"Kalau ibu biar saya yang pikirkan. Kamu tidak perlu repot-repot memikirkan itu. Sebenarnya ibu sudah tahu, kok, kalau saya menaruh hati pada gadis lain, meskipun saya belum bilang siapa gadis itu," kata Badai santai. "Kesempatan buat kamu untuk mendapatkan hati saya, sebaiknya kamu pikir baik-baik lagi. Bukannya apa, semakin kamu ingin mendapatkan saya, akan semakin susah, karena hati saya sepenuhnya buat Zahra, terkecuali ibu. Beliau beda tempat dengan Zahra. Tapi kalau kamu tahan, silahkan saja berusaha, asal jangan menyalahkan saya karena tidak bisa memberikannya ke kamu. Nama Zahra sudah bertahun-tahun terpatri di hati saya. Jangankan tergantikan, tergeser pun tidak pernah." Badai menjeda ucapannya sebentar, lalu menarik napas dan menghembusnya. "Kamu mau berusaha mendapatkan hati s

