Begitu makanan sudah di tangan Badai, Zahra pergi dari situ. Dia ada janjian dengan Ruian di cafe biasa. Cafe langganan mereka, dan lumayan dekat dari perusahaan Hadiutomo. Jadi tidak memakan banyak waktu untuk sampai ke sana. Sementara Badai kembali ke atas dengan senyum mengembang karena menenteng paper bag berisi makanan dari Zahra. Sebuah kemajuan karena tadi gadis itu bilang, dia sudah mau belajar membantu kakak iparnya masak. Jelas dia tahu kalau Zahra tidak pandai memasak seperti kakak iparnya atau sang ibu. Saat di perjalanan, ternyata Badai bertemu dengan Pak Arlan. Pria paruh baya yang masih tampan di usianya datang dengan pakaian semi formal, dan di belakang beliau ada asisten kepercayaannya. "Pak," sapa Badai tersenyum sedikit, sembari memunggukkan badan. Dia jelas sangat me

