"Kau tidak menjemputnya di bandara? Banyak wartawan menunggu kepulangannya."
Lamia mendengus malas mendengar bisikan dari Woodie Lily di depannya. Mereka duduk untuk menikmati hari yang sedikit gelap. Titik-titik hujan membasahi tanah dan aspal di bawah, meninggalkan jejak basah yang mulai pekat dan bertambah deras seiring air yang turun dari langit karena gumpalan awan hitam itu tidak lagi mampu menampung lebih lama.
Tulip Agnia mendesah. Karbondioksida keluar dari celah mulutnya yang terbuka. "Semua membosankan. Pekerjaan, kehidupan, bahkan diri sendiri. Adakah cara lain untuk menghibur diri di saat tengah depresi?"
"Seks."
Tulip Agnia mendesis mendengar jawaban Lamia. Gadis merah muda itu hanya tertawa pelan. Mengabaikan instrumental alat musik piano dari dalam kaset yang terputar. " ... liburan. Jelas. Itu jawaban paling tepat."
Woodie Lily menjetikkan jari. "Liburan. Kau benar. Ada destinasi wisata yang bisa kau rekomendasikan, Madam?"
Lamia terkekeh pelan. Dia menyedot teh lemon dinginnya dengan senyum pongah. "Finlandia. Moskow juga tidak buruk. Atau kalian ingin mengunjungi museum bekas pembataian penjajah era barat di Jerman. Terserah."
"Berikan kami ongkos untuk pergi."
Lamia mendengus. Agnia kembali menarik tangannya dan tersenyum kecut. "Hutang bank milikku belum lunas. Persetan dengan liburan. Aku benci semuanya."
Lamia mengangkat alis. Dagunya ditopang dengan kepalan tangan. "Ah, aku melupakan ini. Bagaimana kabar ayah bajinganmu? Kudengar, dia semakin tidak berguna?"
Tulip Agnia terkekeh. Dia merapikan anak rambutnya yang keluar dari ikatan. "Benar. Jika Jepang melegalkan pembunuhan, aku sudah lama akan membunuhnya. Aku akan membuatnya mati secara sempurna dengan menegak racun dan—"
"Sayang, kau tidak seberani itu untuk melakukannya." Lamia menyela dengan ekspresi dingin. Tetapi, senyum meledeknya timbul.
"—ya, kau benar. Aku tidak seberani itu."
"Dia masih ayahmu. Rasa berbakti itu akan tertinggal walau sebrengsek apa pun dia." Woodie Lily menimpali dengan tenang.
Tulip Agnia mendengus bosan sebagai reaksi. Dia melamun menatap hujan sebagai latar suasana sendu mereka. Di saat pintu kayu kedai kopi terbuka, lonceng mungil di atas berdenting agak keras, sesosok pria tinggi masuk dengan rambut kuningnya sedikit basah dan noda hujan menempel pada jas hitamnya.
"Selamat datang."
Pelayan menyapanya dengan ramah. Sosok itu memesan satu kopi untuk diseduh langsung dan dia mencari tempat duduk untuk dirinya sendiri.
"Attan Menma."
Lamia melirik dari ekor matanya. Memandangi Woodie Lily yang memiringkan kepala, menilai lawannya dalam tatapan peraknya. "Benar, kan?"
Tulip Agnia menolehkan kepala. Kedua alisnya terangkat menemukan pria itu tengah menelepon seseorang dengan suara mendesak. "Dia mantan militer Angkatan Udara, kan?"
Lamia terdiam. Dia menolehkan kepala. Ikut memandang belakang tubuh Attan Menma yang memunggungi mereka.
Ketika pelayan membawakan secangkir kopi hangat, Menma menikmatinya tanpa banyak bicara. Woodie Lily mendesah pelan, menyadari kepalanya sedikit berdenyut. "Aku harus jujur pada kalian. Dia teman kecilku. Kami bertetangga. Dan aku pindah karena orang tuaku bercerai. Aku dan dirinya tidak pernah bertemu sampai sekarang. Dan detik ini, hari ini aku kembali bertemu dengannya setelah dua puluh tahun lamanya."
"Wow. Cukup lama." Agnia mengangkat bahu dengan tatapan menggoda. "Kau merindukannya?"
"Cinta monyet tidak berlaku lagi di zaman sekarang." Lamia menatap Lily dengan pandangan menilai. "Attan Menma kenal dengan Roose Nata?"
"Tentu saja." Agnia menyahut santai. "Kurasa, kau tidak tahu ini. Tetapi, keluarga Cornell Hiro pernah terlibat hubungan yang cukup rumit dengan Attan Menma."
Woodie Lily mengangkat alis dan Lamia menunduk, mengernyitkan kening dalam ekspresi tenang. "Berhubungan?"
Agnia menghela napas. Bahunya terangkat. "Aku tidak tahu. Dia dibayar untuk suatu hal berbahaya." Mengutip kata berbahaya dan melirik Lamia dalam diam. "Kau tahu, Lamia. Para militer mendapatkan uang lebih dari pekerjaan kotor mereka. Tangan mereka tidak sepenuhnya bersih karena darah musuh, tapi darah manusia lainnya yang harus ditumpas demi uang."
Lamia belum sempat menjawab ketika Attan Menma berjalan terburu-buru keluar kedai kopi dan menerobos hujan yang masih separuh deras. Pakaiannya basah. Begitu pula rambutnya. Tiga pasang mata yang berbeda menatap kepergian mereka dalam diam.
***
"Kurasa, kesehatanmu membaik setelah kau lepas dari kecanduan alkoholmu, Abe?"
Roose Abe hanya terkekeh pelan menyadari sindiran Cornell Hiro yang uRansom melakukan cek kesehatan selama lima jam penuh dalam memenuhi syarat menjadi calon presiden yang sehat dan kuat.
Cornell Hiro duduk di seberang calon kandidat kuat lawannya. Menyilangkan kaki dalam ekspresi kaku dan tatapan matanya tidak pernah lepas memandangi Abe yang tampak tenang.
Roose Nata berjalan santai memasuki lorong saat dia bertemu Dokter Dahlia berjalan dengan terburu-buru. Dokter itu hampir menabraknya, membuat Nata mengangkat alis menyadari tangan sang dokter gemetar.
"Hani, tolong bawakan obat sakit kepalaku di laci."
Hani mengangguk tanpa berpikir dua kali saat dia melesat meninggalkan Dokter Dahlia yang terpaku diam. Memandang Nata dengan kernyitan di dahi. "Kau ... adik dari Roose Abe, bukan?"
Roose Nata tidak menjawab. Tatapan matanya menyorot Dokter Dahlia dengan tajam seolah mampu menembus kedalaman jiwanya. "Seorang dokter hebat sepertimu bisa jatuh sakit?"
Dokter Dahlia mendengus pelan. Dia hendak pergi ketika suara Nata menahannya untuk tetap di tempat. "Bagaimana kakakku? Dia pernah mendapatkan transplantasi ginjal baru karena kerusakan parah akibat alkohol. Apa dia ... baik-baik saja?"
Dokter Dahlia menghela napas dengan ekspresi dingin. "Kau seharusnya memperingatinya. Dia calon presiden, dan dia benar-benar membuatku muak."
"Hanya dia? Bagaimana dengan Cornell Hiro?"
"Mereka berdua membuatku ingin menyuntikkan serum ke aliran darah hingga tewas." Setelah mengatakannya, Dokter Dahlia membawa tubuhnya pergi dari sana dengan desisan tajam pada Nata yang mengernyit menatap situasi.
Dia berbalik, menemukan dua suasana berbeda warna tengah berseberangan tempat duduk. Melemparkan pandangan ke arah lain dalam diam. Nata mengacak rambutnya, berjalan di lorong dan duduk agak jauh dari keduanya dengan alis tertekuk tajam. "Hasil kalian akan keluar lusa. Itu paling cepat."
"Terima kasih sudah memberitahu, Roose." Cornell Hiro membalas sarkatis.
Nata hanya menarik sudut bibirnya selama satu detik. "Sama-sama."
Dokter Dahlia yang terburu-buru terkejut menemukan Lamia berdiri tidak jauh dari lorong. Menatap kedua calon presiden dengan sorot dingin tak terbaca saat Dokter Dahlia hendak menepuk bahunya, dia menatap tetesan darah menetes dari dua lubang hidung Lamia.
"Lamia?"
Dokter Dahlia berbisik lirih ketika Lamia bergeser ke tempat yang lebih sepi dan jauh, menunduk guna menahan darah dari kedua lubang hidungnya dan mendesis. Menahan keduanya dengan tisu bersih.
"Lamia, ayo ke ruanganku."
Lamia menggeleng. Dia menepis uluran tangan Dokter Dahlia ketika Lamia tiba-tiba limbung, terjatuh di atas lantai dengan meringkuk menahan sakit.
"Kau butuh obatmu, kan?" Dokter Dahlia mencari obat di dalam tas Lamia dan menemukannya. Dia membantu Lamia duduk saat meminum obatnya dan tangan Dokter Dahlia tanpa sadar ikut bergetar.
"Lamia, aku punya sesuatu yang harus kubagikan padamu."
Lamia mendesis pelan. Dia menunduk, menarik napas panjang ketika paru-parunya terasa kosong dan jantungnya yang memompa seakan tidak mampu lagi menopang lebih kuat.
"Ada salah satu jantung yang sehat. Dan aku rasa, dia cocok untuk—"
"Berhenti." Lamia bangun, mengusap sisa darah yang menempel di pipinya dengan raut sinis. "Jangan bicarakan itu di sini."
Dokter Dahlia termenung diam. Dia hanya mengangguk pelan saat Lamia berjalan dengan sedikit tertatih menjauhi lorong dan berhenti, melirik sesuatu di belakangnya kemudian kembali berjalan.
Roose Nata bersedekap pada tembok lorong yang dingin. Memejamkan mata ketika dia membukanya, melirik dari sudut mata yang tajam dan menemukan Agneli Lamia berjalan menjauhinya dengan pikiran yang tak terbaca.
***
"Yang pasti, calon istriku harus sehat. Dia haruslah sempurna dalam segala hal. Mental dan jiwanya. Aku tidak ingin memiliki istri penyakitan atau lemah. Dia sama sekali tidak pantas bersanding denganku dalam segala hal."
Kunyahan di mulut Lamia terhenti. Dia menatap keluarga Cornell yang menganggukkan kepala dan mata Cornell Cornelia jatuh padanya. Seakan memindai Lamia bahwa gadis penerus bisnis nomor satu keluarga Agneli tidak memiliki penyakit mematikan yang mampu merenggut nyawanya sewaktu-waktu.
Cornell Hiro hanya mengangkat bahu saat sang ibu mulai berceloteh dan dia memakan daging panggangnya dalam diam.
Lamia berdeham. Mendorong piring makannya saat dia menghela napas, menatap Cornell Hiro dengan pandangan bosan. "Apa ini salah satu misimu untuk mempunyai keturunan yang sehat dan kuat?" Lamia berdecak. "Benar-benar."
"Semua orang pasti menginginkannya, Lamia. Tidak terkecuali aku. Dan aku yakin, dirimu juga memiliki keinginan dan harapan yang sama. Bahwa keturunanmu, anak-anakmu akan tumbuh sehat dan kuat."
Lamia terdiam. Hanya menipiskan bibir mendengar serangan balasan dari Cornell Hiro yang menatapnya datar.
"Lamia kami sangat sehat dan kuat. Dia baik-baik saja."
Suara Agneli Kania mengejutkan keluarga Cornell yang memberi salam formal pada mereka. Kania menarik kursi untuk duduk, dan Tenate mengambil tempat lain ketika dia duduk, menatap keluarga Cornell Hiro dalam diam.
"Lama tidak melihatmu, Tenate."
"Aku sibuk." Balas Tenate singkat. Dia melirik Lamia yang tampak sibuk memotong daging panggangnya. "Aku sebenarnya mendengar obrolan kalian. Dan sedikit mengecewakan bahwa kalian gemar membicarakan orang lain yang bahkan seujung kuku pun kalian tidak mengenal benar dirinya."
Tenate berbicara miris dan Kania menyunggingkan senyum dingin. Lamia menaruh garpu dan pisaunya, mengambil lap bersih untuk membersihkan sudut mulutnya dan tersenyum kaku. "Keluarga Cornell memang tidak pernah bisa menjaga ucapan mereka dengan baik. Tidak seperti keluarga Roose yang selalu berhati-hati."
"Keluarga Roose?" Cornell Hiro membeo tak percaya. "Ah, kau memihak mereka?"
"Terlalu cepat mengambil kesimpulan, Hiro?" Lamia memiringkan kepala, tersenyum manis pada Hiro yang termenung. "Apakah karena aku membicarakan keluarga Roose, kalian menuduhku membelot?"
"Lamia, tidak seperti itu." Evie mulai panik. Dia mendesis marah pada putra bungsunya dan Hiro hanya membuang muka acuh. Terlebih saat Cornelia hanya duduk diam, menatap Lamia dengan tatapan lain.
"Mau bagaimana pun, urusan suara atau pihak mana yang akan mendukung, itu menjadi urusan kami."
Agneli Tenate bersuara untuk memecah pertengkaran di dalam ruangan. Matanya tajam menatap Lamia dan sang anak hanya diam, tampak acuh dengan minuman dingin di tangan.
"Kami berharap banyak soal ini."
Tenate melirik kepala keluarga Cornell dengan delikan tajam. Kemudian, menghela napas. Suara mereka akan dibagi, dan Tenate tahu ini akan jadi bumerang untuknya dan putrinya nanti.
"Kalian hanya perlu duduk menunggu."
Agneli Kania membuka suara kali ini. Dia mengangkat gelasnya, mengedipkan mata dengan senyum ramah saat meminum minumannya dan melirik suami serta putrinya yang kaku.
"Bagaimana pemeriksaan kesehatan tadi? Mereka menemukan sesuatu yang aneh di dalam organmu?" Cornelia bertanya pada Hiro yang terdiam di sampingnya.
"Hasilnya akan keluar lusa. Kau hanya perlu menunggu. Dan ya, aku merasa sehat."
Lamia terdiam. Dia menatap keduanya dengan alis terangkat ketika Hiro kembali bicara. "Tetapi, Roose Abe pernah mengganti ginjalnya yang rusak dengan ginjal baru. Ini mengejutkanku."
Kedua mata pasangan Agneli memicing tajam. Lamia menghela napas panjang. Dia bersandar, memainkan sapu tangan di atas meja dengan tatapan dingin. "Sebentar, apa kalian mengenal Attan Menma?"
Semua orang terdiam. Tenate mengerutkan kening menemukan pertanyaan abstrak dari Lamia dan gadis merah muda itu tampak acuh. "Apa kalian mengenalnya?" Lamia kembali mengulang pertanyaan yang sama.
"Tidak."
Cornell Hiro menjawab dengan kebohongan. Lamia tahu karena tatapan mata pria itu lari dari matanya.
"Ah, kalau begitu. Aku punya kandidat bagus untuk kujadikan bodyguard sekarang. Ngomong-ngomong, Roose Nata juga pantas karena dia dari militer."
"Jangan gila, Lamia."
"Aku punya uang dan kebebasan memilih siapa yang pantas menjagaku. Bukan begitu, ayah?"
Tenate menghela napas. Dia menatap Lamia sebentar kemudian mengangguk. "Aku setuju. Jika Lamia merasa nyaman, silakan saja."
"Tetapi, kenapa harus Attan Menma?"
Senyum simpul Lamia timbul. "Entahlah. Dia terlihat tangguh dan … menyenangkan?”