertanya banyak hal.
Saga: Boleh
Kazu: Langsung saja, ya. Apa hubunganmu dengan Ayano?
Saga menohok. Baru pertanyaan pertama tapi sudah membuat dirinya kesulitan menjawab. Saga tidak bermaksud menyembunyikan hubungan mereka, tapi tetap saja rasanya sulit untuk mengungkap hubungan mereka.
Saga: Aku dan Ayano hanya teman sekampus. Kami tidak berpacaran, tapi aku sangat menyukainya.
Kazu: Bagaimana dengan Ayano? Apa dia juga menyukaimu?
Saga bingung mengapa Kazu bisa menebak sampai ke sana.
Saga: Iya, Ayano juga menyukaiku, dia sendiri yang bilang. Kami mungkin akan berpacaran setelah lulus dari sini.
Kazu tersenyum. Meski masih ada sedikit perasaan sakit, tapi rasa senangnya lebih dominan. Jika tidak ada Hiragi yang sekarang sudah menjadi pacarnya, Kazu mungkin akan mengalami depresi.
Kazu: Syukurlah, Ayano ternyata bisa jatuh cinta juga. Kuharap kalian berdua bahagia.
Saga: Terima kasih.
Kazu: Boleh bertanya hal lain lagi?
Saga: Silakan.
Kazu: Sudah sejauh apa hubungan kalian? Apa kau pernah berciuman dengannya? atau mungkin melakukan ‘itu’? Maaf kalau pertanyaannya terlalu privasi. Kau boleh tidak menjawab jika terganggu.
Saga: Aku akan mengatakan yang sejujurnya. Aku dan Ayano baru sekedar berpegangan tangan, dan juga berpelukkan. Begitu saja sudah membuatku senang.
Kazu terkaget saat membacanya. Hubungan mereka ternyata belum sampai sejauh itu. Ya, mungkin karena belum pacaran.
Tapi, jika memikirkan kembali sifat polos Ayano, itu wajar saja mereka berdua belum melakukan sampai ke sana.
Kazu: Apa kau pernah mengajaknya melakukan ‘itu’?
Kazu menahan tawa saat menyerahkan gadgetnya.
Saga: Ti-tidak pernah! Aku tidak mau terburu-buru.
Kazu: Seandainya dia yang mengajakmu bagaimana?
Saga: Aku akan menolaknya, dan menunggu sampai kami menikah. Menurutku lebih baik jika begitu, karena dikhawatirkan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Keluargaku bilang bukan hal yang lazim melakukan ‘itu’ di luar pernikahan.
Kazu tersenyum.
Kazu: Kau ternyata orang yang baik, ya. Kau menyukai Ayano secara tulus, bukan untuk berbuat m***m dengan dirinya. Aku salut.
Saga: Terima kasih.
Kazu: Tapi, kau pernah membayangkan melakukan ‘itu’ dengan dirinya, kan?
Saga: Sering.
Kazu langsung tertawa saat mendengarnya. Saga merasa malu.
Kazu: Aku mendukungmu, kawan. Semoga kau bisa sampai pernikahan dengan Ayano dan melakukan ‘itu’ dengan dirinya. Semoga beruntung.
Saga: Terima kasih.
Saga dan Kazu mendadak jadi akrab hanya karena mengobrol lewat chat di google translate. Ayano dan Hiragi tersenyum-senyum saat melihat keakraban mereka.
Begitu makan malam sudah siap, mereka pun mulai menyantap bersama-sama. Sayangnya, Haru dan Argi masih belum pulang, jadi mereka berdua tidak bisa mencicipi masakan Ayano dan juga Hiragi.