Chapter 4

2417 Kata
Chapter 4 Mungkin aku harus meninggalkanmu Untuk menjagamu, dariku   “Nggak!” Yura menolak untuk kesekian kalinya. Ia tampak pucat ketakutan. Meskipun Dio tidak tega melihatnya seperti ini, ia harus. Membuat Yura menghadapi ketakutannya seperti ini juga membuat Dio khawatir. Namun ia tahu, Yura harus menghadapi ini. Gadis ini langsung menolak dan nyaris menangis ketika mereka memasuki jembatan tali di area outbond. “Nggak pa-pa, Ra,” Dio kembali berusaha menenangkan Yura. Cewek itu menggeleng keras. “Gue salah apa sih, Dio? Gue minta maaf deh, kalo gue bikin lo marah lagi, tapi nggak gini juga sih …” Yura mulai merengek. “Lo nggak salah, gue yang salah,” Dio membalas. Yura menggeleng. “Nggak, nggak,” cewek itu terus meracau. Dio menangkup wajah Yura, membuat cewek itu menatapnya. “Yura, dengerin gue,” ucapnya tegas. “Lo nggak mau kan, Aira terus-terusan ngejahilin lo gara-gara ini? Lo juga nggak mau kan, bikin yang lain cemas gara-gara ini?” Yura mengangguk. “Makanya, dengerin gue,” ucap Dio. “Lo harus percaya ama gue, oke?” “Always,” Yura mencebik. Dio tersenyum. “Gue nggak bakal biarin lo terluka, lo tau itu, kan?” Yura mengangguk, meski ia masih tampak ketakutan. Dio menghela napas berat. Ini juga sulit baginya. Melihat Yura ketakutan seperti ini, ia sama sekali tak suka. Namun, jika ia tak melakukan apa pun, suatu saat nanti, ketika ia tak bisa lagi menjaga cewek ini, Yura bisa saja terluka. Sebelum saat itu tiba, Dio harus memastikan bahwa Yura akan baik-baik saja, tanpanya. ***  “Dio …” Yura kembali merengek begitu ia berdiri di depan jembatan tali yang harus ia lewati. “Gue nggak bisa …” cewek itu mulai terisak. “Ini bahkan lebih parah daripada waktu di taman hiburan,” ungkap Aira. Dio yang menunggu di bawah dengan Rey dan yang lain, harus menahan diri untuk tidak menyusul Yura naik saat itu juga. Ia tahu ini sulit bagi Yura, tapi cewek itu harus bisa. Namun, tiga puluh menit sudah berlalu dan cewek itu masih belum juga melangkah ke jembatan tali di depannya. “Yo, kayaknya nggak mungkin deh, dia berani ngelewatin tali itu sendirian,” Rey terdengar cemas. “Iya, gue juga nggak tega liat dia nangis gitu,” Arisa berkata. “Pake cara lain coba. Nggak harus yang seekstrim ini juga, kan?” “Kalo kayak gini, bisa-bisa Yura bakal pingsan di sana,” cetus Ken. “Lo nggak pa-pa, kalo Yura sampai jatuh? Meski dia pake tali pengaman dan semuanya itu, tapi kalo dia jatuh, lo pikir dia bakal bisa ngehadapin ketakutannya ama ketinggian? Yang ada malah jadi lebih parah.” Dio mengepalkan tangan erat. Ini juga menyiksanya. Melihat Yura di atas sana, berusaha menghadapi ketakutannya sendirian, ini menyiksa Dio. “Dio …” Suara Yura bergetar saat ia menyebutkan nama Dio. Saat itulah, Dio menyerah. Saat itu juga, ia menyadari, betapa lemahnya ia. *** Melihat Yura menangis seperti ini, Dio benar-benar merasa bersalah, tapi Yura harus melewati ini. “Lo nggak bakal jatuh, Ra, percaya ama gue, hm?” pinta Dio. Yura menatap Dio ragu. “Tapi kalo gue jatuh …” “Gue bakal pegangin lo,” janji Dio. “Lo nggak perlu khawatir.” Meski masih tampak ragu, Yura mengangguk. Dio lalu mengambil langkah pertama meniti jembatan tali, setelah langkah keduanya, Dio berhenti dan berbalik. Ia mengulurkan tangan pada Yura. “Lo … nggak pa-pa?” tanya Yura cemas. Dio tersenyum geli. Bahkan di tengah ketakutannya, cewek itu masih sempat mencemaskan Dio. “Gue nggak pa-pa. Sekarang giliran lo,” Dio membalas. Yura menghapus air mata seraya mengangguk. Dengan sangat hati-hati, Yura memegang kedua tali di kanan-kirinya, lalu menapakkan satu kakinya di atas tali. Selama beberapa saat, Yura membeku di tempat. “Yura,” panggil Dio pelan. Yura menatap Dio. “Kalo gue jatuh …” “Nggak bakal,” potong Dio cepat. Yura menarik napas dalam, lalu melangkahkan kaki kirinya ke jembatan tali juga. Cewek itu terkesiap saat tali di bawahnya bergerak pelan. “Nggak pa-pa, Ra, gue di sini,” Dio berkata. Yura mengangguk. Tangannya mencengkeram tali di kanan-kirinya dengan sangat erat, membuat Dio khawatir cewek itu akan melukai tangannya bahkan meski cewek itu memakai sarung tangan. “Lo bisa jalan ke gue sekarang, satu langkah lagi biar gue bisa pegangin elo,” ucap Dio. “Jangan liat ke bawah,” ujar Dio cepat ketika Yura hendak menatap ke bawah. “Liat gue aja, oke? Jangan liat ke bawah.” Yura menarik napas dalam, lagi, dan akhirnya mengambil satu langkah, membuatnya berada dalam jangkauan Dio. “Kita jalan bareng dalam hitungan ketiga,” Dio berkata. Yura mengangguk. “Tapi … lo nggak pa-pa? Jalan ke belakang gitu … kalo lo jatuh …” “Gue nggak pa-pa, Ra. Lagian, kita udah pake tali pengaman, jadi meskipun kita jatuh, kita nggak bakal kenapa-napa,” Dio menenangkan Yura. Yura mencebik. “Kalo kita jatuh …” “Nggak bakal,” Dio memotong isakan Yura. “Jangan nangis, hm?” Dio mengulurkan tangan untuk menghapus air mata Yura. “Lo pegangan juga, dong! Ntar kalo lo jatuh …” “Nggak bakal,” potong Dio geli. “Hitungan ketiga, kita mulai, oke?” Dio memastikan. Yura mengangguk. Setelah Dio memulai aba-abanya, Yura memang mulai berjalan, tapi baru tiga langkah, ia tiba-tiba berhenti. Cewek itu sudah menatap ke bawah sebelum Dio sempat menahannya dan tubuhnya kaku seketika. “Jangan liat ke bawah, Ra. Liat gue!” Dio mengangkat dagu Yura. Air mata kembali memenuhi pelupuk mata Yura, membuat Dio semakin merasa bersalah. “Gue nggak bakal biarin lo jatuh,” Dio berkata untuk kesekian kalinya. “Lo cuma perlu jalan ke depan sambil liatin gue. Jangan liat yang lain, dan jangan khawatirin apa pun.” “Dio …” Yura terisak. “Gue takut …” Dio mendesah berat. Ia mencondongkan tubuh untuk memberikan pelukan singkat pada cewek itu. “Gue di sini, kan? Jangan takut lagi.” Dio memegangi lengan Yura. Yura mengangguk, lalu perlahan mulai menenangkan diri. Begitu Yura sudah kembali tenang, mereka kembali berjalan meniti jembatan tali. “Baru kali ini gue liat lo secengeng ini,” celetuk Dio. Yura memberengut. “Gara-gara elo,” ucapnya. Dio tersenyum. “Sori, ini juga buat elo,” akunya. Yura, meski masih ketakutan berada di atas jembatan tali, tersenyum juga. Senyum Yura lenyap saat jembatan tali bergoyang. Dio harus menahan umpatan ketika melihat Aira dan Rey melambai riang dari ujung jembatan. “Dikit lagi,” Dio berusaha menenangkan Yura. “Kita udah hampir sampai, Ra. Dikit lagi kita sampai. Abis ini, gue bakal beliin es krim kesukaan lo, sebanyak yang lo mau.” Yura mendengus pelan mendengarnya. Dio tak dapat menahan senyum melihat cewek itu mulai bisa menguasai diri dalam situasi ini. Meski masih ketakutan, ia tampak lebih tenang bahkan setelah serangan dadakan Aira. Akhirnya, mereka tiba di akhir jembatan. Dengan sigap, Dio menahan tubuh Yura yang limbung karena mendadak kehilangan kekuatan di kakinya. “Lo nggak pa-pa?” cemas Dio. Yura mendongak dan tersenyum pada Dio. “Gue masih nggak percaya gue abis ngelewatin jembatan sialan itu,” ucapnya. Dio tergelak mendengarnya. Meskipun ia sangat ketakutan, tapi Yura berusaha menghadapi ketakutannya. Padahal sedikit lagi saja Yura merengek bahwa dia tidak bisa, Dio mungkin akan menyerah. Namun cewek itu akhirnya mau melewati jembatan talinya dengan Dio. d**a Dio seolah mengembang karena bangga melihat usaha Yura. Yah, setidaknya ini cukup untuk membayar semua penyiksaan saat melihat ketakutan dan air mata Yura tanpa bisa menenangkan cewek itu tadi. *** “Kenapa? Mau pesen apa lagi?” tanya Dio begitu mengangkat telepon Aira. Dio mengerutkan kening ketika tak mendapat jawaban. Alih-alih jawaban Aira, ia justru mendengar suara Yura, “Tadi gue takut banget, tapi karena ada Dio, gue jadi nggak terlalu takut lagi. Trus tadi, gara-gara gue, dia sampai jalan mundur gitu. Itu kan serem. Udah gitu, dia cuma pegangan satu tali gara-gara pegangin gue. Trus tadi pas tiba-tiba jembatannya goyang, gue sempet freeze gitu. Gue pikir gue nggak bakal bisa lanjut lagi, tapi pas denger Dio ngomong kalo bentar lagi kita nyampe, gue langsung ngerasa tenang. “Saat itu gue mikir, gue nggak bakal bisa ngelewatin ini kalo nggak ada Dio. Bener kata lo, Ai. Gue nggak bakal bisa kalo nggak ada Dio,” Yura terdengar begitu tulus. “Tapi jangan bilang ini ya, ke Dio? Gue udah janji ama dia kalo gue nggak bakal ngerepotin dia lagi, soalnya. Ntar kalo dia tau, dia bakal ngomelin gue pasti.” Tangan Dio yang memegang ponsel seketika jatuh ke sisi tubuh, mencengkeram erat ponsel di tangannya. Ia melakukan ini bukan untuk membuat Yura berpikiran seperti itu. Ia ingin Yura bisa menjaga dirinya sendiri meski tanpanya. Namun, yang membuat Dio marah adalah, ia mendapati dirinya sempat merasa senang karena Yura membutuhkannya. *** “Pelan-pelan aja makannya,” Dio berkata seraya membersihkan es krim di sudut bibir Yura. Yura tersenyum. “Thanks.” Hanya itu yang dikatakannya. Dan hanya itu yang dirasakan Yura akan kehadiran Dio. “Jadi, besok kita ke rumahnya Yura?” tanya Arisa. Yura menggeleng. “Kalo kalian ada acara, nggak usah juga nggak pa-pa, kok. Kan udah ada Dio,” jawabnya. Arisa mengangguk. “Oke deh. Soalnya besok gue ama Ken mau bikin kue di rumah gue, buat nyokapnya Ken.” “Calon menantu yang baik,” celetuk Aira, membuat wajah Arisa memerah. “Yang sirik,” Ken membalas seraya merangkul Arisa. “Lo ama Rey rumah tinggal nyeberang aja, masih bisa sirik juga? Kenapa? Nyokapnya Rey nggak pernah nyariin lo?” Aira mendesis kesal. “Jangan salah. Nyokap gue kadang nggak inget kalo yang anaknya itu gue, bukan Aira,” timpal Rey. “Tiap pulang dari luar kota atau luar negeri, oleh-olehnya semua buat Aira.” “Itu berarti lo udah bikin nyokap lo kecewa, Bego.” Aira menjitak Rey. “Gue jamin, kalo kalian jadian, masalah bakal beres, deh,” ucap Ken, disambut desisan kesal Aira dan Rey. “Tapi nyokapnya Yura kok nggak ngomong apa-apa ya, ke kita?” Aira menatap Yura penasaran. “Maksud gue, nyokapnya kan, tau kalo Yura takut sendirian. Kenapa nggak minta kita nemenin Yura? Dulu kalo nyokapnya Yura ada acara ke mana gitu, biasanya kan, minta tolong ke kita-kita buat nemenin Yura.” “Eh?” Yura berusaha memasang ekspresi sedatar mungkin seraya memikirkan jawabannya. “Waktu itu, gue pikir bokap-nyokapnya lupa kalo Yura takut sendirian,” celetuk Dio. “Tapi pas kemaren gue ketemu nyokapnya pagi-pagi sebelum nyokapnya berangkat ke kafe, nyokapnya bilang makasih ke gue, karena udah nemenin Yura selama weekend sejak nyokapnya sibuk di kafe. Jadi, bukan nyokapnya yang lupa, tapi Yura yang nggak ngomong ke kita-kita sejak awal.” Aira menyipitkan mata berbahaya. “Nayura, lo …” “Tapi kan gue udah ngejelasin ke kalian,” Yura buru-buru menyebutkan alasannya. “Gue nggak mau ngerepotin kalian. Lagian, sekarang kan udah ada Dio. Besok juga dia bakal nemenin gue di rumah.” Arisa menatap Yura iba. “Kenapa sih, nyokap lo nggak nyewa orang aja buat nemenin lo di rumah?” “Waktu masih kecil, Yura hampir diculik ama baby sitter-nya. Abis itu, nyokapnya nggak pernah nyewa asisten rumah tangga,” beritahu Dio. “Tapi kan, Yura udah bukan anak kecil, Yo,” ucap Arisa. Dio mengedikkan bahu. “Lo mau nyoba nyulik dia? Gampang banget, kok.” Yura menatap Dio kesal. “Gue nggak sebego itu juga kali, Dio,” ia membela diri. “Waktu SMP lo nyasar dan hampir dibawa orang nggak dikenal, lo lupa?” sebut Dio. “Waktu itu, orang itu bilang kalo dia mau nganterin gue pulang,” sahut Yura. Dio tak membalas kata-kata Yura dan malah menatap Arisa dengan tatapan, “Bener, kan?” Arisa tersenyum geli saat menatap Yura. “Kayaknya lo bener-bener nggak bisa kalo nggak ada Dio, ya?” Yura memberengut, tapi tak bisa mengelak. “Iya, iya. Gue bakal mati kalo nggak ada Dio. Puas kalian?” kesalnya. Selain Dio, sahabat-sahabatnya itu tersenyum geli. Yura menatap Dio dan berkata, “Lo nggak usah khawatir. Suatu saat ntar, gue pasti bisa ngelakuin semuanya tanpa ngerepotin lo. Jadi, sampai gue bisa ngelakuin semuanya sendiri, lo jangan ke mana-mana, hm?” Selama beberapa saat, Dio tak menyahut. Lalu tiba-tiba, Dio mengulurkan tangan, menghapus noda es krim di wajah Yura dan berkata, “Kalo lo kayak gini, gimana gue bisa ngelepasin elo?” “Jangan dilepasin kalo gitu,” jawab Yura egois. Untuk saat ini saja, biarkan seperti ini. Karena saat ini, ia juga belum siap jika Dio melepaskannya. *** Yura melirik Dio yang berjalan di sampingnya. Setelah memaksa Yura meninggalkan buku yang sedang dibacanya, Dio menyeretnya menuju taman komplek perumahan. Sejak meninggalkan rumah Yura tadi, Dio tak lagi mengatakan apa pun. Ia tampak sibuk dengan pikirannya sendiri. “Gue pasti selalu bikin lo khawatir, ya?” tanya Yura kemudian. Dio menoleh, agaknya terkejut karena tiba-tiba Yura bertanya seperti itu. “Gue emang ceroboh dan selalu buat diri gue sendiri dalam masalah, tapi gue nggak pengen ngerepotin elo dan yang lain,” aku Yura. “Gue tau kalo lo pasti capek karena harus ngejagain gue yang super duper ceroboh ini. Tapi meski gue ngomong gini, gue takut kalo harus denger kata-kata kayak gini dari lo sendiri.” Dio menghentikan langkah. Yura menarik napas dalam, menguatkan hati, lalu mengambil tempat di depan Dio. Setenang mungkin, ia berdiri di hadapan Dio, menatap tepat di matanya. “Karena itu, lo nggak perlu khawatir. Gue udah pernah bilang kan, bakal ada saatnya di mana gue akhirnya bakal bisa sendiri tanpa ngerepotin elo. Selama dua minggu ke depan, lo mau bantuin gue, kan? Gue minta tolong ke elo bukan sebagai sahabat lo, tapi sebagai cewek lo. Jadi, apa pun yang gue lakuin ntar, kalo gue nggak minta tolong ke elo, lo nggak perlu bantuin gue. “Biasanya, sahabat gue selalu lari ke gue tiap kali gue dalam masalah. Tapi karena lo cowok gue, lo bisa kan, bantu gue? Selama dua minggu ini, gue bakal belajar jadi cewek mandiri yang nggak perlu bikin cowok atau sahabatnya khawatir. Lo bisa kan, bantu cewek lo ini?” ungkap Yura. Selama beberapa saat Dio tak memberikan jawaban. “Dio, please?” Yura meminta. “Oke,” jawab Dio pendek. “Itu aja?” kaget Yura. Dio sampai berpikir lama hanya untuk satu jawaban itu? Dio tersenyum kecil, tapi ia mengangguk. Tanpa mengatakan apa pun lagi, ia melewati Yura, mendahuluinya. Yura mengerutkan kening ketika merasakan sensasi aneh di dadanya saat melihat punggung Dio yang menjauh. Ia tidak tahu kenapa mendadak ia merasa seperti ini, tapi … ini bukan perasaan yang menyenangkan. ***   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN