Last Chapter

1768 Kata
Last Chapter Believe me, I’m only looking at you You’ll always be the one that I hold   Sejak tiba di kelas lima menit lalu, senyum tak juga lenyap dari wajah Alfon. Aira bahkan sudah putus asa mengajaknya bicara. Entah apa yang sedang dia pikirkan hingga tak lagi mempedulikan Aira. Saat ini, Alfon benar-benar seperti i***t, duduk di sana seperti itu, menjungkitkan kursinya ke belakang sembari terus tersenyum. Bahkan sejak menjemput Aira tadi pagi, ia sudah tersenyum begitu lebar. Aira sempat berpikir ia salah makan atau mungkin kepalanya terbentur pintu rumahnya terlalu keras. Namun ketika mendengar Alfon ribut bertanya, “Ntar kalo Elsa dateng gue ngomong apa, Ai? Pagi, El. Gitu bagus, nggak? Kaku, ya? Hai, El. Ah, itu biasa. Hm … menurut lo, ntar gue gimana nyapa dianya?” Aira langsung tahu bahwa alasan Alfon bertingkah seperti i***t ini tak lain dan tak bukan adalah Elsa. Dia bahkan tak perlu menyebutkan nama cewek itu dan Aira langsung tahu. Saat ini, satu-satunya cewek yang menarik perhatian Alfon seperti ini hanyalah Elsa. Ketika akhirnya Elsa masuk ke kelas, Alfon nyaris terjungkal dari kursinya saat berusaha membenahi duduknya. Aira bahkan berbaik hati menahan tawa melihat itu. Namun, Alfon tampaknya tak sedikit pun peduli. Perhatiannya kini sepenuhnya terpusat pada Elsa yang berjalan ke arahnya dengan headset menyumpal telinga. Aira hanya tersenyum geli ketika tak satu pun sapaan berhasil diucapkan Alfon. Senyumnya bahkan kini lenyap, berganti ketegangan mengkhawatirkan. Ingin memberi waktu untuk mereka berdua, Aira meninggalkan kelas hingga hanya mereka berdua di sana. Alfon mengambil keputusan tepat untuk berangkat lebih pagi hari ini. *** “Elsa, gue …” Alfon langsung menghentikan kalimatnya ketika Elsa menoleh ke arahnya, lengkap dengan tatapan dinginnya. “Apa?” Bahkan suaranya terdengar begitu dingin. Alfon berusaha tersenyum. “Thanks,” ucapnya. “Aira bilang, kemaren elo yang nelpon dia pas gue …” “Jangan salah paham,” sela Elsa. “Gue cuma nggak mau lo ngerusak bisnis orang. Lagian, ngeliat elo di sana ngeganggu banget, sih. Makanya gue telpon temen lo buat mindahin lo dari sana.” Alfon meringis mendengar bagaimana Elsa membicarakannya, seolah ia hanyalah barang. Selama beberapa waktu berikutnya, mereka berdua saling diam. Sementara Elsa sudah sibuk mengerjakan soal-soal dari buku latihannya, Alfon memutar otak untuk memulai percakapan lain. Seolah kata-kata kejam Elsa sebelumnya belum cukup membungkamnya. Alfon melirik Elsa yang tampak begitu fokus. Sebelumnya, ia tak pernah memperhatikan Elsa seperti ini. Hanya saja belakangan ini … ia sepertinya tak bisa merasa cukup meski setiap hari ia menatap cewek itu seperti ini. Sepertinya memang ada yang salah dengan dirinya. “Lo ada masalah apa lagi sih, ama gue?” Elsa terdengar jengah. Alfon meringis. Tidak ada, selain ia mendapati dirinya kesulitan mengalihkan perhatian dari Elsa. “Bukannya kemaren kita udah impas, ya?” sengit Elsa. Alfon mengangguk cepat saat cewek itu menatapnya. “Masalahnya …” Alfon tidak melanjutkan kalimatnya karena tak tahu apa yang harus ia katakan pada cewek itu. Ia berusaha mengingat-ingat semua hal yang ia ingin tanyakan pada Elsa, apa makanan kesukaan cewek itu, minuman kesukaannya, kegiatan yang paling disukainya, tempat favoritnya … “Bisa nggak, tolong berhenti ganggu gue?” pinta cewek itu. Frustasi dan kekesalan tampak jelas di wajahnya. “Oke.” Jawaban itu begitu saja meluncur dari bibir Alfon. Ia hanya tidak suka melihat ekspresi itu di wajah Elsa. Menyadari dirinyalah yang membuat cewek itu merasa begitu terganggu, ia mulai membenci dirinya sendiri. Dan menit berikutnya mereka lewati dengan saling diam. Kali ini Alfon tidak mengamati Elsa, tapi tatapannya mengikuti jemari Elsa yang bergerak di atas buku soal-soal latihannya, mengetuk-ngetuk buku sementara ia menghitung atau memikirkan jawaban. Alfon bahkan sudah akrab dengan kebiasaan yang baru diketahuinya beberapa minggu terakhir. “Sori …” ucap Alfon tiba-tiba, bahkan mengejutkan dirinya sendiri. Ia bisa merasakan tatapan tajam Elsa kembali padanya. Ia hanya … yah, tadi ia hanya sedang memikirkan betapa sedihnya Elsa setelah kehilangan kakaknya. Dan sekarang ia tak tahu bagaimana harus menjelaskannya pada Elsa. “Tentang kakak lo … gue bener-bener …” “Aira bahkan nyeritain tentang itu ke elo?” Elsa mendengus tak percaya. “Dia punya alasan buat itu,” Alfon memberikan pembelaan. “Dia …” Elsa bahkan tak merasa perlu mendengarkan penjelasan Alfon dan sudah berdiri dari tempat duduknya, tergesa meninggalkan kelas. Dugaan Alfon, ia akan mencari Aira. Khawatir Aira akan terkena masalah dengan Elsa karenanya, Alfon mengikuti Elsa. Aira sedang duduk di bangku di sisi koridor dan segera berdiri menghadap mereka ketika melihat Elsa, dan Alfon yang mengikutinya di belakangnya. Ia melemparkan tatapan penasaran pada Elsa dan Alfon. Ketika Elsa berhenti di depannya, Aira mengerutkan kening bingung. “Kenapa, El?” Aira bertanya. “Sejauh mana lo ngasih tau Alfon tentang gue? Seberapa banyak lo kasih cerita masa lalu gue ke dia?” sembur Elsa tanpa basa-basi. Seketika tatapan tajam Aira melayang pada Alfon, yang hanya bisa mengangkat tangan mengakui kesalahan. “El, gue …” “Gue nggak tau seberapa penting rahasia yang lo tuker ke Alfon pake cerita masa lalu gue, tapi sekali lagi gue denger dia ngomongin masa lalu gue, gue sendiri yang bakal ngomong ke Rey kalo lo suka ama dia,” ucap Elsa sungguh-sungguh. Di depan Elsa, Aira tampak terkejut mendengar itu. Ia menatap Alfon dengan tatapan menuduh dan Alfon menggeleng. Sementara Elsa yang tampaknya tak berniat menjelaskan pada Aira tentang kesalahpahaman Aira, sudah berbalik dan hendak kembali ke kelasnya. Tak rela Elsa meninggalkannya dengan kesalahpahaman seperti itu, Alfon menjulurkan kakinya, berusaha menghentikan cewek itu. Namun tampaknya cewek itu tak melihat kaki Alfon dan akibatnya, ia malah tersandung kaki Alfon. Melihat Elsa nyaris terjungkal, Alfon dengan sigap menangkap lengan Elsa dan menariknya. Namun, ia menarik Elsa terlalu kuat hingga cewek itu terlempar ke pelukannya dengan cukup keras. Alfon bahkan belum sempat menegakkan tubuh ketika tiba-tiba cewek itu menoleh dan membuat bibir mereka bertabrakan. Alfon bisa merasakan keterkejutan Elsa sementara ia sendiri membeku di tempatnya karena insiden itu. Apa-apaan … *** Rey mencelos melihat apa yang terjadi di koridor di depan sana. Sekuat tenaga ia berlari ke tempat Aira dan menutup pandangan Aira dengan tangannya dari apa yang terjadi di hadapan cewek itu. Memikirkan betapa ini menyakiti Aira sudah cukup menyakiti Rey. Namun, sebelum Rey sempat bertanya apakah Aira baik-baik saja, keributan lain terjadi di depannya. Tiba-tiba Alfon berteriak kesakitan dan seketika itu juga pelukannya pada Elsa terlepas. Di hadapannya, Elsa tampak sangat marah. Ketika Alfon mengangkat satu kakinya, tahulah Rey barusan Elsa menginjak kaki Alfon dengan keras. Rey masih terlalu terkejut akan kemarahan Elsa hingga ia membiarkan Aira menarik tangannya turun. Rey menatap Alfon, lalu kembali menatap Elsa yang juga sudah menatapnya, tampak semarah sebelumnya. Apa lagi ini? Rey tidak melakukan apa pun selain tanpa sengaja melihat kejadian itu. Namun, cara Elsa menatapnya … “Gue nggak peduli permainan bodoh apa yang kalian mainin, tapi jangan pernah libatin gue lagi!” teriak cewek itu penuh kemarahan, sebelum akhirnya meninggalkan Rey, Aira dan Alfon di sana. Alfon menatap Elsa yang sudah menjauh dengan tatapan penuh sesal. “Dia … ngomong ke kita, Ai?” tanya Rey ragu. Aira menghela napas berat, lalu Rey bisa merasakan cewek itu mengangguk. “Kenapa …” Kalimat Rey terhenti ketika tiba-tiba Alfon ikut menatap ke arahnya, dan Aira, dengan marah dan berkata, “Ini gara-gara kalian!” teriaknya. Rey mengangkat alis. “Apa hubungannya ini ama gue dan Aira?” “Justru semua jadi kayak gini gara-gara kalian saling ngebohongin diri sendiri. Gue udah capek tau ngeliatnya. Elo Ai, mau sampai kapan lo ngebohongin diri lo sendiri? Bahkan sampai sekarang lo nggak bisa berhenti suka ama Rey, kan? Mau sampai kapan lo maksain diri dan bohongin perasaan lo sendiri? “Dan elo, Rey!” Alfon menatap Rey tajam kini. “Kalo lo emang suka ama Aira, jangan asal ngelepasin dia buat cowok lain. Kenapa? Lo juga takut kehilangan persahabatan kalian kalo dia tau perasaan lo? Bullshit, tau nggak? Kalian udah berantem seumur hidup kalian, jadi apa susahnya ngabisin beberapa puluh tahun lagi kayak gitu? Toh kalian sama-sama nggak bisa tenang kalo nggak ada satu sama lain. “Dan mulai sekarang, jangan pernah libatin gue ke masalah perasaan kalian lagi!” Alfon mendesis kesal ke arah Rey dan Aira sebelum meninggalkan mereka. Sementara itu, sepeninggal Alfon, baik Aira maupun Rey tak ada yang bergerak dari tempat masing-masing. Rey tidak tahu bagaimana Alfon tahu tentang perasaannya pada Aira, tapi jika apa yang dikatakan Alfon tentang perasaan Aira tadi benar, itu berarti … “Apa Alfon bener?” Rey mendengar Aira bertanya. “Lo …” “Dan lo sendiri gimana? Apa tadi Alfon juga ngomongin yang sebenernya tentang lo?” Rey balik bertanya. Selama beberapa saat tak ada jawaban. “Kalo itu bener, apa gue bakal kehilangan sahabat gue?” tanya Aira hati-hati. Rey menahan napas. Jadi, Aira benar-benar … menyukainya? Rey mendengus geli menyadari itu. “Dasar bodoh,” gumamnya. Mendengar itu, seketika Aira memutar tubuh dan menatap Rey kesal. “Gue serius, Rey. Ya, yang diomongin Alfon tadi emang bener. Gue sengaja ngejauh dari elo biar lo nggak tau kalo gue suka ama lo. Gue bohong ke elo waktu gue bilang gue suka ama Alfon. Gue udah berusaha buat suka ama Alfon biar gue bisa ngelupain perasaan gue ke elo, tapi hasilnya sia-sia.” Rey menatap mata Aira, tapi kemudian cewek itu memalingkan wajah. “Gue tau ini bodoh, tapi … apa gue harus kehilangan sahabat gue karena ini?” Rey bisa mendengar kecemasan dalam suara Aira. “Dasar bodoh,” Rey mendengus geli. Aira tampak akan protes lagi, tapi ketukan jari telunjuk Rey di keningnya mencegah protes cewek itu. “Apa yang Alfon bilang tentang perasaan gue tadi juga bener. Gue nggak tau dia tau dari mana tapi … ya, gue juga suka ama lo. Gue mulai suka ama elo pas kita masuk SMA. Dan sejak saat itu, karena gue khawatir lo bakal ngejauh dari gue, gue terus nyembunyiin perasaan gue,” Rey mengaku. Selama beberapa minggu terakhir, Rey seolah tak bisa bernapas. Namun ketika melihat Aira tersenyum di depannya kini, akhirnya ia bisa bernapas lagi. “Hal yang paling gue takutin di dunia, bahkan lebih dari hantu paling serem sekalipun, itu kehilangan sahabat kayak elo, Rey,” ucap Aira sungguh-sungguh. Rey tersenyum seraya mengacak rambut Aira lembut. “Kalo gitu, mulai sekarang kita bakal terus kayak gini, dan nggak ada satu pun dari kita yang bakal pergi. Mulai saat ini, kita bakal balik kayak dulu lagi, tapi kali ini, lo nggak bakal bisa pergi dari gue, Ai,” ucap Rey penuh janji. Aira tertawa kecil. “Aturan itu juga berlaku buat lo,” balasnya. “Deal,” sahut Rey setuju, mengakhiri permainan bodoh yang melelahkan itu. End   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN