Last Chapter

1696 Kata
Last Chapter Jangan melihat yang lainnya Karena aku tak bisa melihat yang lain selain kau   “Kenapa? Mau ngomelin gue gara-gara masalah kemaren?” sengit Dio ketika Aira dan yang lain langsung mengepung tempat duduknya saat ia baru tiba di kelas. “Jujur deh, Yo, lo suka kan, ama Yura?” tembak Aira tanpa basa-basi. Dio kontan melotot geram ke arah Aira. “Jangan ngomong sembarangan!” “Kalo emang enggak, kenapa kemaren lo kayak gitu?” lanjut Aira. “Emangnya kenapa kalo mantannya Yura ngeliat dia jalan sama cowok barunya? Meskipun elo mantannya, kalian kan jadian gara-gara dare gue. Kalo lo sampai marah kayak kemaren, itu berarti, lo jadian ama Yura bukan lagi gara-gara dare, tapi karena lo suka beneran kan, ama dia?” “Terserah deh, lo mau ngomong apa,” ketus Dio seraya bangkit dari duduknya. “Kemaren Yura nangis gara-gara kata-kata lo,” Ken berkata, menghentikan Dio yang sudah hendak meninggalkan bangkunya. “Tapi menurut gue, betapa pun sakitnya perasaan Yura gara-gara kata-kata lo, sekarang lo pasti ngerasa jauh lebih sakit, kan? Atau senggaknya, lo mikir gitu. Meskipun lo nggak tau kalo mungkin Yura bahkan ngerasa lebih sakit dari lo.” Meskipun memang itu yang Dio rasakan, ia ingin mendebat, tapi sebelum ia sempat mendebat, Rey sudah menambahkan, “Lo ngerasa sakit gara-gara ngeliat Yura sakit.” “Dan lo nyebut Yura bodoh?” dengus Arisa tak percaya. Dio menatap Arisa geram. Bahkan cewek itu juga … “It’ll kill you,” Ken kembali berkata. “I’ve told you, right? Jangan ngelepasin dia kalo lo nggak bisa.” “Terserah deh, kalian mau ngomong apa,” ketus Dio sebelum akhirnya benar-benar meninggalkan teman-temannya. Ia sama sekali tidak butuh tambahan siksaan rasa sakit dari teman-temannya. Sudah cukup semua rasa sakit yang ia rasakan selama ini. Ia juga tahu, dengan amat sangat baik, apa yang dikatakan Ken. Namun, jika ia tidak melepaskanYura sekarang, ia khawatir tidak akan pernah bisa melepaskan cewek itu. Dan saat itu nanti, Dio mungkin akan benar-benar mati jika Yura memutuskan untuk pergi. *** Dio berusaha untuk tetap tenang ketika Yura belum juga bergabung dengan mereka di kantin. Kali ini bahkan Arisa ataupun Ken tidak mau membantunya menanyakan di mana Yura dan kenapa ia belum bergabung dengan mereka. “Tanya aja sih, kalo penasaran,” celetuk Aira. Dio melemparkan tatapan sengit ke arah Aira sebagai balasan. “Yah, abis lo ngomong kayak kemaren ke dia, lo pikir dia mau ngumpul bareng kita lagi kalo ada elo?” sinis Aira. Dio melengos, berusaha menunjukkan bahwa ia tak peduli, meski selama beberapa saat setelahnya, ia tak bisa berhenti memikirkan Yura. Apakah cewek itu bersama Alfon? Apakah dia baik-baik saja? Apakah dia membuat kakinya memar karena menabrak meja atau kursi lagi? Apakah dia … “Oh, jadi elo cewek yang udah selingkuh dari Kak Dio?” Suara melengking yang membawa-bawa namanya itu menarik perhatian Dio. Ia menoleh ke sumber keributan, di ujung koridor menuju kantin. Di sana, dilihatnya seorang murid perempuan kelas satu, atau kelas dua, dengan rambut keriting sebahu, berteriak pada seorang murid perempuan lain yang … tak lain adalah Yura. Kontan Dio bangkit dari duduknya, tapi ketika melihat Alfon di sebelah Yura, Dio urung menghampiri cewek itu. “Sori, maksud lo apa, ya?” Yura tampak bingung. Murid berambut keriting itu mendengus kasar. “Nggak usah sok polos, deh! Keliatannya aja cewek baik-baik, tapi ternyata … player juga,” ucap anak itu dengan nada merendahkan. Dio mengepalkan tangan geram ketika Alfon bahkan tak berusaha melakukan apa pun. Jika dia memang tidak ingin menjelaskan yang sebenarnya, setidaknya ia bisa membawa Yura pergi dari sana, kan? Apalagi kini murid-murid lain mulai mengerumuni mereka karena penasaran. Yura tampak shock ketika si rambut keriting itu berbicara kasar padanya. Sementara, Alfon masih tampak begitu santai di sebelahnya, bahkan tampak menikmati situasi itu. “Emang dasar cewek nggak tau diri,” ucap si rambut keriting itu lagi. Di depannya, Yura membeku, benar-benar terpukul karena serangan tiba-tiba itu. Dan sialan, Alfon, ia benar-benar tidak melakukan apa pun untuk melindungi Yura. Ia bahkan tak berniat melakukannya. Marah, Dio menghampiri kerumunan, dengan mudah menyibak kerumunan, lalu mencengkeram kerah kemeja seragam Alfon. “Lo tau yang sebenernya, kenapa lo diem aja?!” Dio berteriak marah. “Kalo lo nggak bisa jagain Yura, jauhin dia, dan jangan pernah lagi muncul di hidup Yura!” Menanggapi kemarahan Dio, Alfon justru mendengus meledek. “Liat siapa yang ngomong,” dengusnya. “Elo yang udah nyakitin dia cuma gara-gara lo takut nggak akan pernah bisa ngelepasin dia. Elo yang nggak bisa ngelindungin dia karena keegoisan lo. Kenapa sekarang lo marah ke gue?” Meskipun Dio masih marah, ia tidak bisa membantah kata-kata Alfon. Dengan kasar, ia melepaskan Alfon. Dio lalu menghampiri cewek berambut keriting yang berdiri di depan Yura. “Dan lo, kalo lo nggak tau apa-apa, jangan asal ngomong. Urus aja urusan lo sendiri,” ucap Dio dingin. Ia lantas meraih tangan Yura dan membawa cewek itu pergi dari sana. Terima kasih pada Alfon, sekarang seluruh murid di sekolah ini tahu tentang perasaan Dio pada Yura. Namun, bukan itu masalahnya. Saat ini, bagaimana caranya Dio menjelaskan perasaannya pada Yura tanpa menyakiti, atau membuatnya takut. Jika Dio menyatakan perasaannya, Yura tidak akan pergi karena terlalu takut, kan? Jika dia pergi … Dio tak yakin bagaimana ia bisa melihat hari esok. *** “Yura.” Panggilan lembut itu terdengar begitu jauh. Ah, tapi setidaknya kini suasananya lebih tenang. Beberapa saat lalu, Yura hanya mendengar suara teriakan marah Dio. Apa Dio juga marah pada Yura, seperti cewek tadi? Yura bahkan tak berani, tak sanggup mendengarkan kemarahan Dio. Ia khawatir, jika Dio benar-benar memintanya pergi dari hidup Dio. Dia tidak mengatakan itu, kan? “Yura.” Kali ini panggilan itu diikuti sepasang tangan yang menangkup wajahnya. Akhirnya, Yura bisa melihat pemilik suara itu. Dio. “Dio?” Yura tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. “Dari tadi lo nggak nyadar kalo ini gue?” tanya Dio takjub. “Lo bener-bener nggak tertolong,” gumamnya seraya melepaskan wajah Yura. Yura merengut. “Apa karena ini juga, sekarang lo pengen gue bener-bener pergi dari hidup lo?” Dio mengerutkan kening. “Dan kenapa … gue harus ngomong gitu ke elo?” “Karena gue ngelibatin elo lagi? Karena gue ngerepotin elo lagi?” sebut Yura. “Ra, lo nggak denger tadi Alfon ngomong apa?” Dio bertanya. “Alfon ngomong sesuatu?” Yura balik bertanya. “Tadi cewek itu tiba-tiba motong jalan gue dan … nyebut-nyebut elo gitu. Makanya tadi lo dateng marah-marah, kan?” “Yura, astaga …” Dio mengerang tak percaya. Yura menggigit bibir. “Sori …” Dio menggeleng. “Gue yang harusnya bilang sori,” ucapnya. Yura mengerutkan kening bingung. “Kenapa lo …” “Karena mulai saat ini, gue nggak bakal pernah bisa ngelepasin elo,” sela Dio. Yura berusaha mencerna kata-kata Dio. Sungguh, ia bukan murid yang bodoh, hanya saja, terkadang ia sulit memahami situasi seperti ini. Oh, memang tidak ada yang lebih baik daripada Matematika. “Nayura,” Dio kembali menangkup wajah Yura. “Dengerin gue baik-baik. Jadi, biar lo ngerti, gue suka ama elo. Gue suka banget ama lo, sampai gue nggak bisa ngeliat yang lain selain elo. Dan karena gue suka banget ama lo, gue nggak bakal ngelepasin elo. Karena itu, jangan ngeliat yang lain selain gue, jangan pergi ke cowok lain selain gue, dan jangan pernah ngebiarin gue ngelepasin elo lagi.” Yura mengerjap tak percaya. Ia tidak salah dengar, kan? Dio … menyukainya? Tapi … kenapa? Bagaimana bisa? Yura baru sadar bahwa ia benar-benar menyebutkan pertanyaan-pertanyaan dalam kepalanya ketika mendengar Dio berkata, “Gue suka ama elo, karena elo adalah Yura. Gue harap sekarang gue belum terlambat, gue harap lo belum terlalu suka ama Alfon dan gue harap lo nggak ngusir gue gara-gara ini.” Yura tak bisa berkata-kata karena pengakuan mendadak Dio. Apa katanya? Yura menyukai Alfon? Jika Alfon mendengar ini, ia pasti akan tertawa puas. Selama ini Alfon sibuk menggoda Yura tentang Dio. Bahkan, dialah satu-satunya yang tahu perasaan Yura pada Dio. Namun, apa kata Dio tadi? Yura menyukai Alfon? “Gue janji, mulai saat ini, gue bakal ngejaga elo, ngelindungin elo dan selalu ada di samping lo kapanpun lo butuh gue. Karena itu, kasih gue kesempatan buat buktiin perasaan gue ke elo, oke?” Dio menatap Yura sungguh-sungguh. “Lo … masih percaya kan, ama gue?” Yura mendengus tak percaya seraya menarik wajahnya dari pegangan Dio. Dan berani-beraninya Dio menyebut Yura bodoh? Dia bahkan tidak tahu sedikit pun tentang perasaan Yura. “Nggak perlu,” Yura berkata, membuat kekecewaan muncul di wajah Dio. “Lo nggak perlu buktiin apa pun, karena buat gue, elo nggak pernah pergi, Dio. Dan gue selalu percaya ama lo.” Kekecewaan Dio seketika berganti kelegaan. “Sori karena gue udah nyakitin lo belakangan ini. Tapi gue janji, mulai saat ini, gue nggak bakal nyakitin elo, Ra.” “Lo bahkan nggak tau perasaan gue,” cetus Yura. “Lo … udah suka banget ama Alfon?” cemas Dio. Yura mendengus. “Gue nggak pernah suka sama Alfon. Gue suka ama dia sebagai temen, tapi cuma itu. Satu-satunya orang yang gue suka sebagai cowok itu cuma elo, Bodoh.” Dio terpaku, menatap Yura tak percaya. “Kalo lo ngomong gini karena kasian atau …” “Tanya aja ama Alfon. Gue udah hampir mati kesel gara-gara dia terus godain gue tentang elo. Waktu di kafe itu juga, dia ngancam bakal ngasih tau ke elo tentang gue yang suka ama lo kalo gue nggak mau pergi ama dia,” cerita Yura. Dio terbelalak tak percaya. “Jadi, gara-gara itu juga … dia sama sekali nggak ngelakuin apa-apa di koridor tadi? Dia tau gue bakal …. Sialan, Alfon …” geramnya. Yura tergelak kecil seraya menahan lengan Dio yang hendak mencari Alfon saat itu juga. Saat ini, Yura juga ingin menghajar Alfon untuk membalas kekesalannya selama ini, tapi ia bisa menunda. “Lo lebih milih Alfon daripada gue?” sebut Yura. Dio menatap Yura geli. “Apa gue udah gila?” balasnya seraya tersenyum. Yura membalas senyum Dio. “Bener kata anak-anak, gue nggak bisa tanpa lo.” Dio tertawa pelan. “Gue juga, Ra. Gue juga.” End 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN