Chapter 5

4484 Kata
Chapter 5 This longing seems a little sick This sadness doesn’t seem right (Topp Dogg – This isn’t Right)   Rey memperhatikan Alfon yang sedari tadi terus menghela napas. Ia tampak sedang memikirkan sesuatu. Apa ia ada masalah dengan Aira? “Alfon,” panggil Yura. Alfon menoleh, mencari sumber suara Yura, menunjukkan bahwa pikirannya sedang sangat jauh dari tubuhnya tadi. “Kenapa, Ra? Tadi lo ngomong apa?” Alfon bertanya. “Gue belum tanya apa-apa, malah,” jawab Yura bingung. “Oh,” gumam Alfon. “Sori.” Semua orang di meja itu, selain Aira, saling bertukar tatap. Sepertinya hanya Aira yang tahu apa yang terjadi pada Alfon. “Al,” kali ini Ken yang memanggil. Sama seperti sebelumnya, Alfon menoleh ke segala arah sebelum menemukan Ken. “Iya?” “Lo … oke?” tanya Ken ragu. Alfon tersenyum. Senyum yang dipaksakan. “Of course.” Namun Ken dan yang lain tidak sebodoh yang Alfon pikir dan mereka tahu Alfon sedang berbohong. Ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Atau jangan-jangan … Aira sudah menyatakan perasaan padanya? “Ai,” panggil Alfon kemudian. “Ya?” jawab Aira hati-hati. Apakah Alfon akan memberikan jawaban pada pernyataan Aira? Di sini? Di depan semua orang ini? “Kenapa hari ini dia nggak masuk?” tanya Alfon serius. Rey mengerutkan kening. Tidak masuk? Siapa yang Alfon bicarakan. “Eh …” Aira tampak ragu untuk menjawab. “Menurut lo, apa dia marah ama gue?” Alfon kembali bertanya, tapi pikirannya masih fokus pada objek yang saat ini tidak ada bersama mereka. “Um … mungkin juga, sih.” Aira meringis. Alfon mengerang frustasi. “Kenapa dia mesti marah coba? Gue ngomongin yang sebenernya, kan? Emang dia sombong, kan? Emang temen-temennya pada nggak suka ama dia, kan? Gue nggak ngomongin hal yang salah, kan?” “Emang enggak, sih, tapi …” Aira melirik Rey dan seketika itu juga satu nama muncul di kepala Rey. Elsa. “Elsa marah ama lo, Al?” Rey bertanya. Tatapan tajam Alfon padanya membuatnya sedikit terkejut. Tampaknya ia sedang sangat sensitif dengan nama itu. “Kenapa dia marah ama gue? Salah gue apa coba?” sembur Alfon. Rey menggeleng. “Nggak. Lo nggak salah,” Rey berbaik hati menghiburnya. “Trus, kenapa dia nggak masuk sekolah hari ini?” tuntut Alfon. Rey mengedikkan bahu. Well, dia bukan ibunya Elsa ataupun fans beratnya. “Mungkin dia sakit, atau ada acara …” “Nggak ada surat izin dari dia,” Alfon tak terima. “Well, mungkin orang tuanya nelpon langsung ke sekolah buat minta izin,” Rey menyebutkan kemungkinan itu. Alfon terdiam selama beberapa saat. “Oke. Mungkin gitu juga,” ucapnya pelan, meski dari ekspresinya, tampak jelas ia masih penasaran dan terganggu akan ketidakhadiran Elsa hari itu. Atau jangan-jangan, Alfon … menyukai Elsa? Lalu, Aira … *** Aira mengumpat dalam hati saat Rey mengajaknya bicara di koridor sebelum mereka masuk kelas di menit-menit terakhir jam istirahat. Ia menyumpahi Alfon karena kebodohannya tadi. “Lo udah tau kalo Alfon … care ama Elsa?” tanya Rey hati-hati. Aira menghela napas berat. Ia mengangguk. “Lo … nggak pa-pa?” Rey tampak cemas. Aira tersenyum getir. Tentu saja ia tidak apa-apa. Kecuali bagian kebodohan Alfon yang bisa membuat kebohongan Aira terbongkar. Aira memang tidak memaksa Alfon membalas perasaannya jika ia bisa menyukai Alfon, tapi melakukannya seperti ini, di depan Rey dan yang lain, itu justru lebih parah daripada