Sedetik kemudian, saat kami masih memandangi keprgia gadis itu, Iyan tiba-tiba bangkit dari duduknya, mengejar Lusi yang sudah keluar dari kantin. "Mereka pasti kejar-kejarandi koridor," ujarku pada Niko yang tampak geli melihat temannya tampak kalap mengejar Lusi. "Hahaha iya," Kami berdua lalu memilih diam. Aku meraih es jerukku, menyedotnya pelan sambil melihat-lihat keadaan kantin yang lama kelamaan makin sepi. Niko yang duduk di sampingku juga tampak sibuk dengan ponselnya. Entah apa yang dia lakukan, mungkin saja bermain game online. "Vay," tegurnya pelan, yang membuatku melepaskan pagutan di bibir sedotan. "Kenapa?" Tanyaku pada Niko yang kini meletakkan ponselnya ke dalam jaket jins-nya. Cowok itu lalu menatapku lekat-lekat. Ada jeda sekitar sepuluh detik sebelum.akhirnya

