91

1104 Kata
Setelah Haru kembali bersama Argi, Ayano dan teman-temannya dari Jepang pamitan untuk pulang. Pertemuan yang singkat bagi mereka, tapi cukup mengesankan. Saga dan Kazu bahkan sudah lumayan akrab meski mereka hanya berbicara lewat media penerjemah saja. “Terima kasih sudah berkunjung, kapan-kapan datang lagi ke sini, ya.” Saga melepas kepergian mereka dengan menggunakan bahasa Indonesia. Ayano segera menerjemahkannya untuk mereka. Hiragi membalas, kemudian Ayano kembali menerjemahkan. “Hiragi bilang, lain kali kamu yang harus datang berkunjung ke Jepang.” Saga tersenyum. “Iya, lain kali aku yang akan datang ke Jepang.” Setelah itu, mereka pun berpisah. Ayano dan teman-temannya kembali menaiki mobil Haru yang terparkir di depan kosan Saga. “Sampai jumpa lagi!” *** Di hari terakhir sebelum Hiragi dan Kazu pulang, Hiragi meminta Kazu untuk menyatakan perasaannya pada Ayano. “Tidak akan ada kesempatan lagi, Kazu. Kau harus mengungkapkan perasaanmu hari ini juga.” Hiragi memaksa. “Eh? Itu tidak perlu. Aku sudah mempunyaimu. Untuk apa aku mengungkapkan perasaanku lagi?” “Tidak apa-apa, ungkapkan saja.” “Kenapa? Aku sudah jatuh cinta padamu. Aku tak punya perasaan apa-apa lagi pada Ayano. Seandainya Ayano ternyata menyukaiku pun, aku tetap akan lebih memilihmu.” Ucapan Kazu membuat Hiragi tersipu. Dia senang sudah menyarankan hal ini pada Kazu sehingga dia mengucapkan kata-kata tersebut. “Tidak apa-apa, ungkapkan saja.” Hiragi tetap mendorongnya. “Kenapa? Bisa kau sebutkan alasannya?” “Agar kau tidak penasaran lagi dan akan tahu bagaimana reaksi Ayano saat kau mengatakan hal itu. Aku tidak ingin kau memiliki sebuah penyesalan karena memendam perasaan yang selama ini ada di dalam hatimu. Aku percaya padamu, karena itu kau harus mengungkapkan perasaanmu pada Ayano.” Kazu terdiam saat melihat Hiragi bertindak seperti ini. Apa itu memang yang terbaik untuk dilakukan? “Aku tidak mau, aku takut Ayano kepikiran.” Hiragi menggeleng. “Tidak akan. Sekarang keadaannya sudah berbeda. Kau dan aku sudah berpacaran, dan Ayano sudah jatuh cinta pada orang lain. Ayano tidak akan kepikiran, dan kau akan merasa lega. Tenang saja, Ayano itu sudah besar. Dia bisa mengendalikan perasaannya.” Kazu menghela napas. Benar seperti kata Hiragi, dia sebenarnya masih memiliki rasa penasaran dalam hatinya. Dia ingin mengeluarkan hal itu sehingga tidak akan menjadi beban pikiran lagi. Dia tidak peduli akan ditolak, yang penting dia sudah mengungkapkan. Itulah tujuan utamanya saat ini. “Baiklah, aku akan melakukannya.” Setelah mengatakan hal itu, Hiragi mengecup bibir Kazu. Wajah Kazu memerah. “He-hei… apa itu barusan.” “Itu hadiah untuk keberanianmu. Jika kau sudah melakukannya, aku akan memberimu yang lebih dari itu.” “Ba-baiklah.” Hiragi sama sekali tidak khawatir meski memaksa pacarnya untuk menyatakan perasaannya pada teman dekatnya. Hiragi percaya pada Ayano dan juga Kazu. Dia ingin mereka berdua menyelesaikan masalah mereka tersebut. Setelah memastikan rencana itu, Hiragi dan Kazu meminta untuk bertemu Ayano lagi sebelum mereka pulang ke Jepang. Ayano tentu menyanggupi dengan antusias, karena kapan lagi dia bisa bertemu dengan teman-teman Jepangnya. Mereka bertiga jalan-jalan di sebuah taman yang tidak terlalu ramai. Hiragi sengaja meminta main ke tempat ini untuk membuat kondisi di mana Kazu dan Ayano bisa berduaan tanpa diganggu siapapun. Setelah beberapa saat, Hiragi pun minta izin untuk pergi ke kamar mandi. “Aku izin dulu sebentar, ya.” Hiragi langsung pergi, meninggalkan Kazu dan Ayano yang duduk berdua. Kazu sangat gugup saat ini. Meski cuma setengah tahun tidak bertemu, tapi rasanya menjadi sedikit canggung. Padahal sebelumnya, mereka adalah teman dekat yang tidak terpisahkan. Kecanggungan ini terjadi karena Kazu sudah menjadi pacar Hiragi, dan Ayano sudah sangat dekat dengan Saga. Apalagi, saat ini Kazu harus menyatakan perasaan padanya. “Kazu, bagaimana keadaan keluargamu di sana?” Ayano yang membuka pembicaraan. “Baik-baik saja. Kakekku masih dirawat di rumah sakit, tapi penyakitnya sudah mulai membaik. Aku yakin beberapa bulan lagi dia sudah diperbolehkan untuk pulang.” Kazu menjawab dengan gugup. “Oh begitu, baguslah.” “Lalu bagaimana dengan keluargamu sendiri?” tanya Kazu. Ayano terdiam cukup lama. “Mereka sama sekali tidak memberiku kabar, seolah tidak peduli lagi. Ayah pernah mengirimiku pesan, tapi hanya sekedar meminta maaf bahwa dia tidak bisa mengirimiku uang bulanan. Aku tentu tidak mempermasalahkannya, karena aku memang tidak meminta. Uang beasiswa yang diberikan oleh kampus sudah cukup.” Kazu menatap dengan serius. “Kau yakin sudah cukup? Bagaimana dengan biaya darurat seperti uang pengganti laptop, handphone, kegiatan mendadak, magang, dll. Apa kau punya uang darurat? Bagaimana jika hal itu terjadi? Kau tidak bisa mengandalkan uang beasiswa saja Ayano. Aku tahu jumlahnya pasti tidak terlalu banyak.” Ayano menghela napas. “Kau memang hebat, Kazu. Kau bisa tahu semua ini, padahal kau sedang tidak ada bersamaku.” Kazu tersenyum. “Tentu saja, kau pikir sudah berapa lama aku mengenalmu? Aku tahu saat kau sedang tidak baik-baik saja.” Ayano tertawa kecil. “Begitu, ya. Aku jadi senang kita menjadi sahabat.” “Lalu bagaimana cara kau mengatasinya?” Ayano menatap langit. “Untuk saat ini yang kulakukan hanya menghemat pengeluaran sebaik mungkin. Aku tidak jajan makanan mewah dan meminimalisir pengeluaran yang tidak perlu. Aku pun mulai mengurangi membeli novel.” “Baguslah, karena berada di sini, bacaanmu pasti terbatas.” “Hei, jangan salah! Novel orang Indonesia itu bagus-bagus! Tidak kalah dari Jepang. Aku sudah beli beberapa, dan tertarik untuk beli lagi. Tapi, tapi… aku harus berhemat.” Kazu agak sedikit khawatir saat mendengarnya. “Jangan sampai kau sakit gara-gara terlalu hemat, ya. Jangan sampai gizimu tidak terpenuhi. Sekali-sekali makan makanan enak tidak apa-apa. Kurangi beli novelnya. Kau bisa pergi ke perpustakaan saja sebagai gantinya.” Ayano langsung tertawa saat Kazu berkata seperti itu. “Kenapa kau tertawa?” “Kau benar-benar tidak berubah. Dari pertama kita bertemu saat kecil sampai sekarang kau selalu bersikap seperti itu. Memberiku banyak nasihat yang sangat berguna untukku. Dibanding keluargaku saat ini, kau lebih mirip keluargaku yang sebenarnya.” Ayano tersenyum pada Kazu. “E-eh?! Ba-baguslah kalau begitu.” Ayano langsung menggenggam kedua tangan Kazu, membuatnya merasa malu. Ayano menatap Kazu. “Aku belum pernah mengatakan ini sebelumnya, tetapi akan kukatakan saat ini juga. Terima kasih telah menjadi sahabatku Kazu. Terima kasih karena selalu ada di saat aku membutuhkan. Jika tidak ada kamu, aku mungkin akan menderita karena kondisi keluargaku. Terima kasih selalu mau aku repotkan, dan terima kasih karena kau selalu memperdulikan dan menyayangiku dengan tulus. Aku tidak akan pernah mendapatkan teman yang lebih baik dari dirimu.” Mendengar hal itu, Kazu hampir menangis. Meski bukan ungkapan cinta, tapi itu sangat membuatnya senang. Apalagi saat Ayano mengatakan bahwa dia telah menyayangi Ayano secara tulus. Meskipun sebenarnya, Kazu sempat berharap lebih pada Ayano. “Ayano, aku juga ingin mengungkap sesuatu padamu.” Kazu menatap Ayano dengan serius.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN