8

4816 Kata
"Ini memang gila, tapi kau punya cara ini untuk menghentikan segalanya." Roose Nata mengetatkan gerahamnya. Mendapati puluhan foto Agneli Lamia dengan ekspresi yang sama terpapar di atas meja dengan jelas. Semua foto Lamia ada di sana, di segala tempat dengan ekspresi dingin yang sama. Tatapan mata kosong yang sama. "Tidak adakah dari salah satu foto ini dia sedang tersenyum?" Draco Ransom mengambil dua foto di tangannya. Mengerutkan alis karena ekspresi dingin gadis itu sangat jelas dan sangat mengerikan bagi gadis seusia dirinya yang seharusnya lebih ekspresif dalam bidang mimik wajah. Attan Menma menggeleng. Mata biru lautnya menatap tajam Nata yang termenung. Pria itu hanya menunduk, berteman dengan kegelapan yang menelan hampir separuh isi ruangan dan meninggalkan lampu temaram di dalam ruangan yang menyala redup. "Fakta tentang Agneli Lamia; dia tidak pernah tertawa, tidak pernah tersenyum, sangat dingin, bertangan besi, dan sekali saja kau menghalanginya, maka tamatlah riwayatmu." Attan Menma menghela napas panjang. "Aku lakukan ini karena aku terkejut dia terang-terangan mendukung Roose Abe, bukan Cornell Hiro notabene calon suaminya." "Dia pasti punya rencana." Nata mengerjap. Mengusap pelipisnya dengan usapan kasar. "Dia tidak mungkin bertindak tanpa memikirkan konsekuensinya. Memilih Roose Abe, dia pasti punya sesuatu di balik semua ini." "Kurasa, idemu sangat gila, Menma." Draco Ransom mengernyit. "Lebih baik Nata menciptakan skandal dengannya. Dengan Lamia, dibanding dia harus menidurinya." Attan Menma mendesah. Dia menatap Nata yang sejak tadi diam. Diamnya Nata bukan berarti apa-apa. Pria itu memang lebih banyak diam untuk memikirkan situasi, dan memikirkan segalanya dengan matang. "Ada yang meneleponku di tengah malam." Menma mengangkat alis saat dia mendengar suara seorang gadis menyapanya dingin. "Selamat malam, Attan Menma. Ini aku, Agneli Lamia." Semua orang terkejut. *** Lamia meringkuk di atas ranjangnya. Dia mencoba meraih gelas minumnya saat dia terjatuh tak berdaya di atas karpet dan kembali hidungnya mengeluarkan darah segar. Hingga wajahnya yang pucat, semakin bertambah pucat. Tisu-tisu sudah tercecer di atas karpet dengan mengenaskan. Bercak darah itu tertinggal dimana-mana. Di atas ranjangnya, di dalam selimutnya dan bahkan tisu yang berserakan. Lamia memejamkan mata. Mencengkram dadanya sendiri saat dia mencoba menahan air mata yang merangsek keluar karena tak tahan dengan rasa sakitnya. Ponselnya berdering. Lamia mendesis pelan dalam suaranya. Dia tidak sanggup lagi menahan diri untuk rasa sakitnya. Lamia berteriak, mencoba mengeluarkan beban di pundaknya saat dia akhirnya menangis dengan lelehan darah yang tak kunjung berhenti. Dia bisa mati karena kehabisan darah. Lamia membuka laci nakasnya dengan kasar. Meraih apa pun obat-obatan dari Dokter Dahlia yang bisa dia minum untuk penahan rasa nyeri sementara waktu saat Lamia meminum air dan menelan obat-obatan dalam sekali teguk. Tangannya meremas permukaan gelas yang licin hingga pecah. Mengenai telapak tangannya yang robek. Lamia merintih pelan, menunduk menatap begitu menyedihkan dirinya dari pantulan cermin panjang di dalam kamarnya. Tampilan Agneli Lamia yang mengenaskan ada di dalam sana. Rambut panjangya acak-acakan, piyama yang dia kenakan meninggalkan noda darah mengerikan. Wajahnya pucat. Jemari kurusnya menekan kepingan gelas dengan ekspresi dingin tetapi, tatapan matanya tampak kosong. Lamia mengerjap. Menatap pantulan dirinya yang sebenarnya di dalam cermin dengan bibir bergetar. Dia melepas kepingan kaca yang pecah. Mengulurkan tangannya hendak menggapai cermin yang menampilkan dirinya dalam balutan menyedihkan. Hingga tangan itu lunglai, membentur atas karpet dengan lelehan air mata Lamia yang meluncur deras. Roose Nata berjalan santai menyusuri lorong hotel bintang lima untuk menemui seseorang sampai langkahnya berhenti, menemukan Agneli Lamia berdiri memunggunginya dengan daster bergambar bunga mawar yang lembut, menatap ke arah lain. Mendengar langkah kaki mendekat, Lamia menghela napas. Dia melirik dari bahunya dan menemukan Roose Nata mendekat ke arahnya. Lamia memejamkan mata, menahan dirinya. "Ketiga kalinya secara kebetulan. Aku ingin menolak kalimat konyol ini, tapi apa kau sengaja mengikutiku diam-diam?" "Kau terlalu percaya diri, Nona." Lamia tersenyum. Dia melirik Nata dari helaian rambut merah mudanya yang tergerai dan sedikit berantakan. Hingga Nata tidak bisa menatap jelas bagaimana ekspresi gadis itu sekarang. "Dan ketiga kalinya. Apa kau jodohku?" Roose Nata mendengus tajam. Dia menunjuk seseorang yang tengah berjalan di depan mereka dengan tangan berlumuran darah dan kemeja abu-abu yang menempel meninggalkan titik noda pekat menganggu mata keduanya. "Dia jodohmu." Roose Nata berbisik tajam di telinganya dan Lamia sama sekali mengabaikannya. Ketika Cornell Hiro menghentikan langkah, menatap keduanya dengan kening berkerut. Tatapan Hiro jatuh pada penampilan Lamia yang amat sederhana. Berbeda sekali dengan keseharian gadis itu yang selalu tampil formal. "Kau menemui Roose Nata di tengah malam? Untuk apa?" Kedua mata Lamia memicing tajam. "Ini sama sekali bukan urusanmu, kan?" Lamia menatap Hiro dengan senyum sinis. "Aku mau menemui siapa pun, itu sama sekali tidak ada dalam batasanmu." Cornell Hiro terdiam. Menatap keduanya dengan sorot menilai sampai dia menyerah, dan berlalu pergi begitu saja dengan langkah santai. Roose Nata mendengar lift berdenting. Dan Hiro tidak lagi ada di depan matanya. Dia melirik Lamia yang terdiam, menarik napas panjang. "Iblis sesekali pernah berharap bahwa dia berjodoh dengan malaikat, bukan sesama iblis lainnya." Lamia berbisik dingin di dalam suaranya. Dia menoleh, memandang Nata dengan tatapan hampa ketika tubuhnya mendekat, menekan Nata untuk tetap bergeming di tempatnya. "Bagaimana menurutmu?" Nata belum sempat membalas saat dia merasakan tangan itu menarik kerah kemejanya turun dan mencium bibirnya dengan lumatan menggoda. Nata mengernyit, merasakan perasana asing yang mengejutkan saat seorang Agneli Lamia menciumnya tiba-tiba. Nata mendorong kedua bahu kecilnya. Menatap Lamia yang mulai menikmati ciumannya dan dia mendesis, mendorong tubuh itu ke dinding dan sedikit menekannya. Lamia sama sekali tidak bereaksi apa-apa selain memiringkan kepala dengan senyum tipis. "Ayo, tunggu apalagi?" Roose Nata mendesis pelan. Dia menundukkan wajah, mencari-cari bibir itu dan memagutnya pelan, berubah menjadi terburu-buru dan segera berlalu sampai Lamia membalas lumatannya tak kalah kasar, menekan dadanya dengan cengkraman tangan kuat dan menghisap semua yang ada pada diri Nata seutuhnya. Roose Nata hampir kehilangan akal saat Lamia menyentuh rambutnya dan melingkarkan tangan di lehernya. Gadis itu merintih pelan, merasakan ciuman Nata jatuh ke rahangnya dan kembali ke bibirnya. Cornell Hiro menatap pemandangan itu dari CCTV yang menyala dengan ekspresi dingin luar biasa. Dia mengepalkan kedua tangan di atas meja. Hampir menggebrak meja itu jika dia melupakan orang di dalam ruangan. Pemandangan Lamia berciuman dengan salah satu anggota keluarga lawannya membuat Cornell Hiro naik darah. Dia mendesis, siap mengeluarkan kalimat umpatan untuk Roose Nata seorang karena berhasil merebut ciuman pertama Lamia darinya. "Sialan, Roose." Mengapa harus Roose? Memikirkannya membuat Hiro benar-benar kehilangan akal. Bahkan, intensitas ciuman mereka bisa sampai tahap harus menuntaskan hasrat dengan bercinta satu sama lain. Cornell Hiro semakin menggeram di dalam suaranya. Menyuarakan ketidakterimaannya pada kondisi seperti ini. Cornell Hiro mengangkat kepala. Menemukan beberapa pasang mata menatapnya prihatin karena calon istrinya terang-terangan berselingkuh di depan matanya sendiri. Dan itu mengejutkan karena Lamia begitu berani mencium lawan jenisnya di lorong tempat umum. Dimana semua mata mengawasi dari balik CCTV yang terpasang di sudut lorong. Hiro nendesis dingin, kemudian berlalu pergi meninggalkan tempat dengan terburu-buru. Membuat semua orang di dalam ruangan hanya bisa melemparkan pandangan bingung dan mengangkat bahu acuh. Lamia mendorong wajah Nata menjauh. Menyelipkan satu ciuman ke bibirnya ketika gadis itu terhuyung-huyung pergi, mencoba menekan pintu yang sempat dimasuki Cornell Hiro sebelumnya. "Agnia, buka pintunya!" Lamia mendesis pelan. Dia menggedor pintu itu sampai Roose Nata tersadar dari lamunannya. Sampai rasa bibir itu perlahan kebas dan dia terkejut menemukan Lamia tidak sadarkan diri di luar pintu kamar hotel sahabatnya. *** "Keluar." Roose Nata hanya berdiam kaku di tempatnya. Menatap sosok Agneli Lamia yang terbaring tidak sadarkan diri di ranjang rumah sakit dengan sorot dingin, namun menyembunyikan kebingungan yang kental. "Roose Nata. Kau masih mengerti bahasa manusia, bukan? Keluar." Dokter Dahlia mengusirnya secara kasar. Mata pekat itu melirik Hana, asisten yang bekerja untuk Lamia dengan kening mengernyit. Ekspresi gadis itu begitu kacau dan tampak cemas. Meninggalkan tanya di benak Nata. "Di mana orang tuanya? Kau seharusnya menghubunginya." "Kau tahu sampai mana batasmu." Dokter Dahlia menggeram. Dia sudah berterima kasih pada pria itu karena membawa Lamia ke rumah sakit sebelum terlambat. Tetapi, keingintahuannya yang besar membuat Dokter Dahlia menggeram jengkel. "Baik." Nata mengalah. Dia menatap tubuh yang terbaring tidak berdaya itu dengan tatapan bingung sekali lagi sebelum beranjak keluar. Di dalam kebingungannya, Nata melihat Woodie Lily, penulis terkenal seantero Jepang itu berlari menembus lorong yang dingin di tengah malam. Mantel tebal tidak mampu menutupi wajah pucat dan bibirnya yang bergetar karena hawa dingin. Mata peraknya terkejut menemukan Nata di depan pintu kamar UGD. "Kau di sini untuk ..." "Agneli Lamia." Roose Nata membalas singkat. "Kau di sini untuk siapa?" "Keduanya. Tulip Agnia dan Agneli Lamia." Woodie Lily berbisik lirih. "Kedua sahabatku. Dan mereka berdua sekarat." Roose Nata mendesah panjang. Menatap mata perak Lily yang pecah dalam kekalutan. "Biar kuberitahu satu hal, salah satu sahabatmu terluka parah karena ulah Cornell Hiro. Laporkan dia ke polisi." Sepasang manik perak itu melebar penuh. Mulutnya membuka dan tubuhnya mendadak menggigil hebat. "Hiro ... melukai siapa?" "Tulip Agnia." "Ya Tuhan. Aku sudah menduganya." Kepala itu menggeleng putus asa. Dia berlari menghindari Nata dan pergi ke tempat Tulip Agnia dirawat. Ruang ICU. Roose Nata mendengus panjang. Menyandarkan punggungnya yang terasa berat pada tembok yang dingin. Matanya menerawang ke langit-langit rumah sakit yang sepi. Hanya ditemani udara dari pendingin di atas plafon, dia menghirup oksigen yang terasa menipis. Bibirnya bergetar. Sensasi ciuman itu masih terasa. Dia mampu mengendalikan diri dengan baik. Tetapi, ketika ciuman putus asa Lamia, ketika tekanan berat itu ikut melandanya, Nata hampir kehilangan segalanya. Membuat dia tidak berdaya dan pada akhirnya hanya berlaku pasrah menuntun kemana logikanya berbicara. Pintu UGD terbuka. Hana keluar dengan kedua mata lelah dan kebingungan ketika menemukan Nata masih belum beranjak pergi. "Maafkan aku. Tetapi, aku akan mengganti ongkos bensinmu. Biasanya, Nona Lamia akan melakukannya jika dia berhutang pada orang lain. Dia tidak mau meninggalkan perasaan semacam hutang budi pada seseorang." Hana mengembuskan napas, mengeluarkan dompet dari saku mantel cokelat tuanya. Nata mendengus dingin. Menatap dompet bergambar beruang itu dengan tatapan mencela. "Bayarannya tentu saja tidak dengan uang. Aku tidak butuh uang." "Ah, ya. Kau benar." Hana menutup kembali dompetnya dan tersenyum masam. "Apa yang kau inginkan?" "Penjelasan." "Tentang atasanku? Maaf. Aku tidak akan mengatakannya. Sampai aku mati pun—" "Penyakit apa yang dia derita hingga membuatnya kepayahan?" "—aku tidak akan mengatakannya." Mata Hana bergerak gelisah menghindari tatapan menusuk dingin itu. "Maafkan aku. Aku tidak bisa." "Kalau begitu, berikan aku petunjuk. Biar aku mencari tahu sendiri." Hana melarikan matanya ke segala penjuru dan menggeleng sekali lagi. "Aku tidak bisa." "Kanker, tumor, HIV Aids atau—" "Tidak. Nona Lamia tidak pernah terlibat romansa pada laki-laki mana pun, dia tidak mungkin mendapatkan penyakit mematikan itu." Roose Nata mendengus dengan ekspresi muram. "HIV terjadi tidak hanya pada seks saja. Suntikan yang salah atau transfusi darah yang terkontaminasi bisa menjadi pemicu. Kau terlalu polos mengartikan penyakit satu itu hanya karena seks." Hana mengembuskan napas panjang. Dia menarik mantelnya untuk semakin rapat melingkupi tubuh mungilnya. "Kau sedang tidak berada dalam hubungan serius dengan atasanku, kan? Karena sepertinya, kau tertarik padanya." Roose Nata menggeram ketat. Menatap jengkel pada gadis yang usianya jauh lebih muda dari Lamia. "Terserah." Dokter Dahlia keluar dengan wajah pucat pasi. Dia mengerjap menemukan Nata masih setia menunggu Lamia. Dan matanya berpaling pada Hana yang mengernyit, mengikuti langkah Dokter Dahlia pergi tanpa kata. *** "Bagaimana? Gaunnya cantik, kan? Harganya sekitar 500-600 juta. Ini bagus. Aku menyukainya. Dan ibu setuju." Cornell Cornelia tampak serius menunjukkan gaun-gaun yang dia pilih demi persiapan pernikahan sang adik dengan putri konglomerat ternama, Agneli Lamia. Dia dan keluarganya akan sibuk mempersiapkan pernikahan di samping pencalonan diri Hiro sebagai calon presiden nanti. Cornell Hiro hanya memutar mata jengah. Memandang sang kakak tanpa minat, kemudian duduk di sofa dengan malas. "Terserah." "Hiro, jangan begitu. Kami semua ingin sesempurna mungkin untuk pernikahanmu." Cornelia menghela napas panjang. Melipat gaun pengantinnya dan memberikan pada pelayan butik yang sigap membawa gaun itu kembali ke rak yang sudah tertulis pesanan khusus untuk keluarga Cornell. Cornell Hiro mengedarkan pandangannya ke segala penjuru arah. Menemukan pesan singkat masuk ke dalam ponselnya dan dia tertegun. Dalam hati mengutuk dan segera bangun dari posisi duduknya untuk menyeret dirinya pergi dan mengabaikan pekikan Cornelia yang jengkel karena kelakuannya. "Bagaimana bisa Woodie Lily menjenguknya?! Aku pikir Tulip sialan itu sudah mati. Sialan, dia hanya sekarat." Cornell Hiro berlari menembus eskalator setelah bergumam maaf dan orang-orang yang melihatnya terpana karena menemukan calon presiden mereka ada di pusat perbelanjaan yang sama. Dan Cornell Hiro harus menahan diri dari potretan kilat kamera yang menghampiri dirinya bagai wabah. Dia hanya bisa tersenyum tipis, membungkuk sebagai tanda maaf dan menurunkan ponselnya. Kemudian, berlari menuju parkiran mobil untuk mencari dimana Audi SUV miliknya terparkir. Agneli Lamia mengerjapkan mata. Berusaha berteman dengan sinar dari lampu kamar yang menyala terang melalui kornea matanya. Dia mendesis pelan, memijit pelipisnya dan merasakan sesuatu mengaliri aliran darahnya. Kedua matanya membuka. Dia terkejut karena ada di dalam kamar rumah sakit kelas satu. Dimana ruangan ini tampak sepi dan hanya selang infus serta pendingin ruangan yang menemani. "Aku terkejut karena kau langsung bersikap siaga bahkan saat kau bangun dari tidur panjangmu." Sebuah suara mengejutkannya. Lamia menahan napas saat dia menoleh, memicingkan matanya tajam menemukan Roose Nata duduk menyilangkan kaki dengan tangan bersedekap di atas kursi yang sedikit menjarak dari ranjang rumah sakitnya. "Kau terkejut karena aku di sini?" Mengabaikan bahwa tatapan gadis itu berubah datar dan sinis. Roose Nata terkejut dengan pengendalian diri Lamia yang terlampau baik. "Tidak. Aku yakin kau yang membawaku." Lamia menyeringai dingin padanya. "Karena apa? Aku dan kau bertemu semalam. Dan aku tidak sadarkan diri setelahnya. Siapa lagi yang akan menolongku kalau bukan dirimu?" Roose Nata menggeram dalam suaranya. Dia mengangkat tangan. Memuji kecerdasan Lamia yang terlampau besar. "Bagus. Kau paham sekarang." "Apa kau di sini sejak semalam?" Nata mengangguk pelan. Matanya tidak pernah lepas dari gadis yang mulai bersandar pada kepala ranjang dengan sorot dingin. Lamia dalam mode bangun tidur sama mencekamnya dengan dia dalam mode santai. "Kau aman di rumah sakit ini. Aku pastikan, aku bisa menjaga rahasiamu dengan baik." Lamia mendengus menahan tawa sinis. "Seperti kau tahu saja penyakitku." Dia menatap Nata dengan sinar geli. "Memang, aku sakit apa?" Roose Nata mengetatkan geraham mendapat pertanyaan yang membuatnya bisu. Dia mendesis dan Lamia tertawa ringan. "Bertaruh. Dokter Dahlia maupun Hana tidak akan pernah bicara apa-apa padamu." "Bagaimana kau tahu dia di sini?" "Hana?" Lamia mengerutkan kening berpura-pura berpikir. "Ikatan di antara kami sangat kuat walau aku dan dia hanya rekan dalam urusan pekerjaan." Lamia menyentuh dadanya dengan wajah dramatis dan Nata menggeram pelan mendengarnya. Lamia turun dari ranjang saat dia mencengkram tiang infusnya dan melirik Nata yang bersikap waspada. Tanpa pernah melepas tatapan matanya dari dirinya. Lamia berjalan tenang, membuka pintu ketika dia menemukan Cornell Hiro berdiri kaku di ambang pintu ICU. "Tulip Agnia ada di sana. Dia sahabatmu, kan?" "Hiro melukainya." Lamia mengetatkan rahangnya menahan amarah yang menggelegak. "Ada sesuatu yang Hiro incar dan Agnia tidak memberitahunya. Ini semakin membuatku muak padanya." Alis Nata terangkat. "Kupikir, kau mencintainya." "Derajatku rendah sekali menyukai penjahat kelamin seperti dirinya." Lamia menghela napas panjang. Menatap dingin Hiro yang masih tidak sadar akan keberadaan dirinya. "Biarpun orang-orang mengatakan level kami sama, sebenarnya sangat berbeda. Hiro hanyalah sampah." Roose Nata menarik sudut bibirnya. Dia berdiri dari kursinya, melingkupi Lamia yang lebih mungil darinya di belakang tubuh gadis itu dengan senyum tipis. "Apa itu berarti, perjodohan kalian tidak akan berjalan lancar?" "Formalitas." Lamia mengembuskan uap karbondioksida saat dia menutup pintu dan sama sekali tidak terintimasi atau tersudut karena jarak mereka terlalu dekat. Bahkan rasa ciuman semalam sudah kebas dari ingatannya. Roose Nata menundukkan kepala. Dia menghabiskan waktu yang percuma karena menunggu gadis ini bangun. Dan sekarang, tatapan mata tak bersahabat itu membuatnya tersinggung. Dimana rasa terima kasihnya? "Orang tuamu ... mereka tidak tahu, kan?" Lamia menyeringai pedih saat dia menatap kedua iris gelap itu. "Aku tidak butuh belas kasihan atau dukungan dari mereka secara materil atau apa pun. Aku bisa menjalaninya sendiri." "Kau sekarat. Seharusnya, orang tuamu tahu dan mereka ada di sampingmu." Lamia memiringkan kepala. Menilai ekspresi kaku Nata dengan sorot tajam. "Kau bukan dalam kapasitas untuk menceramahiku sekarang, Roose." Roose Nata menggeram dalam suaranya. Tidak ada gunanya berbicara dengan Agneli Lamia yang kaku dan tidak memiliki hati pada siapa pun. Dia berdecak, melengos pergi saat suara Lamia menghentikannya. "Ciuman semalam tidak berarti apa-apa. Terutama untukku. Jika kau berpikir hubungan kita naik satu tingkat, kau salah. Naik setengah tingkat pun tidak." Nata menolehkan kepala. Memandang rambut merah muda panjang sedikit kusut itu dengan pandangan menilai. "Aku sama sekali tidak peduli. Tetapi, izinkan aku bertaruh. Kalau kau, tidak akan pernah melupakan ciuman pertamamu dengan seorang pria asing semalam." Lamia memicingkan mata. Menatap Nata yang bergerak pergi saat pria itu menutup pintu kamarnya pelan dan berjalan santai untuk meninggalkan Lamia seorang diri. *** Roose Abe meloncat dari kursinya saat sang adik masuk ke dalam ruangan. Meninggalkan sapaan dalam bentuk badan membungkuk padanya. "Kau darimana? Aku menghubungimu sejak semalam dan kau tidak menjawabnya. Aku bertanya pada Menma dan Ransom, mereka bilang kau tidak ada." "Mengasingkan diri." "Konyol." Roose Abe mendengus tajam. Mata pekatnya yang senada dengan warna mata sang adik menatapnya tajam. "Katakan, kau menemui siapa?" Roose Nata memutar mata jengah. "Kenapa sekarang kau menaruh kecurigaanmu padaku? Kau takut aku membelot demi keluarga Cornell dan meninggalkanmu sendiri?" "Nata! Kau tahu, kalau Lamia sudah memihak kita, kita bisa lebih tenang. Aku hanya ingin tahu apa kau bisa mengambil hatinya seperti yang ayah katakan." Nata membuang muka ke arah lain. Matanya terpejam erat dan napasnya berubah berat. "Tinggalkan itu. Masalah itu akan menjadi urusanku." "Bagus." Pintu terketuk. Dan lamunan Nata terpecah saat dia tahu siapa yang masuk ke dalam ruangan. Shion. Gadis itu melompat ke arah Roose Abe dalam sikap manja dan suara yang dibuat selembut mungkin. Nata bergerak mundur, merasa jijik melihat keduanya dan dia membuang muka untuk kedua kalinya. "Sudah kukatakan, kita akan bicara di kamar apartemen." Shion merajuk dengan nada bosan. Nata menangkap kedua ekspresi itu dengan mata menyipit tajam saat Shion melirik Roose Nata, dan dia tampak santai. Seolah dirinya yang ketahuan bersama Cornell Hiro beberapa waktu lalu bukanlah masalah besar. "Nata, apa kau bilang pada kakakmu kalau aku bercinta dengan Hiro?" Nata mendesis dalam suaranya. Dia menatap muak pada Shion dan beralih pada Abe yang menatapnya datar. "Kau masih menahannya di sini setelah dia merendahkan dirinya menjadi b***k seks? Dasar gila." Shion terkekeh pahit. Dia mengerling pada Nata dan meraih gelas anggur milik Roose Abe di atas meja. "Abe tahu. Dan dia tidak keberatan." "Dia bisa mengorek informasi dari Cornell Hiro untukku, Nata. Kenapa wajahmu masam begitu?" Roose Nata mendengus tajam tak percaya. Dia menatap keduanya dengan tangan tak terkepal. "Kau yakin? Oh, kalau begitu lihat saja nanti." Nata mengangkat bahunya acuh ketika dia meninggalkan tempat dan Shion menatapnya sinis. Saat Nata keluar, dia menahan cekalan tangannya agar tidak menutup pintu ruangan sang kakak terlalu rapat dan meninggalkan celah kecil untuk mendengar obrolan mereka di dalam. "Kau bertemu Lamia juga malam itu?" Shion mengangguk pelan. "Ya. Dia bersama Nata. Apa mereka memiliki hubungan?" Roose Abe terkekeh singkat. Dia mengulurkan tangannya mengusap anak rambut Shion yang terjulur di pelipisnya. "Tidak. Nata tidak pernah terlibat dengan gadis mana pun selama hidupnya. Jika dia ingin, Agneli Lamia adalah pengecualian terbesar." Shion tersenyum lebar. Tangannya melingkar manja di leher kokoh Roose Abe. "Kalau begitu, kesempatan kita membunuhnya setelah ini semua selesai benar adanya, kan? Aku tidak sabar." Roose Abe terkekeh. Dia meremas pinggul Shion dengan mata berkabut gairah. "Tentu. Jangan lupa, katakan ini pada Cornell Hiro juga. Biar dia yang melenyapkan gadis sombong itu dan kita tidak perlu mengotori tangan kita untuk membunuhnya. Kau paham?" Shion terkekeh manis. Matanya mengedip manja pada Abe. "Jangan remehkan aku." Roose Nata berpaling. Menatap lorong yang sepi dengan kedua mata menyorot dingin. *** Roose Kobe dan Roose Abe bersamaan berdiri. Membungkuk pada Agneli Lamia yang masuk ke dalam ruangan dengan raut dingin dan datar seperti biasa. Gadis itu menutup pintu, datang bersama Hana, asisten pribadinya. Tatapan mata Hana bersibobrok dengan kedua mata gelap Roose Nata yang tajam. Lamia tampak acuh mengabaikan kehadiran Roose Nata di ruangan yang sama dengannya. Dia menatap semua yang hadir dengan senyum separuh, kemudian duduk. Mata pekat Nata tidak pernah melepas menatap sosoknya sampai Lamia melirik tajam ke arahnya, dan Nata sama sekali tidak terpengaruh. Roose Abe menyunggingkan senyum manis. Dia menatap Lamia hangat seolah mereka adalah sahabat lama. "Selamat siang, Nona Lamia. Bisakah aku membacakan visi dan misiku untuk masa kampanye besar nanti?" "Oh, silakan. Aku akan mendengarkan." Lamia menjawab singkat. Dia memangku dagunya dengan kedua tangan berpaut. "Ini kehormatan karena aku mendengarkan kau berpidato lebih awal dibanding rakyat yang menentukan suaramu." Roose Abe berdiri dan menggelengkan kepala dalam raut bijaksana. "Jelas tidak. Suaramu juga sangat menentukan daripada mereka, Lamia. Rakyat hanya formalitas. Selama kau berpihak pada kami, itu tidak akan jadi masalah." "Ah, benarkah?" Lamia tersenyum dengan memiringkan kepala. "Aku tidak tahu harus tersanjung atau bagaimana sekarang." Dia melirik Hana yang bungkam dan gadis itu hanya bisa menghela napas panjang. Saat Roose Abe menyampaikan sedikit bocoran visi dan misinya di masa depan, serta tugas-tugas yang akan dia emban sebagai bentuk tangung jawab, Lamia mengangkat tangan, menghentikan kalimat Abe selanjutnya. Gadis itu menatap mata gelap Roose Abe dengan sorot dingin. "Aku sudah menebaknya dengan jelas. Tidak perlu dilanjutkan." Roose Kobe menipiskan bibir. Mau tak mau, Lamia melecehkan harga diri putranya yang berapi-api menjelaskan maksud dan tujuannya mencalonkan diri demi kepentingan rakyat banyak. Tetapi, dia hanya bisa diam. "Apa kau bisa merebut tambang logam yang ada di barat Jepang? Harga sahamnya akan melonjak naik di akhir tahun. Terhitung dolar akan ikut naik, itu semua menguntungkan kita. Karena negara hanya mampu merebut sekitar sepuluh persen sahamnya saja, aku tidak dapat apa-apa. Dan itu menyebalkan," gumam Lamia dengan ekspresi jenaka. "Kau bisa melakukannya?" Roose Abe menelan ludah gugup. Dia menatap mata sang ayah dan beralih pada Roose Nata yang mendengus. Diam-diam mengulum senyum sinis. "Ah, atau yang paling mudah. Kau bisa menyebutnya, Roose's Paper. Kau bisa menggelapkan pajak ke rekening lain dan memanipulasinya agar negara tidak membebankan pajak dan semua t***k-bengeknya padamu." Lamia kembali tersenyum dingin pada Abe yang membisu. "Kau tidak bisa?" Lamia mengangkat alis. Menepuk meja di depannya dengan kepala menggeleng miris. "Padahal, Cornell Hiro mampu melakukannya. Kenapa kau tidak?" "Apa kau melakukan ini untuk menyandung ayahmu sendiri, Lamia? Kau berperang melawan keluargamu?" "Tidak, Tuan Kobe. Aku melakukannya demi mereka. Demi keuntungan keluarga besarku. Karena ayahku memiliki misi yang lain pada keluarga Cornell Hiro." Lamia menatap Abe dan mengabaikan tatapan dingin Nata. "Aku berharap banyak sebenarnya. Karena aku tidak punya kuasa atas negara ini, presiden selanjutnya harus mau menjadi boneka kami." Dia berekspresi sedih dan semua orang yang berada di bawah kuasanya ikut tertawa. Roose Abe mengepalkan tangan. Dia menatap Lamia dengan tekad yang kuat, dan kemudian kepalanya terangguk. "Aku bisa." "Lima puluh persen, Roose Abe. Kau harus merebut tambang Neverland sebanyak lima puluh persen. Jika kau mendapatkannya kurang dari itu," Lamia mendesis. "Kita lihat nanti." "Kau mengancamku, Lamia?" Hana memalingkan muka menyadari suasana di dalam ruangan mulai panas dan mencekam. "Semua tidak akan pernah berjalan tanpa bumbu ancaman, Abe." Lamia berbisik pelan, membuat suaranya terdengar mengerikan. "Entah apa yang tergambar di dalam kepalamu tentang aku, aku tidak akan kalah di bawah kakimu semudah itu. Kau harus tahu dengan siapa kau berhadapan." Lamia menatap pendukungnya dengan tatapan mata yang mengandung isyarat. Mereka semua mengangguk, dan beralih pada keluarga Roose yang membisu. "Kami akan mendukung Roose Abe sepenuhnya. Nona Lamia sudah membicarakan ini sebelumnya. Kami menggalang kekuatan untuk membuatmu duduk di nomor satu," salah satunya—Tuan Yama, menoleh pada Lamia dan berdeham singkat. "Itu bukan pekerjaan sulit untuk membuatmu bergelar presiden." Roose Nata hanya diam. Tetapi, otak cerdasnya mencerna semuanya dengan baik. Dia mengulum senyum dingin berulang kali. Memandang kalau-kalau keluarganya tengah disudutkan dengan cara yang manis. Roose Abe menatap semuanya dengan pandangan tak terbaca. Kemudian, beralih pada Lamia. "Terima kasih banyak." "Ini belum seberapa. Kau akan melihat bagaimana aku mengatur Presiden Kara sebelumnya." Lamia memberi kode pada Hana untuk membawa semua bawahannya kembali ke perusahaan mereka masing-masing. Meninggalkan Roose bersama dirinya seorang. "Aku tidak yakin apakah kita bisa mengalahkan Agneli Tenate. Secara, sebelumnya kalian bekerjasama menjadikan Kara presiden satu-satunya. Dan sekarang, kalian berlawanan arah." "Percayalah, Tuan Kobe. Ayahku dan aku tidak akan sembarangan walau kami berpihak di sisi yang berbeda. Apa pun itu, jangan cemaskan hal sepele ini." Roose Abe mengangguk pelan dan Lamia menyunggingkan senyum tipis saat keduanya berpamitan, meninggalkan Roose Nata di dalam ruangan dengan suasana senyap. "Gadis berpenyakitan sepertimu memiliki kekuatan sebesar ini, aku terkejut." Roose Nata memutar kursinya, menatap Lamia dengan pandangan datar. "Kekuatanmu berpengaruh di militer? Sayangnya, tidak." Lamia menunduk. Memainkan tali tas Gucci miliknya dengan ekspresi ketat. "Aku memang tidak bisa. Tapi, kau bisa." Lamia menoleh. Menatap Nata dengan senyum samar. "Jangan kira aku tidak tahu apa peranmu di dalam militer, Roose Nata." Nata menghela napas. Dia bangun dari kursinya dan memiringkan kepala. Menatap Lamia dari atas. "Benar. Kau pasti tahu segalanya. Terutama keluargaku tanpa celah sedikit pun, kemudian kau menyerang kami." Nata bergerak mendekat, menatap punggung Lamia dan dia sedikit membungkuk, melingkarkan kedua tangannya di sepanjang bahu gadis itu. "Dan aku yakin, tidak ada seorang pun yang pernah menyentuhmu sedekat ini selain aku, yang sekarang memelukmu dari belakang. Benar?" Lamia hanya diam. Merasakan sentuhan jemari Nata merambat naik ke lehernya kemudian mengusap pipi halusnya. "Apa kau ingin merendahkan dirimu sendiri seperti Roose Abe dan Cornell Hiro, kedua penjahat kelamin itu?" Roose Nata terkekeh pahit mendengar suara dingin Lamia. Dia menunduk, menyelipkan satu helaan napas berat ke telinga kanan gadis itu. "Aku tidak sama seperti mereka. Karena aku melakukan ini juga untuk pertama kalinya, dan itu padamu." Setelah itu, Hana masuk ke dalam ruangan dan dia terkejut menemukan atasannya berpelukan dengan Roose Nata. Tidak, Roose itu memeluknya dan Lamia sama sekali tidak membalas. "Sampai nanti." Nata melepas pelukannya dan berjalan santai ke luar ruangan. Setelah menutup pintunya. Hana terdiam kaku, memandang Lamia yang memalingkan wajah, menahan sesuatu di dalam dirinya. *** "Apa kau masih bermimpi menjadi seorang pemimpin, Alana?" Lamia berbicara pada hembusan angin yang menerpa anak rambut dan wajahnya yang pucat. Ditemani keheningan pemakaman yang sepi, dan dia seorang diri. Lamia merasa dia bisa menikmati waktu, bersama-sama dengan Alana yang terbaring jauh di dalam tanah. "Jika jawabannya, iya. Aku akan mendukungmu tanpa lelah. Aku akan membawamu duduk di kursi nomor satu. Kau. Kau akan menjadi pemimpin terbaik yang pernah ada." Lamia mengembuskan napas panjang. Meremas bunga-bunga yang masih segar di atas pemakaman yang bertuliskan nama Alana di sana. Lamia mengerjap, merasakan kedua matanya basah. "Gadis bodoh ini ..." Lamia menunduk, menatap rumput-rumput yang mulai tumbuh liar dengan pandangan memburam. Dia mencoba mencabutnya dan berakhir kesia-siaan. "Gadis bodoh ini ... kenapa aku masih berharap kau ada dan di sini bersamaku?" Lamia meremas rumput itu hingga telapak tangannya memerah sempurna. "Kau tahu apa alasan aku tidak mau melakukan operasi bodoh itu? Meskipun ibumu memaksaku?" Lamia mendengus menahan tawa pedih. "Itu karena aku menghormatimu. Aku menghargai perjuanganmu. Aku tidak ingin sesuatu yang kau berikan padaku harus ditukar dengan milik orang lain. Kau memberikanku kehidupan di saat aku sekarat dan hampir mati. Aku ... tidak mungkin membuangnya pergi meskipun aku tidak tahu sampai kapan harus bertahan dengan organ lemah ini." "Harapan hidupku tipis. Dan aku harus bertahan. Kau tahu, Lamia tidak akan menjadi sosok lemah yang tertindas. Sebelum kau pergi, kau selalu mencemaskanku. Dan aku ... aku berusaha baik-baik saja. Nyatanya, tidak. Aku tidak baik-baik saja." Kedua mata itu terpejam. Lamia merasakan hari mulai beranjak gelap dan dia masih setia berbicara pada Alana dalam bentuk hembusan angin. Dia tahu, Alana mendengarkannya dari surga dan dia bisa sebebas ini menceritakan kesakitannya. "Tulip Agnia, dia sekarat sekarang. Karena siapa? Karena Cornell Hiro. Kau tahu, Agnia terkadang merindukanmu. Dia bilang, dia rindu kue buatanmu. Dan kami terkadang mencoba membuatnya, yang berakhir gagal." Lamia meremas rumput yang tumbuh liar sekali lagi. "Lily ada di sana untuk menemaninya. Alana, kau harus tahu kalau aku bersumpah akan melukai siapa pun yang melukai orang yang kucintai. Cornell Hiro akan mendapat pelajarannya dariku nanti." Hembusan angin menerbangkan anak rambut panjang Lamia yang terlepas dari ikatan. "Jangan pernah menahanku untuk tidak bertindak sebagai iblis. Terkadang, malaikat juga pernah bosan menjadi dirinya sendiri dan ingin menjadi iblis dalam sekali waktu. Aku pun sama. Aku bukan malaikat, setengah malaikat pun tidak." Lamia merasakan air matanya menetes. Dia bangun, merapatkan mantel di tubuh kurusnya saat dia menatap foto Alana yang tengah tersenyum manis di padang dandelion yang rimbun. Tepat tergeletak di bawah namanya, Loonie Alana. Lamia melambai padanya dengan tangisan tertahan. Dia berjalan membelah pemakaman yang sepi, kemudian membawa dirinya bersama mobilnya menjauh. Malam harinya, di tengah malam yang mencekam, Tuan Yama bersama sang istri yang gemetaran ketakutan menatap pemandangan mengerikan di depannya. Kedua anak mereka yang masih berusia lima dan sepuluh tahun harus tewas dalam cara mengenaskan. Istri Tuan Yama bergetar memandang putra laki-lakinya yang berusia lima tahun terangkat di udara dengan katana yang menancap pada jantung kecilnya. Dimana sosok gelap itu mengangkat katana tanpa mencabutnya dari tubuh putra kecilnya. "Tolong, kumohon. Jangan lakukan ini. Anak-anakku." Tuan Yama menangis menatap tubuh kecil yang ambruk di atas lantai dengan tangan bergetar. Menatap pemandangan yang paling menyakitkan sepanjang hidupnya karena melihat kedua putranya dibunuh oleh sosok asing. "Roose Abe ... jangan mendukungnya."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN