Tuan Yama membelalak mendengar suara dari sosok bertopeng itu. Dia menahan napas dengan ekspresi pucat ketika bibirny membuka. "Tetapi, Nona Lamia memintaku ... aku tidak bisa menolaknya."
"Jangan dengarkan dia."
Sosok itu menyeret katana-nya di atas lantai. Meninggalkan goresan darah yang berbau anyir memenuhi ruangan. Tuan Yama semakin merapat ke dinding saat dia menatap ujung katana itu menempel di urat nadi lehernya.
Sang istri menjerit ketakutan saat katana itu pada akhirnya menancap di lehernya, dan sosok itu menariknya kasar tanpa belas kasihan. Membuat istri Tuan Yama merenggangkan nyawa seketika. Dan terkapar di atas lantai bersamaan darah yang membanjiri leher yang berlubang.
Tuan Yama menggeleng frutrasi. Seluruh kalimat umpatan dia layangkan pada sosok yang terkekeh dingin di hadapannya. Masih menebarkan teror menakutkan saat dia mengelap darah di katana itu ke piyama milik Tuan Yama.
"Aku tidak punya alasan membiarkanmu hidup kali ini."
Katana itu melayang di udara dan menebas kepala Tuan Yama hingga meninggalkan tubuhnya dan menggelinding di bawah kaki sang istri.
Sosok itu lantas bangun, membuka topengnya dan tempias lampu kamar membuat ekspresinya yang dingin bertambah dingin, menebarkan teror menakutkan karena lagi-lagi pengusaha berpengaruh harus mati dengan cara sadis yang sama seperti keluarga Tuan Lei Wang.
Siapakah sosok mengerikan itu?
Dan memikirkan ketakutan yang terjadi di pagi hari nanti, membuatnya menunggu tidak sabar.
***
"Bagaimana?"
Draco Ransom menurunkan gelas anggurnya saat dia menemukan Roose Nata masuk dengan mengacak rambutnya dan melempar jas juga kemeja kotornya ke dalam tempat pakaian kotor. Dia bertelanjang d**a. Dan Roose Nata sering melakukannya di waktu-waktu tertentu. Semua mata tidak lagi terkejut.
Karena di sini semua laki-laki. Perempuan ada di lantai dasar. Tidak ada yang pernah melihat Nata memamerkan bagian tubuhnya yang berbentuk dan berotot sempurna.
Attan Menma menghela napas. Dia mendorong pisau lipatnya ke bawah meja komputer dan mendesah. Sayangnya, semua gerakan tangannya tertangkap manik pekat Nata yang awas.
"Siapa targetmu?"
Attan Menma berpaling. Dia memilih untuk mengabaikan dan menganggap lalu pertanyaan Nata di depannya.
Draco Ransom belum sempat membuka mulutnya, dia mendapati Gani merangsek masuk dengan ekspresi terkejut bukan main. Karena ketiganya sedang berbicara serius dan mata abu-abunya tanpa sadar memandang kagum pada pemandangan tubuh Roose Nata yang bertelanjang d**a.
Roose Nata memunggunginya. Namun, Gani lantas berdeham, mengambil keranjang pakaian kotor dan segera berlalu tanpa meminta maaf. Sembari melirik sekali lagi pada ketiganya, dan menemukan tatapan dingin Draco Ransom mengarah padanya.
Roose Nata mengambil kaos hitam polos untuk dia kenakan. Matanya memandang Attan Menma sekali lagi. Dan laki-laki berambut kuning itu menyerah pada akhirnya.
"Aku akan bekerja untuk Agneli Lamia mulai besok." Dia mengangkat tangan, pertanda menyerah. "Aku tidak akan membuka mulut tentangmu, tentang kita dan tentang segalanya. Aku akan bersumpah atas nama militer dan nama kalian."
"Bagus." Nata pergi ke bar mini, mengambil soda dingin dari dalam kulkas dua pintu dan membukanya dalam sekali percobaan. "Kau memang harus menjaga mulutmu untuk diam."
"Lamia berbahaya. Benar, kan?" Ransom menimpali santai. "Semua orang yang pernah dia tindas, dendam dan berniat melenyapkannya. Sayangnya, semua gagal."
"Tidak semua." Roose Nata membuang kaleng sodanya ke tempat sampah dan mendesah pendek. Matanya menatap komputer yang menyala. "Ada beberapa yang akan berhasil melukainya."
"Aku penasaran ..." Attan Menma berdeham. "Siapa yang akan keluar menjadi pemenang? Kakakmu atau Cornell Hiro?"
"Kakakku, jelas." Nata menyeringai lebar dan Menma mendengus tajam. Dia melirik Ransom yang ikut memutar mata bosan sebagai reaksi.
***
"Nona Lamia."
Lamia mengangkat kepalanya dari dokumen di atas meja kerjanya. Mengerjap pada Hana yang memberikan dia tablet miliknya. "Roose Abe mengacau semalam."
"b*****h ini," Lamia mendesis dingin. Dia menatap tablet miliknya dan menemukan Roose Abe tengah bertransaksi ganja dengan seseorang dan menghajar salah satu pengunjung bar malam. Dia juga membawa salah satu gadis dalam rangkulan dan mereka mabuk bersama. "Dia benar-benar membuat pekerjaanku bertambah. Sialan."
Lamia membanting tablet itu. Dia meraih gagang telepon kantornya dan berbicara pada salah satu di sana. "Kirimkan penawaran menarik pada semua perusahaan media lokal di Jepang. Jangan sampai berita ini menyebar cepat. Sewa peretas kelas tinggi untuk menghapus semua hal yang berbau buruk tentang Roose Abe. Namanya harus bersih, begitu pula buktinya. Kau mengerti?"
"Baik, Nona Lamia."
"Aku tidak mau ada majalah, koran atau berita apa pun memuat tentang Roose Abe yang menjatuhkan reputasinya. Dia harus bersih. Sekarang! Lakukan perintahku."
Lamia membanting gagang telepon itu. Napasnya tersengal dan dia mengulurkan tangan untuk mengepal. "Bagaimana dengan Cornell Hiro?"
Hana menghela napas panjang. Dia meraih tablet itu dan memberikannya pada Lamia. "Salah satu korban pelecehan Cornell Hiro berbicara di depan publik. Dia bilang, Hiro melakukan kekerasan padanya ketika mereka berhubungan seks. Dan itu mengejutkan publik. Beritanya baru meluncur sekitar lima belas menit yang lalu."
Lamia menyeringai pahit. "Boleh juga perempuan ini." Lamia mendengus. Dia menatap Hana. "Temui dirinya. Berikan uang agar dia terus maju membongkar kebusukan Hiro. Jangan sampai ayahku mengambil alih." Lamia memundurkan kursi putarnya dan tersentak. "Ah, satu lagi. Luncurkan skandal korupsi salah satu anggota parlemen. Dia menggelapkan pajak guna membangun apartemen di salah satu pemukiman pribadi warga tanpa mengganti uang ganti rugi. Itu berguna untuk meredam skandal Roose Abe sekarang."
Hana mengernyit. Dia mengangguk pelan tetapi rasa penasarannya berkembang hebat. "Presiden Kara menyetujuinya?"
Lamia mengangkat alis dengan ekspresi tajam. "Kau pikir dia bisa menolak? Lakukan saja. Waktumu hanya setengah jam, Hana."
Sebelum Hana beranjak pergi, Dokter Dahlia merangsek maju. Tanpa pakaian resminya dan hanya pakaian formal biasa pada umumnya. Lamia melirik Hana, memberinya isyarat untuk pergi dan Hana mengangguk patuh.
Dokter Dahlia duduk di sofa. Lamia bangun dari kursinya, merapikan sanggul di rambut merah mudanya dan duduk di seberang Dokter Dahlia yang membisu. "Lamia, kau mengunjungi Alana?"
"Ya." Lamia membalas datar. "Kenapa?"
"Tidak. Hanya saja, bagaimana dengan semuanya? Apa kau siap melakukan operasi besar ini?"
"Astaga. Kau datang hanya untuk membahas ini?" Lamia mengusap kemejanya dengan tatapan tajam. "Buang-buang waktu."
"Lamia."
"Dokter," Lamia mengangkat tangan. Menatap Dokter Dahlia datar. "Shizune tewas bukan karena serangan jantung, kan? Usianya baru tiga puluh tahun. Dia sangat sehat. Karena kau begitu pemilih memilih asisten sekaligus tangan kananmu. Jelaskan padaku mengapa dia bisa pergi secepat itu."
Dokter Dahlia menelan ludah gugup. Dia menatap Lamia dengan pandangan dalam tak terbaca. Meninggalkan kernyitan di dahi Lamia karena Dahlia tahu, dia tidak bisa berbohong pada Agneli Lamia.
"Dia ... dibunuh."
Kedua mata Lamia menyipit dingin. "Kau tahu siapa yang membunuhnya?"
Tubuh Dokter Dahlia gemetaran. Dia meremas kedua tangannya dengan ekspresi mulai pucat dan gelisah. "Tidak tahu."
"Rekaman CCTV pastilah kosong. Aku membuang waktu jika memeriksanya. Berikan ciri-cirinya."
"Memakai topeng dan gelap. Dia sangat mengerikan."
Lamia menghela napas mendengar suara Dokter Dahlia yang bergetar. Dokter itu pasti merasa ketakutan. Meninggalkan perasaan empati pada diri Lamia yang berpaling, menahan napas dengan geraman tertahan.
"Apa dia berasal dari militer?"
Dokter Dahlia belum membuka suara saat Hana berlari masuk tanpa mengetuk dan membungkuk pada keduanya. Merasa bersalah. Saat dia menyerahkan tablet putihnya pada Lamia yang mengangkat alis.
"Nona Lamia, kau harus melihat ini. Peretas yang kau sewa berhasil membocorkan ini."
Lamia membacanya dalam diam. Kedua matanya melebar menangkap tulisan itu begitu jelas terbaca. Dia menatap Hana, mendesis dingin dengan tubuh Dokter Dahlia semakin gemetaran.
"Cornell Hiro, dia mantan anggota militer Angkatan Udara. Kau bercanda?" Lamia mendesis pada Hana dan membanting tabletnya. Sesaat dia terdiam, mengernyit menatap pemandangan gedung bertingkat tinggi dari dalam ruangannya.
"Ayah ... ayahku yang membocorkan ini." Lamia menoleh, menatap Hana dan mengabaikan Dokter Dahlia yang menundukkan kepala. "Aku akan menemuinya nanti."
"Apa pun itu, ini tidak akan berjalan baik." Hana berbisik lemah dan dia bergegas keluar dari ruangan Lamia. Meninggalkan Dokter Dahlia yang menatapnya lirih.
"Dia dari militer."
Lamia menunduk, menatap lantai yang dingin kemudian berpaling pada Dokter Dahlia yang menatapnya yakin tanpa keraguan.
"Sosok itu ... sosok yang membunuh Shizune malam itu, dia berasal dari militer. Angkatan Udara."
Lamia hanya diam sebagai reaksi.