Chapter 5
Will you be alright? Even if I’m not by your side
You get lonely so easily, so even if you’re alone
Will you be alright? Without a person to argue with
Without a person to joke around and laugh with
If it’s okay with you
(Beast – Will You Be Alright?)
Selama dua minggu terakhir, Dio melakukan apa yang diminta Yura. Meskipun ia harus mengepalkan tangan demi menutup mata dari semua kecerobohan Yura, ia melakukannya. Dio sadar, meskipun Yura terjatuh, meskipun cewek itu terluka, tak pernah sekalipun ia mengeluh. Dibandingkan dengan saat mereka SMP, Yura sudah tidak menangis sesering dulu.
Bahkan, ia sudah menunjukkan pada Dio bahwa ia sudah tidak terlalu takut lagi menaiki tangga. Ia juga sudah membuktikan pada Dio bahwa dia baik-baik saja dengan kesendiriannya di rumah. Namun dengan bodohnya, hari Minggu kemarin Dio seharian menunggu cewek itu di depan rumahnya, menunggu cewek itu memanggilnya, tapi Yura tidak melakukannya.
Yura benar-benar melakukan apa yang dikatakannya. Namun entah kenapa, itu justru membuat Dio semakin khawatir. Karena ia tak bisa membantu cewek itu, tak bisa mengatakan bahwa ia khawatir akan cewek itu, tak bisa berada di sisinya untuk menjaganya, itu membuatnya khawatir. Namun ia tahu, sama seperti Yura yang mulai terbiasa tanpanya, ia juga harus seperti itu.
Bahkan kali ini, untuk terakhir kali, ia akan membantu Yura. Ia akan membuat Yura tak lagi membutuhkannya. Dengan begitu, mungkin akhirnya Dio bisa berhenti mengkhawatirkan cewek itu. Karena ia merasa, kekhawatirannya pada Yura ini mulai menakutkan. Dio takut, dialah yang akhirnya tak akan bisa melepaskan Yura.
***
“Gue emang udah nggak terlalu takut sih, kalo disuruh naik tangga sendiri, gue juga udah nggak pa-pa kalo naik ke lantai dua sekolah. Tapi kalo …”
“Kita nggak bakal naik itu lagi,” Dio memotong kekhawatiran Yura tentang wahana yang membuatnya menangis dan muntah-muntah saat terakhir mereka ke taman hiburan. Kali ini mereka bahkan datang kemari tanpa Aira, Rey, Ken dan Arisa.
Seketika, cewek itu tersenyum lebar. “Oke,” ucapnya riang.
Dio membalas senyum cewek itu. Mungkin ini juga saat-saat terakhir ia bisa membalas senyuman itu.
Dio lalu membawa Yura di depan ferris wheel. Dio menahan tangannya untuk tidak menggenggam tangan Yura saat cewek itu tanpa sadar memeluk lengannya, begitu erat. Dio menoleh dan mendapati raut cemas di wajah cewek itu. Meski begitu, saat Yura menyadari bahwa Dio sedang menatapnya, cewek itu langsung tersenyum.
“Kita … naik ini?” tanya Yura.
Dio mengangguk.
“Oke,” Yura kembali berkata. Ia berdehem, pegangannya di lengan Dio semakin erat.
Biasanya, Dio akan mengusap lembut kepala Yura untuk menenangkan cewek itu. Tapi jika ia melakukannya lagi kali ini, ia mungkin tidak akan bisa berhenti.
***
“Lo nggak harus ngeliat gue, Ra,” ucap Dio geli ketika Yura memfokuskan tatapan pada Dio.
Yura menggeleng. “Nggak pa-pa. It makes me feel better.”
Dio mencelos. Cewek ini … masih belum melepaskannya.
“Kalo lo liat ke bawah, lo nggak bakal nyesel,” Dio berusaha membujuk Yura. “Dan gue janji, lo bakal baik-baik aja.”
Yura merengut protes. Dio tersenyum seraya mengulurkan tangan. Yura mendesah berat sebelum memutuskan untuk berpegangan pada Dio. Cewek itu menarik napas dalam sebelum akhirnya menoleh ke samping, kembali menarik napas dalam, lalu perlahan menatap ke bawah. Genggaman tangan Yura semakin erat saat cewek itu menatap ke bawah. Dio bisa merasakan ketakutan cewek itu.
“Nggak sehoror yang lo pikir, kan?” Dio berkata. “Beautiful, isn’t it?”
Yura tampaknya mulai menikmati suguhan pemandangan indah di bawah sana tak lama kemudian. Cewek itu perlahan melepaskan tangan Dio untuk bergerak mendekat ke jendela box.
“Wah …” gumam cewek itu penuh kekaguman. “Jadi gini pemandangannya dari atas sini?” Yura menempelkan tangan di jendela. “Kalo kita bisa liat-liat dari atas naik ini, kenapa kemaren Aira ngajakin gue naik wahana sesat itu?” cewek itu bahkan mulai mengomel. “Aira bener-bener ngajak berantem,” geramnya.
Dio berusaha tersenyum melihat bagaimana Yura akhirnya menikmati keberadaanya di atas sini. Cewek ini … akhirnya melepaskan Dio. Mengabaikan rasa sakit aneh di dadanya, Dio mengikuti arah tatapan Yura. Seharusnya Dio lega karena Yura akhirnya bisa melepaskan Dio. Namun, senyum yang muncul di bibirnya hanyalah senyum pahit.
***
Dio membeku di tempat ketika tiba-tiba Yura memeluknya.
“Thanks, Dio,” ucap cewek itu tulus. Ia tersenyum riang ke arah Dio begitu melepaskan pelukan.
Dio berusaha membalas senyum Yura meski bibirnya terasa kaku.
Reaksi Dio itu membuat Yura mengerutkan kening. Cewek itu menelengkan kepala. “Lo kenapa?” tanyanya.
Dio menggeleng. “Lo masuk, gih,” ucapnya seraya mengedikkan kepala ke arah rumah Yura.
Yura tersenyum. Ia melambaikan tangan. “Bye. Sampai ketemu besok,” ucapnya riang.
Dio mengangguk. Sungguh, ia tidak ingin ini berakhir. Ia ingin bisa terus menatap Yura, melihat senyumnya, mendengar suaranya seperti ini, tapi …
“Yura,” Dio memanggil Yura saat cewek itu sudah berbalik. Ketika Yura hendak berbalik, Dio menahan bahunya. Ia tidak akan sanggup mengatakan apa yang harus ia katakan jika menatap wajah Yura.
“Dio … kenapa?” Yura terdengar bingung.
“Hari ini hari terakhir dare lo ama Aira,” Dio menyebutkan.
“Ah, iya,” balas cewek itu. Ia mendengus geli. “Bagus deh kalo udah kelar. Jadi, besok lo udah jadi sahabat gue lagi, kan?”
Dio mengernyit. Ia juga tak terlalu suka mendengarnya, tapi itu toh tidak penting lagi.
“Lo bilang, lo nggak bakal ngerepotin gue lagi, kan?” Dio berkata.
Dio merasakan tubuh Yura menegang. Namun kemudian, cewek itu menyahut, “Hm …”
“Lo bisa mulai itu besok,” lanjut Dio. “Mulai besok, lo harus bisa ngelakuin semuanya sendiri, tanpa ngerepotin gue. Mulai besok, jangan nyari gue kalo lo butuh apa-apa, sesuai janji lo.”
Dio mengernyit ketika dadanya terasa sakit hanya karena gumaman pelan Yura,
“Hm.”
Rasa sakit kembali menusuk dadanya saat Yura melepaskan diri dari pegangannya dan tanpa menoleh ke belakang, cewek itu pergi. Begitulah, Dio memilih jalan untuk menyakiti diri sendiri.
***
“Lo tadi naik apa, Ra? Kok nggak bareng Dio?” berondong Aira saat Yura akhirnya tiba di kelasnya pagi itu.
Dio melirik Yura yang menjatuhkan ransel di mejanya. Tadi pagi saat Dio menjemputnya, Yura berkata akan pergi ke sekolah dengan mamanya. Mengingat kemarin dialah yang memulai ini, Dio tak punya pilihan lain selain berangkat lebih dulu tanpa bertanya lagi.
“Bareng Nyokap,” sahut Yura santai.
“Kenapa nggak bareng Dio?” tuntut Aira.
“Kenapa harus bareng Dio?” balas Yura.
Tidak hanya Aira, kini Rey, Ken dan Arisa juga ikut menatap Yura dan Dio bergantian, tampak penasaran.
“Kalian berantem?” tanya Arisa hati-hati.
“Ngapain kita berantem?” Yura menanggapi dengan santai.
Aira menyipitkan mata curiga. “Kalian … putus?”
Kali ini Dio angkat bicara. “Bukan putus, tapi dare lo udah kelar, kan?”
“Dan kalian putus gara-gara itu?” Aira melotot tak percaya.
“Kita dulu juga jadian gara-gara itu,” ucap Dio sesantai mungkin.
“Wow,” gumam Aira penuh sarkasme. “Bahkan meskipun gue bilang itu cuma dare, tapi … kalian bener-bener putus?”
“Menurut lo?” Yura masih sesantai sebelumnya.
Aira menatap Yura tak percaya, begitu pun dengan Rey dan yang lain.
“Gue mau ke kantin, mau beli minum. Ada yang titip?” Yura bangkit dari duduknya.
Aira dan yang lain tampaknya masih terlalu terkejut karena sikap Yura hingga mereka tak memberikan jawaban lain selain gelengan. Yura bahkan tak mau repot-repot menatap Dio.
“Ya udah, gue ke kantin dulu kalo gitu,” pamit Yura sebelum meninggalkan Dio dan yang lain.
Dio reflek berdiri ketika Yura menabrak seseorang di pintu kelas dan nyaris saja terjatuh jika orang yang ditabraknya tidak memeganginya. Sialnya, orang itu adalah Alfon.
“Lo nggak pa-pa?” Alfon bertanya. Kecemasannya terdengar tulus.
Yura menggeleng, lalu meninggalkan kelas. Entah kenapa, mendadak Dio merasa tak nyaman ketika Alfon menatapnya, seolah menyalahkannya. Dio bahkan tidak melakukan apa pun. Menghindari tatapan Alfon, Dio kembali duduk. Setidaknya dengan begini ia tidak akan berlari menyusul Yura karena khawatir cewek itu akan terlibat masalah lagi karena kecerobohannya.
“Lo berantem ama Yura, kan?” tuduh Aira.
Dio menggeleng. “Kalo lo mau nyalahin seseorang, lo bisa nyalahin diri lo sendiri, Ai. Elo kan, yang mulai semua ini?” sinis Dio.
“Tapi lo nggak pa-pa ngebiarin Yura sendirian gitu? Kalo dia jatuh di koridor atau …”
“Nggak usah khawatir,” tiba-tiba Alfon menyela.
Selain Dio, Aira dan yang lain menoleh ke arah Alfon.
“Mulai sekarang, biar gue yang jagain Yura. Selama dia nggak deket-deket ama lo, kayaknya dia bakal baik-baik aja,” Alfon berkata.
Dio bahkan tak perlu menoleh untuk tahu pada siapa kata-kata itu ditujukan. Namun bahkan meskipun ia masih tidak rela jika Alfonlah yang akan berdiri di samping Yura setelah ini, tak ada yang bisa ia lakukan. Neraka ini, ia yang menciptakannya sendiri.
“Lo nggak pa-pa?” Dio bahkan tak bisa memberikan jawaban untuk pertanyaan takjub Ken padanya.
***
Dio mengerutkan kening ketika tak melihat Yura bersama Aira dan Rey saat jam istirahat. Dio harus menahan diri untuk tidak bertanya lebih dulu dan dalam hati berterima kasih pada Arisa saat cewek itu menanyakan Yura,
“Yuranya mana?”
“Di UKS. Tadi pas olahraga jatuh. Tangan ama kakinya sampai berdarah,” jawab Aira.
Jawaban santai Aira itu membuat Dio tak bisa menahan diri. “Trus ngapain kalian di sini dan bukannya nemenin dia?!” Dio baru menyadari bahwa ia barusan berteriak ketika murid-murid lain di kantin kini menatapnya.
Aira menatap Dio. “Kenapa? Sepanjang minggu bersikap sok nggak peduli, sekarang lo teriak-teriak ke gue ama Rey gara-gara ninggalin Yura sendirian?” Aira mendengus. “Wake up, Boy! Elo yang ninggalin dia!”
Berdebat dengan Aira hanya akan membuang-buang waktunya. Dio bangkit dari bangku kantin dan berlari ke UKS. Memang, selama seminggu terakhir, Dio harus mati-matian menahan diri untuk tidak bertanya apa pun tentang Yura. Namun, ini sudah keterlaluan. Bahkan meskipun Dio tidak bisa berada di samping cewek itu, bukankah seharusnya Aira dan Rey tetap mendampingi Yura? Mereka tahu betapa cerobohnya Yura, bagaimana bisa …
Langkah Dio terhenti di depan pintu UKS yang terbuka. Rasa sakit yang menyengat mendarat di dadanya tatkala melihat Yura menunduk menatap lututnya yang berdarah. Sikunya yang terluka tampaknya sudah diobati. Sementara di depan Yura, Alfon sibuk mengobati lutut Yura.
Dio mengepalkan tangan. Tidak, ia tidak bisa masuk sekarang. Ini lebih baik. Setidaknya, ada Alfon di samping Yura. Toh selama seminggu terakhir ini juga Dio melihat Yura semakin dekat dengan Alfon. Ya, itu lebih baik. Namun … kenapa rasanya sesakit ini?
Dio menarik diri dan bersandar di dinding koridor saat Alfon menoleh ke arahnya. Namun, tampaknya Alfon sempat melihatnya, karena kemudian Dio mendengar Alfon bertanya pada Yura,
“Dio ke mana? Kenapa dia nggak ke sini? Aira ama Rey ninggalin lo di sini buat ngasih tau ke Dio kalo lo di sini, kan?”
Dio tahu Yura tak lagi membutuhkannya saat cewek itu menjawab,
“Apa pun yang terjadi ama gue, dia nggak bakal dateng. Nggak akan pernah lagi.”
Meski langkahnya terasa berat, Dio menyeret langkah meninggalkan tempat itu, meninggalkan Yura.
***
“Ra,” panggil Alfon pelan.
“Hm?” sahut Yura sembari masih menunduk menatap luka di lututnya yang sudah tertutup plester.
“Lo nggak pa-pa?” tanya Alfon hati-hati.
Yura menggigit bibir. Sakit. Yura menunduk semakin dalam saat tak sanggup lagi menahan air mata.
“Kaki gue … sakit,” ucap Yura di tengah isak tangisnya. “Ini sakit banget …”
Akhirnya, Yura menumpahkan air mata yang sudah ditahannya selama seminggu terakhir. Setidaknya, ia kini punya alasan untuk itu.
Yura bahkan tak tahu hidup siapa yang ia jalani selama seminggu terakhir. Ia merasa ia tidak menjadi dirinya sendiri. Ia merasa bodoh. Mungkin karena inilah Dio muak padanya. Mungkin karena inilah, Dio tak ingin lagi melihatnya. Bodohnya, Yura bahkan tidak memanfaatkan kesempatan terakhir mereka bersama untuk menatap wajah Dio.
Saat itu, Yura hanya khawatir, jika ia melihat wajah Dio, ia tidak akan sanggup pergi seperti janjinya. Bahkan hingga saat ini, ia tak yakin apakah ia sudah pergi ke arah yang benar. Yang ia tahu, ia memang tidak bisa tanpa Dio. Betapa pun ia berusaha, tanpa Dio, ia bukan apa-apa.
***
“Gue pikir, lo ngejauh dari Dio karena udah selesai,” ucap Alfon tiba-tiba.
Yura menatap Alfon kesal. “Jangan ngomongin Dio mulu lah, Al,” keluhnya. “Weekend nih, kasih libur, lah.”
Alfon tersenyum geli. “Oke, oke,” ia mengalah. “Mau makan apa nih kita?”
Yura membaca buku menu dan menyebutkan pilihannya. Biasanya ia hanya langsung memesan, tapi kali ini ia mendadak ingin memakan sesuatu yang baru. Selain es krim, tentu saja. Ia tidak perlu mengingatkan dirinya pada hal yang bahkan tak bisa ia lupakan sepanjang hari, sepanjang minggu, dan mungkin, sepanjang tahun.
Sementara Alfon memesan, Yura memainkan buku menu di meja. Sejak Yura menangis di depan Alfon di UKS hari itu, Yura tidak bisa melepaskan pengawasannya dari Alfon, khawatir Alfon akan menyebutkan tentang itu pada murid-murid lainnya, terutama Dio dan yang lain. Bahkan meskipun Alfon terus menyebut-nyebut Dio untuk menggodanya dan membuatnya kesal, ia tidak bisa berbuat apa-apa.
Namun, berkat Alfon juga, akhirnya Yura menyadari satu hal. Ia tahu ini bukan hal yang baik, tapi akhirnya ia menyadari bahwa ia menyukai Dio. Awalnya, ia mengelak ketika Alfon menyebutkan itu, tapi semakin jauh ia mendengarkan penjelasan Alfon tentang perasaannya, tentang bagaimana sedihnya ketika Dio memintanya menjauh, tentang bagaimana sakitnya ketika Dio tidak lagi ada di sisinya, tentang bagaimana ia merindukan Dio karena semakin jauh darinya, akhirnya Yura tak bisa mengelak lagi. Ia bahkan tidak tahu sejak kapan ia menyukai Dio. Mungkin sejak awal? Tidak. Mungkin sejak Dio menemani Yura melewati jembatan tali.
Alfon bahkan menggunakan perasaan Yura untuk memaksa Yura pergi dengannya weekend ini jika tidak ingin Dio tahu tentang itu. Dio pasti akan semakin menjauh dari Yura, atau bahkan tak ingin melihat Yura lagi, jika sampai dia tahu. Maka, di sinilah Yura sekarang. Setelah menemani Alfon berjalan-jalan sejak pagi, Yura kelaparan dan Alfon membawanya ke kafe yang kebetulan adalah kafe yang sering dikunjungi Yura dan teman-temannya.
Setelah memastikan tidak ada Aira dan yang lain, barulah Yura mau masuk ke kafe ini tadi. Butuh lima menit bagi Yura untuk meyakinkan diri bahwa ia tidak akan bertemu teman-temannya itu di kafe ini. Lagipula, jika mereka memang keluar, mereka pasti menghubungi Yura dan mengajaknya. Namun, karena Aira sama sekali tak menghubunginya, itu berarti …
“Yura?” Suara yang dikenalnya sebagai suara Aira membuat Yura terlonjak kaget hingga melemparkan buku menu di tangannya.
“Thanks,” Yura berkata pada pengunjung kafe yang berdiri di sampingnya, yang menangkap buku menu untuknya. Namun, ketika Yura mendongak dan melihat bahwa orang yang berdiri di sampingnya adalah Dio, ia membeku seketika. Yura segera tersadar ketika mendengar suara Alfon yang kembali ke meja mereka,
“Kalian di sini juga? Yura nelpon kalian?”
Seketika Yura menoleh untuk menatap Alfon tajam. Datang ke sini adalah rencana Alfon.
“Nggak, kok,” Aira menjawab. “Kebetulan banget ya, kita ketemu di sini?”
Alfon mengangguk. “Mau gabung?” ia menawari mereka.
Yura mengeluh dalam hati ketika Aira bahkan tak perlu berpikir untuk menyetujui tawaran Alfon. Yura melotot pada Alfon yang berpindah ke sampingnya.
“Duh Ra, gitu amat ngeliatinnya. Kita di sini, nih. Jangan mentang-mentang lagi jalan sama Alfon trus kita dikacangin dong,” celetuk Aira, mengalihkan tatapan Yura dari Alfon.
“Apaan, sih,” tukas Yura. “Gue nggak …”
“Lagian, lo udah tau kita di sini bakal gangguin mereka, ngapain lo malah duduk di sini?” Ucapan sinis Dio pada Aira menghentikan bantahan Yura.
Aira mengabaikan Dio dan kini menatap Alfon dan Yura. “Mumpung kita udah di sini, PJ, dong!” serunya riang.
Yura menatap Alfon dengan panik. Namun, sebelum ia sempat mengatakan apa pun, Alfon sudah menjawab,
“Oke.”
Alfon bahkan tiba-tiba meraih tangan Yura dan menggenggamnya.
“Kalian ini apa-apaan, sih?” Akhirnya Yura tak bisa tinggal diam juga. Ia menatap Aira dan Alfon bergantian. Entah bagaimana, ia merasa pertemuan mereka ini bukan kebetulan. Aira tidak mungkin pergi ke kafe ini tanpa menelepon Yura. Apalagi ini weekend dan dia tahu Yura akan di rumah sendirian.
“Kenapa sih, Ra? Lo marah karena kita ganggu kencan lo?” Aira menatap Yura.
Kencan? Oh, dan tadi ia juga menyebutkan PJ. Apa yang sebenarnya …
“Lo sama sekali nggak ngerti?” Suara dingin Dio membuat Yura menoleh ke arahnya. Dio mendengus kasar. “Mereka pikir lucu aja kalo mantan pacar lo di sini, ngeliat lo jalan ama cowok baru lo.”
Kalimat dingin Dio lebih dari cukup untuk menyadarkan Yura. Saat ini, Dio pasti benar-benar membencinya. Membuatnya terlibat dalam masalah bodoh seperti ini, Dio pasti sangat marah padanya.
“Sori, gue sama sekali nggak tau. Gue … sori kalo gue ganggu lo lagi padahal gue udah janji kalo gue nggak bakal bikin lo repot. Tapi gue …”
“Dan lo ngerti apa yang paling bikin gue terganggu ama lo?” sela Dio tajam.
Yura menelan ludah, tak sanggup bicara. Tenggorokannya seolah terekat erat.
“Ini. Lo terlalu bodoh sampai-sampai orang ngelakuin hal bodoh kayak gini ke elo.” Setelah mengatakan itu, Dio meninggalkan mereka.
Yura membeku. Kata-kata Dio masih terdengar jelas di telinganya.
“Ra …” Samar ia mendengar seseorang memanggilnya, entah itu Alfon, Aira, atau siapa, Yura tak yakin.
“Gue tau gue emang bodoh. Tapi bisa nggak, jangan buat gue keliatan lebih bodoh lagi di hadapan Dio?” pinta Yura sungguh-sungguh. “Sampai sejauh mana lagi sih, kalian pengen bikin Dio muak ama gue?”
Yura berusaha menahan air mata, tapi pada akhirnya, air matanya jatuh juga. Beruntun ia mendengar pertanyaan yang sama dari beberapa orang, apakah ia baik-baik saja?
Yura berusaha tersenyum seraya menghapus air mata. “Mata gue kemasukan debu,” Yura beralasan. Namun, berapa kali pun ia menghapusnya, air matanya terus saja mengalir tanpa sanggup ia hentikan. Ini benar-benar sakit.
***