sekedar tak membalas perasaaannya. “Lo mau gue ngomong ama dia?” Rey menawarkan. Aira menggeleng. “Dia mungkin cuma ngerasa bersalah karena udah nyakitin Elsa. Jadi, nggak masalah buat gue,” ucapnya. Tatapan simpati Rey membuat Aira merasa begitu menyedihkan. “Apa udah sejauh itu perasaan lo ke Alfon?” tanyanya simpati. Ya. Sudah sejauh itulah perasaan Aira pada Rey hingga ia harus bersikap menyedihkan seperti ini untuk menyembunyikannya. Aira mengangguk, lalu tanpa mengatakan apa pun lagi, ia meninggalkan Rey dan masuk ke kelas lebih dulu. Lebih lama lagi menatap wajah Rey, ia mungkin tak akan bisa menahan air mata. *** “Gue udah ngacauin rencana lo, ya?” Alfon meringis. Aira menyipitkan mata berbahaya. “Lo sengaja ngelakuin itu?” tuduhnya. Alfon mendengus. “Gue nggak bakal dateng ke sini kalo gue sengaja tadi,” akunya. Ia mendesah lelah ketika meja di sudut kafe itu masih kosong. “Dia nggak pindah sekolah gara-gara gue, kan?” Pikiran itu membuat Alfon cemas. Aira memutar mata. “Dan sepenting apa sih, elo di hidupnya Elsa?” sinisnya. Alfon meringis. “Nothing. Absolutely nothing,” jawabnya getir. Bahkan meskipun itulah kenyataannya, entah kenapa ia tak terlalu suka. “Serius deh, Al, kayaknya lo beneran suka deh, ama Elsa,” cetus Aira. Cewek itu bahkan tampak serius ketika mengatakannya. Alfon menggeleng cepat. “Gue belum gila kali, Ai,” elaknya. “Gue cuma sedikit, bener-bener sedikit banget, ngerasa bersalah ama dia. Gue terlalu berambisi buat balas dendam ke dia sih kemaren.” Aira mengangkat alis. “Lo udah pernah suka ama cewek belum, sih?” Alfon mengangguk tanpa ragu. “Yura,” sebutnya. “Lo cuma pengen ngelindungin dia gara-gara dia terlalu ceroboh. Dulu juga awalnya Dio ngerasa gitu. Tapi perasaan dia berlanjut. Sementara lo … kayaknya belum sempet suka. Atau lebih tepatnya, lo nggak berani suka beneran ama Yura karena lo tau Yura nggak mungkin suka ama elo selama ada Dio,” urai Aira detail. Alfon ingin mendebat itu, tapi apa yang dikatakan Aira itu memang benar. Meski begitu, ia menolak mengakui. “Gue suka cewek secara umum,” Alfon berkata. “Cewek-cewek itu dateng sendiri ke gue, bilang suka ama gue, ngasih gue barang-barang bagus, merhatiin gue …” “Sekarang gue ngerti kenapa mereka nyebut lo playboy,” dengus Aira. “Lo cuma suka ama perhatian mereka, bukan ama mereka pribadi. Jadi sebenernya, lo udah pernah suka ama cewek belum, sih? Suka yang kayak gue ke Rey gini, atau Arisa ke Ken, Ken ke Arisa, Dio ke Yura, atau Yura ke Dio?” Alfon sudah bersiap mengatakan sudah, tapi ia mendapati kata itu tak keluar dari mulutnya. Ia berdehem. “Kalian terlalu ekstrim buat disebut suka,” ia beralasan. Aira memutar mata tak percaya mendengarnya. Ia lalu menatap Alfon lekat dengan tatapan mengerikan. Jika saat ini mereka tidak sedang bekerja sama, Alfon pasti berpikir cewek itu sedang merencanakan pembunuhan terhadapnya. “Kenapa lo nyariin Elsa terus? Sejak kapan lo mulai nyariin dia?” mendadak Aira bertanya. “Kenapa mendadak ngomongin dia?” Alfon tak terima. Ia mulai terganggu mendengar nama itu, mengingatkannya pada bagaimana cewek itu pergi setelah Alfon mengatakan hal-hal buruk tentang masa lalunya. “Sakit, nggak?” tanya Aira lagi, mengabaikan protes Alfon. “Apanya?” Alfon melotot kesal. “Elsa mungkin nangis gara-gara kata-kata lo kemaren,” cetus Aira. Seketika perut Alfon terasa tak nyaman. Ia tidak suka mendengar itu. “Sakit, kan?” Aira kembali bertanya. “Apanya, sih? Dari tadi lo ngomong nggak jelas mulu,” kesal Alfon. Aira tersenyum seraya bersandar santai di kursinya. “Waktu lo liat dia pergi, waktu lo tau dia ngerasa sakit gara-gara lo, waktu lo pikir dia mungkin nangis gara-gara lo, waktu lo nggak bisa liat dia …” Aira mengedikkan kepala ke meja di sudut kafe, membuat Alfon reflek menoleh ke sana, tapi perasaan kosong kembali menghantamnya saat mendapati meja itu masih kosong, tanpa Elsa. “Nggak bisa liat dia pas lo kangen ama dia … nyesek, kan?” Aira tersenyum, ia tampak sangat terhibur dengan situasi ini. Alfon mengernyit. Bahkan memikirkan itu saja membuat dadanya mendadak terasa … sakit? Benarkah semua yang dikatakan Aira itu? Jika memang begitu, itu berarti, Alfon memang … “Gue nggak suka kok, ama Elsa,” Alfon berkeras. “Yang tau kebenarannya cuma elo sendiri. Toh itu perasaan lo,” Aira mendengus geli. Kata-kata Aira itu seketika mengingatkan Alfon pada Elsa. Lagi. Sial. “Sekali lagi lo ngomongin tentang masalah ini, ataupun tentang Elsa …” “Dua hal itu satu objek, anyway,” sela Aira. Alfon menatapnya kesal. “Liat aja apa lo masih bisa ngomongin itu kalo ada Rey di sini,” ucapnya sungguh-sungguh. Aira menarik napas dalam, mengangguk. “Oke, sori. Gue nggak bakal ngungkit-ngungkit rasa sakit lo ataupun perasaan lo ke Elsa lagi.” Alfon mengerang frustasi. “Lo barusan nyebutin itu lagi, anyway …” “Buat contoh,” Aira membela diri. Alfon mendesis kesal. “Kita balik sekarang, deh. Tambah frustasi gue lama-lama di sini.” “Abis yang ditunggu nggak ada, si ….” Aira langsung menutup mulut mendapati tatapan tajam Alfon. “Oke, kita balik sekarang.” Alfon benar-benar ingin meneriakkan frustasinya saat itu juga. Dengan mood yang berantakan, ia meninggalkan Aira dan berjalan keluar lebih dulu. Namun, di depan pintu kafe, langkahnya terhenti saat melihat siapa yang baru saja masuk melewati pintu kafe. Cewek itu berhenti di depan Alfon, memberikan tatapan kesal pada Alfon sebelum bergeser, tapi Alfon ikut bergeser dan menutup jalannya. “Apa-apaan …” “Lo tadi ke mana? Kenapa nggak masuk? Kayaknya lo sehat-sehat aja,” serang Alfon tanpa basa-basi. Cewek itu mendengus kasar. “Kenapa gue harus laporan tentang itu ke elo?” balasnya dingin. “Kemaren juga lo nggak ke sini,” lanjut Alfon. Cewek itu tampak marah. “Lo mata-matain gue?!” suaranya meninggi. Alfon menggeleng. “Ini tempat umum. Kalo gue ke sini, apa itu berarti gue mata-matain lo? Gue cuma kebetulan nggak liat lo di sini karena lo bilang lo setiap hari ke sini.” Cewek itu tampak sedikit terkejut. “Lo masih inget …” ia tak melanjutkan kata-katanya dan hanya mendengus kemudian. “Lo bolos sekolah?” tuduh Alfon. Cewek itu menatap Alfon dingin. “Terserah apa kata lo,” sinisnya sebelum ia melanjutkan langkah, menabrak bahu Alfon saat melewatinya. “Tunggu!” seru Alfon kemudian, menahan langkah cewek itu meski ia tak berbalik. “Apa lagi?” Ia terdengar luar biasa kesal kali ini. “Aira mau ngomong ama lo.” Hanya itu yang bisa dipikirkan Alfon. Aira yang masih berdiri di samping meja mereka tadi, tampak terkejut mendengar namanya disebut. Elsa menoleh ke arah Aira yang sudah berjalan ke arahnya. Aira tersenyum canggung pada cewek itu. Saat ia sudah berdiri di depan Elsa, Aira tampak bingung. Ia menatap Alfon, meminta bantuan. “Minta maaf,” ucap Alfon tanpa suara. Aira mengerutkan kening tak mengerti. Alfon menangkupkan kedua tangannya, lalu kembali berbicara tanpa suara, “Maaf. Minta maaf …” Ekspresi Aira kemudian menunjukkan bahwa ia sudah mengerti. Cewek itu kembali melempar senyum canggung pada Elsa. “Sori,” ucap Aira kemudian. Alfon bisa membayangkan Elsa mengangkat alis mempertanyakan maksud pernyataan itu. “Gue … yang cerita ke Alfon tentang … temen-temen SD lo,” jelas Aira. Elsa mendesah lelah. Ia menoleh ke belakang dan Alfon buru-buru memalingkan wajaha, berusaha menunjukkan ketidakpeduliannya. “Gue nggak peduli ama game bodoh kalian ini, tapi lain kali, jangan bawa-bawa gue lagi,” ucap Elsa dingin, masih menatap Alfon. Alfon melirik hati-hati setelah beberapa saat, dan ketika Elsa sudah tidak lagi menoleh ke arahnya, barulah ia kembali memusatkan perhatian pada cewek itu. “Iya. Sori ya, buat yang kemaren. Gue bener-bener nggak niat buat nyinggung lo,” tulus Aira berkata. Elsa hanya menjawab dengan anggukan. “Hei!” panggil Alfon lagi ketika cewek itu hendak pergi. “Dia kan udah tulus minta maaf, jawaban lo cuma gitu? Lo nggak bisa ngehargain usaha dia buat minta maaf ke elo dengan tulus? Dia sampai dateng ke tempat ini buat nyari lo, tapi lo …” “Gue pikir orang yang harusnya minta maaf itu bukan dia,” sela Elsa dingin, sebelum melanjutkan langkahnya. “Makanya gue juga ikut ke sini!” seru Alfon akhirnya, membuat cewek itu kembali menghentikan langkah. Habis sudah kesabarannya menghadapi sikap dingin cewek es itu. “Sori, gue cuma kesel ama lo. Gue nggak maksud buat nyakitin lo dengan kata-kata gue waktu itu,” ucap Alfon sungguh-sungguh. Cewek itu terdiam tanpa reaksi di tempatnya. Alfon sudah hendak meneriaki betapa kasar sikapnya ketika cewek itu berkata, “Terserah.” Lalu ia pun pergi menuju meja di sudut kafe yang sepertinya sudah dipesannya, atau bahkan dibelinya. Meskipun Alfon kesal karena tanggapan dingin cewek itu, tapi kini ia bisa tersenyum saat melihatnya. Rasa tidak nyaman di perutnya, rasa sakit di dadanya, seketika lenyap. Setelah melihat cewek itu dan mengungkapkan rasa bersalahnya, mendadak Alfon merasa lebih baik. Ia merasa … “Senyum-senyum sendiri, udah gila lo?” Suara Aira yang sarat ledekan membuat Alfon mengalihkan perhatiannya dari Elsa. Alfon berdehem. “Bukan urusan lo,” ucapnya dengan nada dingin yang biasanya digunakan Elsa. Aira mendengus geli. “Oke.” Hanya itu yang dikatakannya. Alfon sudah memutar otak untuk menyiapkan segala macam jawaban jika Aira melemparkan pertanyaan aneh, seperti kenapa tiba-tiba Alfon menghentikan Elsa, bahkan meminta maaf padanya, atau bahkan yang lebih ekstrim, kenapa tadi dia tiba-tiba tersenyum seperti i***t gila. Namun syukurlah, sepanjang perjalanan pulang mereka, Aira tak lagi mengungkit kejadian di kafe tadi. Dalam hati, Alfon berterima kasih padanya untuk itu. *** “Udah berapa minggu lo stalking Elsa?” Pertanyaan Aira membuat Alfon menatap cewek itu tajam. “Dua minggu? Tiga?” “Siapa yang stalking dia?” sengit Alfon. “Oke, nggak stalking, tapi tiap hari dateng ke kafe ini dan nemenin Elsa di sini sampai sore,” ralat Aira. “Siapa yang nemenin dia? Kita nggak duduk di meja yang sama,” elak Alfon. “Oke, nggak nemenin dia, tapi ngawasin dia?” Aira mengoreksi. “Ngapain gue ngawasin dia?” Alfon masih tak terima. “Oke, ngeliatin dia,” Aira mengalah. “Lo nggak liat gue bawa buku sebanyak ini buat belajar? Gue udah kelas tiga dan bentar lagi kita ujian. Lo pikir gue bakal ngabisin waktu di sini gitu aja dan ngehancurin masa depan gue?” sembur Alfon, terlalu dramatis. Aira meringis pasrah. “Terserah elo deh, Al, terserah,” ia berkata. “Kalo lo nggak bisa konsen belajar gara-gara kangen ama orang yang lo suka, kayaknya itu juga termasuk kategori ngehancurin masa depan. Jadi, terserah elo.” Alfon tampak ingin mendebat lagi, tapi tampaknya Elsa akhirnya muncul karena kemudian Alfon menutup mulut dan mulai sibuk dengan buku-bukunya yang memenuhi meja. Aira mendengus geli melihat tingkah Alfon. Dia bahkan lebih parah dari Aira ataupun yang lainnya. *** Alfon memperhatikan Elsa yang tampak serius mengerjakan soal-soal di bukunya. Cewek itu berkonsentrasi penuh, tak sedikit pun terganggu dengan keramaian di kafe. Ah, dia memakai headset. Tetap saja, orang-orang yang lalu lalang di kafe pasti cukup untuk menjadi pengalih perhatian. Namun, cewek itu sama sekali tak tampak terganggu. Alfon lalu mulai mengerjakan buku soalnya sendiri. Ia tidak tahu sudah berapa lama ia menghabiskan waktu di tempat ini. Ia datang sebelum Elsa datang, dan pulang setelah Elsa pergi. Alfon bahkan tidak sempat pulang untuk berganti baju dan menuruti saran Aira untuk membawa baju ganti dan berganti pakaian di sekolah. Sekarang, ia bahkan mulai terbiasa dengan kesibukan di sekitarnya. Ia bahkan tidak terganggu, meski ia tidak memakai headset. Ia mengerjakan soal-soal di buku latihannya, belajar, membaca dan mencatat di sana sembari sesekali menoleh ke tempat Elsa duduk. Ia tidak pernah tahu, belajar di tempat seramai ini bisa semenyenangkan ini. Sejauh ini, Alfon sudah melakukannya dengan baik, kan? Ia tidak perlu sikap manis Elsa atau sapaan ramah cewek itu. Cukup dengan melihat cewek itu saja, ia sudah merasa lebih baik. Sejak ia berdebat tentang masalah Elsa dengan Aira beberapa minggu lalu, Alfon mendadak merasa kesulitan bernapas jika sehari saja tidak melihat Elsa. Ia akan terlalu sibuk bertanya-tanya di mana cewek itu, atau kenapa dia tidak datang ke sekolah, kenapa dia tidak datang ke kafe ini. Dan semua pikiran itu membuatnya mendadak sesak napas dan tidak nyaman. Karena itu, berada di sini, bisa melihat cewek itu dari jarak lima meter seperti ini, sudah sangat bagus bagi Alfon. Aira bahkan mengakui itu. *** Aira menghela napas berat. Ia baru selesai mandi ketika Alfon meneleponnya. Atau lebih tepatnya, Elsa yang menggunakan ponsel Alfon untuk meneleponnya, memintanya menjemput Alfon yang tertidur di kafe. Kali ini Aira tidak ragu lagi, Alfon benar-benar sudah sepenuhnya jatuh cinta pada Elsa. Dan bodohnya, tidak cukup dengan tidak mau mengaku, Alfon bahkan tidak menyadari perasaannya. Aira sendiri kini lebih banyak menghabiskan waktu menemani Alfon belajar di kafe alih-alih bersama Rey. Meski begitu, entah kenapa perasaannya pada Rey tak juga selesai. Kini, semakin ia berusaha menjauh dari Rey, ia justru semakin merindukan Rey. Yah, setidaknya setiap hari mereka masih bisa bertemu di sekolah, dan seharian Aira bisa berada di samping Rey kecuali untuk waktu istirahat. Sebenarnya Aira juga lelah terus berpura-pura seperti ini, tapi ia juga tidak ingin kehilangan sahabat seperti Rey. Untuk saat ini, tak apa jika ia menjauh. Nanti begitu perasaannya ini berakhir, segalanya akan kembali seperti semula. Rey akan menjadi sahabat terbaik Aira. Dengan pikiran positif itu, akhirnya Aira bersiap untuk menjemput Alfon. Namun mendadak, sebuah pertanyaan tentang Elsa melintas di kepalanya. Kenapa ia mau repot-repot menelepon Aira? Ia bisa saja berkata bahwa ia tidak bisa menghubungi siapa pun untuk menghubungi Alfon karena tidak punya nomor mereka dan membiarkan Alfon begitu saja. Tapi dia bahkan mencuri, tidak, meminjam, ponsel Alfon dan menelepon Aira. Dan lagi, apa yang dilakukan si bodoh itu? Sekarang dia bahkan tertidur di sana? Sebentar lagi ia mungkin akan membeli kafe itu dan pindah ke sana. *** Alfon membuka mata dengan malas ketika guncangan di bahunya semakin keras. Ia mengangkat kepala dan mengerutkan kening melihat Aira di depannya. “Lo ngapain di sini?” tanya Alfon seraya menatap sekeliling kafe, lalu menghentikan tatap di meja sudut kafe yang sudah kosong. Sontak ia menegakkan tubuh. “Elsa mana?” Ia menatap Aira dengan panik. Aira mendengus tak percaya sebagai jawaban. “Ai, gue serius. Elsa …” “Udah pulang, lah. Jam lima, tuh.” Aira menunjuk jam dinding kafe. “Ah …” gumam Alfon seraya mengangguk-angguk. Ia lalu meringis ke arah Aira. “Gue ketiduran,” akunya. Aira mendengus geli. “Gue tau.” “Tapi … lo ngapain di sini? Lo nggak bilang mau ke sini tadi,” Alfon menatap Aira bingung. “Ponsel lo mana?” tanya Aira. Alfon menunduk, mengerutkan kening ketika tak mendapati ponselnya di meja itu. Ia mulai mencari ponselnya di antara buku-buku. Akhirnya ia menemukan ponselnya di selipan salah satu buku dan mengangkatnya. “Tadi kayaknya gue taruh di meja,” gumam Alfon. “Untung sih, nggak ada yang bawa kabur,” sinis Aira. Alfon mengerutkan kening. “Please, deh, Ai. Cuma di kafe ini. Siapa coba yang bakal bawa kabur?” ucapnya geli. “Tapi tadi ada yang make ponsel lo, tuh.” Aira mengedikkan kepala ke arah ponsel Alfon. Alfon menatap ponselnya sejenak, lalu memeriksa fiture pesan dan catatan panggilan. Ia mengerutkan kening melihat catatan panggilan terakhirnya. “Gue nggak nelpon lo,” Alfon berkata. “Tapi kok …” “Bukan elo, tapi Elsa,” sela Aira tajam. “Elsa?” Alfon membeo. Aira mengangguk. “Dia nelpon gue, ngasih tau gue kalo lo ketiduran di sini dan nyuruh gue jemput lo. Jadi, dia juga yang nyimpen ponsel lo di situ tadi,” urainya. Alfon mendengus tak percaya. “Nggak mungkin …” “Jadi menurut lo, gue tiba-tiba dateng ke sini trus nemuin elo tidur di sini, gitu? Sori, Al, kita nggak lagi main sinetron,” sinis Aira. Alfon meringis. Jika memang Elsa yang menelepon Aira … tunggu! Kenapa Elsa repot-repot menelepon Aira? Dia bisa pergi begitu saja jika dia mau. Kenapa … “Dia juga titip pesan buat lo,” Aira berkata. Alfon menatap Aira, menunggu. “Dia minta gue bilang ke elo buat jangan ganggu dia lagi,” lanjut Aira. Alfon meringis mendengarnya. Rasa sakit yang aneh menyentuh dadanya. “Gue nggak ganggu dia, kok. Ini kan tempat umum, jadi kalo dia nggak suka ngeliat gue di sini, dia bisa pergi, kan?” Aira menarik napas dalam. “Tapi ini bukan sekedar tempat umum buat Elsa.” Ekspresi muram Aira itu mengusik Alfon. “Elsa … punya rahasia di tempat ini?” tanyanya antusias. Aira tersenyum getir. “Bukan cuma rahasia. Tapi juga kenangan.” Alfon tak pernah tahu itu. “Tadinya, gue nggak mau ngasih tau ini ke elo, tapi kayaknya lo udah nggak tertolong lagi,” ujar Aira. “Tapi setelah tau cerita ini, gimanapun perasaan lo ke Elsa, jangan buat dia ngerasa terganggu lagi. Kalo lo emang suka ama dia …” “Kita lagi ngomongin rahasia Elsa, bukan perasaan gue,” potong Alfon tajam. Aira mendesah berat. “Alasan kenapa Elsa bersikap sesombong itu sebenernya karena dia takut orang-orang tau tentang masalah keluarganya. Kakak cowoknya ama papanya selalu berantem sampai akhirnya kakaknya pergi dari rumah gara-gara papanya maksa dia buat jadi penerus di perusahaan keluarga. Bahkan kakaknya mau dijodohin juga demi urusan bisnis. “Pas temen-temen dekatnya Elsa tau, mereka ngomongin dan ngetawain Elsa di belakang. Elsa tau itu, tapi dia pura-pura nggak tau. Selama berita itu nggak nyebar ke murid-murid lain, nggak masalah. Tapi waktu kita kelas enam, pas sibuk-sibuknya persiapan UAN, temen-temennya ada yang bocorin cerita itu ke murid-murid lain, jadi satu sekolah pada tau kalo keluarganya Elsa itu ada masalah. “Waktu itu tinggal sebulan sebelum UAN dan gue liat Elsa down banget. Gue inget banget hari itu, Elsa sendirian di kantin sekolah yang udah tutup. Karena penasaran, gue ikut nungguin dia, deh. Tapi sampai jam tiga sore, dia belum pulang juga. Karena udah kecapekan, gue mutusin buat pulang duluan. Gara-gara ngikutin Elsa tuh, gue sampai bohong ke Mama ama ke Rey. “Pas gue keluar, gue kaget banget liat ada banyak orang pake stelan hitam kayak di film-film mafia gitu. Ada enam atau delapan orang gitu waktu itu, nunggu di gerbang. Pas gue keluar, mereka nanyain Elsa. Gue trus nawarin buat manggil Elsa. Pas gue bilang ke Elsa kalo dia udah dijemput, tiba-tiba dia nangis. “Dia minta tolong ama gue buat bawa dia kabur dari orang-orang itu. Karena kasian, gue temenin dia lewat pintu belakang. Dari sana, kita berdua jalan sampai ke kafe ini. Waktu itu kita kan masih SD, jadi duit kita nggak banyak, lah. Nggak cukup buat naik angkutan umum atau taksi. Lumayan jauh lho, jarak dari SD ke sini. Naik angkutan umum juga dua kali naik. Elsa udah nyuruh gue pulang aja pas di tengah jalan, tapi gue nggak tega ninggalin dia sendiri, jadi gue bilang kalo gue mau nemenin dia dan ntar pulangnya bareng dia juga. “Pas sampai di kafe, ternyata ada kakaknya Elsa. Kakaknya kerja di sini abis keluar dari rumah keluarganya. Elsa diantar-jemput ama body guard juga biar dia nggak ketemu ama kakaknya. Gue masih inget banget, waktu itu Elsa seneng banget. Tapi pas dia bilang kalo dia pengen tinggal ama kakaknya, kakaknya nyuruh dia pulang. Elsa nangis lama banget, sampai kakaknya akhirnya bilang kalo Elsa boleh ke kafe ini buat ketemu kakaknya, tapi dia tetep harus pulang. “Akhirnya kita berdua dianterin kakaknya Elsa. Elsa diantar ke sekolah lagi, dan gue dianter sampai rumah. Abis itu, besoknya, hampir tiap hari Elsa pergi ke sini, kecuali kalo hari libur. Kadang dia ngasih gue sesuatu, entah itu permen, es krim, gantungan kunci, atau apa pun. Dan gue mikir, dia nggak sesombong yang orang pikir. Dia bersikap kayak gitu cuma buat ngelindungi dirinya.” Alfon termenung mendengar cerita tentang Elsa. Pantas saja cewek itu marah padanya karena kata-katanya waktu itu. “Trus kakaknya sekarang di mana? Gue nggak pernah liat Elsa ketemu orang di sini.” Alfon menatap sekeliling kafe dengan penasaran. “Kakaknya meninggal seminggu abis perpisahan sekolah.” Kata-kata Aira seolah menusuk jantung Alfon. Alfon menatap Aira, tak ingin percaya. “Elsa sayang banget ama kakaknya, dan hari itu, kakaknya nggak dateng ke acara perpisahan sekolah. Elsa cerita ke gue kalo dia kecewa ama kakaknya. Trus gue ajak dia kabur ke sini dan nyari kakaknya pas acara udah mau selesai. Pas kita nyampai sini, kita baru tau, kakaknya bukannya nggak mau dateng, tapi nggak bisa. Kakaknya di rumah sakit, koma. “Jadi, kakaknya itu udah sakit parah pas dia kabur dari rumah. Dia nggak ngomong ke keluarganya kalo dia sakit. Pas gue ama Elsa ke rumah sakit, Elsa nangis. Sumpah, gue nggak tega ngeliatnya. Gue sampai ikutan nangis gara-gara dia.” Aira menarik napas dalam seraya mengusap ujung matanya. Alfon mengernyit menahan rasa sakitnya sendiri membayangkan betapa takutnya, sedihnya, sakitnya Elsa saat itu. “Selama seminggu, Elsa nungguin kakaknya di rumah sakit. Dan gue terakhir ketemu Elsa di hari kakaknya meninggal. Selama Elsa di rumah sakit, gue juga dateng ke sana ama Rey, bawain dia es krim, permen, coklat, dan makanan yang dia suka. Gue juga di sana pas kakaknya akhirnya pergi buat selamanya. Gue masih inget banget, waktu itu … Elsa …” Aira menghentikan ceritanya untuk menarik napas dalam dan menghapus air matanya yang mulai berjatuhan. “Dia nangis sambil manggil kakaknya terus. Itu terakhir kalinya gue liat dia, sampai kita masuk sekolah yang sama di SMA sekarang. Tapi seperti yang lo tau sekarang, dia jadi super dingin gitu. Mungkin dia jadi gitu juga buat ngelindungin dirinya sendiri. Apalagi sekarang dia udah nggak punya kakak yang dulu selalu jagain dia. Mungkin dia pikir, dia harus bisa jaga dirinya sendiri.” Alfon memalingkan wajah saat matanya yang mendadak buram. “Karena itu, tempat ini bukan sekedar tempat umum buat dia. Semua pegawai di kafe ini juga kenal dia. Yang punya kafe ini temen deket kakaknya. Karena itu, tempat ini, meja yang selalu dia pakai itu, punya makna yang berharga banget buat dia. Jadi, kalo lo dateng ke sini cuma buat ganggu dia, mending lo pergi, Al. Ini bukan tempat buat lo main-main kayak gini cuma karena lo penasaran ama Elsa,” ucap Aira. Alfon menatap Aira tak setuju. “Gue nggak main-main, dan gue sama sekali nggak berniat ganggu dia,” ia berkata. “Yah, yang tau perasaan lo kan cuma elo. Jadi, apa yang bakal lo lakuin setelah ini, terserah elo juga. Kalo lo emang care ama Elsa, lo bisa ngomong ke dia, minta dia buat izinin lo ada di samping dia. Tapi kalo lo cuma pengen ganggu dia …” “Gue bisa urus itu sendiri,” sela Alfon kesal. “Oke, gue percaya ama lo,” Aira mengalah. Selama beberapa saat, mereka berdua hanya saling diam. “Thanks, Ai,” ucap Alfon kemudan. “Buat?” “Buat cerita ke gue tentang ini, dan buat jadi orang yang udah nemenin dia di saat dia sendiri,” ucap Alfon tulus. Aira tersenyum. “Lo keliatan lebih dewasa kalo gini.” Aira mengacak rambut Alfon. Alfon mendesis kesal. “Jangan macem-macem ama gue kalo nggak mau Rey tau tentang perasaan lo,” ancamnya. “Oke,” Aira mengalah. “Tapi nggak pa-pa kalo Elsa tau perasaan lo ke dia?” “Perasaan apa?” galak Alfon. Aira mengedikkan bahu. “Mana gue tau perasaan lo,” balasnya usil sebelum bangkit dari duduknya dan berlari keluar dari kafe. Alfon mendesis kesal ke arah punggung cewek itu. Namun, kemudian ia tersenyum. “Makasih, Ai, udah jagain dia di saat gue nggak bisa.” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN